
Di kamar pengantin.
Nayla menatap indahnya kelopak mawar yang bertabur di sepanjang lantai hingga ranjang. Entah berapa jumlahnya, merah menyala. Kamar yang besar, dengan jendela menghadap ke timur kota.
Pemandangan gedung-gedung pencakar langit menghiasi dari arah jendela yang terbuka. Sesekali angin bertiup masuk hingga menerpa wajah Nayla yang baru saja membersihkan sisa makeup-nya.
Ia hanya seorang diri, Ariq izin keluar menemui temannya sebentar setelah acara resepsi selesai hampir tengah malam.
Nayla menatap wajahnya di cermin, jubah tidur yang ia pakai pemberian Lia yang diwajibkan gadis itu untuk malam ini. Rambutnya tergerai indah sebahu, jubah tidur berwarna salem dengan motif bunga, menyatu dengan kulitnya yang putih.
Berjalan ke arah jendela, melewati taburan kelopak mawar yang indah. Semakin dingin angin tengah malam seolah menusuk hingga ke tulang, ada sekitar satu jam ia menunggu namun suaminya belum kembali juga.
Pikiran negatif mulai menghampiri, kemana Ariq pergi? Ini malam pertama mereka sebagai suami istri, kenapa Ariq seolah menghindar. Apa karena pria itu belum siap menerima kenyataan bahwa istrinya sudah tidak perawan.
Airmata itu jatuh begitu saja, kenapa rasanya nyeri sekali. Baru beberapa jam lalu hingar bingar pesta menenggelamkan kebahagiaannya, bersanding dengan pria yang ia cintai. Berdansa dengan mesra, semua proses itu mereka lalui dengan baik dan indah.
Nayla mencoba menghubungi suaminya namun ternyata ponsel Ariq tertinggal di kamar mereka.
Seolah terlarut dalam hembusan angin yang melenakan, Nayla tidak menyadari bahwa suaminya telah kembali.
Ariq menatap istrinya dari belakang, paha yang jenjang dan mulus menjadi pemandangan yang indah malam ini, perlahan tapi pasti Ariq melangkah menghampiri.
Sampai pada bulu kuduk Nayla terasa merinding saat menyadari sebuah pelukan menyentak lamunannya. Senyumnya terkembang, ia tahu suaminya pasti kembali.
Ariq menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Nayla yang wangi.
"Mas Ariq."
__ADS_1
"Maaf, apa kau menunggu lama?"
Nayla menggeleng saja, ia tidak mau merusak suasana dengan pertanyaan yang memenuhi otaknya sejak tadi.
"Apa ada masalah?" tanya Nayla seraya berbalik badan menatap suaminya yang hanya memakai kemeja putih saja.
Ariq mengangguk.
"Masalah kecil, bukan apa-apa."
Nayla hanya bisa menghela napas, ia menatap lagi wajah Ariq dengan tatapan penuh cinta.
"Kau bahagia?"
Ariq mengangguk.
Perempuan itu hanya bisa tersenyum lagi dan lagi. Ariq mulai menarik pinggang Nayla hingga menempel, saling meraih wajah hingga bibir mereka menyatu, berciuman dengan perasaan menjalar hingga ke ubun-ubun.
Ciuman yang semakin liar, Nayla berusaha mengimbangi suaminya namun saat hampir mencapai ranjang Ariq melepaskan tautan bibir mereka. Nayla tertegun sejenak, apa ia terlalu bersemangat pikirnya.
Ariq mengusap bibir istrinya dengan lembut, lalu ia tersenyum.
"Aku tahu kau lelah, ayo kita beristirahat."
"Apa?"
"Tidurlah lebih dulu, aku gerah aku akan mandi sebentar."
__ADS_1
Belum juga Nayla menjawab, Ariq lebih dulu berjalan masuk ke kamar mandi. Nayla tercengang, ia bahkan belum bergerak dari posisinya, matanya menatap punggung Ariq hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Benar saja, suara gemericik air shower mulai terdengar, Nayla akhirnya menjatuhkan diri ke ranjang yang penuh kelopak mawar. Ia tatap lekat-lekat, ia raih beberapa buah hingga ia genggam sambil menoleh ke kamar mandi.
"Tidur?" gumam Nayla pelan, ada hembusan napas kasar di sana. Entah kenapa rasanya tidak enak mendengar kata ajakan tidur dari mulut suaminya tadi.
Ia tahu sekali bahwa lelaki itu telah dikuasai nafsu sejak berciuman tadi, Nayla dapat merasakan bahwa kejantanan suaminya telah menegang, tapi apa sekarang kenapa Ariq menghentikan itu tiba-tiba disela ciuman yang semakin liar dan membangkitkan gairah.
Alasan lelah, sungguh terasa sumbang didengar di kamar pengantin baru itu, Nayla merasa Ariq sengaja menghindar. Sikapnya jauh berbeda dari sebelum menikah bahkan itu mulai terasa beberapa hari menjelang pernikahan. Apa Nayla terlalu sensitif hingga berpikir jauh seperti itu? Entahlah, yang pasti malam ini sepertinya bukan menjadi malam pertama bagi Nayla dan Ariq.
Mencoba berbaik sangka, Nayla menjauhkan pikiran-pikiran yang aneh itu, ia memutuskan untuk berbaring dan menaikkan selimut hingga ke pinggangnya, karena belum mengantuk Nayla mainkan ponsel sambil menunggu Ariq selesai mandi.
Ariq keluar kamar mandi, tanpa menoleh pria itu langsung berpakaian. Nayla menyaksikan sendiri, lalu ia menatap Ariq yang berpakaian lengkap ikut naik ke ranjang, berbaring seperti Nayla sekarang.
"Ayo kita tidur," ajak Ariq lagi seraya mengambil ponsel di tangan Nayla lalu menaruh ke atas nakas, ia raih tubuh mungil itu lalu ia dekap.
Nayla hanya terdiam, memang benar Ariq memang mengajaknya tidur. Ia membalas dekapan itu tidak kalah erat, ia mendengar suara detak jantung yang berdebar-debar lebih dari orang normal.
"Mas Ariq."
"Mas Ariq?"
Diam, hening.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus, Nayla mendongak benar saja suaminya telah tertidur. Secepat itu? Dalam tubuh yang saling memeluk sebagai pengantin baru, pertama kali bersentuhan secara menyeluruh, apa tidak ada gelanyar hasrat sebagai pasangan suami istri yang sah yang dirasakan Ariq seperti yang dirasakan Nayla saat ini? Pikiran Nayla mulai kacau, ia hanya merasa aneh saja.
Bukankah malam ini malam pertama mereka? Bukankah malam seperti ini tentu akan sibuk mereguk manisnya madu dunia bagi setiap pengantin baru? Lalu mereka? Tidur? Lalu sikap posesif itu kemana? Mesum saat berdekatan sebelum menikah itu kemana? Inikah aslinya Ariq? Impotenkah suaminya hingga tidak ada hasrat bercinta di malam pertama?
__ADS_1
Atau...... Karena Nayla sudah tidak perawan hingga seolah pria itu belum siap untuk melakukan hubungan suami istri? Entahlah.