Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nayla dan Rahayu


__ADS_3

"Mas Ariq?" lirih Nayla menatap Ariq merasa tidak percaya.


Ariq hanya menatap ayah Faisal seakan menunggu jawaban. Sosok ayah terbaik bagi Nayla itu mulai melengkungkan senyum.


"Berdirilah!" perintah ayah Faisal.


Ariq menggeleng.


"Tidak, paman belum memberikan jawaban atas lamaran ku ini," ucap Ariq tidak merubah posisi.


"Mas Ariq ayolah, kita bisa bicara baik-baik," ajak Nayla lagi.


Ariq tidak bergeming.


"Nak Ariq, jawabannya bukan pada paman. Melainkan Nayla sendiri, yang akan kau pinang itu Nayla. Paman hanya ingin yang terbaik untuk putriku ini, paman tidak pernah memaksa."


"Paman aku mohon."


Ayah Faisal menatap putrinya yang menahan tangis, ia tahu Nayla mencintai pria yang berlutut ini.


"Jika begitu bawalah serta orangtua mu kemari, biar mereka tahu bahwa putra mereka menginginkan Nayla bukan Rahayu. Jangan ada salah paham nanti."


Ariq tersenyum.


"Besok akan ku bawa mereka serta pak penghulunya."


"Apa?" Nayla hanya bisa kesal sendiri, wajah Ariq yang menyebalkan beberapa menit lalu kini berubah begitu menggemaskan dengan senyum yang merekah.


"Kau tidak dengar ayahmu memberi kesempatan?"


"Tidak tahu," jawab Nayla malas.


"Sayang ayolah." Ariq berdiri.


"Dasar tidak tahu malu, sudah memukul orang tanpa sebab sekarang seenaknya senyum-senyum menyebalkan, bisakah kau sedikit lebih dewasa jika bersikap?"


Ayah Faisal mengernyitkan dahi merasa penasaran apa yang terjadi pada mereka berdua malam ini.


"Nay, masuklah buatkan teh hangat untuk nak Ariq. Mungkin dengan duduk bersama sambil minum teh akan membawa percakapan yang tenang dan pikiran yang terbuka, jangan bertengkar semua bisa kita bicarakan."


Nayla hanya mendengus kesal, ia mengangguk lalu ingin masuk namun tangannya masih digenggam Ariq.


"Kau tidak dengar ayah bilang apa? Ayo lepaskan!" ucap Nayla mulai melunak.


Ariq tersenyum lalu menggeleng.


"Aku ikut."


"Mas Ariq."


Lelaki itu ingin maju dan memeluk Nayla.


"Stop." Nayla mulai jengah.


"Baiklah aku peluk bang Jhon saja."


Ariq melepaskan Nayla lalu memeluk bang Jhon.


"Mas Ariq, itu menggelikan," elak bang Jhon segera melepaskan majikannya itu.

__ADS_1


Ayah Faisal hanya geleng kepala, "Mari duduk dulu nak Ariq kita bisa bicara tanpa tergesa-gesa."


Ariq mengangguk dan ikut duduk di kursi teras.


Nayla membuatkan minuman, tidak memungkiri hatinya bahagia namun ia sungguh tidak suka Ariq berbuat kasar pada seseorang, apalagi itu adalah Angga di hadapan orangtuanya pula. Membayangkan kejadian tadi saja membuat Nayla sungguh pusing dan malu rasanya.


Karena cukup lama ia mengantar minuman itu ke depan. Matanya menatap punggung Ariq yang mulai bicara serius pada ayahnya disaksikan bang Jhon sendiri.


Nayla perlahan mendekat.


"Mas Ariq, ini teh mu."


"Terimakasih Nay...." jawab Ariq.


Nayla merasa heran, entah apa yang dikatakan ayahnya hingga air muka Ariq tampak lebih baik dan lebih tenang dari beberapa saat lalu. Pria itu tidak lagi memancarkan kemarahan seperti dalam mobil menuju kemari.


"Aku akan ke dalam, aku harus melihat anak-anak dulu," pamit Nayla masuk yang diangguki oleh tiga lelaki itu.


Keesokan harinya.


Ariq tidak bermain-main dengan perkataannya semalam, ia membawa kedua orangtuanya bertemu ayah Faisal di restoran. Ibu Rena pun hadir disana atas permintaan suaminya agar tidak ada salah paham lagi atas Nayla.


Semua berjalan baik, namun tidak memungkiri ibu Rena sedih memikirkan putrinya, meski Rahayu tidak banyak bicara tidak pula gadis itu ingin mengacaukan niat Ariq meminang Nayla bukan dirinya.


Rahayu melihat jelas malam itu, malam Ariq meninggalkannya dan memukul Angga lalu membawa Nayla pergi tanpa berkata-kata lagi padanya.


Rahayu tahu, Nayla yang diinginkan pria itu meski apapun telah pula ia lakukan. Rahayu menatap Nayla yang sedang membersihkan meja pelanggan di bagian luar, Rahayu menghampirinya.


"Nay."


Nayla menoleh.


"Rahayu? Kau kemari?" Nayla gugup, namun ia lega saat Rahayu kemari rombongan Ariq dan keluarganya telah pulang.


Nayla mengangguk, "Ayo silahkan duduk, kau mau minum apa?" tawar Nayla.


"Tidak perlu, aku hanya sebentar."


Mereka duduk bersebelahan, Rahayu menggenggam tangan Nayla.


"Maafkan aku Nayla."


"Rahayu?"


"Aku dapat melihat mas Ariq memang mencintaimu, bahkan aku berkali-kali merendahkan diri memohon agar dia melihat ke arahku, tapi sia-sia. Kau adalah pilihan hatinya."


Nayla masih diam, ia melihat raut menyesal dari saudari tirinya itu.


"Maafkan aku Rahayu, aku juga sudah berusaha melepas mas Ariq untukmu, tapi kau lihat sendiri bukan, dia bahkan membawa orangtuanya kemari untuk melamarku."


"Iya, aku tahu."


"Aku tidak akan memaksa lagi, terasa sia-sia semua usahaku jadi untuk apa diteruskan jika akhirnya seperti ini juga, aku sakit juga."


"Maafkan sikap kekanakkan ku Nay, aku mengerti sekarang bahwa tidak semua yang lakukan akan membawa hasil yang baik, ini bukan kompetisi olimpiade matematika yang aku terbiasa menang olehnya, ini masalah hati. Ariq mencintaimu dan aku tidak bisa merubahnya dengan rumus apapun."


"Rahayu."


"Berbahagialah Nayla, kau pantas mendapatkan mas Ariq, kau sudah banyak melewati hal sulit beberapa waktu terakhir. Aku malu padamu."

__ADS_1


"Rahayu?"


"Jangan cemaskan aku, aku tidak akan bunuh diri hanya karena ini. Lagi pula aku takut mati, belum siap soalnya....." kekeh Rahayu.


Nayla tersenyum, ia melihat raut Rahayu seperti pertama kali bertemu, ia tidak melihat lagi raut dingin itu.


"Aku yakin kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik untukmu nanti, percayalah," ujar Nayla menenangkan.


Gadis itu mengangguk, "Aku akan fokus pada karir ku dulu, lagi pula aku masih muda dan cantik. Akan ada Ariq lainnya nanti. Yang pasti Ariq yang ini adalah milikmu, dia calon suamimu."


"Rahayu...."


"Berbahagialah Nayla."


Mereka saling melempar tatap, saling menggenggam tangan.


"Aku akan ke kantor lagi."


"Tidak makan atau minum dulu?"


Rahayu menggeleng, "Aku sudah kenyang saat bicara denganmu, ikhlas ini memang berat tapi aku lega sekarang. Aku lega bisa melewati ini tanpa sesakit yang ku bayangkan, ini tidak seburuk yang kupikirkan. "


"Kau wanita kuat Rahayu, tidak semua perempuan ada di posisimu, kau punya segalanya."


"Iya, dan aku beruntung punya saudari seperti mu Nayla, tempat ku berkaca berkali-kali. Kau pantas bahagia Nayla.... Aku mendoakanmu, sudah seharusnya seperti ini. Maaf aku egois terlalu lama."


"Aku menyayangimu Rahayu. Jangan ragukan itu."


Rahayu tampak menahan tangis. Gadis ini mengangguk saja.


"Aku pergi sekarang."


Nayla tidak menjawab, hanya mengangguk juga.


Rahayu mulai melangkah pergi, ia tampak mengelap airmatanya.


Nayla ikut melangkah, ia memeluk Rahayu dari belakang, mereka tampak sama-sama menangis dalam sebuah keikhlasan.


Nayla dan Rahayu saling berpelukan dan menangis.


"Aku juga menyayangimu Nayla, sekali lagi maafkan keegoisan ku."


Nayla menggeleng.


"Tidak ada yang harus dimaafkan, ini hanya masalah kecil yang tidak perlu dibesarkan, aku berdoa agar kita selalu akur dalam ikatan persaudaraan ini, aku senang punya saudara seperti kau dan kak Dirga."


"Aku juga Nayla, kau saudaraku, aku malu padamu."


Pemandangan itu tampak pula dimata ibu Rena dan ayah Faisal.


Mereka saling merangkul, ibu Rena tampak pula basah sudut matanya, ia menatap suaminya dengan perasaan lega.


"Aku tahu mereka tidak akan saling menyakiti," cetus ayah Faisal semakin mengeratkan pelukan pada istrinya yang mulai menangis haru.


"Aku bangga pada anak-anak kita. Percayalah mas, aku menyayangi Nayla layak anakku juga tentu aku ingin dia berbahagia."


"Akupun sama, ingin yang terbaik untuk mereka berdua, mereka bersaudara sudah seharusnya saling melengkapi."


"Maaf, aku pernah memaksa Nayla melepas Ariq, aku tahu Nayla banyak terluka dalam hal ini."

__ADS_1


"Lupakan, jika tidak seperti itu mungkin kita tidak akan melihat mereka berpelukan sambil menangis seperti sekarang. Aku lega mereka kembali akur."


Ibu Rena semakin membenamkan wajahnya pada dada suaminya, ia mengangguk setuju. Hatinya benar-benar lega sekarang, ikut berbahagia untuk Nayla yang baru saja dilamar Ariq, dan bahagia pula melihat putrinya Rahayu tampak tegar dan kuat menerima kenyataan bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan.


__ADS_2