Purnama Merindu

Purnama Merindu
Izin ayah Faisal


__ADS_3

Nayla menancapkan gas menuju suatu tempat, tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama Lia jika berbelanja. Sebuah butik.


Queen Boutiqe, sebuah butik pakaian yang cukup bergengsi Nayla kunjungi, ia memarkirkan mobil di depan bangun berlantai dua dengan dinding kaca itu lalu masuk dengan percaya diri berbekal uang yang diberikan oleh ibu Rena yang Nayla rasa cukup untuk membeli satu baju yang akan dipakai saat pesta saudari Cinderella nya itu.


Sedang memilih baju yang didampingi seorang pelayan butik, tidak sengaja Nayla bertemu dengan seseorang.


"Pingkan?" sapa Nayla tersenyum.


Namun gadis yang tampak sebayanya itu tidak merespon dengan baik sapaan Nayla.


"Nayla, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya gadis itu seraya melihat kesana kemari.


"Aku sendiri, senang bisa bertemu denganmu..... Apa kabar paman dan bibi?" Nayla berbasa basi pada gadis yang ternyata adalah sepupunya sendiri, putri dari paman Doni dan bibi Maya, gadis yang juga satu kelas dengannya ketika kuliah.


"Sendiri? Benarkah? Oh aku tahu kau pasti disuruh majikanmu membeli pakaiannya bukan? Jangan kira aku tidak tahu kau menjadi pembantu sejak tidak lagi kuliah."


Gadis itu menyilangkan tangan menatap Nayla remeh. Nayla hanya bisa menghela napas dalam dibuat sepupunya itu. Mereka memanglah tidak pernah akur sejak Nayla dan ayahnya tersandung kasus dan jatuh miskin.


"Iya, aku kemari untuk membeli baju tapi untukku sendiri," balas Nayla masih dengan wajah datar.


"Benarkah? Wah aku curiga, terakhir kali kau bertemu mamaku meminta uang seperti mengemis, tapi sekarang seolah sudah kaya lagi berani datang kemari, apa kau menjual diri setelah putus dari Vano yang lebih memilih wanita lain?"


"Oh itu sudah pasti, selain menjual diri apalagi yang bisa membuat mu bertahan hidup seorang diri setelah ditinggal semuanya, miris sekali hidupmu Nayla. Aku bahkan malu mengaku bersaudara dengan mu, beruntung papaku tidak mengikut jejak paman yang tidak tahu malu makan uang rakyat."


"Oh apa ini? Kau bahkan menutupi kepalamu dengan kerudung sekarang, apa ini sebentuk kamuflase? Menyamar jadi perempuan alim, tapi kelakuan seorang ******."


"Oh sayang, aku tahu kisah kau dan Vano seperti apa, kau hamil saat Vano meninggalkanmu Nayla, aku tahu itu. Jika bukan karena kita saudara sepupu mungkin sudah ku sebar pada teman-teman di kelas biar semua tahu jika kau adalah gadis murahan, gadis bekas Vano yang sekarang sudah menjadi suami wanita lain. Sayangnya aku masih peduli padamu hingga aib sepupu ku ini tidak pula ku umbar, sampai kau hilang sendiri waktu itu. Miris sekali."


"Itu juga yang menjadi penyebab papaku tidak mau melihatmu lagi, cukup paman Faisal yang buat malu keluarga, lebih heran lagi kau pun ikut mempermalukan keluarga karena hamil diluar nikah beruntung kau keguguran waktu itu jika tidak aku tidak bisa membayangkan punya keponakan tanpa ayah yang sah. Kau lihat sendiri bukan? Kakek dan nenek saja tidak berusaha mencarimu karena terlanjur kecewa pada kalian, sekarang akulah cucu yang paling mereka banggakan. Kau hanya butiran debu yang menghilang diterpa angin jalanan."


Pingkan tersenyum mengejek, ia masih ingin melihat reaksi sepupunya itu setelah puas mengatakan semuanya panjang lebar, ia sudah sangat lama tidak bertemu Nayla, setelah gadis itu tidak berkuliah lagi Pingkan sama sekali tidak bertemu Nayla hingga saat ini.


Nayla diam tidak membalas. Ia membenarkan dalam hati bahwa keluarga ayahnya benar-benar mengucilkan mereka bahkan sejak ayah Faisal masuk penjara. Mereka hilang kontak sejak setahun lalu.


"Apa kau sudah puas bicara?" tanya Nayla masih datar dan tenang.


"Iya, aku puas sekali."


"Sekarang minggirlah, aku mau lewat," ucap Nayla datar, ia sama sekali tidak peduli atas apa yang dikatakan oleh pingkan tentang kehidupannya. Lagi pula tidak guna mencari pembenaran di depan orang yang memang membenci sejak dulu.


Pingkan terhuyung ke belakang saat Nayla sengaja menabrak bahunya ketika lewat, ia menatap Nayla kesal bukan main. Ia ingin membalas namuj urung saat temannya menghampiri.

__ADS_1


"Pingkan ayo, kau kenapa?" tanya temannya.


"Huh, bukan masalah besar. Hanya saja aku sudah hilang selera berbelanja di sini. Ayo kita pergi!" ucap Pingkan menarik tangan temannya untuk berlalu dari sana.


Nayla mengelap airmatanya yang ia sembunyikan sejak tadi, biar bagaimanapun ia punya hati dan perasaan, ia sedih sekali saat mendengar perkataan pedas Pingkan yang merupakan sepupunya sendiri.


Ia menjatuhkan pilihan pada sebuah dress muslimah sederhana namun tampak elegan dan pas di tubuhnya yang cantik.


Nayla membayar lalu segera pulang ke restoran.


Karena esok restoran akan tutup karena ibu Rena dan ayah Faisal akan mengurus keperluan pesta Rahayu. Nayla cukup sedih bahkan hingga sekarang Rahayu belum berbasa basi padanya soal pesta esok malam.


Ketika restoran hendak tutup dipenghujung hari ini, Nayla dan ayahnya sibuk mengelap meja dan membereskan kursi berdua saja dibantu Arinda dan Zandi sementara Denia mengajak Zaza bermain di dekat kulkas.


Ibu Rena sudah pulang lebih dulu karena ada urusan. Mereka dikejutkan kedatangan Angga yang tiba-tiba.


"Mas Angga?" sapa Nayla saat mendapati Angga berdiri tidak jauh darinya.


"Hai Nay, maaf apa aku mengganggu?"


Nayla menggeleng.


"Tidak, ini sudah mau selesai. Hanya tinggal kursi dan meja luar ini saja," jawab Nayla seraya membereskan satu meja lagi di bagian luar restoran.


"Hmmmm..... Sebenarnya aku kemari ingin bertemu ayahmu juga untuk minta izin. Aku berniat mengajakmu ke pesta Nayla besok malam Nay, apa kau ada waktu?"


"Besok malam?"


Angga mengangguk lagi, Nayla menjadi tidak enak ingin menolak karena ia juga akan ke pesta Rahayu besok malam.


"Iya, jika kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu ke sana mendampingi ku, aku diundang oleh salah satu mantan mahasiswi ku yang kebetulan aku pembimbing skripsinya, dia menjadi pemimpin baru perusahaan keluarganya, tidak disangka dia ingat padaku dan diundang."


Nayla mengangguk-angguk saja.


"Tapi maaf mas Angga, malam besok juga aku ada acara keluarga. Aku harus pula datang ke sana, dia saudariku. Maafkan aku."


Mendengar itu Angga tampak kecewa, namun ia tidak mungkin memaksa.


"Begitukah? Baiklah tidak mungkin pula aku akan memaksa, santai saja."


Nayla tersenyum canggung.

__ADS_1


"Mau duduk minum dulu atau?" tawar Nayla.


"Tidak Nay, aku ingin bertemu ayahmu saja apa beliau ada?"


"Ada, ayah sedang di dalam bersama anak-anak. Mas Angga ada keperluan lain dengan ayahku?" selidik Nayla.


"Tidak, aku hanya ingin meminta izin ayahmu untuk mengajakmu bertemu orangtuaku malam ini jika dibolehkan."


Angga berkata cukup gugup, namun ia pandai menyembunyikan kegugupannya dengan sebuah senyuman manis ia kembangkan untuk Nayla yang tersedak liurnya sendiri. Gadis itu kaget.


"Apa?"


"Iya, aku ingin mengajakmu berkenalan dengan orang tuaku Nay..... Aku serius dengan perkataan ku tempo hari, aku ingin kita mengenal lebih jauh dalam pribadi yang dewasa, tentu tetap dalam pantauan orang tua. Aku masih menyukaimu, aku tidak bermain-main ketika mendekatimu seperti ini, aku harap kau mau."


Nayla menelan ludah, bagaimana ini pikirnya. Memang benar tempo hari Angga menyatakan perasaannya pada Nayla, perasaan yang sama ketika ia melihat Nayla pertama kali masuk pesantren dulu, kini perasaan itu tumbuh pada jiwa mereka yang telah dewasa. Angga berniat meminang Nayla jika benar-benar sudah cocok dan setelah mengenal lebih dulu mulai sekarang.


Gadis itu bingung sendiri, pikirannya langsung teringat Ariq yang baru tadi pagi menyatakan keseriusan ingin menikahinya terlepas urusan Rahayu, meski Nayla masih ragu karena ia belum juga dibawa menghadap orangtua Ariq, entah mereka memang menerima seperti yang Ariq katakan atau lelaki itu hanya menghiburnya saja tadi pagi. Entahlah Nayla bingung sekarang.


Hadir pula Angga yang mengajaknya serius dalam hubungan, meski ia sudah jujur pada pria duda ini, ternyata Angga sama sekali tidak mempermasalahkan soal masa lalu, pria ini menerimanya dengan pikiran dan dada yang lapang.


"Bagaimana?" tanya Angga setelah Nayla diam lama.


"Ayo bertemu ayahku, dia yang menentukan apa aku boleh pergi atau tidak." Niat baik Angga apa salahnya ia coba, pikir Nayla. Lelaki ini sangat baik meski bukan dari kalangan orang kaya, namun keluarganya cukup terpandang dalam hal ilmu agama, abinya seorang Ustads yang mengajar di pesantren, uminya seorang guru di sekolah islam.


Angga tersenyum lebar mendengarnya, ia mengangguk dengan semangat.


"Ayo!" Nayla mengajak Angga masuk.


"Ayah, ada mas Angga yang ingin bertemu ayah."


Ayah Faisal menoleh, ia mengangguk lalu mengajak Angga duduk dan minum teh. Mereka mengobrol ringan dan Angga menyatakan niatnya, sedang Nayla sibuk menyiapkan anak-anaknya yang akan ikut pulang ke kontrakannya setelah ini. Ia memandikan Zaza dan memberi makan sebelum pulang.


Diluar dugaan ayah Faisal menyambut naik ajakan Angga untuk mengenalkan Nayla pada orangtuanya. Ayah Faisal berpikir Angga adalah lelaki yang baik dan cocok dengan putrinya, sopan dan santun ketika berbicara dengan orangtua. Ayah Faisal suka dan ia mengizinkan Nayla untuk pergi malam nanti.


Satu sisi ini juga menjadi alasan yang baik untuk menghindari konflik dingin antara Nayla dan Rahayu yang mencintai pria yang sama pikir ayah Faisal, ia tahu Rahayu masih menginginkan berjodoh dengan Ariq seperti yang diutarakan istrinya Rena beberapa malam terakhir yang minta pendapat soal Rahayu yang masih berharap pada perjodohan itu.


Ayah paruh baya itu paham sekali bahwa Nayla dan Rahayu sedang tidak baik-baik saja sejak malam pertemuan itu.


"Tidak ada salahnya mencoba bukan? Ariq atau Angga sama-sama baik menurut ayah, nak Angga setidaknya selangkah lebih maju karena dia langsung serius untuk mengenalkan mu pada orangtuanya."


Ayah Faisal dan Nayla bicara setelah Angga pergi dari sana.

__ADS_1


"Iya ayah, aku akan menurut saran ayah."


__ADS_2