
Aldric tersenyum, demi apa Aish bahkan belum melepaskan pelukannya padahal sudah cukup lama.
Aish menumpahkan semua rasa kesal dan tangisnya di bahu Aldric.
Sampai sebuah suara melerai pelukan mereka.
"Aish? Aldric?"
Mereka menoleh, Aish dan Aldric saling melempar pandangan saat Bunda Nayla mendekat bersama menantu pertamanya Naina.
"Aish kenapa kau basah seperti ini? Apa yang Aldric lakukan padamu?" tanya Bunda Nayla lagi.
Aish dan Aldric tiba-tiba canggung satu sama lain. Terlebih Aldric, ia malu ditanya seperti itu oleh Bundanya sendiri.
"Aku tidak melakukan apapun," jawab Aldric.
"Bunda," rengek Aish beralih memeluk mertuanya itu.
Naina tersenyum, ia tahu Aldric menyembunyikan raut malunya saat ini.
"Aish ada apa?" tanya Naina tidak sabar.
Aldric hanya bisa mengusap lehernya dengan canggung.
Aish menceritakan semua yang baru saja terjadi. Mendengar setiap kalimat dari Aish barulah Bunda Nayla memarahi putranya yang tega mengerjai Aish sampai menangis dan basah.
"Maaf," kata Aldric.
"Hanya itu?" tanya Naina.
"Lalu aku harus apa?" tanya Aldric berbalik.
Naina dan Bunda Nayla sama-sama berdecak kesal.
"Bawa istri mu ke kamar, keringkan badan lalu berpakaian lagi. Jangan lupa kita mau makan siang sebentar lagi," perintah Nayla pada putranya yang punya selera humor yang aneh.
Bukannya membuat Aish tertawa malah ia membuat Aish menangis sedih.
Aldric mengangguk, lalu Nayla mengajak Naina masuk lebih dulu. Aldric menatap Aish dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku sungguh," ucap Aldric meraih tangan Aish dengan rasa menyesal.
"Lain kali jangan bercanda seperti itu, kau membuatku jantungan Mas Aldric," sahut Aish masih dengan raut sedihnya.
"Baiklah, kita ke kamar?"
Aish mengangguk. Aldric menggendong Aish setelah ia memakai handuk dan mengeringkan Aish agar tidak terlalu basah ketika masuk rumah.
Perempuan itu tersenyum, meski malu Aldric tetap melakukannya, Aish memeluk leher suaminya dengan erat, erat seperti takut kehilangan.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku menyesal."
Aish hanya diam, ia menjawab lewat pelukan yang semakin erat.
Dalam kamar, Aish meminum air putih yang Aldric ambilkan untuknya.
"Terimakasih."
Setelah hari itu hubungan Aldric dan Aish kian membaik meski tidak pula menunjukkan kemajuan yang pesat seperti yang Aish inginkan.
Ia bisa saja menyatakan cinta namun Aish sengaja tidak melakukannya duluan, ia ingin Aldric berani pada perasaannya, ia ingin Aldric menjadi yang pertama mengajaknya pada hubungan yang ia bayangkan.
Rumah tangga dengan bahagia, mendapat keturunan yang lucu dan menggemaskan, siapa yang tidak memimpikan hal seperti itu, Aish mau hal yang baik terjadi pada pernikahan mereka.
Hari yang indah baru saja dilewati, Aish tersenyum lebar saat libur akhir pekan Aldric dari pekerjaannya, kebetulan Aish juga libur di hari yang sama.
Mereka bangun pagi, sarapan bersama dengan percakapan hangat meja makan, di lanjutkan kegiatan bersih-bersih rumah yang dilakukan berdua, menciptakan kenangan yang indah jika diingat kelak.
Tawa Aish yang lepas, perkataan demi perkataan yang semakin lugas. Komunikasi mereka kian membaik dari hari ke hari.
Aldric menikmati setiap momen bersama Aish, bersama perempuan yang ia cintai, meski Aish mencintai Ken dalam pikiran Aldric.
Aldric sangat tidak suka pada keputusannya, tapi itu harus ia lakukan demi kebaikan bersama.
Aish sudah memaafkan Aldric yang menikahinya sepihak waktu itu. Aish sudah bersikap hangat padanya sebagai seorang teman. Aldric kian lapang dada atas apa yang akan ia putuskan setelah ini.
Ia tidak ingin membelenggu Aish dalam rumah tangga yang semu itu. Betapapun ia mencintai Aish, namun tidak juga Aish menerimanya sebagai suami bukan sebagai teman.
Aldric tidak mau Aish terluka lagi jika tetap bersama dalam ketidakpastian, Aish tidak mencintainya, ia pria yang payah dan membosankan, ia tidak pantas hidup dengan dokter cantik itu.
__ADS_1
Aldric sadar tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan hati Aish, ia memang payah, ia bukan Ken itu masalahnya.
Seolah kutukan Ken berlaku sampai sekarang, sampai delapan bulan pernikahan itu. Apa Aldric harus menunggu bertahun-tahun? Tidak ada yang menjamin Aish akan menerimanya.
Kasihan Aish, ia tidak mau memberatkan Aish lagi pada pernikahan semu itu. Aish berhak bahagia dengan pria yang ia suka, mungkin memang perempuan itu bukan jodohnya.
Aish tersenyum saat bangun tidur, ia tidak sabar bertemu Aldric yang ia rindu setiap malam, Aldric yang hanya berbeda kamar dengannya.
Ia membuka jendela dan menyematkan gorden agar matahari bisa masuk ke kamarnya yang dingin.
Aish tersenyum menyambut pagi, pagi weekend yang ke delapan purnama. Delapan bulan pernikahannya seolah baru kemarin ia menjadi seorang istri. Istri yang masih perawan.
Aish terkekeh jika mengingat Aldric benar-benar tidak menyadari bahwa Aish terus memberi kode bahwa perempuan itu telah menerima Aldric sebagai suami yang sesungguhnya.
Suami yang ia cintai, pria yang ingin Aish temani tidurnya setiap malam. Aldric nya yang menggemaskan.
Aish keluar kamar, seluruh ruangan tampak sepi. Tidak nampak Aldric seperti biasa, pria yang suka membuat sarapan untuk istrinya itu tidak nampak batang hidungnya.
"Mas Aldric!" panggil Aish.
Tidak ada jawaban.
Aish membuka pintu kamar tamu yang mana Aldric tidur setiap malam di sana.
"Mas Aldric!"
Nihil, tidak ada yang menyahut.
"Kemana dia pagi-pagi?"
Aish mulai mencari, hingga ke dapur.
Disanalah ia menemukan sebuah map, Aish menoleh, ia mulai penasaran dengan isinya kenapa benda itu ada di atas meja makan.
Tanpa berpikir panjang Aish membuka map, demi apa saat itu juga matanya menangkap sebuah surat dengan kop pengadilan agama di sana. Sebuah form yang masih kosong.
Aish membaca dengan seksama, bersama itu jatuhlah air bening dari telaga mata indah Aish yang semula memancarkan sebuah kebahagiaan.
Aish terduduk, lalu memeriksa map itu dengan seksama lagi, terselip sebuah surat di sana.
Aish membuka surat itu lalu membacanya perlahan.
Bersama ini aku sertakan form yang mungkin kau akan bersemangat mengisinya.
Aku tahu sekali, aku bukan pria yang kau inginkan, aku membosankan, aku payah, aku tidak seperti Ken yang pandai mengambil hatimu hingga hanya dia yang bisa kau cintai.
Aku semula yakin bisa melindungi mu, bisa bertanggungjawab atasmu sepenuhnya seperti celetukan Ken sebelum dia pergi, tapi justru itu mengikat kita pada takdir yang bertepuk sebelah tangan.
Aku mencintai mu dalam diam, aku mencintaimu dalam gelap malam, aku tidak berani mengatakannya karena aku saja bingung bagaimana cara menghadapi mu yang terang-terangan membenci dan menolak ku.
Sudah delapan purnama Aish, aku rasa waktu yang sangat panjang atas penantian ku agar kau bisa menerima ku seutuhnya sebagai suami.
Namun lagi-lagi kata 'teman' dari mulut mu kian membunuh ku dari hari ke hari. Aku bisa saja bertahan sampai nanti-nanti, tapi kau?
Kau mungkin akan semakin bosan hidup dengan pria yang membosankan ini. Aku pikir luka mu kian sembuh, perlahan tawa dan senyum mu kembali, kau sudah semakin lebih baik dari kehilangan Ken.
Mungkin aku sebaiknya mundur perlahan, sepertinya aku bukan pria yang bisa membuat wanita jatuh cinta, aku tampan dan mapan.
Tapi semua itu tidak berguna disaat kau menyukai pria yang bisa membahagiakan mu seperti yang Ken lakukan, aku Aldric bukan Ken, tentu aku tidak bisa melakukan apa yang sering Ken lakukan dalam membahagiakan mu.
Dear Aish.
Aku membebaskan mu dalam mengambil keputusan, aku tidak akan terus mengikatmu pada hal yang semu, tentu tidak baik pula kita terus pisah ranjang dalam waktu yang sia-sia.
Lebih baik kita akhiri dengan baik, aku menyesal banyak salah padamu, aku banyak membuatmu menangis, hiduplah dengan baik Aish.
Aku tidak lagi akan menghalangi kebahagiaan mu, kau bisa menentukan hidup mu mulai saat ini.
Jangan merasa terbelenggu lagi.
Aku akan berlapang dada jika kau memaafkan kelancangan ku telah mencintai mu bahkan sejak kita pertama bertemu.
Aku akan menandatangani surat itu jika kau sudah mengisi semuanya. Aku pulang ke rumah Bunda, aku mungkin akan membaik disini.
Dan kau mungkin akan bahagia bertemu seseorang seperti yang kau harapkan nanti.
Teruslah tersenyum Aish, dengan begitu aku bisa lega.
Demi apa, Aish menangis tergugu setelah membaca surat yang Aldric siapkan untuknya pagi ini.
__ADS_1
Aish bergegas masuk ke kamarnya, ia hanya berpakaian dan bersiap menyusul Aldric yang sudah membuatnya gila pagi-pagi buta seperti ini.
Semua kata umpatan ia keluarkan agar napasnya bisa lega sebelum bertemu pria yang menyebalkan itu.
"Enak saja, dia bilang ini dan itu. Dia pikir dia siapa yang bisa menentukan hidupku. Seenaknya menikahiku, seenaknya pula ingin melepaskan ku begitu saja, dia pikir aku ini apa?" gumam Aish marah-marah sendiri.
Ia sudah memakai jilbab dan bersiap sambil memesan taksi online menuju alamat Bunda Nayla.
Aish terus berkata-kata dalam hati, ia menjadi tidak sabar ingin memukul kepala pria yang bodoh itu. Aish tidak sabar bertemu Aldric, Aldric yang menyebalkan, Aldric yang membuatnya tergila-gila.
Menaiki taksi yang memakan waktu lebih lama jika hati kian sempit dalam berpikir, Aish tidak sabar ingin segera sampai.
"Pak kenapa lama sekali?" tanya Aish yang mulai gelisah.
"Sebentar lagi Nona," jawab sang sopir taksi.
Benar saja Aish sudah sampai depan rumah mertuanya. Rumah yang sedang ramai di akhir pekan, semua anak-anak Nayla berkumpul di sana.
Aish berlari masuk, membuat semua mata tertuju pada perempuan yang tersengal dalam larinya itu.
"Aish?" sapa Ariq yang menatap menantunya dengan heran.
Aish melihat satu-satu wajah mereka yang berkumpul dalam tawa dan canda yang hanya ada seminggu sekali itu.
Tidak ada Aldric di sana. Suaminya tidak ada diantara keluarga yang sedang berkumpul.
"Ayah tahu dimana suamiku?" tanya Aish sambil melihat kemana mana.
"Aish tenanglah, kau kenapa Nak?" tanya Nayla seraya mendekati menantunya itu.
"Maaf Bunda, ini penting. Dimana aku bisa menemukan suamiku?" tanya Aish yang sudah menangis.
Nayla terkejut, semua terkejut melihat Aish menangis.
"Aish, kau kenapa? Kenapa dengan kalian?" desak Ariq seraya mendekat.
Aish menelan ludah. Semua bertanya.
"Aku harus bertemu Mas Aldric lebih dulu, aku akan menjelaskannya nanti aku janji Ayah, ayo beritahu aku dimana suamiku sekarang?" tanya Aish yang kian menangis.
"Suamimu...." Ariq bingung ingin menjawab, ia tadi melihat Aldric bersama mereka namun kini pria itu hilang.
"Aku melihatnya ke pantai Aish, iya Mas Aldric ke pantai belakang rumah. Dia lari pagi di sana, aku melihatnya," sahut Naina.
Aish mengangguk lalu mencium pipi Nayla, "Aku akan memberitahu Bunda nanti, aku janji," bisik Aishwa.
Kemudian ia berlari keluar rumah dengan mengangkat dress panjangnya yang menghalangi larinya.
Aish terengah, kini ia berhenti dari larinya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah mertuanya itu.
Dadanya ingin meledak oleh rasa kesal yang luar biasa. Matanya menangkap sosok Aldric yang sedang berdiri menghadap matahari pagi yang indah, pria yang hanya memakai kaos putih dan boxer pendek serta memakai sepatu berwarna putih itu tidak menyadari seorang perempuan mendekatinya perlahan.
"Apa kau pikir dengan berlari disini kau bisa lari dariku?"
Aldric menoleh pada sumber suara.
"Aish?"
"Kenapa Mas Aldric?" tanya Aish dengan berurai airmata sambil memperlihatkan sebuah map di tangannya.
Aldric melihat itu menjadi terdiam.
"Aku rasa kita....." Aldric tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aku apa?" desak Aish.
"Aish, jangan menangis."
"Aku bukan barang Mas Aldric, kau tidak berhak mengatur hidupku seperti dalam surat gila mu ini!!!" teriak Aish marah.
"Aish tidak seperti itu, jangan salah paham."
"Katakan padaku, kau mencintai ku?" tanya Aish tidak mau berdebat lebih lama lagi. Ia tahu itu akan sia-sia saja.
Aldric menatap Aish lalu mengangguk.
"Cih, kau bahkan tidak berani mengatakan nya!" cerca Aish lagi.
"Maafkan aku!"
__ADS_1
"Kau mencintaiku tidak?" desak Aish lagi