
Nayla tertegun saat keluar dari kamar mandi, matanya menangkap sosok Ariq yang sedang mengajak Zaza bercanda, gadis kecil milik Nayla itu tampak lebih baik meski wajah mungilnya masih pucat.
Nayla urung untuk melangkah mendekati mereka, ia menyandarkan tubuhnya di dinding pembatas sambil memegang dadanya yang berdebar hebat.
"Apa ini artinya aku sudah membuka hati untuk mas Ariq?" gumam Nayla.
Lama ia mematung menerawang perasaan yang juga sudah terlanjur jatuh pada pesona dan kebaikan si lelaki yang terdengar tertawa cekikikan bersama keponakannya saat ini.
Tidak ingin mereka menunggu lama, Nayla segera menyusul pada dua orang yang sangat membuatnya kembali hidup beberapa bulan ini.
Ariq menoleh, sejenak ia tercengang saat menatap wajah polos yang segar Nayla habis mandi, rambut basah yang belum disisir, tubuh yang memiliki tinggi badan 160 CM itu tampak cantik mengenakan kaos oversize berwarna putih.
Tangannya mengulur pada gadis itu, dengan senyuman manis Nayla menerima uluran tangan Ariq dan mendekatinya.
"Pemandangan apa ini? Aku merasa seperti sedang mengagumi anak SMP yang baru menginjak pubertas," ujar Ariq menatap Nayla tanpa berkedip.
Nayla menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sebagai respon malu yang luar biasa.
"Apa aku terlihat seperti anak kecil?"
"Iya, dan aku merasa berdosa telah mencintai anak dibawah umur, kau terlalu imut sayang...... Layak anak kelas satu SMA," puji Ariq lagi seraya mencium punggung tangan Nayla.
"Iya dan kau pak gurunya," sahut Nayla tersenyum menampilkan gigi gingsulnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Nayla kau membuatku merasa sangat tua."
Nayla terkekeh, ia beralih pada sang keponakan yang juga mengharapkan belaian gadis itu, Nayla mencium pipi Zaza dengan gemas, ia bahagia anak kecilnya sudah tampak lebih baik dari pertama masuk rumah sakit, sesekali ia melempar pandangan pada pria yang masih sibuk mengaguminya.
"Berapa umur mu?" tanya Ariq penasaran.
"Akan 20 tahun maret mendatang."
"Oh God...... Sayang yang benar saja? Aku seperti sedang memacari keponakanku sendiri, aku bahkan malu menyebutkan umurku yang sebaya Juna tapi dia sudah memiliki empat anak, sedang aku baru terlena oleh keindahan seorang gadis seperti mu," sahut Ariq geleng kepala.
Nayla tertawa pelan dibuatnya, "Dan kau paman nakal yang selalu menggodaku," jawab gadis itu mengerling manja membuat Ariq yang semula duduk di kursi samping ranjang pasien, kini ia ikut berdiri mendekati Nayla yang duduk di pinggir ranjang sambil memeluk Zaza.
Ia peluk Nayla dari samping, "Aku kagum pada gadis luar biasa ini, kau begitu kuat Nayla..... Hidupmu tidak mudah, aku tahu kau tidak seperti yang terlihat, kau bisa melakukan apa yang belum tentu gadis seusia mu bisa menjalaninya, empat anak kau jaga sambil bekerja dimana yang lain sibuk datang ke kampus untuk kuliah, itu tidaklah mudah."
Nayla bernapas sejenak lalu melanjutkan, "Aku baik-baik saja mas Ariq, aku bahagia hidup dengan anak-anak ini."
Ariq tertegun.
"Akan lebih bahagia hidup bersamaku nanti, aku akan melengkapimu Nayla."
Nayla tersenyum lagi, "Terimakasih."
Mereka saling melempar senyum, tulus dan hangat sehangat mentari yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Permisi nona dan tuan," sapa seorang perempuan berjas dokter didampingi seorang perawat yang datang menyapa.
"Oh dokter, silahkan!" sahut Nayla yang segera turun dari ranjang pasien.
"Maaf mengganggu, aku akan memeriksa adik Zaza dulu ya!" ucap sang dokter mendekati Zaza dengan wajah ramah.
"Tentu saja dokter, silahkan."
Ariq dan Nayla mundur beberapa langkah, Nayla dibuat risih dengan tangan pria itu yang terus memeluk pinggangnya dengan sikap posesif.
"Mas Ariq lepaskan aku," bisik Nayla.
"Tidak, diamlah."
"Mas Ariq aku malu!"
Bukannya menjawab Ariq malah mengecup puncak kepala Nayla dengan gemas.
Di toko bunga, tampak pemuda yang berciri sama dengan pria bernama Devano sedang membeli rangkaian bunga Lily berwarna putih kesukaan mantan kekasihnya, Nayla.
Setelah dari toko bunga mobilnya menuju rumah sakit tempat Nayla berada seperti yang ia ketahui semalam. Dengan wajah berbinar, Vano berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan niat dan hati yang ikut berbunga, entah kenapa sejak pertemuan semalam membuatnya kembali hidup setelah merasa lelah dalam beberapa bulan terakhir oleh rasa penyesalan.
Di tangan yang lain ia bawa sekantong makanan ringan untuk keponakan Nayla yang sedang sakit.
__ADS_1
Bunga Lily adalah bunga kesukaan Nayla dari bunga yang lain, bunga Lily yang selalu mampu menghadirkan senyum gadis itu jika sedang merajuk. Vano ingat benar hal itu.