Purnama Merindu

Purnama Merindu
Berakhir malam ini


__ADS_3

Roda kehidupan terus berputar, melaju ke depan tanpa rasa gentar. Kita pun kian terbawa dan tidak akan pernah bisa menghindar.


Menghadapi serangan-serangan problematika kehidupan yang begitu gencar. Hidup ini terkadang begitu susah disaat rencana indah terhentikan oleh masalah. Dadapun terasa sesak seolah tercekik rasa resah, hatipun merintih di jiwa yang lelah.


Walau perih hidup ini harus terus dijalani, tetap berencana, berusaha dan terus memperbaiki diri. Selebihnya biar Tuhan yang tentukan sisa takdir ini.


Takdir gadis bernama Nayla Purnama, seperti namanya, ia cantik dan bersinar seperti bulan purnama. Namun sayang takdirnya tidak seterang bulan yang bulat penuh itu. Redup bahkan redup sekali, kelam seperti hatinya saat ini. Saat melirik Ariq menggandeng saudari tirinya sendiri. Rahayu.


Setelah hening sejenak, ia pamit ke toilet berniat membersihkan lengan bajunya yang kotor.


"Biar ayah yang gendong Zaza," ucap Ayah Faisal seraya mengambil alih Zaza yang terbangun dengan raut bingung.


Nayla memberikan Zaza pada ayahnya, lalu meminta maaf pada semua orang jika ia mau ke toilet.


Lama Nayla berada di toilet yang sepi itu, hanya ia seorang diri di sana. Lama pula ia membersihkan lengan bajunya sambil menangis, bahkan tersedu-sedu seorang diri.


Alangkah sakit rasanya jika takdir sudah tidak menolehnya lagi, apa karena ia wanita penuh dosa di masa lalu? Hingga tidak satupun lelaki yang bisa ia miliki. Vano dijodohkan, lalu Ariq, apa bedanya dua pria itu. Lalu drama apalagi yang akan Nayla hadapi kelak jika ada lelaki yang mendekatinya? Apa akan seperti ini juga, seakan noda itu menutup segala kemungkinan.


Hanya satu kali Nayla khilaf melakukan hubungan terlarang bersama kekasihnya Vano, hanya satu kali namun tepat pada masa suburnya hingga ia langsung hamil dibulan berikutnya, satu kali Nayla berbuat dosa tersebut namun efeknya sungguh bertubi-tubi bagi kehidupannya setelah itu.


Tidak perlu dijelaskan lagi, hanya Nayla yang tahu rasanya.


Banyak yang menyukainya, tapi banyak pula yang tidak menyukainya, masa lalu itu seolah bumerang bagi diri Nayla sendiri, siapa yang akan menerimanya kelak? Menerima ia dan masa lalunya, diterima pula oleh keluarga si pria, akankah Nayla bertemu hal tersebut dimasa yang akan datang? Ia adalah wanita yang sudah tidak gadis lagi, pernah hamil diluar nikah, punya ayah yang seorang mantan narapidana. Lengkap sudah.


Tentu saja Ariq dan keluarganya menerima wanita yang baik dari masa lalu yang baik pula, keluarga yang mendukung tentu akan menjadi penilaian mutlak sebuah keluarga terpandang seperti orangtua Ariq, tidak mungkin mereka akan menikahkan putra mereka pada gadis hina lagi tak berpendidikan sepertinya. Tidak mungkin, meski Ariq mencintainya sekalipun.


Nayla membasuh wajahnya agar lebih segar, lama ia pandang lekat-lekat wajahnya yang lelah dan sayu melalui pantulan cermin.


"Lihatlah mas Ariq, baru bertemu saja kau sudah suka pada Rahayu, apalagi jika sudah mengenalnya lebih dekat. Gadis itu sempurna disegala arah, cantik, baik, berprestasi, sekolah tinggi, masih gadis dan berasal dari keluarga baik-baik. Kalian sungguh serasi, seperti kata nyonya Arina."


Gumam Nayla yang meneteskan lagi air bening dari telaga indah matanya.


"Aku benar-benar pupus sekarang, seharusnya aku sadar sedari awal tidak ada keluarga pria manapun yang akan menerimaku. Tapi aku saja yang tidak tahu diri berani mencintai pria seperti mu, aku kecewa sendiri, aku lelah sendiri. Seharusnya aku tidak berharap padamu, tapi hati ini tetap saja tidak tahu diri, tetap saja berani mencintaimu.... Sekarang apa? Aku sakit sendiri bukan?"


Nayla menangis lagi hingga urung keluar dari toilet, ia bersihkan lagi wajahnya, merapikan kerudungnya agar tidak dicurigai. Tapi tatap saja matanya terlihat sekali habis menangis. Seharusnya ia berkacamata sekarang, Nayla kesal sendiri jadinya, berulang ia hapus airmata itu namun lagi-lagi matanya tidak bisa diajak kompromi, dan lagi Nayla menangis lagi.


Nayla merasa sudah siap untuk keluar lagi, setelah merapikan penampilan ia melangkah berniat keluar, namun baru saja tangannya tergerak mencapai gagang pintu toilet, ternyata seseorang telah lebih dulu membukanya dan masuk tanpa permisi, lalu mengunci pintu itu dengan pasti.


Nayla terkejut, "Mas Ariq?"


"Jelaskan padaku, kenapa kau tidak bilang bahwa ayahmu menikah dengan ibunya Rahayu?"


Ariq menatap Nayla penuh tanya, ia kurung Nayla dalam tangannya yang ia sandarkan ke dinding hingga gadis itu terdesak ke dinding pula.


"Mas Ariq, menjauhlah," Nayla ingin menghindar.

__ADS_1


"Tidak," Ariq tidak memberi ruang Nayla untuk menjauh.


"Mas Ariq."


"Jawab aku Nayla...."


"Iya, ayahku menikah dengan ibunya Rahayu. Calon istrimu."


Nayla berpaling arah menatap ke samping saat mengatakan calon istri, berdenyut jantungnya saat itu.


"Kau tahu bahwa Rahayu, gadis yang akan dijodohkan denganku?"


Nayla mengangguk, "Tahu saat dia begitu antusias membicarakanmu lewat foto. Aku bisa apa?"


Ariq terdiam.


"Lepaskan aku, nanti ada yang kemari."


"Tidak."


"Mas Ariq ayolah, bukankah kau sedang mencari udara segar bersama calon istrimu?"


Nayla menyindir dengan telak.


"Siapa lelaki itu?"


"Pria itu, pria yang sibuk memotong daging untukmu, lelaki yang sibuk memandang wajahmu dari dekat, sibuk pula menyentuh tangan mu dengan alasan membersihkan sisa jus yang tumpah, aku muak melihatnya."


"Dia kakak Rahayu, kakak ku juga mulai sekarang. Kau mendengarnya dengan baik ketika kami dikenalkan oleh ibu Rena."


Ariq berdecak.


"Jangan berbohong, dari yang terlihat kalian tidak seperti saudara, pria itu menyukaimu aku dapat melihatnya."


"Jika dia suka memangnya kenapa?" Nayla mulai jengah.


Ariq menatap Nayla dengan tajam.


"Sebenarnya ada berapa pria yang kau dekati sekarang? Vano yang tergila-gila padamu? Angga mantan senior pesantren tapi juga menatapmu lain waktu itu? Aku paham cara lelaki menatap seorang gadis Nayla, sama halnya dengan pria sialan yang kau sebut kakak tiri itu. Tatapan seorang pria bukan seorang kakak."


"Mana ada kakak tiri sebaik itu!" kesal Ariq lagi namun tidak melepas Nayla seinci pun.


"Bagus jika kau mengerti, bahwa akan ada pria lain yang masih menyukaiku selain kau. Setidaknya setelah berakhir denganmu aku tidak akan terlalu terluka sebab ada yang langsung mengobatinya," Jawab Nayla dengan dada berdegup kencang.


"Apa?"

__ADS_1


"Iya, sekarang aku putuskan untuk berakhir denganmu. Aku tahu akan sia-sia jika aku bertahan juga, aku juga ingin tenang setelah ini. Rahayu, aku tahu kau mulai menyukainya, dia sempurna dibanding aku yang tidak ada apa-apanya ini."


"Keluarganya berada, baik pula, sebanding dengan keluargamu yang terhormat. Rahayu diterima dengan tangan terbuka, sedang aku tentu kau akan menemui kesulitan dalam hal restu terlebih ada Vano juga di keluargamu."


"Jangan memilih jalan sulit jika ada jalan yang dimudahkan, aku berharap yang terbaik untukmu dan Rahayu, aku sungguh tidak bisa mas Ariq, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rahayu telah pula menjadi saudaraku sekarang, dia mencintaimu.... Kau adalah pria impiannya, dia menyukaimu jauh sebelum aku hadir, kalian sudah dijodohkan bahkan sejak pertengahan tahun lalu. Dia berharap banyak pada pertemuan malam ini."


"Jangan kecewakan dia, gadis baik itu pantas mendapatkan mu. Ibu dan kakaknya banyak membantu ayahku hingga bisa keluar penjara, aku benar-benar tidak bisa melukai hatinya yang berharap penuh menjadi istrimu."


"Mari kita lupakan tentang kita. Aku akan baik-baik saja mas Ariq."


Ariq tidak suka pada pembicaraan itu.


"Kenapa kau bicara seperti ini?"


"Iya, aku harus mengakhirinya sebelum Rahayu tahu, aku tidak ingin dia tahu tentang kita. Aku tidak bisa menghancurkan hubungan kami yang baru hendak terjalin baik, biarlah semua berjalan dengan semestinya."


"Lagi pula kita belum lama memulai, hingga intensitas nyeri akibat luka yang akan tergores nanti tidak akan terlalu besar. Jadi mari kita berakhir dengan baik sekarang."


"Lihat aku Nayla."


Nayla yang semula bicara sambil menunduk kini terdongak memberanikan diri menatap mata hitam berkilat amarah itu.


"Katakan sekali lagi."


"Mari kita berakhir dengan baik mas Ariq, kita akhiri sebelum mereka tahu. Aku tidak akan melukai Rahayu, aku senang bersaudara dengannya. Ibunya baik padaku, menerima kami apa adanya, tidak mudah mendapatkan kepercayaan keluarga seperti ini."


"Aku tidak menyangka kau sejahat ini padaku, tadi kau membuatku cemburu setengah mati, sekarang kau bahkan ingin membunuhku dengan kata-kata memuakkan itu."


Ariq memukul dinding hingga Nayla menjadi terkejut sekaligus takut akan tatapan mata Ariq yang kian memerah.


"Lepaskan aku, aku harus keluar.... Kasihan Zaza menunggu, anak itu pasti tidak terbiasa suasana baru seperti ini."


"Nayla?"


Nayla menatap Ariq lagi meski sakit perasaannya. Namun ia harus mengambil sikap malam ini. Ia tidak ingin menjadi duri dalam hubungan baru ayah dan ibu Rena karena dua gadis mereka menginginkan lelaki yang sama.


"Kita berakhir sampai di sini."


"Aku benci kata-katamu yang ini Nay..... Aku pastikan aku menerima Rahayu dalam perjodohan ini!" kata Ariq tajam seolah menusuk jantung.


"Aku senang mendengarnya."


.


###

__ADS_1


yuk ah komen yang panjang yaaaaa.


__ADS_2