Purnama Merindu

Purnama Merindu
Dijodohkan


__ADS_3

"Apa maksud Bunda?" Ken bertanya setelah tersedak saat mendengar perkataan sang ibunda.


"Kenapa? Apa ada yang salah Ken? Bunda rasa sudah cukup kau bermain hati pada banyak perempuan, ingat usia Ken. Kau bukan lagi anak puber yang baru mengenal wanita, sejauh ini Bunda lihat kau tidak pernah serius dengan pacar-pacar mu itu!"


Kalimat dari Nayla yang mampu membuat Ken menyengir malu, memang benar apa yang dikatakan Bunda Nayla, ia belum pernah terlihat serius dengan satu wanita padahal ia sudah dewasa dan cukup matang untuk menikah.


Ken mengusap lehernya.


"Tapi tidak dijodohkan juga Bun, itu memalukan!" elak Ken dengan raut heran.


"Indah anak yang baik, Bunda mengenal baik orangtuanya. Dia seorang dokter, cantik pula. Bunda tidak yakin kau akan menolak jika sudah bertemu nanti."


Ken terdiam mendengar kata dokter. Tiba-tiba ia ingat Aishwa.


"Apa kriteria menantu yang Bunda idamkan mesti seorang dokter?" tanya Ken.


"Tidak juga, ini hanya kebetulan saja Ken. Kau tahu sendiri wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tentu dia wanita yang baik pada semua orang, dia sudah terbiasa berhubungan dengan banyak pasien, tentu dia pandai dalam berkomunikasi baik dengan yang tua ataupun yang muda, apalagi komunikasi dengan pasangan, Bunda yakin Indah punya kelebihan di sana," kata Bunda Nayla lagi.


"Ken!" tegur Bunda Nay pada putranya yang terdiam dalam lamunan.


Ken menatap ibunya dengan raut penuh arti, entah mengapa ia mengingat Aish jika mendengar ocehan Bunda Nay sejak tadi.


Apa tidak terlalu cepat jika Ken menyimpulkan bahwa Aishwa yang cocok dengannya karena punya sifat seperti yang Bunda Nay sebutkan tadi? Ah Ken mulai galau lagi jika seperti ini.


"Apa aku terlihat seperti pria yang payah?"


Bunda Nayla tergelak mendengarnya.


"Kenapa kau merasa seperti itu?"


"Kenapa harus dijodohkan?"

__ADS_1


"Karena kau tidak pernah serius dengan satu wanita Ken, ada banyak wanita cantik kau bawa kemari tapi tidak satupun yang Bunda suka, Amel terlalu seksi, Siska terlalu kekanak-kanakan, dan apa itu si Marissa dia malah lebih tua darimu!"


"Dan kau tahu kemarin Ara datang kemari mencari mu, katanya dia tidak mau putus. Ken ayolah, kau sudah dewasa tapi kenapa seolah kau baru menginjak remaja hingga semua wanita kau bawa kemari, Bunda mau kau berhenti seperti ini!"


Bunda Nayla mulai kesal.


"Itu sebabnya kami ingin menjodohkan mu!" kata Bunda Nay dengan tajam.


Ken hanya bisa terdiam sambil menatap sang ibunda yang terlihat menggemaskan jika marah.


"Ayah tidak ikut-ikutan Ken, ayah menyerahkan semua urusan itu pada Bunda mu," cetus Ayah Ariq yang baru saja bergabung di meja makan.


"Ayah sama saja," tukas Ken sambil makan lagi dengan santai. Tak pula ia menjadikan ucapan orangtuanya sebagai beban.


"Ken, Bunda serius!" ucap Nayla lagi seraya meraih wajah putranya agar menghadap padanya.


"Bun, ini soal masa depan ku tentu aku tidak bisa asal pilih calon istri, apalagi belum kenal. Yang benar saja?" Sanggah Ken lagi.


"Tapi Bunda tahu yang terbaik untuk mu. Oke baiklah Bunda tidak akan memaksa jika kau bisa mencari pacar yang sewajarnya dan punya budi pekerti yang baik, dan berhenti membawa anak gadis orang kemari jika kau tidak berniat serius dengannya!" tegas Bunda Nayla menatap Ken seolah memberi peringatan.


"Apa Ayah pria yang tidak laku hingga menikah diumur 30 tahun?"


"Itu karena Bunda mu masih kecil jika menikah di umur 25 tahun, jadi terpaksa menunggu sampai wanita ini dewasa," balas Ariq sambil menggoda istrinya. Membuat Ken berdecak sambil tersenyum kesal.


"Jangan bercanda, Bunda serius Ken! Berhenti mempermainkan anak gadis orang, jika kau ada waktu nanti Bunda harap kau mau berkenalan dengan Indah," bujuk Nayla lagi.


"Bunda mulai lagi," lirih Ken malas.


"Kau pilih mana menikah dan memberi kami cucu atau tetap seperti ini dan kami yang akan memberi mu adik?" ucap Ayah Ariq menatap Ken serius.


Mendengar itu Nayla menjadi tersedak dan batuk. Perempuan yang awet muda itu menatap suaminya tajam.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara Ayah!" sanggah Nayla pada Ariq.


Ken menatap kedua orang tuanya yang bertengkar.


"Bisakah kau membayangkan jika kau punya adik di usia dewasa sekarang?" goda Ariq pada putranya lagi.


Ken terkekeh. "Ayah berhenti bercanda!"


"Sebaiknya kau punya calon sendiri jika tidak mau dijodohkan Bunda mu, menikah dan beri kami cucu bukan kami yang memberi mu adik!"


"Sebenarnya aku juga bingung. Sampai semuanya menjadi pasti bisakah Bunda tidak membicarakan tentang jodoh ini setidaknya sampai aku memastikan bahwa perasaan ku benar dan perempuan itu akan ku bawa kemari!" ucap Ken sambil meraih tangan sang bunda.


"Perempuan mana lagi Ken?"


"Bunda jangan marah dulu, ini tidak seperti pacar-pacar ku yang sebelumnya. Jika Bunda bertemu aku pastikan Bunda yang lebih dulu jatuh hati padanya, dia juga seorang dokter."


Nayla mencerna perkataan anaknya.


"Apa maksudmu dokter yang menyelamatkan mu di kampung itu?" selidik Nayla dengan raut heran.


Ken mengangguk.


"Wah ini menarik Ken," cetus Ayah Ariq tertawa.


"Ayah, aku serius!"


"Kau jatuh cinta pada perempuan kampung? Ayah tidak percaya Ken," sahut Ariq geleng kepala.


"Aku benar Bunda, hanya saja dia....." Ken terhenti untuk melanjutkan kalimat nya.


"Dia kenapa?" desak Bunda Nayla.

__ADS_1


"Entahlah aku juga bingung," seloroh Ken sambil mengusap lehernya dengan senyum canggung.


Ariq dan Nayla saling menoleh dalam raut keheranan.


__ADS_2