Purnama Merindu

Purnama Merindu
Bingung


__ADS_3

Ken tidak bisa fokus pada pekerjaan nya saat teringat Aishwa. Ia menepuk meja dengan kesal jika teringat betapa bodohnya ia tidak meminta nomor telepon Aish saat hendak pulang tempo hari.


Ken tidak tahu ini cinta atau bukan, namun dengan memikirkan dokter cantik itu membuat Ken frustasi sendiri. Ia masih penasaran atas sosok cantik Aish yang pandai menjaga sikap.


Ken merasa Aish punya daya pikat melebihi pacar-pacarnya sebelum ini. Bahkan lebih dari itu.


Hari ini, sudah dua gadis ia tolak bertemu. Ara dan Marissa datang ke kantornya demi menemui Ken, mereka tidak mendapat akses masuk seperti biasa karena Ken sudah memblokir semua kesempatan pada dua gadis cantik dan seksi itu.


Siapa yang tidak tergila-gila pada sosok tampan Ken yang royal pada wanita, meski ia playboy bukan pula ia merugikan para gadis-gadis itu.


Sosok Ken tidak pernah serius, ia menganggap hidupnya mudah dan tanpa beban, hingga tidak heran ia bahkan tidak memikirkan untuk serius dan menikah diusianya yang hendak menginjak 28 tahun beberapa hari lagi.


Hidupnya untuk bersenang-senang, menggeluti hobi olahraga di alam bebas, panjat tebing, paralayang, traveling dan sejenisnya.


Pekerjaan yang mapan, terlahir dari keluarga kaya raya, apa yang harus dipikirkan Ken jika bukan untuk bersenang-senang dengan circle para teman sesama orang kaya pula.


Namun kejadian kecelakaan panjat tebing beberapa minggu lalu yang membawanya ke kampung Aish dan bertemu gadis cantik itu cukup membawa perubahan pada pria berjambang tipis itu.


Akhir-akhir ini Ken bahkan tidak seperti dia yang dulu, pria ini ke kantor lalu pulang. Ia sama sekali tidak berselera untuk bersenang-senang dengan teman atau pacarnya setelah kembali dari kampung yang memberikannya banyak kenangan itu.


Ken tidak memungkiri ia terus mengingat Aish dalam otak dan hatinya.


"Ken!" seru seorang perempuan membuyarkan lamunan pria yang sedang menatap kosong meja kerjanya itu.


Ken menoleh, senyumnya terbit saat mendapati perempuan yang langsung menghampirinya itu. Ken berdiri dan mereka berpelukan.


"Kak Arinda," sahut Ken heran.


"Kenapa kau terkejut bodoh?" Perempuan itu mengacak-acak rambut Ken dengan gemas.


"Aku tidak bodoh, kenapa tidak memberitahu jika akan kemari, mana pasukan mu?" tanya Ken sambil melihat ke arah pintu.


Perempuan itu tersenyum.


"Kakak senang melihat mu sehat, bagaimana kakimu?"


"Aku bertanya, malah ditanya lagi," lirih Ken sambil menuntun perempuan itu duduk di kursi tamu.

__ADS_1


"Aku sudah sehat!" lanjut Ken setelah mereka duduk.


"Mana pasukan mu?" tanya Ken lagi.


"Mereka bersama Bunda ke taman bermain," jawab perempuan bernama Arinda itu.


Arinda, kakak sepupu Ken dari keluarga ibunya. Anak perempuan yang dulu sebagai penyemangat Bunda Nayla ketika terpuruk kini sudah menjelma sebagai wanita dewasa yang sudah berkeluarga dan punya dua anak.


Arinda tinggal di kota yang berbeda, ia sengaja berkunjung saat tahu Ken sudah kembali.


Lama mereka berbincang bertukar kabar, hingga Ken tampak menarik napas dalam.


"Huh, pasti Bunda yang meminta mu bicara padaku!" seru Ken sambil geleng kepala.


"Iya, sebagai kakak perempuan mu aku ingin yang terbaik untuk adikku ini. Ayolah Ken, berhenti seperti ini, kau tidak iri Aldric akan bertunangan sebentar lagi, Al juga sudah mengenalkan calon istrinya."


"Dan kau, masih saja seperti ini. Apa kau mau jadi bujang tua?"


"Kakak menyumpahi ku?"


"Bersabarlah, aku juga sedang memikirkan bagaimana cara membawanya kemari. Aku bahkan bingung dia mau atau tidak ku kenalkan pada Bunda dan Ayah," jawab Ken ambigu.


Arinda tertawa.


"Dokter itu maksud mu?"


Ken mengangguk.


"Dia cantik tidak?"


"Bahkan lebih cantik dari mu," kekeh Ken bercanda berakhir mendapat pukulan di bahunya.


Mereka bercerita banyak tentang kegundahan hati Ken, pria ini tidak pandai menyembunyikan perasaannya, Arinda selalu bisa memancingnya untuk bercerita.


"What? Janda?" Arinda tersedak ketika Ken mengatakan hal itu, ia bahkan hampir memuntahkan minumannya yang baru saja diantarkan oleh pelayan di sana.


"Ken jangan bercanda!"

__ADS_1


"Aku serius, tapi jangan berburuk sangka dulu, aku rasa dia tidak seperti janda kebanyakan, entahlah aku juga bingung menjelaskan hal ini, yang pasti aku menyukainya!"


Arinda berpikir sejenak.


"Dia di kampung itu?" Ken mengangguk.


"Ini cukup sulit dimengerti Ken, aku heran kau bisa jatuh cinta pada perempuan kampung maksud ku dia di kampung dan kau di sini, bukankah selama ini selera mu cukup tinggi, cantik dan seksi."


"Aku juga bingung," jawab Ken menaikkan bahunya.


Arinda mulai serius menanggapi perasaan Ken saat ini. Ia diminta Bunda Nayla untuk membujuk Ken agar mau dikenalkan pada calon pilihan keluarga, namun melihat raut dan perkataan Ken, ia menjadi tahu bahwa Ken mulai serius menata hatinya sejak bertemu dokter cantik di kampung beberapa waktu lalu.


"Aku tidak tahu ini cinta atau bukan, bagiku masih sangat dini mengaku cinta sebelum berkenalan lebih jauh, hanya saja waktu itu belum memungkinkan aku untuk bicara banyak padanya disaat dia sedang berkabung."


Arinda menyimak.


"Kau punya nomor telepon nya?"


Ken menggeleng.


"Sepintar-pintarnya adik ku ini, seplayboy-playboy nya kau tapi hari ini aku tahu kau cukup bodoh Ken. Bagaimana kau bisa berkomunikasi jika tidak tahu nomor telepon nya?" geram Arinda mengusap kepala Ken dengan kesal.


"Kakak hentikan!" elak Ken merapikan lagi rambutnya.


"Terus apa gunanya kau mendamba seperti ini Ken? Bagaimana bisa perasaan mu bisa berlanjut jika tidak ada komunikasi lagi setelah ini, tidak bisa Ken, tidak bisa."


"Aku bahkan lupa cara merayu wanita jika berhadapan dengannya, bagaimana pula aku bisa mengingat nomor telepon saat itu, aku bingung, entahlah."


Arinda berdecak.


"Jika begitu, hentikan penasaran mu ini dan ganti dengan bertemu dan berkenalan dengan Indah si dokter cantik pilihan Bunda, karena jika kau berharap pada komunikasi yang terputus ini, percuma Ken. Pilih yang pasti-pasti saja, di depan mata bukan di kampung nan jauh di sana."


Ken melirik Arinda dengan raut kesal.


"Apa? Aku benar bukan?"


"Bicara padamu juga percuma," sahut Ken memijat keningnya yang tidak pusing.

__ADS_1


__ADS_2