
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa aku seperti gadis tidak laku?" kekeh Nayla, namun Dirga menatapnya dengan raut penuh arti.
"Aku serius."
"Sulit dijelaskan," lirih Nayla tampak murung.
"Apa kau sedang menjalani hubungan yang rumit?"
"Wah kak Dirga pandai menebak," kekeh gadis itu lagi.
"Benarkah? Lantas siapa yang berani menggantungkan perasaanmu?"
"Oh aku sedih sekali, selalu digantung sampai saat ini," jawab Nayla bercanda.
"Kau ingin pria seperti apa?"
"Memangnya kakak mau carikan aku pria?"
"Tentu saja, aku mau yang terbaik untuk adik-adik ku, karena Rahayu sudah dijodohkan tentu pria itu pilihan terbaik orangtuaku."
"Sekarang tinggal kau, kau juga adikku saat ini.... Tentu harapan yang baik pula aku ingin kau dapatkan, aku banyak teman sesama pengacara yang masih sendiri. Jika kau mau akan ku kenalkan nanti."
"Wah, jangan pengacara."
"Kenapa?"
"Pengacara terkenal seperti kalian akan terus berdekatan dengan wanita."
"Siapa yang bilang begitu? Aku tidak."
Nayla terkekeh.
"Karena yang ku lihat di tv ada banyak pengacara kondang yang mendampingi kasus selebriti, cantik-cantik pula."
Dirga tertawa juga.
"Kau pandai bercanda Nayla, kami bekerja profesional dalam kasus apapun, wanita atau pria. Bukan fokus pada wanita saja."
Nayla mengangguk- anggukkan kepalanya.
"Kakak ingin aku dapat jodoh, sedang kau saja belum menikah hingga sekarang."
__ADS_1
"Iya kau benar, aku menyedihkan bukan? Andai kau bukan adikku, mungkin aku akan mendapatkan mu sebagai pria bukan sebagai kakak."
Nayla menoleh keluar jendela mobil.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Nayla melihat keluar jendela mobil yang mana mereka telah berada di plataran hotel yang dimaksud.
"Iya, kita sudah sampai."
Dirga mengambil Zaza yang tertidur dari gendongan Nayla, ia gendong anak itu dan mengajak Nayla untuk masuk menyusul ibunya yang telah lebih dulu sampai.
Gugup, Nayla gugup saat ini. Entah bagaimana hati dan perasaannya nanti setelah bertemu Ariq disana dalam suasana perkenalan perjodohan Ariq dan saudari tirinya Rahayu.
Nayla berjalan di samping Dirga yang menggendong Zaza, terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat serasi. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka hanyalah saudara tiri yang baru terjalin.
Mata Nayla menatap pada kursi dimana prianya sedang duduk di sana, berhadapan dengan ayah Faisal, sedang Rahayu duduk diapit ibu Rena dan ayah Nayla. Ariq hadir di sana, menatapnya yang berjalan mendekat.
Ariq duduk di samping seorang wanita yang masih sangat cantik meski sudah berumur, yang Nayla yakini itu adalah ibunya, di sebelah wanita itu terlihat pria paruh baya yang masih sangat gagah dan berwibawa. Tidak lupa, nyonya Arina dan suaminya turut hadir di sana.
Suasana mendadak dingin yang Nayla rasakan, Ariq menatapnya seolah tidak percaya, namun gadis ini bersikap biasa seolah tidak tahu apa-apa. Terlebih nyonya Arina yang menatap tajam dan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Nayla mendekat.
Makan malam sudah terhidang, ruangan private yang luas dan mewah namun seakan membuat Nayla sesak untuk bernapas.
"Maaf menunggu lama," ucap Dirga menghampiri.
"Humairah, ini putra pertama ku..... Dirga, dan ini putri ku juga Nayla."
Ibu Rena meraih Nayla agar berkenalan dengan Humairah.
"Wah Rena kau punya dua putri yang sangat cantik, hallo Nayla.... Panggil aku bibi Humairah."
"Salam kenal bi, aku Nayla....." sahut Nayla santun.
Rahayu menatap ibunya yang merangkul Nayla dengan kasih sayang, tampak sekali ibunya bahagia mendapatkan anak sambung seperti Nayla, perempuan paruh baya itu bahkan tidak menyebutkan bahwa Nayla hanya merupakan anak sambung saja.
Melihat itu, entah Kenapa Rahayu menjadi sedih hatinya, apa dia sedang cemburu pada Nayla pikirnya.
Satu hal yang pasti Rahayu tidak suka pemandangan itu. Ibunya terlalu berlebihan mengenalkan Nayla pada keluarga calon jodohnya.
Lalu Rahayu menangkap raut aneh dari pria yang ia cintai itu, pria itu terus saja memperhatikan Nayla sejak gadis itu duduk di kursinya tepat di samping kakaknya Dirga.
Nayla memeluk Zaza, gadis kecil itu masih tertidur hingga Nayla agak kesulitan saat memulai makan. Suasana hangat menyelimuti, percakapan ringan antar dua keluarga, hanya saja ayah Faisal merasakan perasaan putrinya saat ini.
__ADS_1
Ayah Faisal cukup terkejut saat datang tadi, ia tidak menyangka akan bersua Ariq disana yang dikenalkan sebagai calon pria untuk Rahayu. Sampai Nayla datang, ia tahu sekali raut wajah putrinya yang terpaksa sekarang.
Ariq tidak banyak bicara, ia bahkan sama sekali tidak menikmati makan malamnya, matanya terus mengarah pada Nayla yang terus meladeni Dirga yang banyak bercanda dengan gadis itu. Ariq tidak suka Dirga yang memandang Nayla dengan riak wajah lain, bukan sebagai kakak namun sebagai lelaki.
Nayla hanya mengikuti alur, ia tidak banyak bicara terlebih saat bertatap muka dengan nyonya Arina yang menatapnya penuh kebencian.
Rahayu, gadis itu tidak suka Nayla hadir seakan mengacaukan perasaannya saat ini, perasaan bahagia yang ia rasa hanya sebentar saja, sejak saudari tirinya datang entah kenapa semua berubah. Ariq menatap Nayla tidak berkedip, Dirga kakaknya yang juga tampak peduli sekali pada gadis itu sampai menolong Nayla memotong daging karena Nayla kesusahan saat memegangi Zaza.
Belum lagi ibunya yang tidak hanya membanggakan nya dengan cerita prestasi namun juga membanggakan Nayla yang luar biasa mengasuh empat anak yatim diusia yang masih muda, apalagi saat wajah bibi Humairah yang berdecak kagum saat mendengarnya membuat mood Rahayu benar-benar memburuk.
Dialah calon wanita yang dijodohkan, seharusnya membahas ia dan Ariq saja tapi kenapa malah lebih banyak menanyakan tentang Nayla, sungguh Rahayu cemburu dibuatnya.
Ariq, pria pencemburu ini berwajah merah padam melihat kedekatan Nayla dengan kakak tirinya itu. Ia sama sekali tidak tertarik pada kecantikan dan kesempurnaan Rahayu yang dibanggakan bibi Arina meski telah bertemu saat ini, ia bahkan melihat gadis itu tidak lebih dari sekedar melihat gadis pada umumnya saja, entah karena ia sedang tidak fokus atau karena memang hatinya telah terikat penuh pada gadis bernama Nayla.
Sampai ketika tangan Nayla tidak sengaja tertumpah jus buah milik Dirga hingga lengan bajunya menjadi kotor.
"Maafkan aku Nay, aku tidak sengaja," ucap Dirga seraya meraih tisu lalu mengelap tangan Nayla yang kotor.
"Tidak, bukan masalah kak Dirga tenanglah.... Aku bisa bersihkan sendiri," sahut Nayla menolak sentuhan Dirga pada tangannya.
Dan benar saja karena Nayla kesusahan sambil memeluk Zaza saat ini membuat Dirga kekeh ingin membersihkan tangan gadis itu. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Ayolah kak Dirga, aku tidak apa-apa.... Bisa ku bersihkan di toilet saja, bisakah kau menggendong Zaza sebentar?"
Namun belum juga Dirga menjawab, Ariq lebih dulu berdiri dan bersuara dengan nada tajam lagi lantang.
"Rahayu, di sini pengap. Aku sudah kenyang, jika kau tidak keberatan ayo kita keluar mencari udara segar! Bukankah ini momen perkenalan kita?"
Ariq mulai jengah dengan pemandangan di depannya saat ini, pikiran itu muncul begitu saja untuk sekedar ikut memanasi Nayla menggunakan Rahayu.
Namun Rahayu menerima sikap itu dengan hati yang berbinar bahagia, ia mengangguk dan tersenyum manis pada Ariq yang mengulurkan tangan padanya, siapa sangka gadis berhijab warna abu-abu itu menerima uluran tangan pria yang ia yakini bisa menjadi jodohnya nanti.
"Tentu saja aku mau mas Ariq, akupun sudah kenyang."
"Wah rupanya putraku menerima rencana ini dengan baik Rena, aku senang malam ini," ucap papa Alif melihat lelaki sulungnya dengan geleng kepala.
"Iya, aku rasa dia tidak sabar ingin bicara berdua," timpal mama Humairah.
"Mereka sangat serasi sekali," sambung nyonya Arina dengan tatapan mengarah pada Nayla.
Semua tertawa, kecuali Nayla dan ayahnya. Ayah Faisal seakan mengerti, ia menggenggam tangan anak gadisnya seolah menguatkan dalam kebisuan mereka.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja ayah," lirih Nayla seraya berbisik pada ayahnya.