
Aish menatap Ken lalu menatap sekeliling lagi, halaman rumah yang luas dan terdapat taman di sana.
"Mas Ken?"
"Iya, ini rumah orang tuaku, ayo!" ajak Ken dengan senyuman yang manis.
Pria itu ingin keluar mobil lebih dulu namun urung saat Aish mencegah.
"Kenapa kau bawa aku kemari?"
"Tentu ingin mengenalkan mu pada orang tuaku!"
"Apa?" lagi, Aish dibuat ternganga oleh Ken siang menjelang sore ini.
"Sudah ku katakan, aku tidak bermain-main dengan perasaanku. Aku tidak bermain-main dengan mu Aish, jadi ayo kita bisa bicara di rumah."
"Apa?" Aish masih terkejut, Ken sudah lebih dulu keluar dari mobil, lalu Ken mengulurkan tangan saat pintu mobil bagiannya telah pula dibuka oleh pria itu.
"Ayo!" Ken menarik Aish sedikit memaksa, namun wanita ini tidak kuasa melawan, terlebih ia bahkan masih merasa mimpi Ken membawanya kemari.
"Mas Ken, jangan bercanda berlebihan. Kita tidak memiliki hubungan. Untuk apa aku kau bawa kemari, maksud ku ini terlalu cepat. Maaf, aku belum siap untuk hal ini."
Aish meremas tangannya yang berkeringat.
Ken tersenyum.
"Aku mengerti kau pasti gugup, aku akan membawa mu pada hubungan yang pasti. Dan kau harus percaya aku sangat serius kali ini, aku tidak harus menunda keinginanku untuk memiliki mu!"
"Apa?"
Mendengar Ken bicara lancar seperti itu membuat Aish kembali ingin menjatuhkan rahangnya kali ini. Bagaimana Ken bicara selancar jalan tol.
"Aish, kita bisa bicara di dalam, disini panas!"
Ken meraih tangan wanita itu lagi lalu membawanya masuk.
"Mas Ken, berhenti. Aku tidak siap, aku baru pulang bekerja, aku ...." Aish menggantungkan ucapannya seraya berhenti melangkah.
"Aku apa?"
"Aku tidak bisa," elak Aish setelah melepaskan tangannya dari Ken.
"Dan aku juga tidak bisa membiarkan kau pergi begitu saja. Kau akan menjadi milikku, dan itu pasti."
Aish menatap Ken kesal.
"Jangan memaksa, aku tidak mau."
Lama mereka berdebat sebelum mencapai pintu rumah, Ken tetap memegang tangan Aish dan membawa perempuan itu masuk.
"Tidak semua keinginan mu bisa tercapai, meski kau punya kuasa sekalipun. Lepaskan aku!"
"Oke baiklah, maafkan aku." Ken melepas tangan Aish dengan raut kecewa.
Aish menitikkan airmata juga akhirnya.
"Aish, aku mohon jangan menangis. Oke, aku salah sudah memaksa mu, maafkan aku," ucap Ken memohon.
"Apa semua pacar mu kau perlakukan seperti ini? Apa semua wanita yang kau sukai kau bebas bawa kemari?"
Ken terdiam.
"Jangan samakan aku dengan mereka!"
"Aish, kau ini bicara apa?"
"Aku bicara apa adanya, kau pikir aku tidak tahu seperti apa kau sebelumnya?"
Ken mengerutkan dahi.
"Kau seorang playboy yang suka mempermainkan banyak hati, jika kau suka kau bisa membawa wanita manapun ke rumah orangtua mu, dan itu sudah bukan rahasia."
"Apa karena kau tahu aku janda hingga kau bisa melakukan apapun padaku? Tidak Mas Ken, aku bukan seperti yang kau bayangkan, aku memang wanita biasa, janda namun satu hal aku belum kehilangan harga diriku di depan lelaki manapun!" tukas Aish dengan mata berkilat marah.
"Kita tidak memiliki hubungan apapun, aku tidak harus bertemu orang tua mu untuk hal main-main, tidak semua wanita bebas kau paksa untuk ikut dengan mu!"
Ken tercengang dengan respon Aish yang seperti ini, ia bahkan tidak mengira perdebatan mereka bisa seserius ini hingga perempuan itu tampak marah dan menangis.
"Aish, tidak seperti itu sayang. Jangan salah paham, aku benar serius ingin membawa kau pada orang tua ku," sanggah Ken meraih tangan perempuan itu lagi.
"Apa? Sayang? Mas Ken, bercanda mu kejauhan. Apa kau mau pamer pada keluarga mu jika hari ini kau kembali berhasil membawa perempuan berbeda?"
Ken menggeleng cepat.
"Tidak seperti itu Aish, kau salah. Aku tidak seperti yang kau sebutkan," bantah Ken lagi.
"Terserah padamu, tolong jangan buat gaduh di rumah orangtua mu sendiri, aku mau pulang."
Aish melangkah pergi begitu saja. Ken mengejarnya lalu berhasil menangkap tangan Aish lagi.
Wanita itu menatap Ken kian jengah, kenapa ada pria pemaksa seperti itu pikir Aish, bahkan ia frustasi menghadapi Ken yang tidak melepaskannya dari tadi.
"Lepaskan aku! Aku akan pergi dari sini, jangan sampai ada yang lihat kau membawa ku kemari," ucap Aish meronta.
"Tidak," jawab Ken mantap.
__ADS_1
"Lepaskan aku Mas Ken!"
"Tidak."
"Huh, asal kau tahu aku tidak suka pria yang tidak menghargai ku!"
"Untuk itulah kau ku bawa kemari, karena aku menghargai mu dengan baik, ingin bertemu orang tua ku dengan baik Aish, jangan seperti ini. Kau tidak boleh pergi!" balas Ken yang tidak melepaskan tangan Aish sedikit pun.
Aish menatap Ken antara marah dan jengkel, kenapa ia bisa terjebak dengan pria pemaksa seperti ini.
"Kau benar-benar menyebalkan, lepaskan aku!"
"Tidak."
"Mas Ken!"
"Aku bilang tidak ya tidak, kau pikir enak hidup dibayangi wajahmu setiap hari? Dan aku tidak mau itu terus terjadi, dan aku sudah memutuskan untuk memiliki mu dalam wujud yang nyata bukan bayangan semata."
"Ck..... Bisa-bisanya kau merayu seperti ini padaku? Aku tidak akan tertipu!"
Aish benar-benar kehilangan akal menghadapi Ken, ia melihat tangannya mulai merah karena Ken memegangnya sangat kuat hingga ia tidak bisa lari seinci pun.
"Mas Ken, ayo lepaskan aku sebelum ada yang melihat. Aku mohon!"
"Tidak," Ken menggeleng lagi.
"Aku mohon jangan seperti ini," ucap Aish kian frustasi.
Ken menggeleng lagi dengan tatapan mata yang terus menghujani Aish dengan rasa kesal namun tidak bisa mengelak.
"Lepaskan," lirih Aish yang lelah berdebat.
"Tidak Aish, tidak akan!"
"Aku lelah Mas Ken, aku baru pulang kerja, tadi ada banyak pasien. Aku butuh istirahat, ayo lepaskan aku?" Aish memohon dengan lesu.
Lagi Ken menggeleng.
"Sebenarnya kau mau apa dariku?" ucap Aish pelan, ia bahkan seperti kehilangan tenaga menghadapi Ken sejak tadi.
"Aku mau kau menikah denganku!"
"Apa?"
"Dan aku tidak sedang bercanda Aish, aku tidak pernah bergurau jika menyangkut pernikahan."
Aish menatap Ken seolah mencari pembenaran.
Aish ingin menjawab namun lebih dulu pintu rumah terbuka. Mereka menoleh berbarengan ke arah pintu yang terbuka menampilkan Nayla dan Ariq di sana.
Disusul Ariq yang juga terkejut jika putranya sedang memegangi tangan seorang perempuan cantik, namun bukan itu fokus Ayah Ariq melainkan mata Aish yang basah, perempuan itu menangis.
"Ken, ada apa ini?" tanya sang ayah mendekat.
Ken melihat Nayla menunduk, ia tidak juga melepaskan Aish meski orangtuanya ada di sana.
"Ayah, ini Aishwa. Perempuan yang ku janjikan bawa kemari," ucap Ken tanpa basa basi.
"Ken, kau menyakitinya? Dia menangis Ken!" Nayla menatap Ken penuh tanya.
Ken melirik wajah Aish yang menunduk menahan malu karena ketahuan menangis.
"Dia menangis bahagia, karena aku baru saja melamarnya," tukas Ken dengan senyum yang ditahan.
Aish berhasil mengangkat wajahnya, ia menatap Ken dengan gelengan kepala yang heran, benar-benar playboy ajaib pikir Aish.
"Tidak seperti itu Paman," sanggah Aish namun bungkam lagi saat Nayla meraih tangannya yang satu lagi dengan wajah penuh senyum, Aish menghangat hanya karena sentuhan tangan ibu dari Ken itu.
Akhirnya Ken berhasil melepaskan Aish dan membiarkan perempuan itu diraih oleh Bundanya.
"Jika begitu kenapa masih disini, ayo bawa dia masuk. Ayah tidak suka kau membuat perempuan menangis," ucap Ariq lagi.
Ken mengangguk.
Karena orangtua Ken sudah melihatnya, mau tidak mau Aishwa masuk juga ke dalam rumah besar itu.
Dengan perasaan gugup luar biasa Aish merasa tangannya basah oleh keringat, ia tidak pernah diperlakukan pria manapun seperti ini termasuk Romi.
Ken adalah pria pemaksa pertama baginya hingga merasa terjebak seperti ini, sungguh keterlaluan pikir Aish hingga melibatkan orangtua yang ramah itu, Ken bercanda pada perempuan yang salah.
"Nak Aishwa, silahkan diminum tehnya. Jangan sungkan sayang, kau memang sedang dinanti di rumah ini, jadi jangan terlalu gugup oke!"
Nayla yang semula duduk berseberangan kini beralih duduk di samping perempuan yang membuat anak playboy nya tergila-gila itu.
Aish tidak kuasa menolak kelembutan ibu dari Ken itu. Hatinya sungguh suka pada sosok lembut perempuan yang telah melahirkan Ken, tidak seperti Ken yang menyebalkan.
Aish menatap Ken, pria itu tersenyum menggodanya dari jauh.
"Terimakasih Bi, maaf aku tidak tahu akan dibawa kemari, aku baru saja pulang bekerja jadi maaf sekali jika penampilan ku tidak seperti yang diharapkan, aku bau rumah sakit," ucap Aish pada Nayla, ia sungkan dan malu saat Nayla merangkulnya dari samping.
Nayla dan Ariq saling menoleh.
"Bukan masalah sayang, kami bahkan memang sudah tidak sabar bertemu dengan mu. Ken bicara banyak tentang siapa kau Aishwa, kau sungguh membuat kami tidak menduga bahwa pria playboy itu bisa berubah."
Nayla menoleh Ken. Lagi-lagi Ken hanya menatapnya penuh arti.
__ADS_1
Lama mereka berbasa basi, bahkan Ratih dipanggil dan disuruh duduk bersama karena percakapan itu sungguhlah santai dan hangat.
Mereka bercerita banyak hal, tentang kehidupan Aish di kampung, tentang Ken yang playboy namun insyaf saat bertemu Aish dan banyak hal yang membuat Aish merasa ia telah salah marah-marah pada Ken tadi.
Aish tidak menyangka akan disambut seperti itu, kedua orangtua Ken memang bisa menghipnotisnya hingga bisa melunak bahkan merasa dihargai sekali di rumah itu.
Kenapa Aish jadi bimbang lagi pada hatinya, hatinya yang berniat menjauh dari pria playboy seperti Ken karena tidak mau sakit hati.
Namun jika seperti ini bukannya menjauh malah semakin mendekat, Ariq dan Nayla bahkan menyatakan kesungguhan Ken yang menginginkan Aishwa dalam waktu dekat.
Ken berniat menikahinya, seperti yang dikatakan kedua orangtua Ken tadi. Aish benar-benar tidak menyangka Ken seserius itu padanya.
Jika Ken bercanda, sungguhlah keterlaluan melibatkan dua orang tua terbaik di dunia itu pikir Aish.
Dalam mobil.
"Mas Ken," lirih Aish pelan.
"Iya."
"Maaf, aku sudah marah-marah padamu tadi."
Ken tersenyum.
"Itu karena kau tidak percaya padaku, jangan anggap serius. Aku mengerti sekali perasaan mu," jawab Ken tersenyum melirik Aish sekilas lalu fokus mengemudi lagi.
"Aku hanya tidak mau dipermainkan, aku tidak mau terluka lagi hanya karena seorang lelaki."
"Dan ku pastikan, aku bukan lelaki itu."
"Entahlah, kau memang pandai merayu."
Ken terkekeh.
"Pernikahan seperti apa yang kau inginkan nanti?"
Aish menoleh.
"Aku bahkan masih belum percaya kau bicara tentang menikah padaku," ucap Aish lalu menunduk.
"Aku serius Aish."
"Kau belum mengenalku lebih jauh Mas Ken, jangan memutuskan hal yang berdampak pada masa depan tanpa berpikir panjang."
"Kita bisa saling mengenal pribadi masing-masing setelah menikah nanti."
"Bagaimana jika ternyata aku tidak seperti yang kau harapkan setelah menikah? Bagaimana jika kau menyesal?"
Ken menoleh lagi. Ia tersenyum dengan pertanyaan itu.
"Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, aku percaya kau sosok yang ku butuhkan, jadi kenapa harus menyesal."
"Jika aku tidak sesuai ekspektasi, kau akan kecewa nanti."
"Kesempurnaan itu milik Allah, aku tidak membuat ekspektasi tentang kau berlebihan juga, tidak seperti itu Aish. Aku hanya percaya kita bisa saling melengkapi nanti setelah menikah."
"Aku tidak mau keputusan yang terburu Mas Ken, ini menyangkut masa depanku. Aku tidak ingin salah pria lagi, aku minta maaf berilah aku waktu untuk berpikir. Aku tidak mau mempermainkan suatu pernikahan."
Ken terdiam.
"Apa kau trauma menikah?"
"Bukan trauma pada pernikahan, tapi ada bayang luka lama yang ku takuti akan terjadi lagi, apalagi kau pria yang punya banyak wanita sebelumnya. Aku juga belum mengenalmu dengan baik," ucap Aish pada Ken yang tiba-tiba berhenti.
Ia menatap Aish dan meraih tangan janda itu.
"Aku tidak seburuk yang kau takutkan Aish, aku juga tidak akan membela diri dengan semua itu, aku memang terbiasa dengan banyak wanita selama ini, aku tidak pernah menyangkalnya. Tapi satu hal, aku bertemu dengan mu dan aku tidak pernah salah mengenali perasaan ku."
"Jika aku ingin bermain-main, itu bukan kau. Aku tidak akan menyakiti mu Aish, percayalah."
"Lalu bagaimana dengan pacar-pacar mu itu?"
"Sudah ku akhiri, aku tidak dengan wanita manapun sekarang. Aku mantap ingin menikahi mu Aish, aku yakin sekali. Aku juga tidak ingin terus bermain dengan banyak hati, aku tidak akan seperti itu lagi, aku siap untuk melepaskan apa yang tidak kau suka dariku," ucap Ken serius.
Aish terdiam, untuk sejenak mereka saling memandang satu sama lain.
"Kenapa kau terkesan terburu sekali mengambil keputusan menikah denganku?"
"Entahlah, aku hanya merasa tidak ingin membuang waktu lagi. Aku ingin menghabiskan waktu dengan orang yang aku cintai ini dalam pernikahan yang hangat, aku tidak akan membuat waktu lagi Aish, aku ingin kita menikah secepatnya!"
"Tapi Mas Ken?"
"Jangan menolak ku Aish, kau tidak tahu sehancur apa aku jika kau tidak menikah dengan ku, aku mau kau! Dan itu tidak salah!"
"Aku bahkan bingung."
"Jangan bingung, hanya jawab iya saja apa susahnya? Yang urus semua keluarga ku, kau hanya duduk manis tinggal bilang mau apa, mau konsep pernikahan seperti apa, aku akan mengabulkannya?"
"Aku hanya ingin tidak terlibat hubungan pada wanita lain di belakang ku, aku tidak siap untuk yang kedua kalinya jika itu terjadi. Aku lemah dalam hal orang ketiga Mas Ken, aku tidak suka berbagi cinta, aku tidak mau!"
"Karena perihal itu pula pernikahan pertama ku kandas, aku tidak siap untuk mengulangi hal yang sama, aku tidak sanggup jika ada wanita lain diantara kita nantinya."
"Jika kau tidak bisa puas dengan satu wanita, sebaiknya jangan mendekati ku, kau salah orang. Jika ada cinta yang belum usai di kehidupan mu yang lalu, sebaiknya selesaikan sebelum melanjutkan niat menikahiku!"
"Itu kelemahan ku, berpikirlah mulai sekarang."
__ADS_1