
Ariq mengemudi dengan kecepatan sedang, derasnya hujan sedikit mengganggu perjalanan. Hatinya terus memikirkan Nayla, kemana dan ada apa dengan gadis itu hingga tidak memberi kabar hari ini.
Ariq memukul stir mobil saat perjalanannya terjebak macet oleh kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas, hingga ia harus mengantri untuk bisa lewat jalur yang hanya dibuka satu arah oleh petugas polisi yang datang pada kejadian.
Untuk hati yang menunggu bagi Ariq adalah hal yang menyebalkan, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun mobilnya tidak bergerak dari macet parah sepanjang lebih kurang lima ratus meter.
"Ah sial, kenapa tidak telepon bang Jhon saja?" gumam Ariq baru teringat jika bang Jhon adalah tetangga dekat Nayla, ia merutuki otaknya yang buntu saat berpikir.
Ariq menunggu panggilannya dijawab.
"Huh kemana saja kau kenapa baru dijawab?" ketus Ariq kesal.
Hal itu membuat sang pria yang bekerja sebagai satpam rumahnya pada siang hari itu menjadi bingung sekaligus terkejut. Jarang sekali majikannya ini menelepon malam-malam.
"Iya mas Ariq, maaf jika lama. Ada apa menelepon? Apa aku membuat kesalahan?" tanya bang Jhon diseberang telepon, ia tampak bangun dari ranjangnya seraya mengumpulkan nyawa.
"Iya, kau salah telah tertidur padahal di jam semua orang masih terjaga seperti ini. Aku minta tolong, keluar dari rumahmu sekarang!"
"Apa?" bang Jhon kembali bingung atas perintah tiba-tiba itu.
"Kenapa kau banyak bertanya, keluar sekarang dan lihat apa Nayla baik-baik saja?"
"Nayla?" terdengar napas panjang bang Jhon saat mendengar nama Nayla, ia baru mengerti arah pembicaraan tuan majikannya itu. Soal Nayla, bos tampan itu selalu saja suka seenaknya pikir bang Jhon seraya keluar kamar.
"Dia tidak memberi kabar hari ini, sampai malam ini panggilan ku tidak dijawab, aku hanya takut terjadi sesuatu."
"Huh, mas Ariq terlalu berlebihan. Nayla ada di rumah, bahkan tidak keluar rumah sejak sore tadi."
"Apa katamu? Aku berlebihan? Sialan, awas kau ku pecat kau nanti."
"Selalu saja main pecat jika marah. Baiklah, aku keluar sekarang, hujan lebat mas Ariq bagaimana aku bisa kesana."
Bang Jhon adalah satpam yang sudah menjalin kedekatan dengan Ariq, hingga tidak heran ia cukup berani pada pria majikannya itu.
"Apa kau tidak punya payung?"
"Entahlah," jawab bang Jhon melihat-lihat jika ada payung di rumahnya.
"Mana istrimu?"
__ADS_1
"Istriku sudah tidur, lagipula mas Ariq menelepon jam orang sudah pada tidur," rutuk bang Jhon yang masih sibuk mencari payung.
"Bangunkan istrimu!"
"Oh ya Allah....." kesal bang Jhon.
"Bangunkan Dewi, biar dia saja yang ke rumah Nayla. Kau lelaki tidak boleh!"
"Mas Ariq?"
"Tidak boleh ya tidak boleh, bangunkan Dewi cepat."
"Dasar bucin!" tukas bang Jhon kesal, ia kembali lagi ke kamar guna membangunkan istrinya.
"Berani membantah, akan ku pecat kau sekaligus istrimu!" sergah Ariq lagi yang tidak sabar ingin tahu keadaan Nayla, ia perlahan melewati jalan macet.
"Iya iya baiklah.... Kau majikanku, kau bebas padaku. Oh enaknya jadi orang kaya," gumamnya lagi sebelum mencapai ranjang dimana Dewi tampak mengusap matanya heran menatap sang suami.
Nayla termenung di tepi jendela, ia melihat jelas Vano tidak beranjak dari tempatnya sejak tadi, sudah satu jam lebih lelaki itu tidak peduli akan dinginnya air hujan mengguyuri wajah dan tubuhnya.
Vano hanya bisa terduduk menanti Nayla keluar, ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus bicara dengan gadis itu, ia ingin kembali. Kembali dan memperbaiki semuanya bersama Nayla.
Nayla membiarkan pipinya kembali basah oleh butiran bening yang jatuh entah sejak kapan. Hatinya teriris saat mengingat semua kenangan indah bersama pria yang berada di luar rumahnya, kenangan dimana Vano tidak pernah menyakitinya.
Vano yang setia mendampinginya meski ia dan keluarganya telah jatuh miskin dan terhina. Pria itu sama sekali tidak meninggalkannya, Nayla menaruh harapan penuh pada Vano yang berjanji akan menikahinya.
Namun semuanya berubah ketika mereka minta restu orangtua Vano, ayah dan ibunya tidak mau punya menantu anak dari seorang koruptor. Mereka menjodohkan Vano dengan wanita lain, wanita yang mana ayahnya menyelamatkan perusahaan keluarga Vano yang terancam bangkrut.
Di sanalah dimulai peliknya hubungan Nayla dan Vano. Nayla hamil disaat Vano sudah bertunangan dan akan segera menikahi Annisa sebagai menantu pilihan.
Mengingat semua itu, membuat Nayla merasa nyeri dadanya, nyeri yang tak kasat mata, nyeri yang melebihi orang sakit jantung, melihat Vano ingin kembali, ingin kembali disaat hatinya mulai terisi oleh orang lain, Ariq.
Nayla benar-benar tidak menyangka bahwa Annisa dan Ariq adalah saudara sepupu, dan Vano adalah suaminya Annisa, perempuan yang menjadi penyebab Nayla keguguran waktu itu.
Nayla tetaplah Nayla, hatinya telah patah. Ia tahu sekarang bahwa ia dan Ariq akan semakin sulit untuk menuju hubungan yang lebih dari ini, bagaimana Ariq akan menerima masa lalunya yang telah ternoda oleh suami adik sepupunya sendiri. Tidak, Nayla meragukan hati Ariq setelah semua ini. Ia tahu Ariq memang tidak pantas untuknya.
Gadis itu bersikap dingin hari ini, entah kenapa ia merasa sia-sia telah bermain hati dengan seorang pria yang ternyata adalah keluarga wanita yang telah membunuhnya. Nayla merasa telah mati oleh Annisa sejak hari itu.
Nayla mengelap sisa air matanya, ia memastikan anak-anaknya telah tertidur pulas, lalu ia beranjak pergi dan keluar dari rumah menghampiri Vano yang telah memucat oleh kedinginan.
__ADS_1
Gadis itu tampak memayungi Vano, hingga pria itu tersenyum lalu ikut berdiri.
"Aku tahu kau pasti akan keluar," ucap Vano pelan.
"Pulanglah," balas Nayla dengan raut sedih.
"Nayla, aku mencintaimu. Percaya padaku," balas Vano dengan wajah memelas.
"Maafkan aku, jangan persulit keadaan Vano. Kau telah menjadi suami wanita lain."
Vano menggeleng, ia menangis sekarang.
"Kau tidak tahu betapa aku hidup dalam penyesalan, aku muak dipaksa mencintai wanita itu padahal aku tidak bisa. Aku hanya milikmu Nay..... Percaya padaku, aku tidak butuh apapun, aku butuh kau percaya dan kembali padaku."
"Hubungan kita sudah berakhir Vano, aku telah mati dalam keputusasaan karena kau meninggalkanku dulu. Terlambat untuk kembali, semua sudah usai. Sudah sirna, tidak ada lagi cinta untukmu."
"Jika begitu, mari kita mulai dari awal lagi. Kita buka lembaran baru, dengan cinta yang baru, aku tidak bisa kehilangan kau lagi Nayla, aku mohon beri aku kesempatan?"
Di sisi lain, sepasang suami istri sedang tercengang bahkan hampir ternganga oleh pemandangan di halaman rumah Nayla yang tampak gadis itu tengah bicara dengan pria lain yang tidak lain tidak bukan adalah Vano, suami majikannya Annisa.
Telepon masih tersambung.
"Mas Vano," lirih bang Jhon dan istrinya berbarengan.
"Apa? Siapa?" tanya Ariq menajamkan pendengarannya di telepon.
"Ternyata mas Vano yang datang menemui Nayla, mereka tampak hujan-hujanan mas Ariq, ya Allah kenapa dia berlutut? Apa mereka punya hubungan?" sahut bang Jhon polos.
Hal itu membuat Dewi memukul lengan suaminya dengan keras. Ia merampas ponsel lalu mematikannya begitu saja.
"Dasar bodoh, kenapa kau lapor pada mas Ariq? Gila bang Jhon kau memang gila, mas Vano adalah mantan kekasihnya Nayla, kenapa mulutmu bocor sekali? Huh bagaimana jika mas Ariq menuju kemari?" kata Dewi berapi-api.
"Memangnya kenapa? Mas Ariq memang sedang menuju kemari." jawab bang Jhon bingung.
"Apa?"
Dewi segera membuka pintu dan berlari kesana kemari mencari payung, ia berniat menyusul Nayla yang masih bicara dengan Vano di tengah hujan lebat, hanya berdua.
####
__ADS_1
Hayukkk kita haluin apa yang terjadi berikutnya? bang Jhon mulutnya lemesssss