Purnama Merindu

Purnama Merindu
Dokter Aishwa


__ADS_3

Aish menatap malam yang terang lewat jendela kamarnya. Ia baru saja usai bicara dengan Ratih sahabatnya. Banyak hal yang mereka bicarakan termasuk Ken dan orangtua pria itu.


Aish kembali memandang sebuah purnama yang sedang mengembang di pertengahan bulan ini, indah dan terang dibarengi bintang yang berkilau manja di angkasa.


Aish merasa sepi jiwanya, barulah ia menyadari hidupnya hanya seorang diri dan bisa dikatakan sebatang kara sekarang.


Umurnya sudah dua puluh empat tahun, dengan profesi nya sekarang Aish yakin ia tidak akan terlantar untuk masalah uang dan biaya hidup, ia tidak akan kehilangan masa depan.


Ia punya keahlian, ia seorang dokter yang bisa bekerja di rumah sakit manapun asal menghasilkan uang.


Namun bukan perihal karir, tetapi urusan pribadinya yang hingga sekarang belum ada titik terang, sosok Ken terbayang di benaknya saat ini. Apa Aish sudah membuka hati hingga ia terbayang saat ia dilamar Ken di hadapan orangtuanya kemarin.


Ia mulai berpikir akan jawaban tentang perasaan Ken padanya, ajakan Ken untuk menikah dengan segera cukup membuat Aishwa terkejut terlebih mereka belumlah lama saling kenal.


Namun disana pula Aish mulai percaya bahwa Ken benar serius pada perasaannya.


Ia harus pula untuk kembali bangkit dari kisah nya yang telah usai bersama Romi, Aish masih muda masih banyak kesempatan memperbaiki diri, masih banyak pria yang mau termasuk Ken.


Sudah satu tahun setelah perceraiannya dengan Romi, satu tahun pula Aish terpuruk pada perasaan yang dikhianati. Tentu ia tidak ingin berlarut lagi sedang ada Ken yang membuka hatinya lagi dengan sebuah keseriusan di sana.


Keesokan harinya Aish kembali bekerja seperti biasa.


Seorang pria masuk IGD diantar oleh seorang lelaki lain, Aish segera memeriksa.


"Kau?" Aish terkejut, ternyata pria yang terbaring di brangkar itu pria yang menyelamatkan nya tempo hari.


"Hai," sapa pria itu dengan canggung.


Aish melihat ada luka robek di kepala bagian kiri si pria, lalu ada beberapa luka lecet di bagian tangan dan kaki.


Pria yang memakai pakaian olahraga sepeda itu meringis kesakitan saat seorang perawat membersihkan luka di kakinya.

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti ini? Kau tidak memakai helm sepeda?" tanya Aish sambil memeriksa dengan seksama.


"Kebetulan baru saja dibuka, malah ditabrak pengendara motor. Sial memang," jawab pria itu sambil terus mengaduh saat Aish membersihkan luka di kepalanya.


"Baiklah, luka ini perlu dijahit. Bertahanlah sebentar," ucap Aish.


Perawat datang dengan alat medisnya. Aish dibantu salah seorang perawat wanita lainnya mulai menyuntikkan obat anastesi lokal pada kulit kepala yang terluka setelah dibersihkan.


Dengan telaten sambil terus menenangkan pasien dengan kata-kata lembut dan bercanda sebagai komunikasi terapeutik guna mengalihkan perhatian, membuat pria itu puas menatap Aish yang sedang menjahit lukanya.


Wajah dokter cantik yang sangat ramah, bekerja dengan rapi, suara lembut yang membuat candu mendengarnya.


"Ternyata kau seorang dokter," ucap pria itu terkagum dalam diam.


"Iya, dan kau sudah dua kali bertemu denganku di depan rumah sakit ini ketika aku pulang bekerja."


Barulah pria itu mengerti beberapa hari kemarin ia selalu melihat perempuan ini berjalan di depan rumah sakit saat ia hendak pulang.


"Aku dokter Aishwa, aku dokter jaga hari ini," jawab Aish tersenyum.


Pria itu tersenyum dalam hati. Wajah Aish yang teduh sangat cocok jadi dokter hingga bisa menghipnotis pasien saat berobat seperti ini.


Lalu pria itu diam, ia sibuk memandang Aish yang tidak membosankan. Hingga suara lembut dokter cantik itu membuyarkan lamunannya.


"Sudah selesai Tuan, anda mendapatkan 4 jahitan, luka lecet hanya perlu dioles obat saja. Tunggulah sebentar, aku resepkan obat pereda nyeri dan obat oles luka lecet ini."


Pria itu mengangguk saja, ia hanya bisa memandang Aish yang menjauh dan duduk di kursi para perawat, perempuan itu mulai menulis di kertas.


IGD tampak sepi, yang jaga hanya beberapa perawat saja dan satu dokter yaitu Aishwa, tidak heran jika ini hari minggu, pasien datang lebih sedikit dari hari biasa.


Lelaki itu duduk, ia menatap beberapa luka lecet di tangannya karena ia memakai pakaian olahraga sepeda lengan pendek.

__ADS_1


Luka lecet yang lumayan perih. Ia hanya menggeleng tidak menyangka habis kecelakaan sekarang padahal ia tidaklah menghalangi jalan pengendara lain, dan kesalnya lagi ia disenggol lalu terjatuh, namun pengendara motor itu tidak berhenti untuk bertanggungjawab.


Beruntung ada seorang tukang ojek yang berbaik hati menolong dan membawanya ke rumah sakit terdekat ini.


Namanya musibah, tidak ada yang bisa menebaknya. Ia hanya bernapas kasar mengingat kejadian beberapa saat lalu.


Ia melihat Aishwa mendekat.


"Tuan Aldric," panggil Aish.


"Iya," sahut pria itu cepat.


"Ini resep obat, kau boleh tebus di apotek rumah sakit ini atau pun apotek luar rumah sakit. Semua tindakan sudah selesai, kau boleh pulang dan urus administrasinya di sana," tunjuk Aish pada ruangan yang terdapat di samping ruangan IGD.


Pria bernama Aldric itu menerima kertas resep dan mengangguk sebagai tanda ia mengerti akan ucapan dokter cantik itu.


"Semoga cepat sembuh, Tuan Aldric, lain kali berhati-hatilah pakai helm dan pakaian yang panjang, setiap anggota tubuh kita berharga."


Lagi, Aldric hanya bisa mengangguk tanpa membantah.


"Baiklah, Tuan Aldric boleh pulang sekarang. Aku akan kembali ke meja," ucap Aish menyudahi.


"Iya, terimakasih banyak," jawab lelaki itu kaku.


Aish tersenyum lalu berlalu, Aldric pun mulai berjalan perlahan meski menahan perih beberapa luka lecet di bagian kakinya hingga jalannya agak pincang karena menahan sakit.


Ia keluar dari IGD menuju ruangan Administrasi, namun ia berhenti melangkah lalu melihat ke belakang, Aishwa sudah duduk di meja dokter.


Perempuan itu sedang menulis, ia tidak tahu apa yang dikerjakan oleh dokter cantik itu namun wajahnya masih bisa dilihat Aldric dengan jelas.


"Dokter Aishwa," gumamnya dalam senyuman sebelum benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2