Purnama Merindu

Purnama Merindu
Bibi Rena


__ADS_3

Satu minggu Nayla mencari pekerjaan, namun belum ada yang cocok dengannya, Nayla dilema dalam memilih pekerjaan, ia ingin bekerja pada pagi hingga sore saja tidak memakai shift malam, namun semua swalayan memberlakukan peraturan shift bagi setiap karyawan baru maupun lama.


Bukan tanpa alasan, Nayla tidak ingin menitipkan keempat keponakannya hingga malam, ia tidak ingin merepotkan Dewi lebih banyak lagi, pasangan suami istri itu cukup membantu selama ini.


Satu minggu pula Ariq menghilang, entah apa yang terjadi pada pria itu hingga untuk sekedar membalas pesan Nayla pun ia enggan.


Nayla melihat tanggal, senyumnya melebar saat minggu ini sudah pertengahan bulan, itu artinya ayahnya akan bebas di awal bulan seperti informasi yang ia dapatkan.


Sungguh tidak sabar, Nayla dan anak-anaknya sungguh menyambut bahagia berita ini. Ia akan berkumpul lagi dengan ayah tercinta, memulai semuanya dari awal lagi. Nayla merasa besar hatinya karena akan ada tempatnya berlindung setelah ini.


Sedang anak-anaknya sekolah, Nayla membawa Zaza berniat mengunjungi lagi ayahnya demi mendapatkan kepastian tanggal bebasnya sang ayahanda.


Zaza tampak letih berjalan menyusuri trotoar menuju jalan raya demi mendapatkan angkutan umum, Nayla gendong anak itu dengan penuh kasih sayang.


Langkahnya terhenti saat sebuah mobil yang sangat ia kenali memberi klakson dan membuka jendelanya menampilkan wajah perempuan yang sudah sangat lama tidak Nayla jumpai.


Perempuan yang dimaksud segera keluar mobil dan berlari memeluk Nayla dan Zaza.


"Naylaaaaaaaaaa," teriak Lia kegirangan karena bertemu tidak sengaja dengan sahabat lamanya.


Ia memeluk Nayla dengan erat tanda kerinduan yang mendalam.


"Lia, ayolah kasihan Zaza. Ayo lepaskan aku!"


"Lepaskan aku," lirih Zaza dengan suara lucunya seraya meronta.


"Tidak mau! Aku merindukanmu Nay, kau jahat kenapa menghilang tanpa kabar?" tanya Lia kesal, ia melepaskan Nayla lalu mengambil alih Zaza, ia cium pipi anak kecil itu dengan gemas.


"Ayo masuk mobilku, aku rasa kita terlibat banyak cerita setelah ini."


"Maafkan aku, baiklah sepertinya kami mendapatkan tumpangan gratis hari ini," seloroh Nayla dengan senyum terbaiknya.


Mereka masuk mobil dan bercerita dengan heboh sepanjang perjalanan menuju dimana ayah Nayla berada.


"Aku akan menunggumu sampai selesai kunjungan, aku belum puas jika belum tahu dimana alamatmu, aku akan mengantarmu pulang Nay..... Kau tidak akan kubiarkan hilang lagi!"


"Ck, aku tidak hilang Lia.... Aku hanya pindah, sayangnya aku tidak hafal nomor telepon mu."


Setelah berdebat kecil, akhirnya Nayla pergi menemui ayahnya di suatu ruangan kunjungan.


Seperti biasa pertemuan haru terjadi, terlebih ada Zaza yang ikut membuat hati kakeknya menjadi teriris.

__ADS_1


"Nay, apa uangmu cukup sampai ayah keluar nanti?"


"Kenapa ayah bertanya seperti itu, aku masih menyimpan uang, aku pandai hidup berhemat sekarang. Aku juga sedang mencari pekerjaan baru ayah, jika sudah bekerja nanti insya Allah akan mencukupi kebutuhan kita, jangan takutkan soal uang. Uang bisa dicari, yang terpenting ayah akan kembali pada kami."


Ayah Faisal mengusap kepala anaknya yang tertutup kerudung berwarna sage itu, ia bangga dengan Nayla.


"Kau tidak perlu bekerja nak, setelah ayah keluar nanti ayah akan memulai sebuah usaha, usaha kecil-kecilan."


"Apa itu?"


"Kedai kopi atau sejenis restoran kecil, ayah akan dibantu modal oleh teman, ayah mantap ingin usaha kuliner setelah bebas nanti, kau tahu sendiri usaha kuliner tidak ada matinya sampai kapanpun, kita akan bangkit Nayla.... Percaya pada ayah, bahkan semuanya sudah disiapkan oleh teman ayah itu."


"Benarkah? Cukup sulit untuk memulai usaha baru ayah, lagi pula siapa yang akan jadi kokinya? Kita saja dipinjamkan modal oleh orang lain, tentu akan mengeluarkan banyak biaya jika kita menyewa tukang masak."


"Oh ternyata putriku tidak tahu keahlian apa yang ayah dapatkan dari penjara," tukas ayah Faisal seraya membanggakan diri.


"Memangnya ayah bisa apa?"


"Ayah pandai memasak sejak dikurung di sini, tentu ayah sendiri yang akan menjadi juru masaknya, dan kau pelayannya bagaimana?" jawab ayah Faisal terkekeh.


"Aku tidak percaya."


"Bagaimana bisa ayah pandai memasak?"


"Oh sayang, di sini ada semacam pelatihan yang diberikan oleh pemerintah. Seperti kelas memasak misalnya, kami layak warga binaan, jangan salah di sini justru banyak mendapatkan pelajaran baru, kami juga diberi ceramah setiap hari Jumat. Sekilas seperti panti sosial," kekeh ayah Faisal lagi.


Nayla tercengang mendengarnya. "Benarkah?"


Ayah Faisal mengangguk meyakinkan.


"Kau tahu sayang lokasi usaha itu sangat strategis, kita akan buka kedai itu di dekat area kampusmu, bukankah kita akan dapatkan banyak pelanggan dari teman-teman lamamu misalnya? Bukankah Lia juga di sana? Semua akan mudah jika kita sudah menjalaninya nanti, kita akan berwirausaha Nayla, ayah yakin itu."


Nayla tersenyum saat mendengar penuturan sekaligus melihat jelas raut bahagia serta semangat ayahnya yang ingin segera keluar dan memulai hidup baru, hidup yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari kehidupan sebelum semua merenggut kebahagiaan mereka.


Mereka bercerita banyak tentang seorang teman lama yang membantu ayahnya hingga berkorban sejauh ini, Nayla sedikit murung saat tahu teman ayahnya itu adalah seorang perempuan.


"Kau marah pada ayah?"


"Tidak, kenapa harus marah? Apa teman ayah itu wanita bersuami?"


Ayah Faisal menggeleng, "Dia teman sekolah ayah dulu, kami bersahabat dekat hingga selesai kuliah kami punya kehidupan masing-masing, dia berkeluarga dan ayah berkeluarga dengan ibumu. Dia punya anak seorang pengacara hebat, membantu ayah hingga bisa bebas. Dia sudah berpisah dari suaminya sejak anak-anaknya masih kecil, dia wanita mandiri dan kuat."

__ADS_1


"Panggil dia bibi Rena."


"Dia juga punya anak gadis mungkin lebih tua sedikit darimu sayang, namanya Rahayu. Dia juga berkuliah di kampus mu, mungkin saja dia kakak tingkatmu."


Deg.


"Apa? Rahayu? Intan Rahayu maksud ayah? Atau Rahayu yang lain?" tanya Nayla mulai tertarik.


"Ayah lupa nama panjangnya, nanti kalian akan berkenalan juga.... Bersabarlah, kita akan memulai semuanya dua minggu lagi, bibi Rena baik pada ayah, dia membantu ayah tanpa pamrih."


Nayla murung lagi.


"Apa ayah menyukainya? Dan ayah mulai melupakan ibu?"


Ayah Faisal menggenggam tangan putrinya, satu tangan lagi ia belai rambut hitam cucunya yang diam tidak banyak tingkah, gadis kecil itu tidak rewel ketika memegang ponsel dan menonton film kartu kesukaannya dari layar ponsel pemberian Ariq waktu itu.


"Tidak sayang, ibumu tetap ratu di hatiku, kami bersahabat Nayla. Bukan seperti yang kau bayangkan, kami adalah layak kau dan Lia saat ini."


"Mana ada sahabat yang membantu sejauh itu, aku ragu....." cebik Nayla yang memajukan bibirnya.


"Nak, kita harus hargai orang yang menolong kita disaat jatuh seperti ini, sahabat sejati akan muncul disaat kita mengalami kesulitan. Bibi Rena orang yang baik, percaya pada ayah. Kami tidak lebih dari tolong menolong."


Nayla tersenyum masam, ayahnya memuji wanita lain selain ibunya. Entahlah Nayla tidak suka ayahnya seperti ini, mengagumi kehidupan orang lain meski baik sekalipun.


"Sayang," lirih ayah Faisal lagi.


"Baiklah, ini sudah habis waktu jenguk. Aku dan Zaza akan pulang. Aku akan menjemput ayah ditanggal tersebut. Aku akan masak banyak hari itu."


"Wah ternyata putriku juga pandai memasak sekarang?"


"Ayo kita tanding masakan siapa yang paling enak nanti," tantang Nayla dengan tawa yang manis, manis sekali.


"Baiklah, ayah menerima tantangan mu."


Mereka saling melempar tawa sebelum mengakhiri pertemuan. Tanpa mereka sadari, kehidupan getir membawa mereka pada hal-hal baru yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, memasak adalah contoh sederhana.


Dulu mereka terbiasa dilayani, dan sekarang semuanya mandiri dengan sendirinya bahkan ayah Faisal yang seorang lelaki sekalipun.


Nayla dan ayahnya benar-benar tabah dalam cobaan ini, hingga mereka tidak ikut sirna seperti kehidupan sempurna mereka yang dulu.


Bravo Ayah Faisal.

__ADS_1


__ADS_2