Purnama Merindu

Purnama Merindu
Balas dendam


__ADS_3

"Bisakah kalian pulang lebih cepat?" Tiba-tiba Ariq berkata dengan lantang hingga semua mata tertuju padanya.


Setelah mendapat tatapan aneh dari semua orang, membuat pria ini salah tingkah sendiri. Mendadak wajahnya pias. Ibu Rena tertawa sambil melirik suaminya yang duduk di samping Oma.


"Kau lihat menantu mu sudah tidak sabar." Ibu Rena menyandarkan kepalanya di bahu ayah Faisal seraya menatap Nayla dengan senyum terbaiknya. Ia berharap dalam hati jika Rahayu kelak akan menemukan kebahagiaan seperti Nayla sekarang.


Ayah Faisal memijat keningnya sambil geleng kepala, baru saja Oma Rika menceritakan tentang drama tadi pagi hingga ayah Nayla itu baru tahu jika Ariq sudah dikerjai lebih dulu.


"Maaf..... Maksudku, ini sudah larut," sambungnya lagi menahan malu.


Aziz menoleh jam di pergelangan tangannya.


"Ini belum jam sepuluh," sahut adik keduanya itu.


Semua tertawa, mereka yang semula menikmati berbagai kudapan malam yang mengenyangkan, mereka berakhir pada pesta barbeque (BBQ) di halaman samping rumah berlantai dua itu, halaman yang menghadap ke hamparan luas laut yang tidak terkira, deru ombak terdengar jelas di telinga mereka.


Wajah Nayla merah padam oleh rasa malu.


Pemandangan yang sempurna, rumah yang hanya berjarak lebih kurang dua ratus meter dari bibir pantai. Angin bertiup dari arah laut menerpa setiap wajah yang hadir dengan perasaan ikut berbahagia seperti yang Nayla rasakan saat ini.


Semua tersenyum geli, seakan tahu maksud dari Ariq saat ini yang sudah tidak bisa menahan hati ingin segera berdua saja di sana tanpa ada yang mengganggu.


"Apa itu kalimat lain dari arti mengusir?" cetus Ammar yang tertawa geli.


Disusul riuh dari semua yang hadir di sana.


Nayla tersenyum, wajahnya merah menahan malu jika terus digoda oleh ipar-iparnya.


Sesekali ia menoleh pada pemandangan di atas langit yang memayungi mereka. Bulan purnama mengembang sempurna, bulat penuh. Bintang berkerlipan menemani, hingga menambah indahnya rembulan yang tampak bersinar terang.


Nayla menoleh bulan cantik itu di sela ranting cemara yang ia berada dibawahnya saat ini. Bulan ke empat belas itulah yang menjadi alasan utama Purnama di belakang namanya.


Ia lahir tepat di malam hari ke empat belas bulan Maret dua puluh tahun lalu. Indah wajahnya yang cantik dan berseri seperti bulan purnama.


Lalu Nayla menatap suaminya yang sedang berdebat dengan adik-adiknya yang terus menggoda. Ia merasa berdosa telah menaruh curiga dan berpikir yang tidak-tidak tentang pria itu sebelum ini.


Ariq, suaminya yang menciptakan kebahagiaan sempurna untuknya malam ini. Mereka bahkan belum diberi kesempatan untuk bicara berdua karena sejak tadi mereka sengaja dipisahkan agar tidak berdekatan.


Perut pun telah kenyang, pesta kecil yang bermakna, Dewi dan bang Jhon yang menjadi kokinya malam ini.


Karena tidak ingin mengganggu lebih lama akhirnya Oma Rika memutuskan untuk mengajak semua orang pulang dari rumah baru Ariq dan Nayla itu setelah Dewi dan pelayan lain yang Oma bawa untuk mengurus segala jamuan makan mereka malam ini membereskan dan membersihkan dari sisa pesta.


Meski masih ingin menikmati pesta, akhirnya semua mengalah juga. Mereka pamit satu persatu dan melanjutkan niat untuk bermalam minggu dengan tujuan masing-masing.


Nayla memeluk Oma yang pulang paling terakhir bersama Dewi dan bang Jhon.


"Ingat yang Oma katakan tadi, pakailah itu sebelum memulai semuanya."


"Oma membuatku malu....." sahut Nayla sambil memeluk Oma Rika lagi.


"Ini rahasia kita, tenang saja."


"Aku berdoa semoga kita selalu sehat dan sering berkumpul seperti ini sampai nanti-nanti, aku menyayangi Oma. Sungguh," ucap Nayla setelah mencium tangan Oma suaminya itu.


Semua sudah pulang.


Ariq dan Nayla saling melempar tatap satu sama lain. Nayla mendekat, ia mengulurkan tangan yang segera disambut bahagia sang suami.


"Kenapa kau jahat sekali?"


"Karena aku mencintaimu."


"Ck..... Aku juga mencintaimu!" balas Nayla berdecak kesal, namun ia segera berhambur memeluk suaminya dengan erat.


Ariq melepas Nayla.


"Kau bilang apa?"


"Aku mencintaimu mas Ariq, aku mencintai suamiku yang menyebalkan ini!" Nayla memeluk Ariq lagi demi menyembunyikan wajah merahnya.


Ariq mengangkat tubuh mungil istrinya dengan gerakan memutar, demi apa sekian purnama ia menunggu kata cinta itu yang akhirnya malam ini berhasil lolos dari bibir istrinya yang menggemaskan.


"Kau mengakuinya sekarang?"


"Terpaksa."


"Apa?" Ariq menurunkan Nayla lalu menatapnya kesal.


"Aku mencintaimu, sungguh," kata Nayla lagi seraya mengecup bibir suaminya dengan gemas.


"Kau tahu, ini ku persiapkan bahkan sebelum aku melamarmu..... Aku mendesain sendiri rumah yang akan menjadi tempat kita berbagi suka dan duka kehidupan hingga kita tua nanti, memiliki keturunan dan membesarkannya di sini. Kau tahu Nayla, seharusnya hari inilah kita menikah jika sesuai rencana."


"Kau pandai mendesain?"

__ADS_1


"Aku seharusnya jadi arsitek, karena alasan anak sulung yang harus menurut kemauan orang tua yang ingin aku meneruskan perusahaan kakek Imran, aku mengalah untuk memendam bakat menggambarku, akhirnya aku bisa mendesain rumah ini dengan tanganku sendiri," ucap Ariq dengan bangga.


"Terimakasih, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa saat ini. Mas Ariq aku tidak memiliki apa-apa untuk membalas semua ini, tapi percayalah aku punya cinta yang besar untukmu..... Aku mencintaimu, sungguh."


Nayla meraih lagi wajah suaminya, mereka saling mengecap cukup lama di bawah sinar rembulan yang purnama. Mereka berdua.


"Lupakan tentang 13 malam yang berlalu, untuk itulah kita berada di sini sekarang. Mari memulai hidup baru bersamaku, di rumah milik kita, milikmu..... Kau nyonya di rumah ini mulai sekarang."


"Bahagiaku bersama mu Nayla, Nayla Purnama..... Lihat bulan itu? Aku rasa dia iri pada istriku sekarang."


Nayla tersenyum, matanya berkaca-kaca.


"Ini bahkan terlalu sempurna untukku mas Ariq, sungguh aku tidak mengharapkan hal yang semacam ini. Aku menikah dengan mu saja sudah sangat bersyukur. Aku ingin kita bahagia, itu saja."


"Ini hanya sekedar hari ulang tahun, kenapa kau melakukan hal sebesar ini?"


"Kita akan bahagia sayang, aku mencintaimu Nayla Purnama..... Selamat ulang tahun, doa terbaik untukmu, untuk calon ibu dari anak-anakku nanti. Menua bersamaku?"


Nayla mengangguk dalam keharuan luar biasa.


"Aku mencintaimu mas Ariq, jangan ragukan itu."


Nayla meraih bibir suaminya lalu mengecupnya lembut. Ariq tersenyum puas saat menerima perlakuan istrinya yang benar-benar mendamba.


Ariq menggendong istrinya masuk ke rumah, namun saat di ruang tengah baru saja mulai berciuman lagi dan lagi, sudah harus pula mereka saling melepas satu sama lain saat terdengar ada suara ketukan pintu.


Ariq menurunkan lagi istrinya.


Ariq dengan kesal membuka pintu meski terpaksa.


"Bang Jhon? Ada apa?"


"Mas Ariq maafkan aku. Ponselku sepertinya tertinggal di taman samping."


Dengan raut tidak bersalah Bang Jhon permisi menumpang lewat kembali ke taman samping tempat mereka berpesta tadi. Ariq menahan kesal namun segera dijinakkan oleh istrinya yang menggenggam tangannya.


"Sayang, jangan marah.... Semua ponsel itu penting, termasuk bang Jhon tentu dia ingin menemukan benda itu sebelum pulang."


Cukup lama mereka saling membantu mencari benda canggih yang Bang Jhon maksud. Namun sekian belas menit belum juga menemukan hingga membuat Ariq kesal dan marah.


"Bang Jhon jangan bercanda! Mana ponselmu? Tidak ada di sini, di taman juga tidak ada!"


"Mas Ariq, jangan marah-marah sebaiknya membantu mencari sampai menemukan," sahut bang Jhon enteng. Ia masih sibuk mencari ke segala sisi ruangan.


"Biar ku belikan yang baru sekarang pergilah, jangan membuatku naik darah!"


"Apa mas Ariq memang sudah tidak tahan? Sabarlah sebentar, lagi pula hanya mencari ponsel apa salahnya, meski tidak baru tapi itu ponsel terbaik yang pernah kumiliki," sahut bang Jhon lagi dengan perasaan tidak bersalah.


"Berani kau membantahku? Pergi sekarang! Besok ku belikan yang baru!" balas Ariq yang mulai kehilangan kesabaran.


Nayla mendekat setelah mencari di sudut taman, namun tidak juga menemukan.


"Bang Jhon, coba kau ingat-ingat dimana? Tidak ada, aku juga tidak menemukannya!" kata Nayla.


Lalu mata Nayla menoleh pada saku jaket yang dikenakan oleh bang Jhon, tampak ponsel menyembul dari sana.


"Kau dengar, kita sudah mencari kemana-mana, dan itu tidak ada! Kau benar-benar mengganggu!" kata Ariq marah-marah.


"Bang Jhon, yang di dalam saku jaket mu itu apa?" tanya Nayla setelah melerai perdebatan itu.


Bang Jhon merogoh saku, lalu ia terdiam sejenak lalu menyengir kuda menatap pasangan di hadapannya sambil mengusap lehernya yang tidak gatal.


"Oke baiklah, maafkan aku mas Ariq...... Maaaaaaaf sekali, sepertinya aku memang salah mengira ponsel ini hilang padahal tidak," ucap bang Jhon sambil berjalan mundur sambil menunjukkan ponsel dari saku jaketnya.


Ia mengangkat kedua tangannya seraya memelas saat Ariq berjalan maju seperti ingin memakannya hidup-hidup.


"Nayla, aku akan pulang sekarang. Selamat menempuh hidup baru. Aku senang kau bahagia, kau seperti adik bagiku dan Dewi. Percayalah pria ini sungguh mencintaimu, untung dia membayarku dengan mahal atas semua ini. Aku akan pulang, Oma dan Dewi sudah lama menunggu," ucap Bang Jhon yang sudah terdesak pintu.


"Oke, oke aku pulang. Maaf, maaf aku mengganggu kalian, sungguh..... Sungguh ini diluar dugaan, sepertinya aku butuh minum, aku suka lupa akhir-akhir ini."


"Mau pulang atau mau terus mengoceh sampai kesabaran ku habis?" ucap Ariq yang sudah mendapatkan kerah baju bang Jhon.


"Aku akan pulang, Nayla ayo bantu aku lepaskan tangan suamimu," kata bang Jhon lagi.


Nayla terkekeh. Ia meraih tangan suaminya.


"Berhati-hatilah mengemudi...... Akupun menyayangi kalian seperti saudaraku sendiri. Terimakasih atas semua ini, Bang Jhon boleh pulang sekarang."


Nayla meraih lagi tangan suaminya yang mencengkram leher bang Jhon dengan geram.


Mendapat kesempatan lepas, Bang Jhon segera membuka pintu lalu keluar sambil berlari ketakutan tanpa berkata-kata lagi.


"Kau bilang apa tadi?"

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu, apa ada yang salah? Ayolah jangan diambil hati, bang Jhon memang suka pelupa."


"Kau sayang padanya?"


"Memangnya kenapa?"


"Itu berlebihan Nayla, apa itu? Kau membuatku kesal."


Ariq meraih tubuh istrinya lalu menggendong Nayla berjalan menuju kamar. Nayla terkekeh melihat wajah merah padam suaminya.


"Kita mau kemana?"


"Lebih baik kita berbasa basi di atas ranjang!"


Nayla tersenyum geli, Ariq tampak mesum sekali. Beberapa kali mereka saling menautkan bibir sebelum mencapai kamar.


Nayla bahkan tidak bisa mengeluarkan kata bahagia seperti apa lagi sekarang, bahkan lebih dari itu.


"Mas Ariq," lirih Nayla saat mereka mencapai kamar.


Pemandangan yang berhasil membuat Nayla menjadi merah merona. Kamar besar layak kamar pengantin di malam pertama pernikahan, persis seperti di hotel ketika mereka menikah.


Lantai yang bertabur kelopak bunga mawar yang merah, bahkan banyak sekali hingga ranjang serta sudut-sudut kamar. Ariq melepaskan Nayla yang segera berdiri di kakinya sendiri.


Berbeda dengan Nayla yang takjub dan merasa tersanjung, Ariq malah terlihat berdecak kesal sambil melihat sekeliling.


"Ceh...... Apa ini? Kenapa jadi seperti kebun bunga? Aish..... Ini terlalu berlebihan!" umpat Ariq yang tidak suka melihat kamar mereka berubah terlalu merah yang mendominasi dari kelopak mawar.


"Hei kenapa kau marah?"


"Sayang, kau tidak lihat ini bukan kamar pengantin tapi kebun bunga. Bang Jhon benar-benar membuatku kesal."


"Berlebihan bagaimana justru ini terlalu sempurna. Sayang lihat aku, bahagiaku bukan hanya pada kamar ini, tapi lebih dari itu..... Ini terlalu sempurna mas Ariq, kau membuatku malu..... Aku bahkan tidak punya apa yang pantas kau dapatkan."


"Ini sempurna, tapi akulah yang tidak sempurna untukmu...." ucap Nayla menatap sendu wajah Ariq yang sudah memeluk pinggangnya hingga mereka menempel.


"Iya, tapi akulah yang akan menyempurnakan mu mulai malam ini, aku mencintaimu Nayla..... Jangan terlalu lama berbasa basi, aku sudah tidak tahan," sahut Ariq sambil membuka jilbab Nayla lalu menaruhnya sembarang.


Ariq meraih leher istrinya lalu menyibakkan rambut indah istrinya yang tergerai, hingga mereka terlibat ciuman panas sebelum jatuh ke ranjang, liar dan semakin liar.


Ariq tampak mendominasi, namun Nayla berusaha mengimbangi, napas yang kian menderu dengan dada naik turun seiring dengan tangan Ariq yang sudah kemana-mana. Ariq telah pula membuka atasannya hingga bertelanjang dada.


Mereka masih saling meraih satu sama lain, sampai pada pria itu mulai menurunkan tangan yang semula bermain di dada kini perlahan turun dan menyingkap dress istrinya itu.


Nayla menahannya sambil melepaskan bibir mereka.


"Kenapa?" tanya Ariq heran disaat gairahnya sudah sampai ubun-ubun.


"Maaf, aku sedang menstruasi."


"Apa?"


Nayla mengangguk dengan wajah dibuat sedih.


"Sayang yang benar saja? Kemari, aku ingin lihat."


Ariq tetap ingin menyingkap dress istrinya namun ditahan Nayla.


"Aku malu."


"Nayla, jangan membuatku frustasi?"


"Aku tidak bisa mengatur siklus haidku sesuka hati, kenapa kau marah?"


"Ahhhhhh...... Sayang, jangan bercanda," lirih Ariq lesu, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Nayla dan menyembunyikan wajahnya di leher sang istri.


Nayla ingin tertawa.


"Maafkan aku," ucap Nayla mengusap gemas kepala suaminya.


"Aku sudah menahannya dua minggu hanya ingin kita melakukannya di rumah kita sendiri, lagi-lagi rencanaku gagal ingin menikmati malam sempurna di rumah yang pertama kali kita tiduri malam ini. Oh aku kecewa sekali."


"Maaf, kau harus menahannya sayang," jawab Nayla menahan tawa nan penuh drama.


"Kau pikir enak menahan sesuatu yang ingin lepas?"


"Aku mengerti, tapi harus bagaimana?"


"Huh...... Berapa lama biasanya kau menstruasi?"


"13 hari."


"Apa?"

__ADS_1


Nayla mengangguk.


"Nayla yang benar saja? Itu menstruasi atau balas dendam?"


__ADS_2