
Ariq menghentikan langkah saat akan melaju memasuki kedai sederhana yang memiliki konsep kekinian itu, ia baru saja keluar dari mobil yang ia parkir tidak jauh dari tempat sana. Ia menepati janji akan datang siang ini.
Ia menatap pada arah seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu samping, Nayla. Gadis itu adalah Nayla, wanita yang memenuhi hatinya saat ini.
Lama Ariq tertegun menatap gadis itu yang sedang membuang sampah pada tempatnya di halaman samping kedai, tampak peluh menghiasi wajah cantik Nayla dalam balutan hijab berwarna hitam, apron masih melekat pada tubuhnya.
Sesekali terlihat Nayla mengusap keringatnya yang mengucur dari kepala. Ia memilah sampah basah dan sampah kering tanpa rasa jijik menggunakan tangannya yang memakai sarung tangan lalu membuangnya pada tempat masing-masing. Siang ini memanglah terik, bahkan terik sekali.
Cuaca tidak menentu, terkadang panas terikpun belum tentu sampai ke petang, tidak menutup kemungkinan akan turun hujan di tengah hari.
Jangan pula nasib cinta sepasang kekasih ini akan seperti cuaca yang tidak menentu dalam beberapa hari itu. Ariq tersenyum bangga dari jauh, Nayla sungguh seorang gadis idaman menurutnya. Sosok pekerja keras, meski sesekali wanita itu labil menurutnya, itulah Nayla. Ariq menyukai gadis itu dari keseluruhan.
Menyukai kesempurnaan fisik, sifat dan tutur kata yang ia kira sungguhlah menggemaskan, meski tergores luka dan noda dari masa lalu. Namun bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini? Lantas kenapa harus dipermasalahkan soal masa lalu, bukankah itu sudah berlalu, yang jadi acuan adalah pandangan untuk masa depan.
Ariq benar-benar menerima masa lalu itu, namun jika mengingat pria yang menyebabkan semua kesulitan hidup Nayla adalah Vano, terkuak pula rasa marah dan benci yang terpendam, Vano yang ingin sekali ia bunuh karena pria itu bukan hanya menghancurkan Nayla namun juga menghancurkan Annisa adik sepupu yang rasa adik kandung baginya itu dalam pernikahan yang semu.
Nayla tidak menyadari ia diperhatikan dari kejauhan, selesai membuang sampah ia kembali masuk lewat pintu itu pula.
Ariq sengaja tidak memberitahu bahwa ia sudah datang. Pria ini cukup kesal melihat banyak pengunjung di sana, ia pikir Nayla pasti akan sibuk melayani pelanggan ketimbang dirinya nanti.
"Huh, sepertinya aku salah waktu, kenapa ramai sekali? Lebih banyak pria? Ah sial, pasti mereka ingin mendekati Nayla. Aku akan melihat, apa dia melayani para lelaki ini sambil tebar pesona? Huh awas kau Nayla," Gumam Ariq kesal sendiri, lama ia hanya berdiri dan berpikir sesuatu tanpa melanjutkan nian untuk masuk.
Sampai pada ketika ia masuk, pandangannya tertuju lagi pada Nayla yang sedang bicara pada seseorang, tertawa lepas bersama pria yang sangat ia kenal. Aziz, pria itu Aziz adiknya sendiri.
"Aku suka makan disini, masakan ayahmu enak Nay...... Semoga lancar terus usaha kalian, aku senang kau sudah lebih baik," ucap Aziz pada Nayla yang duduk di depannya.
Nayla mengangguk, "Terimakasih pak Aziz, aku senang mendengarnya. Kepuasan pelanggan akan terus kami tingkatkan nanti, baiklah aku harus mengantar pesanan yang lain. Terimakasih sudah mampir kemari, titip salam pada kak Aqilla."
Aziz mengangguk, "Kenapa kau masih memanggilku dengan pak Aziz, itu terlalu formal. Lagi pula ini diluar bukan di kampus, panggil aku mas Aziz seperti yang Lia lakukan."
"Baiklah mas Aziz, sering-seringlah kemari."
Mereka saling melempar senyum ketika hendak mengakhiri pembicaraan.
Brukkk.... Sebuah bunyi meja bergeser dari tempatnya oleh tabrakan seseorang yang tidak fokus hingga tidak melihat jalan.
Aziz dan Nayla menoleh pada pria yang berwajah merah padam saat ini karena menjadi pusat perhatian beberapa orang.
"Mas Ariq?" lirih Nayla pelan, hanya terdengar oleh telinganya sendiri.
"Mas Ariq juga kemari?" tanya Aziz heran mendapati kakak sulungnya itu tidak jauh dari mereka.
Ariq tidak membalas, hanya sebuah tatapan tajam sebagai jawaban.
"Tidak jadi."
Ariq langsung pergi saja tanpa berkata lebih banyak lagi. Ia keluar dari sana dengan rasa yang seolah ingin marah pada Nayla yang memberikan senyuman pada pria lain, pria beristri seperti Aziz adiknya sendiri, meski ia tahu bahwa Nayla kenal Aziz sebagai dosen gadis itu dulu.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Aziz bingung sendiri, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia menoleh pada Nayla seakan bertanya, namun gadis itu hanya mengangkat bahunya seolah tidak peduli.
Pada kenyataannya, Aziz sama sekali tidak tahu tentang hubungan Nayla dan kakaknya Ariq, hingga tidak heran jika ia sama sekali tidak tahu jika raut cemburulah yang Ariq tampilkan beberapa saat lalu.
"Kau kenal dia?" tanya Aziz.
"Bukankah dia kakak mas Aziz?"
"Kau tahu?"
"Lia yang memberi tahu."
"Iya, dia kakakku.... Maaf aku rasa dia salah masuk mungkin."
Nayla hanya mengangguk, ia menatap punggung Ariq yang menjauh terlihat dari dinding kaca restoran itu.
"Aku permisi dulu mas Aziz, kasihan Ely melayani pelanggan seorang diri."
Ely adalah pekerja baru yang direkrut untuk membantu Nayla mengantar pesanan. Aziz mengangguk mengerti.
Di luar.
Ariq memukul stir mobilnya dengan kesal, ia mengira Nayla akan menyusulnya keluar tapi ini tidak bahkan sudah belasan menit berlalu dari kejadian tadi.
"Huh, kenapa dia tidak menyusulku?" Gumam Ariq dengan raut kesalnya.
"Apa sesibuk itu hingga panggilan ku tidak diangkat? Apa ini, sibuk apa.... Sibuk meladeni Aziz, pasti juga meladeni pria lain," oceh Ariq sambil terus menunggu Nayla menerima panggilannya.
Ariq akhirnya keluar mobil lagi berniat ingin kembali ke dalam, meski malu ia tidak peduli. Ia tidak bisa pergi jika belum bertemu gadisnya itu.
"Sayang," panggil Ariq pada Nayla yang sedang mengantar pesanan dengan nampan di tangannya.
"Ah, mas Ariq kau membuatku terkejut!"
"Sini biar ku bantu," jawab Ariq yang langsung mengambil alih nampan itu dari Nayla lalu ia antar pada salah satu meja.
"Ini silahkan."
Dua pria yang duduk di meja itu bingung, mereka tampak berpenampilan seperti mahasiswa.
"Maaf, ini bukan pesanan kami."
"Menu yang kalian pesan sudah habis, makan yang ini saja. Setelah itu segera pergi dari sini, karena restoran akan tutup lebih cepat!"
Ariq memberi tahu dengan nada dan tatapan tajam seolah mengintimidasi.
__ADS_1
"Mas Ariq apa yang kau lakukan?" tanya Nayla jengah.
"Aku hanya membantu mu."
"Kau kekanakan."
Nayla meminta maaf pada dua teman mahasiswanya dulu. Lalu mengambil lagi nampan berisi pesanan orang lain itu kemudian mengantarkan pada meja yang benar.
Ariq terkekeh melihat wajah marah Nayla yang menggemaskan.
Nayla tidak kuasa menolak saat Ariq menarik tangannya untuk duduk di satu meja yang kosong.
"Ada apa?" tanya Nayla melunak.
"Kenapa tidak berusaha menyusulku tadi?"
"Mas Ariq kau ini kekanakan, apa kau juga cemburu aku bicara pada pak Aziz?"
"Tentu saja."
"Huh, lalu aku harus mengejarmu keluar?"
Pria itu mengangguk.
"Apa kau tidak lihat aku sedang bekerja? Tempat ini ramai di jam makan siang, haruskah aku mengabaikan pelanggan demi mengejarmu hanya karena cemburu pada pak Aziz?"
Ariq terkekeh, ia menggenggam tangan Nayla dengan gemas.
"Aku merindukanmu."
Nayla tersenyum. Ia menatap Ariq penuh arti. Ia tahu mungkin hubungan mereka akan berakhir tidak lama lagi.
"Aku juga merindukanmu, mungkin aku akan merindukan kata-kata itu setelah ini," ucap Nayla dengan tatapan dalam nan penuh makna.
"Aku akan mengatakannya setiap hari."
"Sampai kapan?"
"Sampai kita menikah, sampai punya anak, sampai tua."
Nayla tersenyum manis.
"Andai saja."
"Aku serius, bukan berandai-andai," tukas Ariq.
"Iya baiklah, terserah kau saja. Sekarang lepaskan, aku harus membantu Ely mengantar pesanan."
__ADS_1
"Aku mau pesan satu menu, kau yang melayaniku.... Menemani ku makan disini. Tidak boleh menolak."
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan melayani mu dengan baik hari ini. Karena esok belum tentu akan terulang lagi."