Purnama Merindu

Purnama Merindu
Bunda Nayla


__ADS_3

Nayla melangkah gontai melewati trotoar, matanya masih saja menyimpan kekecewaan, hatinya masih sama, kosong. Meski beberapa saat lalu seorang pria menyatakan cinta padanya.


Nayla merasa terlalu cepat untuk menerima sosok pria seperti Ariq, lelaki itu terlalu baik untuk dirinya, Nayla bahkan merasa tidak pantas untuk lelaki manapun. Ia tidak ingin kecewa jika lelaki itu pada akhirnya tidak menerima dirinya yang pernah ternoda dimasa lalu.


Saat ia menegakkan wajahnya, tanpa sengaja ia menoleh pada dua orang yang baru saja turun dari mobil yang terparkir di depan sebuah minimarket. Nayla mengenal pria dan wanita itu.


Vano dan Annisa, sepasang pengantin baru yang menikah tiga bulan lalu. Pria yang meninggalkan Nayla tanpa sebuah tanggung jawab, perempuan itu yang membuatnya terjatuh dan keguguran. Semua bayangan menyakitkan itu kembali menyeruak.


Namun kali ini bukan kemarahan, Nayla hanya menatap wajah datar Vano saat digandeng Annisa masuk ke minimarket seraya meraba perutnya yang datar. Tidak ada airmata seperti biasa, entahlah Nayla merasa sudah tidak berguna menangisi pria semacam mantan kekasihnya itu.


Namun juga tidak mudah menghilangkan perasaan yang sudah tertanam dalam, biar bagaimanapun Vano tidak pernah menyakitinya selama ini, namun semua berubah sejak perjodohan lelaki itu dengan wanita bernama Annisa putri seorang pengusaha yang menyelamatkan keuangan keluarga Vano.


Nayla menatap mereka yang menghilang dibalik pintu minimarket, gadis itu kembali melanjutkan langkah berniat ke alamat rumah kakaknya.


"Aku sudah lebih baik Vano, berbahagialah..... Bukan hanya kau yang bersalah, aku juga dalam hal ini. Kita impas sekarang."


Gumam Nayla yang menatap sekilas ke arah pintu minimarket itu lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.


*****


Suasana di panti asuhan.


Nayla berpelukan dengan keempat keponakannya yang menangis haru. Mereka dipertemukan oleh pengurus panti asuhan yang membenarkan bahwa empat bocah itu memang berada di sana yang diantar sendiri oleh neneknya.


"Nenek tidak mau mengurus kami dengan alasan dia sudah tua, bibi Shanti sibuk kuliah jadi lebih baik kami tinggal di panti saja menurut nenek, mereka bilang uang ayah dan bunda sudah habis untuk bayar hutang, rumah juga harus dijual untuk melunasi hutang ayah semasa hidup, benarkah ayah banyak hutang?"

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Arinda, sang putri sulung dari almarhum Juna.


Anak pertama dari pasangan Juna dan Dewi adalah Arinda yang berumur sepuluh tahun sedang duduk di bangku kelas empat SD, adiknya Zandi berumur delapan tahun duduk di bangku kelas dua SD, sedang Denia anak ketiga berumur lima tahun yang bersekolah TK, terakhir Zaza sang putri bungsu masih berumur dua tahun.


Nayla hanya bisa menggeleng dengan perlahan, ia tidak ingin menjelaskan apapun yang membuat anak-anak itu berpikir sesuatu.


Nayla merasa mereka tidak harus menanggung beban pikiran yang seharusnya menjadi urusan orang dewasa.


"Mari lupakan sayang, bibi kemari ingin menjemput kalian, kita bisa tinggal bersama dalam keadaan apapun, bibi akan menjaga kalian dengan baik."


Nayla memberi kecupan-kecupan kecil pada pipi Zaza yang masih dalam pangkuannya.


Pihak panti tidak keberatan saat Nayla mengutarakan niat untuk menjemput mereka, beruntung keempat bocah itu dalam keadaan baik-baik saja, diperlakukan dengan baik pula oleh pengurus panti.


Sungguh Nayla tidak ingin keponakannya hidup terpisah satu sama lain, apalagi Zaza yang masih sangat kecil dan dini untuk mengerti akan semua yang terjadi.


Sampai mereka di hadapan kontrakan Nayla yang kecil, gadis itu menoleh pada Arinda yang mengerti bahwa tempat itu terlalu sempit untuk mereka berlima.


"Kita akan mencari kontrakan baru yang lebih besar dari ini, karena ini sudah sore sebaiknya besok saja. Kita istirahat?"


Arinda mengangguk berbarengan dengan Zandi yang terus menatap bibinya dengan mata berkaca-kaca.


Sampai mereka di dalam, duduk bersama di lantai setelah membersihkan diri dan menyusun pakaian. Mereka saling menggenggam tangan adik beradik.


Empat bocah itu seakan tahu diuntung, tidak sedikit pun mengeluh apalagi bertanya yang tidak-tidak tentang kehidupan bibinya yang cukup membingungkan mereka, sebab mereka tahu Nayla masih tinggal di rumah kontrakan lama yang cukup besar dari ini.

__ADS_1


Sampai Zaza memanggil Nayla dengan sebutan bunda.


"Bunda," panggil Zaza yang mulai pandai bicara.


Nayla terenyuh mendengarnya, ia mengangguk secara pasti.


"Kalian boleh memanggil bibi Nay dengan sebutan bunda."


"Bunda Nayla," ucap Zandi yang tidak banyak bicara, padahal ketika orangtuanya masih ada, anak ini cukup nakal dan suka menjahili adik-adiknya, namun sekarang tidak sama sekali.


Mereka bertiga mengangguk bersamaan kecuali Zaza yang memang duduk di pangkuan Nayla.


"Ayo kita makan," ajak Nayla mulai membuka nasi bungkus yang mereka beli sebelum pulang.


Arinda dan Denia mengangguk.


"Maaf jika aku pernah nakal, aku tidak akan merepotkan bunda Nayla. Tolong jangan antar kami ke panti, aku ingin bersama bunda Nayla saja," ucap anak lelaki satu-satunya itu sambil memeluk Nayla dan menangis.


"Siapa bilang kau nakal, kau anak baik Zandi. Kita akan hidup bersama mulai sekarang, kita akan menata kembali kehidupan kita yang pernah hilang, percaya pada bunda. Kita bisa hidup lebih baik dari hari ini, sekolah yang baik biar bunda dan ayah kalian bangga."


Mereka berpelukan lagi. "Aku juga akan sekolah dengan baik, aku tidak mau berpisah. Zaza hampir diadopsi jika bunda Nayla tidak menjemput hari ini," kata Arinda lagi.


"Oke baiklah, mari kita lupakan. Ayo makanlah selagi nasinya hangat."


Mereka bertiga mengangguk lagi.

__ADS_1


__ADS_2