Purnama Merindu

Purnama Merindu
Intan Rahayu


__ADS_3

Matahari masih condong ke timur merangkak naik menjelang siang, Nayla tengah bersiap-siap. Sepertinya gadis itu hendak pergi, Arinda dan Zandi baru habis makan siang setelah pulang sekolah, mereka menghampiri bibinya yang tampak bermenung menghadap cermin.


"Bundnay....." sapa Zandi memegangi tangan Nayla.


"Sayang, maaf..... Kenapa kalian kemari, bagaimana dengan makan siangnya sudah selesai?"


"Kami sudah makan, aku melihat Bundnay tidak keluar kamar sejak tadi. Apa ada masalah?" tanya Arinda hati-hati.


Nayla segera menggeleng.


"Tidak sayang, tidak ada masalah apapun. Selama bunda pergi jaga Denia dan Zaza dengan baik, jangan buat bibi Dewi kerepotan." Nayla memperingati dua keponakannya yang tertua.


Arinda dan Zandi mengangguk berbarengan, "Kami tidak akan merepotkan bibi Dewi, BundNay apa aku boleh titip sesuatu?" tanya lelaki kecil yang tampan itu.


"Tentu saja, memangnya kau mau menitipkan apa?"


Zandi kemudian keluar kamar, Nayla dan Arinda mengikutinya. Gadis itu tercengang saat Zandi mengeluarkan kerajinan kertas origami dari dalam tasnya. Kerajinan yang berbentuk kuncup bunga mawar beraneka warna itu dirangkai beberapa tangkai yang diikat dengan karet gelang.


"Apa ini?" tanya Nayla heran.


"Ini hasil kerajinanku di sekolah, tolong BundNay letakkan pada makam ayah dan bundaku," kata anak itu dengan wajah polos.


Nayla tertegun untuk beberapa saat, netranya kian berkilat basah yang airnya siap jatuh kapan saja. Untuk hal-hal seperti inilah yang membuat pertahanan Nayla runtuh, nyeri dadanya, wajah polos anak-anak kakaknya yang menatap dan menaruh harapan besar terhadapnya, membuat Nayla kian memacu semangat dalam dirinya untuk masa depan empat anak yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.


Nayla menyeka sudut matanya yang telah basah, lalu ia menerima seikat bunga origami itu dari tangan Zandi.


Tidak ingin berlama, Nayla pun segera berangkat setelah menitipkan Zaza dan ketiga kakaknya pada Dewi yang sedang libur bekerja. Gadis itu menuju jalan raya, naik angkutan umum dengan tujuan tempat pemakaman umum dimana ibu, kakak sekaligus kakak iparnya dimakamkan.


Nayla berziarah di hari yang mulai terik, ia sengaja datang karena sudah lama tidak berkunjung, kebetulan ia punya waktu lengang siang ini dikarenakan Arinda dan Zandi pulang cepat dihari Sabtu.


Membersihkan makam, menyampaikan doa untuk ketiga mendiang orang yang amat berarti dalam hidupnya, Nayla mengelap sisa airmata saat keluar dari pemakaman, matanya tampak bengkak oleh tangis, tidak pernah tidak menangis jika sudah kesana.


Lama ia melamun sambil mengayunkan langkah keluar dari lorong pemakaman itu menuju jalan raya. Entah apa yang sedang Nayla pikirkan saat ini.


Tanpa ia sadari bahwa ia telah mencapai jalan raya saat ini, matanya masih menatap kosong pada langkah yang terasa hampa. Nayla merindukan Ariq yang saat ini tengah keluar kota karena urusan pekerjaan.


Dan Nayla berteriak sesaat hampir menjadi korban tabrak sebuah mobil yang melintas.


"Aaaaaaaaaaahhhh!!!!"


Nayla memegangi dadanya yang berpacu secepat kuda yang berlari kencang, akibat dari rasa terkejutnya Nayla terjatuh ke pinggir jalan, ia merasa kakinya terkilir hingga merasa sakit ketika hendak berdiri.


"Aduh," lirih Nayla saat hendak menumpu badan untuk berdiri, sakit kakinya merasa sakit.


Lalu pandangannya tertuju pada seorang wanita yang buru-buru keluar dari mobilnya yang berhenti mendadak itu.


"Oh ya Allah, maafkan aku.... Apa kau terluka?" sebuah suara lembut nan jelas menghiasi telinga Nayla yang masih mengaduh pada kakinya.


Ia tertegun sejenak pada perempuan cantik dengan hijab berwarna putih gading mengulurkan tangan padanya berniat membantu Nayla berdiri.


"Kakimu terkilir?"


Nayla mengangguk, lalu dengan telaten perempuan cantik itu memberi pijatan lembut pada kakinya, Nayla menatap gadis itu tidak berkedip. Nayla mengenal orang itu, gadis idola di kampusnya dulu, kakak tingkat yang memiliki segudang prestasi di kampus serta fakultas yang pernah Nayla menimbah ilmu di sana.


Intan Rahayu, gadis semester akhir yang merupakan kakak tingkat Nayla saat masih kuliah dulu, gadis berjilbab dengan latar belakang orang tua yang terpandang terkenal seantero kampus oleh kepintarannya.


Gadis cantik yang menjadi idola di kampus itu yang hampir menabrak Nayla beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Terimakasih, sudah lebih baik."


Gadis itu dengan raut menyesal menuntun Nayla berdiri sambil terus meminta maaf.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja."


"Ah tidak, aku yang tidak fokus hingga kehilangan arah tidak memperhatikan ada mobil yang melintas," balas Nayla tidak enak hati, ialah yang bersalah karena melamun sambil berjalan.


"Sungguh kau tidak apa-apa?"


"Iya, jangan khawatir. Aku baik, hanya terkilir sedikit itu karena aku terkejut hingga terjatuh," kilah Nayla lagi.


"Kau mau kemana ayo aku antarkan kau pulang, sungguh aku minta maaf," tawar gadis itu lagi.


"Apa tidak merepotkan? Aku bisa naik bus saja," elak Nayla tidak enak hati.


"Tidak, ini bentuk tanggung jawab ku. Aku akan mengantarmu pulang."


Nayla mengangguk. Mereka masuk mobil perempuan cantik itu dan melaju menuju alamat Nayla berada.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa wajahmu tidak asing," ucap perempuan yang bernama panggilan Rahayu itu.


"Karena kita satu kampus, kau kakak tingkat ku dulu," sahut Nayla tersenyum.


Matanya tidak beralih dari wajah sejuk gadis yang sedang mengemudi saat ini, gadis yang pernah menjabat ketua BEM kampusnya ini sungguh ramah pikir Nayla. Wajahnya berseri dibalik jilbab yang menutupi kepalanya dengan indah, pakaian mahal yang elegan sungguh perpaduan sempurna mencerminkan seorang muslimah.


Nayla mengagumi Rahayu bahkan sejak pertama berkuliah dulu, semua gadis ingin berada di posisi Rahayu jika di kampus, cantik, pintar, diperhitungkan dalam organisasi, sempurna sebagai mahasiswa berprestasi, anak salah satu dekan fakultas di kampusnya dulu terlebih penampilan Rahayu yang menampilkan seorang muslimah yang terpancar aura kecantikannya.


"Benarkah? Wah kebetulan sekali, wajar jika aku merasa wajahmu tidak asing. Siapa namamu?"


"Aku Nayla."


"Aku tahu."


"Kau mengenalku?"


"Semua orang mengenalmu."


"Ah kau terlalu berlebihan, kenapa kau di jalan itu siang-siang?" tanya Rahayu.


"Aku baru saja dari makam ibuku."


"Oh, maafkan aku....."


"Tidak masalah."


"Apa kakimu masih sakit?"


"Sudah lebih baik," jawab Nayla tersenyum.


"Apa kau sudah pulang kuliah?"


"Aku tidak kuliah."


"Lalu? Bukankah kita satu kampus?"


"Maksudku, tidak kuliah lagi, aku berhenti kuliah," jawab Nayla berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Alasan ekonomi," sahut Nayla lagi.


"Kenapa tidak mengajukan beasiswa? Sayang sekali harus berhenti di tengah jalan."


"Aku tidak punya prestasi untuk itu."


Rahayu terdiam, ia menatap Nayla sekilas.


"Maafkan aku, apa perkataanku membuatmu tersinggung?"


"Tentu tidak, santai saja," ucap Nayla dengan senyum.


Mereka terlarut dalam cerita kampus yang mana hal itu membuat mereka tidak sadar bahwa sudah sampai pada alamat rumah kontrakan Nayla.


Rahayu tampak ramah, ia berkenan masuk ketika ditawari oleh Nayla untuk mampir. Gadis itu juga tampak senang dengan empat bocah kecil milik Nayla itu. Ia tahu sekarang bahwa gadis yang hampir ia tabrak tadi adalah wanita hebat yang rela putus kuliah demi mengasuh bocah-bocah yatim piatu itu.


"Nayla."


"Iya."


"Aku senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu, satu lagi ku dapatkan pemandangan indah hari ini. Aku suka bocah-bocah ini, mereka lucu dan menggemaskan."


"Terimakasih, akupun senang bertemu dengan gadis idola kampusku dulu."


"Ayolah jangan berlebihan, aku akan wisuda bulan depan itu artinya aku sudah bukan mahasiswa seperti yang kau katakan tadi, idola apa itu, aku merasa malu mendengarnya," kekeh Rahayu.


"Benarkah? Kau sudah mau wisuda? Selamat jika begitu."


"Iya, setelah itu aku mungkin akan segera menikah. Oh aku malu mengatakannya, aku tidak seperti yang kalian lihat selama ini, aku terlalu sibuk dengan bidang akademik hingga lupa akan hal pribadi, membuat orangtuaku mencari calon suami lewat jalur perjodohan. Itupun jika orangnya mau. Apa aku terlihat seperti gadis tua?"


Nayla berhasil tertawa pelan, ia suka gaya bicara Rahayu yang santai dan ramah. Gadis itu mudah akrab padahal mereka baru bertemu dan berkenalan oleh insiden kecil tadi.


"Aku senang mendengarnya, tentu pilihan orang tua adalah yang terbaik," balas Nayla.


"Iya kau benar, aku tidak pernah berpacaran aku sungguh malu dijodohkan seperti ini, namun mau bagaimana lagi orangtua ku ingin aku menikah muda, mereka tidak ingin aku terlalu lama lajang apalagi menghabiskan waktu dengan berpacaran. Kau tahu sendiri pergaulan sekarang, mereka takut aku salah langkah jika salah mengenal lelaki, mereka tidak ingin aku rusak oleh zaman yang sekarang sudah tidak heran perempuan dan lelaki begitu dekat tanpa hubungan pernikahan."


Deg. Nayla tersindir.


Dengan senyum canggung Nayla mengangguk saja, "Semua orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya, bersyukurlah kau masih punya orang tua."


Rahayu mengangguk.


"Aku bersyukur Nayla, mereka sayang padaku. Baiklah aku sudah terlalu lama singgah di sini, terimakasih minumnya. Aku akan mengundang mu nanti jika memang jadi berjodoh dengan lelaki itu."


"Apa kalian akan menikah dalam waktu dekat?"


"Belum juga, baru akan bertemu dua keluarga setelah aku wisuda. Baru sekedar rencana, Allah maha mengatur segala sesuatu, tapi jika boleh berharap aku sungguh mau berjodoh dengannya, dia lelaki tampan dan mapan Nayla."


"Aku bahagia mendengarnya."


"Dia juga baik, tidak seperti pria kebanyakan."


"Beruntungnya kau bisa mendapatkan lelaki itu nanti, aku benar-benar bahagia mendengarnya."


"Aku akan mengundangmu nanti, aku senang punya teman baru seperti mu Nayla, kau gadis luar biasa dengan empat anak kau asuh diusia muda. Aku salut padamu. Kita berteman mulai sekarang, jangan sungkan jika butuh bantuan ku setelah ini."

__ADS_1


Rahayu pamit setelah menyantuni anak-anak Nayla dengan uang jajan untuk sekolah mereka. Rahayu suka pada empat anak itu, terlebih Nayla, ia suka gadis itu.


__ADS_2