
Ken membuka satu matanya dengan malas saat ponsel canggih nya berdering.
Wanita yang melahirkannya menelepon. Meski berat dan mengantuk Ken menerima juga telepon dari sang ibunda.
"Iya Bunda, iya...." sahut Ken setengah sadar, entah apa yang dikatakan Nayla di telepon, Ken hanya mengiyakan semua perkataan ibunya itu.
Setelah sambungan berakhir Ken membuka mata, ia melihat jam di dinding kamarnya.
"Kenapa aku bisa tidur selama itu?" gumam Ken heran sendiri saat menyadari ia telah tertidur lama hingga sudah masuk waktu subuh.
Ia mengusap wajahnya, ia menjatuhkan lagi tubuhnya di kasur empuk itu. Lama ia menatap langit-langit kamarnya.
Entah kenapa setiap ia mengingat Aish yang ada hanya rasa kesal dan frustasi. Kesal pada dirinya sendiri yang tidak tahu kenapa bisa lemah sekarang padahal bukan tipe Ken untuk bucin pada seorang wanita.
Yang ada ia dikelilingi banyak wanita secara bergantian tanpa berpikir serius dan menguras perasaannya seperti ini. Selama ini Ken tidak pernah serius pada satu wanita, ia punya pacar banyak hanya untuk bersenang-senang saja.
Ia menjalani hari-hari dengan ringan, tanpa beban, menganggap semua hal menjadi mudah ditunjang fasilitas yang ia miliki semua serba ada.
Namun sekarang entah semua terasa percuma, ia tidak suka dibuat penasaran oleh wanita hingga seperti ini.
Bukan halangan jika Ken menginginkan wanita manapun, maka ia bisa mendapatkannya selama ini tanpa usaha sekalipun, sekali tebar pesona wanita mana yang mampu menolaknya.
Ken berpikir untuk menyudahi perasaannya yang seperti ini. Ini bukanlah dirinya, ia terbiasa dengan hidup yang bahagia tanpa beban perasaan.
Ken bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Menunaikan ibadah subuh, lalu membuka laptop kembali mengecek pekerjaannya sebelum ke kantor.
Pria yang kini lebih sering tinggal di apartemen miliknya ketimbang tinggal di rumah orangtuanya itu membuat kopi dan sarapan roti panggang buatannya sendiri.
Ken membuka ponsel, meski ingin menyudahi memikirkan Aish, namun entah kenapa saat membuka ponsel ia tetap saja berharap Aldi menghubunginya memberi kabar janda yang membuat Ken tidak lepas dari rasa penasaran itu.
Namun masih sama, masih seperti hari-hari yang lalu. Nihil. Tidak ada kabar apapun mengenai kemana Aish pergi. Pertanyaan yang mungkin hanya bisa dijawab oleh tuan badan sendiri yaitu Aishwa Zulaikha.
Sampai pada suatu ketika Ken menerima permintaan ibunya untuk berkenalan dan bertemu dengan seorang gadis bernama Indah, dokter cantik pilihan Bunda Nayla.
Ken mau saja asal sang ibunda senang dan tidak cerewet lagi mengenai kehidupan asmaranya.
Ken menatap jam di pergelangan tangannya, ia menyudahi pekerjaan kantor, lalu meraih jas dan kunci mobil berniat menemui seseorang yang dicalonkan Bunda Nayla dengannya sore ini.
Pria itu memutuskan untuk berdamai dengan perasaannya, ia tidak ingin terus dihantui Aish, apalagi sampai penasaran hingga nanti-nanti tanpa menemukan jawaban. Ken sudah tidak ingin memikirkan perempuan itu lagi.
Dari foto dan berkenalan lewat pesan WhatsApp perempuan itu cantik dan manis menurut Ken. Ia juga sudah bosan diganggu oleh mantan-mantan pacarnya yang tidak mau putus.
Kini saatnya berhubungan dengan perempuan baru, mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya, penampilan Indah cukup membuat Ken terkesan, meski belum bertemu tatap muka Ken tahu Indah perempuan yang mudah diajak bicara dan cukup santai.
Cantik dan berhijab, dokter pula yang akan melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi. Bukankah sudah paket lengkap pikir Ken. Bundanya pandai mencari wanita yang sesuai selera pria tengil ini.
Niat untuk serius pada satu wanita jika Indah memanglah dikira cocok dengannya nanti, meski Bunda Nayla tidak memaksa, namun apa salahnya mencoba pikir Ken.
Menuju salah satu gedung bioskop, Ken dan Indah berjanji bertemu dan berkencan di sana sebagai awal mula mereka tatap muka. Beruntung keduanya suka nonton film action yang sedang tayang hingga lebih memilih nonton bioskop daripada makan di restoran.
Ken menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Marissa sedang memanggil.
Dengan malas Ken menerima.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" sahut Ken malas pada mantan yang tidak mau putus dengannya itu.
'...........'
"Huh, apa kau belum mengerti juga? Kita tidak direstui, lagipula aku tidak berniat menikah dengan mu!" balas Ken lagi.
Ken hanya berdecak saat mendengar ocehan mantan kekasihnya itu di seberang telepon.
"Iya, Bunda ku tidak suka padamu karena kau jauh lebih tua dariku." Balas Ken lagi.
Marissa terdengar kesal dan marah.
"Apa kau sudah selesai mengoceh? Oke baiklah terserah kau mau apa, kita sudah putus. Aku tidak peduli, aku sibuk! Bye!!!!" seru Ken langsung mematikan ponselnya.
Diakhiri aksi memblokir Marissa dari kehidupannya. Ken terlihat tersenyum miring, ia memarkirkan mobilnya.
Ken merapikan penampilan lalu masuk ke gedung mall yang terdapat bioskop di sana.
Di sisi lain.
Aish baru pulang dari rumah sakit dengan jadwal jaga pagi.
Karena Ratih belum libur bekerja Aish memutuskan untuk pergi sendiri ke supermarket yang terdapat di sebuah mall yang lengkap.
Ia ingin berbelanja kebutuhan pribadi dan rumah kost mereka. Aish memesan ojek online agar hemat ongkos dan lebih cepat sampai pikirnya.
Sesampainya di mall Aish langsung menuju toilet, ia membersihkan wajahnya dari debu karena cuaca cukup panas di luar.
Ia selalu mengantongi pencuci muka, setelah membersihkan wajah dan berdandan sedikit agar tidak pucat, Aish keluar toilet dan mulai masuk ke dalam mall dengan berjalan santai.
Melihat orang lalu lalang, memasuki toko baju dan toko aksesoris membuat Aish menjadi bahagia, ia suka berbelanja kebutuhan pribadi yang diskon, Aish mengatur keuangan dengan baik. Ia tidak mau boros.
Setelah membeli beberapa pakaian yang menunjang penampilannya ketika bekerja, ia juga membelikan Ratih baju bagus agar sahabatnya itu semakin semangat bekerja. Aish juga membeli beberapa jilbab dan pasmina serta aksesoris.
Dikira cukup, Aish pergi menuju supermarket.
Menunggu lift terbuka, Aish memeriksa ponselnya jika ada pesan.
Brakkk. Ponsel Aish terjatuh karena sebuah senggolan. Aish segera memungutnya setelah beristighfar.
"Aish!!!!" seru seorang gadis.
Aish menoleh setelah mendapatkan ponselnya lagi.
"Indah? Kau juga kemari?"
Indah terkekeh, ia meraih Aish agar tidak menghalangi jalan orang lain.
"Maafkan aku, apa ponselmu rusak?"
Aish menggeleng.
"Tidak, sepertinya goresan biasa," sahut Aish sambil mengelap ponselnya.
__ADS_1
"Maafkan aku sungguh, aku terburu!"
"Kenapa kau terburu? Memangnya ada apa?" tanya Aish heran.
"Aku akan bertemu Ken sore ini, kami berjanji bertemu di bioskop!"
Aish menautkan alisnya.
"Oh, kalian jadi berkencan rupanya, wah aku turut senang mendengarnya."
Pada kenyataannya, Aish sudah tahu dari Indah yang sering curhat akhir-akhir ini padanya soal perkenalan dengan pria putra teman mamanya yang bernama Ken.
Meski Aish sedikit sedih saat mendengar nama Ken disebut waktu itu, Aish teringat pula dengan Ken yang ia tolong saat di kampung.
Indah mengangguk polos.
"Kau mau kemana sendiri seperti ini?" Indah balik bertanya.
"Aku akan belanja kebutuhan rumah dan pribadi, Ratih bekerja jadi aku sendiri saja."
"Ah tidak asyik jalan sendiri, ayo ikut aku!" ajak Indah menarik Aish ke dalam lift, lalu gadis itu memencet tombol nomor lantai yang dituju tanpa menghiraukan Aish yang menolaknya.
"Indah, aku tidak bisa mengganggu kalian. Ayolah sayang, aku harus berbelanja dan pulang."
"Kau harus lihat dan memberi tanggapan tentang pria ini, kau sahabat ku. Aku ingin kau tahu siapa pria yang akan serius dengan ku nanti, berikan penilaian mu oke!"
"Aku bukan juri!"
Indah tertawa.
"Sudah jangan dipikirkan, ini pertama kalinya kami bertemu di dunia nyata, dan kau boleh ikut denganku, aku memaksa mu Aish!!!"
"Itu akan menggangu Indah, mana ada berkencan bawa teman!"
"Ada, aku orangnya. Sudah jangan kaku, santai saja daripada kau berjalan sendirian tidak tega aku melihatmu!" kekeh Indah lagi.
Ia merangkul Aish menuju gedung bioskop. Aish hanya bisa pasrah tanpa banyak membantah, ia tahu itu akan percuma karena Indah memang suka seenaknya bahkan sejak mereka kuliah.
Aish tersenyum melirik wajah temannya itu, Indah sama sekali tidak berubah pikir Aish, selalu seperti ini, ringan tanpa beban.
"Aish tunggu sebentar, aku mau pipis!"
"Apa kau gugup hingga mau miksi menjelang bertemu dengannya?" goda Aish.
Indah tertawa.
"Anggap saja seperti itu, kau bisa duduk di sana oke! Kita akan beli tiket setelah dia sampai kemari," tunjuk Indah pada sebuah kursi tunggu yang kosong.
Aish mengangguk mengerti. Ia berjalan menuju kursi sambil bermain ponselnya lagi sedang Indah sudah menuju kamar kecil.
"Ah," desis Aish ketika ponselnya terjatuh lagi akibat tabrakan seseorang.
"Hei, maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap seorang pria yang menabrak Aish.
__ADS_1
Aish memungut ponselnya lalu berpaling pada pria itu. Mereka saling menoleh.
Dan mereka bertemu.