Purnama Merindu

Purnama Merindu
Masih marah


__ADS_3

Nayla menangis tersedu, menatap Aldric dengan kecewa.


"Maafkan aku," lagi-lagi Aldric hanya bisa meminta maaf atas semua yang terjadi.


Ayah dan ibunya memarahi Aldric yang tidak berpikir panjang telah berani menggantikan Ken menikahi Aishwa.


"Bunda menyuruh mu menjemput Aishwa dan Naina ke rumah sakit, tapi malah kau sempat pula menikahi Aish dengan keputusan tiba-tiba dan sepihak tanpa bertanya dulu pada orang tua ini," ucap Nayla terluka.


Tidak ada yang menyangka, Aldric menikahi calon iparnya sendiri hari itu. Sedang semua orang menunggu pria itu memberitahu dan menjemput Aish dan Naina ke rumah sakit.


"Bunda, sudahlah.... Semua juga sudah terjadi. Aldric suaminya Aishwa, dan pernikahan tidak boleh jadi sebuah permainan yang bisa diakhiri kapan pun bila mau," cetus Ayah Ariq menenangkan istrinya yang amat kecewa atas sikap Aldric.


"Dan kau Aldric, Ayah katakan padamu. Kau sudah menikah dan menjadi suaminya Aishwa, kau tidak boleh menyesali keputusan mu sendiri, kau harus pula berkomitmen pada pernikahan ini, bantu Aish bangkit, lindungi dia dari apapun masalah yang sedang dihadapi saat ini."


"Aishwa tanggung jawab mu mulai sekarang, apapun tentang kalian Ayah harap kebaikan selalu menyertaimu, dampingi Aish hingga lukanya sembuh seiring waktu, dan bersabarlah karena ini bukan pernikahan biasa, kalian tidak saling mencintai, jadi butuh waktu lama bisa menyatu, Ayah berdoa yang terbaik untuk mu dan Aish, jangan sakiti dia apalagi meninggalkannya."


"Kau yang sudah memulainya Aldric, jadi jangan mundur lagi. Ini pernikahan bukan permainan, awas jika kau berbuat yang tidak-tidak," sambung Ayah Ariq memberi nasehat.


Aldric hanya mengangguk tanpa membantah.


Tanpa mereka sadari, Aishwa mendengar percakapan itu. Hatinya kian teriris, sedih kehilangan Ken baru saja mengoyak hatinya, kini ia dihadapkan lagi dengan sosok Aldric yang menyebalkan, pria itu telah mengikatnya pada pernikahan yang tidak mereka inginkan.


Bagaimana Aish dan Aldric bisa berumah tangga jika seperti ini, mereka bukan dijodohkan tidak pula saling mencintai, semua terjadi begitu saja, mendadak, semua terasa tiba-tiba.


Melewati dua bulan pertama sungguh lah sulit bagi Aish, ia cuti panjang karena belum sanggup untuk bekerja. Ia hanya diam di rumah, mengurung diri dan tidak banyak bicara.


Apalagi bicara pada suaminya, ia masih jengkel dengan keputusan Aldric hingga menyebabkan mereka seperti orang asing padahal mereka sudah menikah.


Aish terpaksa sekamar agar tidak menimbulkan kecurigaan pada mertuanya. Padahal mereka tidur terpisah hingga sekarang.

__ADS_1


Aish juga jarang bicara pada Aldric, ia masih marah pada lelaki itu, pun Aldric ia tidak berani bicara apalagi mendekati istrinya karena ia sadar bukan dirinya yang diinginkan oleh Aish.


Aldric hanya bisa bersabar menunggu Aish memaafkannya. Namun hingga dua bulan tidak juga wanita itu menampakkan sikap yang melunak padanya.


Aish masih dingin, sedingin salju padanya.


"Aish," panggil Nayla.


"Iya Bunda," sahut Aish menatap Nayla di meja makan.


"Jika kau sudah bosan, jika kau mau kau boleh bekerja, Bunda lihat jika di rumah kau tidak banyak bicara, kau hanya mengurung diri saja. Dan itu tidak baik jika berlangsung lama Aish," ucap Bunda Nayla memegang tangan Aish.


"Semua orang terluka Aish, bukan hanya kau tapi kita semua, aku kehilangan putraku, Aldric pun sama dia kehilangan saudaranya, jadi Bunda harap kau tidak marah lagi pada suami mu, biar bagaimanapun kalian sudah menikah dan itu resmi."


Aish terdiam.


Nasehat mertuanya itu membuat Aish bersyukur mendapatkan keluarga baru yang selalu memberinya semangat dan tidak meninggalkan Aish sedikit pun.


Aish patut bahagia.


Aish kembali kamarnya dan Aldric. Pria itu keluar kamar mandi menggunakan handuk saja.


Mereka bertemu mata dalam keheningan malam yang tenang.


"Aku akan tidur cepat, besok aku akan mulai masuk bekerja lagi," ucap Aish sambil menuju ranjangnya.


"Iya, selamat tidur!" balas Aldric datar, lelaki itu berlalu ke ruangan ganti pakaian.


Aish menatap suaminya dengan kesal.

__ADS_1


"Dia bahkan tidak pernah berkata santai, dia memang payah, dia bukan Ken yang pandai merayu, dia kaku, aku membencinya!" rutuk Aish sambil menarik selimut.


Lalu Aish membuka matanya lagi, menatap pula Aldric yang menyiapkan tempat tidurnya di sofa, seperti biasa seperti hari-hari mereka dua bulan lalu.


Tidak ada percakapan yang berarti sejak kematian Ken, Aldric hanya suka diam seribu bahasa, ia seolah tidak berani mendekati Aish, ia hanya berani memandang dari jauh, menatap jika Aish sudah tertidur, mencintai dalam diam. Aldric cinta sendirian.


Aldric mencintai Aishwa, bahkan sudah sangat lama sebelum Ken meninggal. Pria itu mengartikan perasaannya sebagai cinta karena suka pada Aishwa bahkan sejak pertama kali bertemu.


Perempuan itu mengganggu tidurnya sejak hari itu. Kini wajah Aish bukan lagi dalam mimpi, tapi mendapatkan hati Aish bagai mimpi yang tidak akan menjadi nyata bagi Aldric.


Perempuan itu mencintai saudaranya, mencintai Ken hingga menutup hati dengan rapat, bahkan tidak memaafkannya meski sudah dua bulan berlalu.


Aldric mematikan lampu kamar yang tersisa hanya cahaya temaram dari lampu tidur. Perlahan ia memejamkan mata seperti malam-malam sebelumnya.


Aish melihat pria itu dengan rasa kesal antara benci dan kasihan. Ia benci telah terikat pernikahan yang tidak seharusnya terjadi, ia pula kasihan pada Aldric yang juga terjebak sama sepertinya. Lalu mereka harus apa?


Bercerai? Terkadang terpikir oleh Aish untuk bercerai, namun ia berat jika menimbang perasaan mertuanya, mereka baru saja hendak bangkit dari perasaan duka kehilangan Ken.


Tidak pula Aish tega ingin bercerai disituasi seperti ini. Terlalu kejam pikirnya.


Namun berada dalam pernikahan yang salah juga tidak ada baiknya, ia dan Aldric bahkan tidak tidur seranjang, mereka dengan urusan masing-masing seperti orang asing.


Pria itu terlalu kaku, sangat susah diajak bicara, terlebih seolah menghindar karena takut Aish masih marah padanya.


Aish terkadang merasa bersalah, apa ia sejahat itu hingga marah pada Aldric selama ini? Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk mendiamkan lelaki itu.


Betapa besar pun marahnya pada Aldric, tidak akan juga Ken kembali hidup. Aish kesal pada dirinya sendiri, ia kesal tidak hidup beruntung seperti yang lain yang bisa menikah dan menikmati hidup bersama dengan orang yang dicintai.


Puas menatap wajah Aldric yang perlahan tertidur, barulah Aish memejamkan matanya mengistirahatkan dari pikiran yang sudah melayang kemana-mana.

__ADS_1


__ADS_2