
Nayla menatap pantulan bayangannya di cermin, ia mencoba-coba memakai kerudung pashmina yang ia punya, beberapa kali ia pasang beberapa kali pula ia buka lagi. Hatinya meragu sesaat namun yakin lagi sesaat kemudian. Entahlah.
Apa karena saran Oma, atau karena pertemuan dengan teman barunya Rahayu kemarin? Melihat Rahayu yang sangat cantik dengan hijabnya, menatap dengan jarak yang sangat dekat, tutur kata yang baik dan sopan dari gadis itu membuat Nayla tergerak hatinya ingin meniru setidaknya menirukan penampilannya yang sangat anggun dengan hijab menutupi kepala.
Nayla memang sudah tahu gerak gerik Rahayu bahkan sejak dari ia masih kuliah dulu, Nayla mengidolakan gadis itu, penampilan dan keramahan Rahayu membuatnya kian terlihat dihormati, memang benar kata Oma Rika jika seorang perempuan menjaga penampilannya maka lelaki pun akan ikut menjaga pandangannya.
Lihat saja Rahayu mana ada lelaki yang berani mendekatinya, mana berani berkata tidak sopan pada gadis itu, semua menghormati Rahayu tentu tidak akan ada yang berani melecehkannya karena gadis itu tidak pernah menampakkan lekuk tubuhnya jika ke kampus.
"Aku memang bukan gadis yang baik, tapi dengan berpenampilan baik tentu aku akan lebih dihormati."
Nayla bergumam seraya membuka koper yang berisi pakaian koleksi lebarannya dari tahun ke tahun, pakaian tertutup dan sopan. Nayla tersenyum setidaknya itu akan menunjang penampilannya yang baru sebelum punya uang lebih untuk membeli pakaian baru.
Nayla memakainya, senyumnya mengembang seketika baju itu masih terlihat pas di badannya. Cantik, Nayla sungguh cantik dengan rambut yang tersembunyi. Wajahnya yang bulat terlihat sempurna dibalik pashmina berwarna hitam. Hidung mancungnya kian terlihat.
Di balik badannya Arinda yang masuk ke kamar, ia merasa terhuyung saat mendapat pelukan tiba-tiba.
"Sayang?" lirih Nayla yang segera menghadap keponakannya yang tertua.
"Bundnay cantik sekali, aku suka....." kata gadis kecil itu.
Hati Nayla sungguh menghangat mendengarnya.
"Benarkah? Apa tidak terlihat aneh?"
"Tidak, justru sangat cantik. Bundnay cantik sekali seperti poto bundnay waktu di pesantren."
Nayla terdiam, memori otaknya berputar pada kenangan tiga tahun lamanya menimbah ilmu agama di pesantren ketika menginjak pubertas. Menjadi santri tercantik, Nayla disukai anak seorang ustadz ketika itu.
Apa kabar Angga pikir Nayla, Angga seorang santri lelaki putra salah satu ustadz yang mengajar di sana meneruskan pendidikan di Kairo ketika Nayla tamat jenjang setara SMP, dan lelaki itu tamat jenjang setara SMA.
"Benarkah?"
Arinda mengangguk.
"Jika aku tamat SD nanti, aku juga mau masuk pesantren..... Aku ingin cantik seperti ini, dengan jilbab ini aku ingin belajar banyak doa agar ayah dan bundaku bisa masuk surga."
Oh betapa lelahnya Nayla jika setiap hari harus mengeluarkan airmata dengan sentilan-sentilan dari keponakannya yang polos, Nayla memeluk Arinda dengan sebuah tangis haru nan pilu. Ia teringat ibu dan kakaknya.
"Tentu sayang, kau bisa masuk pesantren jika sudah tamat SD nanti. Bunda mendukung apapun itu selagi baik untukmu," balas Nayla dengan penuh kasih.
"Bundnay cantik seperti ini, jangan dilepas lagi," kata Arinda seraya merapikan pashmina Nayla dengan tangan mungilnya saat sang bibi berlutut memeluknya.
__ADS_1
Nayla mengangguk tanpa ragu.
"Tidak, insyaallah bunda yakin....."
"Dulu karena ku buka maka hidupku kian kehilangan arah, sekarang tidak lagi. Tidak akan, mungkin dengan berpenampilan seperti ini aku kian menjadi lebih baik dari sebelumnya, tidak ada salahnya mencoba. Aku merasa lebih baik dengan hijab," gumam Nayla dalam hati, ia memeluk lagi Arinda dengan perasaan bergetar.
"Aku juga mau masuk pesantren, menjadi penghafal Al-Qur'an agar ayah dan bunda masuk surga."
Sebuah suara yang diyakini Nayla berasal dari Zandi yang telah menyusul memeluknya pula. Bertambah menangis pula bibinya yang rapuh akan cinta anak-anak ini pada ayah bundanya yang telah tiada.
"Iya, tentu saja Zandi. Kau pasti akan menjadi seorang hafidz terbaik negeri ini," sanjung Nayla memeluk kedua keponakannya yang kian hari bersikap dewasa dari umurnya.
*****
Nayla bekerja, karena Arinda dan kedua adiknya tidak sekolah di hari Minggu maka Zaza akan dijaga oleh ketiga kakaknya itu, hingga Nayla bisa berangkat bekerja seorang diri.
Seperti biasa, masuk lewat akses pintu belakang khusus pelayan. Baru saja masuk sudah terdengar sindiran-sindiran halus dari para pelayan yang tidak menyukainya selama ini terlebih mereka tahu kedekatan Nayla dengan Ariq sang majikan.
Nayla hanya mengurut dada, ia terus melangkah tanpa beban, ia mengabaikan segala cercaan yang menudingnya mengubah penampilan hanya untuk menarik perhatian Ariq dan keluarganya agar bersimpati.
"Berjilbab hanya menutupi keburukan, pelayan tetap saja pelayan," sindir salah satu pelayan sebayanya yang juga masih lajang.
"Ayo sayang, jangan dengarkan dia, ayo masuk pakaian mas Ariq sudah menumpuk, dia sudah pulang dari luar kota," bisik Dewi yang menyelamatkan Nayla dari ketusnya pelayan Siti yang terang tidak suka pada Nayla.
Pipi Nayla memerah, "Benarkah?"
"Apa dia tidak menghubungi mu?"
"Iya tapi tidak bilang hari ini, kata mas Ariq akan pulang lusa nanti."
"Oh soal itu aku tidak tahu, mas mu sudah pulang semalam. Lihat saja pakaian kekasihmu itu," tunjuk Dewi ketika mereka sudah sampai belakang.
Nayla mendapat keistimewaan dari Ariq yang melarangnya memakai seragam pelayan jika bekerja.
Menatap tumpukan pakaian kotor lelaki itu membuat Nayla tersenyum simpul. Ia merindukan sosok pria posesif ini.
"Sayang?" sebuah suara memecah lamunannya.
Nayla menoleh saat berbalik badan, Ariq telah berdiri belakangnya.
"Mas Ariq?"
__ADS_1
Ariq tertegun, lama ia menatap wajah dan penampilan baru kekasihnya saat ini. Untuk beberapa saat mereka saling berpandang-pandangan.
"Apa aku terlihat aneh?" tanya Nayla canggung seraya menggigit bibir bawahnya seraya menunduk.
"Tidak, kau seperti Humairah waktu muda."
"Humairah?"
"Ah, maksudku mamaku. Iya mamaku namanya Humairah."
Nayla tersenyum mendengarnya, "Apa itu sebuah sindiran?"
"Nayla," lirih Ariq masih dengan tatapan kagumnya.
"Iya."
"Aku jatuh cinta untuk sekian kalinya padamu, dengan penampilan mu seperti ini aku tidak berani memelukmu padahal aku sangat ingin, aku menahan rindu cukup lama beberapa hari ini, sungguh aku menghormati penampilan mu sekarang."
"Alhamdulillah," lirih Nayla senang bukan main.
"Apa kau senang melihatku tersiksa?"
"Tersiksa bagaimana?"
"Iya, cukup menyebalkan tidak bisa memeluk dan menciummu padahal aku sangat ingin melakukannya," jawab Ariq datar.
Nayla terkekeh.
"Aku ingin menjadi lebih baik, itu saja." Nayla tersenyum lebar merasa berhasil dengan penampilannya yang membuat Ariq mau tidak mau harus mengurungkan niat memeluknya.
"Aku senang mendengarnya, sudah sepatutnya seperti itu. Sungguh aku bertambah sayang padamu, jika begini apa boleh buat aku cium tangan saja."
Ariq berkata enteng seraya meraih tangan Nayla dan mencium punggung tangan gadis itu dengan gemas.
"Mas Ariq, hentikan! Itu geli."
Nayla bergidik saat menarik paksa tangannya.
Kemesraan itu disaksikan oleh seseorang dari jendela kamar di lantai dua, kebetulan jendela itu menghadap halaman belakang rumah yang di sudutnya terdapat ruangan khusus Laundry.
Nyonya Arina menatap mereka dengan mata berkilat tidak suka.
__ADS_1