Purnama Merindu

Purnama Merindu
Di penjara


__ADS_3

"Ayo kita berkencan!"


"Apa?" Nayla terkejut.


"Ayolah," ajak Ariq yang telah menggenggam tangan Nayla lalu menariknya pelan menuju keluar dari ruangan laundry.


"Maaf, apa kau tidak lihat pakaian kotor mu? Aku harus mencucinya," sela Nayla mencegah.


"Abaikan saja, jika mau tidak kau tidak perlu bekerja lagi, biar aku saja yang bekerja," kata Ariq enteng.


"Mas Ariq, hentikan. Aku harus bekerja." cegah Nayla lagi saat hendak ditarik pria itu dari sana.


"Nayla, aku serius! Berhenti mencuci pakaianku, kau dipecat mulai hari ini."


"Apa maksudmu?"


"Kau hanya boleh menemani kemana aku pergi, kau bukan pembantu ku. Ayo kemana kita akan berkencan?"


"Mas Ariq jangan bercanda, lagipula mau kemana pagi-pagi buta seperti ini?"


"Kemana saja yang penting berdua."


"Maaf, aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Selain aku harus bekerja, aku juga tidak bisa meninggalkan empat anakku yang sedang menunggu di rumah."


Ariq terdiam, sejenak ia memutar otaknya. Lalu senyum rekah muncul dibalik wajahnya yang menawan.


"Itu soal mudah, ayo!" Ariq meraih tangan Nayla lagi, mengajaknya keluar dari sana.


"Dewi!" panggil Ariq ketika sampai di dapur.


Dewi segera mendekat, ia menunduk takut.


"Mas Ariq memanggilku?"


"Iya, kau libur saja hari ini. Kau boleh pulang lalu jaga anak-anaknya Nayla di rumah, kami akan pergi sebentar!!!" perintah Ariq tiba-tiba membuat Dewi terkejut, ia melirik Nayla yang tampak pasrah.


"Baik mas Ariq, aku mengerti. Tapi jika aku pergi siapa yang membantu Bi Yati memasak?"


"Suruh yang lain saja, ayolah aku tidak suka bertele-tele seperti ini, lakukan seperti perintah ku."


Dewi segera mengangguk tanpa bertanya lagi.


Nayla harus pasrah, selain menerima ia bisa apa. Ariq memang tidak bisa dibantah, Nayla mengambil napas dalam-dalam saat melihat mobil Ariq dari jauh menuju ia berdiri saat ini. Nayla menunggu di jalan belakang.


"Ayo masuk!"


Nayla hanya memutar bola matanya dengan malas, lalu ia pun masuk di bangku samping kemudi.


"Memangnya kau membawaku kemana? Ini masih sangat pagi."


"Karena mall belum ada yang buka jadi kita ke pantai saja," jawab Ariq tanpa ragu.


"Ke pantai?"


"Iya, kau tidak mau?"


"Pagi-pagi ke pantai yang benar saja," heran Nayla.


"Jangan mengoceh, sebaiknya berkata manis saja."


"Huuhhhh." Terdengar Nayla bernapas kasar sambil berpaling ke luar jendela mobil.


Ariq meraih jemari kekasihnya, ia genggam sesekali ia kecup punggung tangan Nayla.

__ADS_1


Di pantai.


Kilatan sinar matahari kian tampak dari timur, pasir pantai menjadi berkilau, sesekali sapuan ombak menyapu kaki dua insan yang tengah menyusuri pantai yang masih tampak sepi.


Nayla diam seribu bahasa, deburan ombak seakan melarutkan pandangan dan perasaannya sekarang. Entah seperti apa nasib cintanya setelah ini.


Beribu tanya muncul, benarkah Ariq serius mencintainya? Lalu hubungan seperti apa yang akan mereka tempuh?


Lalu bagaimana pula jika Nayla akan jujur tentang masa lalunya nanti? Apa Ariq masih bisa semanis ini pikirnya.


"Kenapa kau diam saja?"


"Entahlah," sahut Nayla yang melayangkan pandangan pada laut yang tidak bertepi.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ariq lagi.


"Aku hanya bingung."


"Soal apa?"


"Soal kita."


Ariq mulai tertarik pada pembicaraan ini, ia yang semula berjalan di samping kini berhenti lalu berubah posisi hingga berhadapan.


"Apa kau ragu padaku?" tanya Ariq hati-hati.


"Justru kau yang akan ragu padaku nanti," kata Nayla ambigu.


"Apa maksudmu?"


"Kau akan kecewa jika tahu seperti apa aku sebelum ini, aku begitu buruk dimasa lalu."


Nayla tidak menatap Ariq, ia bicara dengan arah pandangan yang berbeda.


"Semua orang punya masa lalu Nay, kenapa kau bicara seperti itu?"


"Kau akan kecewa mas Ariq, aku yakin itu. Aku tidak seperti gadis lain. Aku merasa tidak pantas untukmu bahkan untuk lelaki manapun," ucap Nayla dengan suara tertahan.


"Kau mencintaiku?"


"Tentu saja, bukan hanya cinta tapi juga menggilaimu," jawab Ariq yakin.


Nayla hanya bisa tersenyum getir.


"Cinta yang berlebihan itu tidak baik, jika kau kecewa nanti mungkin kau akan membenciku lebih dari itu."


Kini Ariq terdiam, ia raih lagi tangan cantik milik Nayla, "Aku mencintaimu Nay..... Aku tidak bermain-main dengan perasaanku."


Nayla tersenyum, lalu ia mulai berjalan lagi.


"Ayo pulang, ini lebih dari satu jam kita mengelilingi pantai," ajak Nayla menarik tangan pria itu dengan lembut.


Ariq tersenyum, ia suka sekali pada penampilan Nayla yang sekarang, kecantikan yang hakiki menurutnya, Nayla cantik tiada cela, sempurna sebagai perempuan terlebih saat berhijab seperti sekarang.


*****


Seperti sebelumnya Nayla tetap masuk bekerja dihari berikutnya, ia menganggap perkataan Ariq kemarin hanyalah sebuah candaan yang menyuruhnya berhenti bekerja.


Nayla senang Oma Rika sudah jarang kambuh, jika kambuh pun tidak sesedih saat pertama bertemu Nayla. Menerima gaji pertama, Nayla gunakan untuk membeli bahan pokok dan kebutuhan empat keponakannya tercinta.


Manis sekali gaji dari hasil kerja tangannya sendiri, Nayla teringat ayahnya saat menatap uang di tangannya. Lama sekali ia tidak berkunjung, bahkan ayahnya tidak tahu kehidupannya sekarang yang tinggal bersama keempat cucu dari pria paruh baya itu.


Nayla mengelap pipinya yang kembali basah saat mengingat pria yang menjadi alasannya ada di dunia ini, ayahnya yang di penjara.


"Aku merindukan mu ayah, rindu sekali," gumam Nayla dalam sebuah tangis yang pecah. Ia menyembunyikan wajahnya, hanya tampak bahu yang bergetar karena isak tangis.


Nayla memantapkan hati untuk mengunjungi ayahnya di lembaga permasyarakatan yang cukup memakan waktu tiga puluh menit dari kontrakannya jika naik kendaraan umum.

__ADS_1


Kembali hanya Dewi yang selalu bersedia membantunya, menjaga empat bocah tanpa mengeluh, Dewi memang suka anak-anak, perempuan itu memperlakukan anak-anak Nayla dengan baik.


"Kak Dewi, aku tidak tahu jika bukan kau yang menjadi tetangga ku saat ini, kau membantuku banyak hal terutama soal anak-anak saat aku bepergian."


"Kau ini bicara apa Nay, aku suka bertetangga dengan mu. Aku merasa punya anak sekarang, betapa aku bersyukur untuk itu, aku menyayangi mereka Nayla, aku suka anak-anak mu, mereka sama sekali tidak membuatku repot, aku bahkan bahagia."


Perkataan Dewi membuat hati Nayla menjadi lega sekaligus hangat.


"Ini sudah jam berapa, sekarang pergilah. Ingat untuk hati-hati," Dewi mengingatkan.


Nayla mengangguk, ia segera pamit setelah kembali memperingati Arinda dan Zandi untuk menjaga adik-adiknya.


Nayla terkejut saat mobil Ariq tiba-tiba muncul di hadapannya yang kini tengah menanti angkutan umum yang lewat.


"Hai." Ariq melambai manja pada sang kekasih.


"Huuh, kenapa dia selalu muncul di jam seperti ini?" gumam Nayla yang tidak langsung masuk ke mobil lelaki idaman itu.


"Sayang ayolah!"


Dengan berat hati Nayla pun masuk mobil atas perintah Ariq, "Mas Ariq tidak bekerja? Kenapa selalu hadir disaat jam seperti ini?"


"Karena aku tahu kau suka pergi tanpa memberitahu ku pada jam seperti ini, sekarang kau tidak bisa mengelak lagi," kekeh Ariq santai sambil melajukan kendaraannya.


Nayla tersenyum, "Memang aku sering pergi? Siapa yang bilang begitu?"


"Bang Jhon."


"Ck, itu berlebihan. Aku pergi tentu ada urusan penting."


"Justru penting kenapa tidak memberitahu ku?"


"Kau bekerja."


"Mudah diatur, lain kali jika hendak pergi kemanapun harus pergi denganku. Setidaknya memberitahu, jangan main pergi saja. Mana tahu kau pergi menemui lelaki, aku akan cemburu Nayla. Aku tidak mau."


Nayla tertawa pelan, Ariq memang bertambah posesif dari hari ke hari, semua hal harus dilaporkan, sedikit berlebihan namun Nayla suka, suka dengan sikap yang seperti ini.


"Dan tebakan mu benar kali ini, aku akan menemui seorang lelaki siang ini."


Kata-kata Nayla berhasil membuat Ariq mengerem mendadak.


"Sayang, jangan bercanda. Siapa yang akan kau temui?"


"Seorang lelaki."


"Siapa? Oh jangan katakan kau akan bertemu mantan kekasihmu."


"Bukan, aku akan bertemu cinta pertama ku."


Ariq mulai serius menatap Nayla penuh tanya.


"Apa maksudmu Nay, ini gila kau membuatku kesal sekarang. Aku tidak suka, tidak boleh!"


Nayla mengulum senyum, "Iya, aku akan menemui cinta pertama seorang anak perempuan. Ayahku."


Ariq tertegun sejenak.


"Ayahmu?"


Nayla mengangguk, "Apa kau juga keberatan?" goda Nayla lagi.


"Oh sayang, kau membuatku jantungan. Kenapa tidak katakan sedari tadi."


"Kau terlalu curiga."


"Baiklah, sekarang aku jadi bersemangat. Ayo katakan dimana ayahmu, aku sudah lama ingin bertemu calon mertuaku," kata Ariq bersemangat, ia kembali mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Di penjara."


"Apa?"


__ADS_2