Purnama Merindu

Purnama Merindu
Oh Aishwa


__ADS_3

Sebulan kemudian, Ken kembali meninggalkan pekerjaan nya atas satu alasan.


Pria itu sudah tidak tahan ingin bertemu Aish, perempuan yang Ken yakini telah merebut hati dan perhatiannya hingga kini.


Kembali bersama Doni, mereka menempuh perjalanan panjang menuju Desa Aish, beruntung sudah tidak musim hujan hingga akses jalan lancar tanpa hambatan.


Perjalanan panjang yang tidak membuat Ken bosan karena terlalu bersemangat bertemu janda pujaan hatinya itu.


Namun kenyataan berkata lain, sesampainya di sana Ken tidak menemukan Aish sama sekali. Pria itu menemui Aldi yang sedang bekerja.


Ken tampak menengadah ke atas, wajahnya kian frustasi saat mengetahui kebenaran tentang pindahnya Aish bulan lalu dari sana.


"Yang benar saja?" lirih Ken pelan.


"Aku juga tidak tahu mereka pindah kemana, sepertinya Aish mengganti nomor teleponnya, hingga tidak bisa dihubungi, begitu pun Ratih. Tapi kau bisa menemui Pak Rahmat, karena beliau yang mengantarkan Aish dan Ratih ke kota," ucap Aldi yang tidak menyangka Ken akan kembali ke sana sesuai janjinya untuk bertemu Aish.


Ken tampak lesu. Doni melihat itu menjadi tahu bahwa Ken benar-benar berubah sekarang. Perihal satu wanita bisa membuat wajah pria playboy itu menjadi murung padahal itu sangat jarang terjadi sebelumnya bahkan tidak pernah Ken galau hanya karena wanita. Yang ada pacar-pacarnya galau karena diabaikan pria itu.


"Ayolah Bung, kita bisa ke rumah Pak Rahmat kan!" seru Doni menepuk pundak Ken yang tampak berpikir.


Ken menatap Doni kesal. Ia mengantongi nomor telepon Aldi jika suatu saat bisa mendapatkan kabar tentang Aish. Pria itu menepuk pundak Aldi untuk pamit.


"Kau pria pekerja keras Aldi, mana Ali? Aku merindukan anak cengeng itu," ucap Ken.


Aldi mengatakan Ali sedang sekolah, Ken menepuk keningnya baru teringat bahwa pria kecil yang banyak membantunya selama di desa itu sedang bersekolah di siang seperti ini.


Setelah lama bertukar kabar, Ken dan Doni pamit berniat menemui Pak Rahmat.


Namun lagi-lagi Ken tampak frustasi saat tidak mendapatkan jawaban pasti dari Pak Rahmat. Sebab pria setengah baya itu tidak mengantarkan Aish dan Ratih menuju alamat jelas, namun hanya sampai ke terminal angkutan kota saja.


"Maaf Nak, aku hanya mengantar mereka saja tanpa bertanya lebih jelas. Aish hanya mengatakan bahwa mereka akan tinggal di kost Aish kuliah dulu, tidak jauh dari Rumah Sakit."


"Rumah Sakit? Rumah Sakit apa?" tanya Ken bersemangat.


Pak Rahmat menggeleng.


"Aku serius Pak Rahmat!" ujar Ken lesu lagi.


"Maaf Nak Ken, aku lupa Rumah Sakit apa karena aku tidak mengantarkan sampai ke sana. Maaf sekali," balas Pak Rahmat dengan sesal.


Ken pamit dengan lesu, ia bahkan kesal pada dirinya sendiri kenapa bisa ia lupa dan bodoh tidak meminta nomor telepon Aish sebelum pulang tempo hari.


Mereka ke rumah Ratih sesuai saran Pak Rahmat, namun sayang sekali kedatangan Ken dan Doni tidak tepat waktu disaat keluarga itu sedang bertengkar suami istri.


Namun Ken memaksa bertanya, berakhir mendapat tatapan sinis dari kedua orang tua Ratih, mereka menyebutkan tidak peduli lagi dengan putrinya yang lebih memilih pergi bersama Aish ketimbang menikah seperti kemauan mereka.


Ken terkejut, ternyata Ratih ikut Aish dalam keadaan tidak baik dengan keluarganya yang marah Ratih tidak menerima perjodohan mereka.


Lagi, Ken tidak mendapatkan jawaban pasti kemana Aish pindah. Kota itu besar, mau dicari kemana pikir Ken. Ah pria itu frustasi untuk ke sekian kalinya.


Ken hanya diam selama perjalanan pulang, jalanan tanah yang berdebu karena teriknya sinar matahari membuat mobil mereka menjadi kotor.

__ADS_1


Ken menatap ke luar jendela. Ia sungguh merasa bodoh luar biasa saat ini, bagaimana ia bisa terlihat seperti pria payah yang tunduk pada satu wanita.


"Ken!"


"Hmmm."


"Aku mengantuk, bisa kau gantian menyetir?"


Ken tidak menoleh.


"Aku sedang malas mengemudi. Lanjut saja!"


"Aku mengantuk bodoh, apa kau mau lanjut ke alam baka? Kau tidak bisa bertemu Aish jika kita mati konyol hari ini!"


Ken menoleh juga akhirnya saat mendengar nama Aish.


"Baiklah, tentu aku tidak mau mati penasaran karena seorang wanita. Setidaknya sampai aku menikahinya!"


"Apa?" Doni tertawa dibuatnya. Mereka berpindah tempat.


"Apa kau berniat menikahi Aish?"


"Kenapa tidak? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" sahut Ken sambil menjalankan mobilnya dengan perlahan.


Doni tertawa sumbang, ia berkali-kali geleng kepala dibuat sahabatnya itu.


"Aku bahkan tidak percaya jika ini kau," cetus Doni melirik Ken berkali-kali.


"Aku didesak menikah, tentu aku akan menikahi Aish lah!"


"Kau belum mengenalnya Ken, meski kau ahli dalam hal wanita tapi jangan terburu pula memilih pasangan hidup, aku lebih setuju pada pilihan orang tua mu. Mereka sudah tentu tahu yang terbaik untuk mu, daripada Aish. Kau belum mengenalnya secara dekat!"


Ken menatap Doni tidak suka.


"Berkenalan dan pacaran setelah menikah aku rasa cocok untuk kami," sahut Ken santai.


Doni terbatuk.


"Yang benar saja, aku tidak mengira kau bisa serius Ken!"


"Aku serius Doni, kau kira kita melakukan perjalanan seperti ini untuk apa? Aku serius ingin mendekati Aish dalam arti yang sesungguhnya, bukan karena penasaran biasa!"


"Ahhhh, kau membuatku tambah pusing. Harus kemana ku cari perempuan itu!!!!!" Ken memukul stir dengan kesal.


Doni geleng kepala.


"Aku mau tidur. Oh janda memang menggoda, apalagi janda muda, seorang dokter pula, cantik luar biasa. Oh Aishwa kemana kami harus mencari mu," ucap Doni mengejek Ken.


"Berhenti mengoceh, siapkan dirimu! Aku akan mengebut."


Ken mulai meningkatkan kecepatan kendaraannya.

__ADS_1


"Ken, jangan bercanda."


"Enak saja kau mau tidur, aku menyetir sendiri!" seru Ken yang sengaja menyetir ugal-ugalan agar Doni bisa membesarkan matanya.


"Pria gila!" sahut Doni kesal.


...****************...


Di sebuah rumah Kost khusus perempuan.


"Aish!" seru Ratih mengejutkan Aish saat perempuan itu sedang memasak di dapur.


"Ada apa? Kau terlihat senang Ratih?"


Aish menghentikan aktivitas tangannya.


"Aku punya kabar baik, aku diterima bekerja di rumah besar yang kita lewati sebelum kemari itu Aish. Mereka butuh menggantikan seorang asisten rumah tangga yang berhenti bekerja bulan lalu," ucap Ratih bersemangat.


"Benarkah? Oh aku senang mendengarnya Ratih."


"Aku bahkan boleh pulang pergi saat bekerja, sebab tidak harus menginap, jadi aku tidak akan meninggalkan mu sendirian di sini."


Aish tertawa.


"Tidak seperti itu juga Ratih, aku sudah terbiasa hidup sendiri selama kuliah. Jika kau merasa repot, lebih baik kau menginap saja di sana agar memudahkan kau dalam pekerjaan."


Ratih menggeleng.


"Tidak masalah, lagipula berjalan kaki lewat gang depan sana juga dekat. Aku tidak repot, aku terbiasa bangun pagi, jadi tidak perlu khawatir, majikan ku baik, sangat baik menurut ku, ramah dan entahlah susah dijelaskan, aku bersemangat bekerja di sana."


Aish bahagia melihat Ratih senang.


"Aku juga ada berita bagus untuk mu," cetus Aish.


"Apa itu?"


"Tidak hanya kau yang diterima bekerja, tapi aku juga Ratih. Baru tadi pagi aku mendapat telepon, aku diterima bekerja di Rumah Sakit Husada."


Ratih senang mendengarnya, mereka sudah satu bulan mencari pekerjaan, namun hari ini baru mendapat jawaban pasti. Aish memang sudah melamar pekerjaan di Rumah Sakit Husada tidak jauh dari kost mereka.


Telah pula melewati berbagai tes dan ujian masuk, namun Aish sempat sudah pasrah karena tidak dipanggil hingga saat ini, namun tadi pagi pihak rumah sakit menghubunginya mengatakan bahwa ia diterima bekerja untuk posisi dokter instalasi gawat darurat yang mereka butuhkan.


Aish rindu melayani pasien, rindu pula ia dengan alat-alat medisnya.


Ratih kegirangan, mereka berpelukan saling memberi dukungan. Mereka akan bekerja dan mencari uang yang banyak, menata masa depan lebih baik, dan tentu berharap bertemu jodoh di sana.


Siapa yang tidak memimpikan berumah tangga disaat umur mereka sudah menginjak dewasa seperti sekarang. Hanya saja, Aish masih menyimpan trauma percaya pada seorang pria.


Pacaran lima tahun, menikah hanya tiga bulan saja bahkan belum sempat dijamah. Bagaimana bisa kepercayaan lima tahun bisa hancur karena sebuah tugas negara yang dibarengi permainan wanita.


Lima tahun waktu yang panjang membina kepercayaan pada Romi, lalu bagaimana Aish bisa mempercayai orang baru?

__ADS_1


__ADS_2