
Ken menatap Doni.
"Huh, aku tahu kau pasti ingin menunggu Aishwa lagi kan sebelum kita pergi?" cetus Doni seolah mengerti tatapan sahabatnya itu.
"Bagus! Jadi tunggulah beberapa saat lagi. Ali sedang memberitahunya jika aku akan pulang sekarang."
Namun sudah hampir setengah jam Ken dan Doni menunggu namun Aishwa dan Ali belum muncul juga. Ken melirik Aldi.
"Aku tidak tahu, mungkin Ali sedang mencarinya sekarang," tukas Aldi mengerti tatapan penuh tanya dari Ken.
Lalu mereka melihat Ali kembali seorang diri tanpa Aishwa yang mereka harapkan datang bersama.
"Maaf, Bibi Aish sedang ada pasien. Sepertinya masih lama, kata Bi Aishwa tidak perlu menunggunya," kata Ali dengan napas tersengal karena berlari.
Mendengar itu Ken tidak suka. Ah pria ini sungguh tidak suka keadaan tidak berpihak padanya. Namun ingin menyusul Aish lagi tentu tidak mungkin karena Helikopter yang menjemput mereka sudah mulai terbang rendah dan perlahan mendarat di padang ilalang itu.
"Tidak ada waktu lagi Ken, kau lihat cuaca tidak bagus. Kita harus segera pergi dari sini!" ajak Doni lagi.
Ken berpelukan dengan Aldi bergantian Ali, berulang kali ia mengucapkan terimakasih dan berulang kali pula ia mengatakan bahwa akan kembali kemari nanti jika ia ada waktu luang.
Dengan berat hati Ken mengikuti langkah Doni yang lebih dulu mencapai Helikopter jemputan mereka.
Sesekali Ken melihat ke belakang, berharap Aishwa muncul mengantarnya. Namun nihil, perempuan itu tidak datang sama sekali.
"Ken! Ayo!" desak Doni berteriak ditengah bisingnya bunyi Helikopter yang siap terbang membawa mereka pergi dari sana.
Ken mengangguk, ia mengingat tentang semalam.
Ken menawari Aish sejumlah uang untuk membayar hutang Nenek Dijah, namun perempuan itu lagi-lagi menolak dengan halus. Ia tidak ingin memakan budi orang lain apalagi soal hutang Neneknya yang sudah meninggal.
Percakapan mereka semalam membuat Ken merasa Aishwa menghindar hari ini. Bukan tanpa alasan, semalam Ken menyatakan suka pada Aishwa membuat perempuan itu terkejut, Aish tidak mengiyakan perasaan Ken namun tidak pula menolak mentah-mentah pria itu.
Aishwa pandai bersikap dewasa, ia mengatakan sedang fokus pada permasalahan keluarga dibanding urusan pribadinya sendiri. Membuat Ken kecewa, ia berharap Aish memberinya sinyal penerimaan namun hingga hari ini perempuan itu seolah menghindarinya.
Ken seorang playboy tampan dan banyak uang, urusan perempuan bukan hal sulit baginya selama ini, ia bahkan tidak perlu usaha kuat untuk mendapatkan wanita incarannya sejauh ini. Ada pula wanita yang mengejar cintanya, bukan Ken yang harus susah payah menyatakan cinta.
__ADS_1
Ia bahkan bisa terlibat dengan 3 wanita sebagai pacar dalam waktu bersamaan, Ken tidak pernah serius dengan mereka, hanya untuk kesenangan saja.
Tapi lain halnya dengan Aishwa, sejak pertama bertemu saja ia merasa lain pada perempuan itu, punya daya pikat melebihi siapa pun pikirnya.
Ia kegirangan saat tahu Aish memanglah sudah janda, ia menjadi lebih gencar dalam beberapa hari terakhir namun sayang sikap Aish masih biasa, tidak menunjukkan bahwa kehadiran Ken istimewa.
Ken masih sangat penasaran dengan sosok Aish, ia berniat kembali ke kampung ini nanti jika ia ada waktu untuk Aishwa. Khusus untuk menemui Aish yang meninggalkan rasa mendalam di hatinya.
Entah itu cinta atau bukan, yang pasti Ken akan kembali untuk Aishwa suatu saat, khusus menemui dokter cantik itu.
Ken perlahan mencapai Helikopter, ia menoleh lagi pada Aldi dan Ali yang melambai tangan padanya, Ken terenyuh.
Ia teringat tiga saudara laki-lakinya yang lain, pria ini hanya bisa melambaikan tangan membalas mereka sebelum masuk Helikopter.
Banyak kenangan tercipta untuk beberapa minggu tinggal bersama dua beradik itu, sederhana dan hangat. Ken suka menjahili Ali jika anak itu masih tidur, Ken tersenyum mengingatnya.
Ken melirik ke arah lain, tidak ada tanda-tanda Aish datang meski hanya untuk melambai tangan padanya.
"Ken!" seru Doni lagi.
Ken perlahan tersenyum menatap Ali yang setia melambai tangan sambil mengejar kemana arah helikopter membawanya kian menjauh dan tinggi.
Sampai pada pandangannya jatuh pada sosok perempuan yang melihatnya di sisi yang berbeda dari Aldi. Ken terkejut, itu Aishwa.
Demi apa Ken melihat Aishwa menatapnya yang kian tinggi. Dress panjangnya yang menjuntai terbawa angin yang diciptakan Helikopter itu, Aish tersenyum lalu melambai tangan pada Ken.
"Aish," gumam Ken tersenyum lebar.
"Apa?" lirih Doni menatap Ken.
"Turunkan aku!" seru Ken dengan lantang.
Doni melihat kemana arah Ken memandang.
"Tidak!" sahut Doni menggeleng pada pilot mereka.
__ADS_1
"Turunkan aku!" kata Ken lagi.
"Tidak bisa Ken, cuaca tidak bagus kita harus segera pergi dari sini!" tukas Doni.
"Aku tahu dia pasti datang!" ucap Ken tersenyum melihat Aishwa yang kian mengecil dari pandangannya.
"Aku heran, sepertinya kampung ini ada magnetnya," cetus Doni geleng kepala.
"Iya, magnetnya Aishwa Zulaikha!"
"Ck..... Apa aku akan melihat sikap seperti ini lagi ketika di kota? Oh aku ragu, kau tidak pernah berubah Ken, wanita sudah menjadi hal yang biasa bagimu, jangan lupa Nindi, Ara dan Marissa mencari mu sejak kau hilang, sebaiknya kau siapkan rayuan mautmu untuk mereka!"
Ken melirik Doni tajam.
"Ah aku bahkan lupa seperti apa mereka sekarang," kekeh Ken yang merasa lega setelah melihat Aishwa mengantarnya pergi.
Aishwa memudarkan senyumnya saat Helikopter yang membawa Ken telah menghilang dari pandangan matanya. Hanya tersisa pemandangan ilalang yang rebah karena ulah sang robot capung itu.
Ada perasaan lain di hatinya, tidak ia pungkiri kehadiran Ken beberapa minggu ini membawa banyak hal padanya. Pria itu tampan dan baik di mata Aishwa.
Terlebih setelah Ken tahu ia seorang janda dan telah pula menyatakan suka padanya, Aishwa merasa hatinya tidak baik-baik saja.
Ia senang Ken bisa pulang pada keluarganya, kini Aish kembali harus memikirkan permasalahan yang ia hadapi.
Ia diberi waktu satu minggu untuk pindah dari rumah itu, rumah yang telah membesarkannya, rumah kebanggaan nenek dan orangtuanya kini sudah menjadi milik orang lain.
Aishwa baru mengetahui bahwa neneknya berkorban banyak untuknya hingga tercipta hutang sebanyak itu.
Pada kenyataannya, semasa hidup Nenek Dijah punya banyak aset tanah dan kebun sebagai sumber keuangan keluarga. Namun sejak Aishwa kuliah di kota, Nenek Dijah telah berani menjual seluruh tanah dan kebun untuk ia uangkan dan menanam modal pada kerabatnya yang memberitahu jika ia bisa untung besar.
Modal percaya, hingga ia ditipu oleh sepupunya sendiri sampai semua uang itu raib. Nenek Dijah yang tidak ingin Aishwa putus kuliah dan hidup susah, ia berani jaminkan rumah itu untuk sebuah pinjaman uang yang besar setidaknya sampai Aishwa lulus kuliah dan sukses dengan gelar dokternya.
Kini tiba saatnya ia melepaskan rumah untuk pelunas hutang agar tidak memberatkan beban neneknya di alam sana.
Aish menjadi sedih jika mengingat belum banyak yang ia lakukan untuk sang nenek sebelum meninggal. Baru saja menikah namun takdir tidak juga berpihak padanya.
__ADS_1
Berpacaran hampir lima tahun, namun usia pernikahan hanya bisa bertahan sampai 3 bulan saja. Aishwa sungguh terluka jika mengingat semuanya.