
Aldric mematikan mesin mobil, ia berkunjung ke rumah orangtuanya.
Nayla yang girang putranya pulang, mengajak Aldric makan sore itu.
"Lalu bagaimana keadaan Anara?" tanya Nayla dengan raut cemas.
"Dia baik-baik saja, orangtuanya sudah datang makanya aku pulang. Karena merindukan Bunda sekaligus lapar jadi aku mampir kemari," jawab Aldric tersenyum.
"Oh, syukurlah. Kau membuat Bunda cemas, kasihan gadis itu. Tapi Aldric, kau juga tidak boleh sedekat itu dengan Anara lagi, Bunda tidak ingin dia semakin terluka nantinya, juga Bunda ingatkan kau sudah beristri, jangan macam-macam di luar sana!"
Aldric terkekeh.
"Tidak seperti yang Bunda bayangkan," jawab Aldric ambigu.
"Lalu bagaimana dengan Aish? Kau mendapatkan hatinya? Ini sudah mau enam bulan Aldric, aku rasa waktu yang cukup panjang untuk membuat hatinya membaik dan mau menerima mu!"
Aldric hanya menggeleng dengan raut murung. Nayla hanya bisa menghembus napas panjang, ia tahu sekali keadaan rumah tangga Aldric dan Aish, sebagai ibu tentu ia sedih, namun Aldric tidak bisa mundur lagi atas apa yang telah lelaki itu putuskan waktu itu.
"Bersabarlah, penantian mu akan ada akhirnya nanti. Bunda yakin itu tidak akan sia-sia, percayalah," ucap Bunda Nayla sambil menggenggam tangan putranya.
Aldric hanya mengangguk tanpa menjawab.
Nayla menghiburnya, mereka tampak kembali santai dalam obrolan meja makan sore itu.
Sampai pada Nayla memanggil Ratih.
"Ratih, bisakah kau mengambilkan sesuatu di ruang kerja suamiku?"
Ratih mengangguk setelah mendekat.
"Sebuah undangan, di atas meja. Tolong bawa kemari, undangan dari teman sekolahnya Aldric."
"Baik Nyonya."
Aldric baru teringat.
"Ratih!" panggil Aldric sebelum gadis itu menjauh.
"Iya Tuan Aldric?"
"Bukankah kau libur hari ini?"
Ratih menggeleng.
"Tapi Aish bilang kau libur dan makan siang bersama nya hari ini."
Ratih menjelaskan bahwa ia sedang tidak libur, juga tidak ada janji makan siang dengan istri putra majikannya itu siang ini seperti yang dikatakan oleh Aldric.
Pria itu terdiam sesaat. Ia mulai berpikir Aish membohonginya, Aldric kecewa mendengar kenyataan itu.
"Ada apa? Kenapa dengan Ratih dan Aish?" tanya Bunda Nayla yang sedang mengambilkan makanan penutup dari kulkas.
"Tidak, bukan hal serius Bunda," tukas Aldric yang mengelak agar bundanya tidak bertanya tentang Aish.
Aldric selesai makan, mengobrol ringan dengan wajah perempuan yang awet muda itu tentang undangan reuni akbar sekolah SMA Aldric dulu.
Rumah itu tampak sepi, Al masih di kantor bersama Ayah Ariq, pun Faiz si bungsu itu memang telah tinggal di lain rumah, Faiz sudah memiliki rumah sendiri dengan desain tangannya yang telah menjadi seorang arsitek.
Naina sedang keluar berkunjung ke rumah orangtuanya, hingga hanya ada Nayla di sana, ia bahagia mendapat kunjungan dari Aldric, putra ketiganya yang suka membuatnya penasaran.
Lalu Aldric pamit pulang.
Hari sudah senja, Aish masih betah duduk di bangku sebuah restoran di tepi pantai. Ia baru saja selesai makan udang yang banyak.
Matanya menatap hamparan laut lepas, bunyi ombak serta angin yang berhembus membuat wajahnya sesekali terkena sinar matahari sore yang kian oren.
Sejak siang tadi, ia pergi seorang diri. Menikmati hari liburnya dengan berjalan di pantai serta makan di restoran yang terdapat di sana.
Aish kembali berjalan ke arah ombak, menyusuri pasir putih itu tanpa alas kaki.
Ada banyak pengunjung di sana. Aish berjalan seorang diri, sesekali ombak menyapu hingga membasahi kakinya yang putih dan mulus.
Aish menatap jauh ke hamparan luas laut yang tidak bertepi, seperti masa depannya yang belum dapat ia kira.
Seperti pernikahannya yang sangat jauh dari bayangan indah seorang perempuan yang memimpikan rumah tangga yang bahagia.
Terbayang pula ia wajah Anara, kini ia baru sadar bahwa ia telah menjadi penghalang bagi Aldric dan Anara bersatu dalam rencana waktu itu.
Tentu Anara masih mencintai Aldric, Aish dapat melihat dari cara gadis itu memandang suaminya. Meski Aldric tampak biasa saja.
Aish tidak tahu kenapa ia baru terpikir sekarang. Kasihan Anara, gadis itu telah berkorban perasaan pada pernikahan ia dan Aldric yang tidak seperti dalam bayangan.
Seharusnya Anara yang menikah dengan pria itu bukan Aish.
Aishwa meneteskan airmatanya. Ia teringat lagi sosok Ken, Ken yang akan menikahinya namun maut lebih dulu merebut pria itu sebelum memiliki Aish sepenuhnya, hingga takdir lain pun terjadi hari itu.
Takdir yang mana mengikat Aish dengan saudara kembar Ken, Aldric. Aish telah menikah dengan Aldric, bukan Ken.
Pernikahan itu sudah mau berjalan enam bulan, cukup lama Aish mendiamkan Aldric karena marah, namun ia sudah lebih baik dan telah terbiasa pula hidup bersama Aldric dalam satu atap..
Aish juga tidak memungkiri, perasaannya mulai muncul akhir-akhir ini, sebab Aldric tidak sekaku dulu lagi jika bersamanya, dia lelaki yang cukup membuat Aish penasaran.
Bersama Aldric di rumah, sering mengobrol ringan sebagai teman, sebagai teman makan, sebagai teman nonton tv, meski belum menjadi teman tidur namun Aish mulai terbiasa dengan semua itu.
Aldric seorang pria yang tampan, kharisma wajahnya tidak bisa Aish tolak begitu saja sekarang, ah memikirkan wajah suaminya membuat Aish kesal sendiri.
Apa Aish sedang cemburu? Ah yang benar saja pikir Aish.
Di apartemen.
__ADS_1
"Aish kau sudah pulang? Kau kemana? Aku ke rumah Bunda, Ratih bekerja hari ini. Dia bilang tidak ada janji apapun denganmu hari ini."
Pertanyaan Aldric menyambut Aish yang baru melangkah masuk. Aish menatap Aldric cukup lama tanpa jawaban apapun.
"Aku pergi seorang diri," sahut Aish seraya berjalan meninggalkan Aldric yang menatapnya penuh tanya.
Aish menutup pintu kamar. Aldric kembali kecewa.
Esok paginya.
Aldric tersenyum, habis subuh ia berniat membuat sarapan, namun ternyata Aish telah lebih dulu berada di sana.
"Selamat pagi Aish," sapa Aldric.
Aish menoleh.
"Selamat pagi juga Mas Aldric," sahut Aish dengan senyum yang sama.
Aldric duduk menunggu istrinya sedang membuat sesuatu. Lalu tidak lama kemudian mereka duduk bersama.
Sarapan dengan tenang, Aldric bersama pikirannya dan Aish dengan pikirannya pula, meski sesekali mereka saling memandang dalam diam.
"Mas Aldric," panggil Aish berniat memulai obrolan.
"Iya Aish."
"Apa kau masih mencintai Anara?"
Pertanyaan yang mampu membuat Aldric berhenti mengunyah.
Aldric tersenyum lalu menjawab santai, "Aku mencintai perempuan lain!" jawabnya tanpa beban.
"Apa?"
Aldric mengangguk.
"Aku tidak percaya ini, kau bisa mencintai banyak perempuan?"
"Aku tidak bilang begitu," sanggah Aldric.
"Lalu Anara?"
"Dia sudah lebih baik."
Aish berdecak.
"Ternyata kau diam-diam menghanyutkan," cetus Aish tiba-tiba kesal.
"Apa terlihat seperti itu?"
"Iya, kau bahkan tidak sepolos yang ku kira."
"Maksud mu?" Aldric menatap Aish terheran.
Aldric tersenyum.
"Apa kau cemburu?"
"Aku? Cemburu?"
Aldric mengangguk.
"Aku, aku.... Aku tidak cemburu," jawab Aish memelankan suaranya.
"Aku tahu."
"Kau tahu darimana? Jangan suka menebak!" bantah Aish lagi.
Aldric tersenyum lagi.
"Aku tahu, kau tidak mungkin cemburu karena pria kaku seperti ku. Aku bukan tipe yang bisa membuat perempuan cemburu, aku membosankan tentu saja seperti itu. Kau tidak akan tertarik padaku, aku tahu Aish. Aku tidak akan tersinggung."
Aish terdiam. Wajahnya memerah, dadanya gugup, apa ia benar cemburu pada Anara?
Kenapa rasanya kesal sekali saat Aldric bicara seperti itu. Padahal kenyataannya Aish cukup sebal jika mengingat perlakuan Aldric pada Anara kemarin siang.
"Aish, maaf apa kau marah padaku?"
Aish menoleh, lalu menggeleng.
"Aku sudah selesai, aku akan bersiap dulu," pamit Aish langsung meninggalkan Aldric ke kamarnya.
Aldric melihat Aish menjauh dengan senyum kecewa, Aish sama sekali tidak suka padanya, bahkan sudah hampir enam bulan mereka menikah.
Aish dan Aldric hanya diam sepanjang jalan menuju rumah sakit, entah mengapa Aish jadi malas bicara, ia masih menyangkal atas apa yang ia rasa saat ini.
Mereka berpisah seperti pagi-pagi sebelumnya, Aldric ke kantor dan Aish ke rumah sakit.
Aish terkejut, saat pulang ternyata pria yang menjadi suaminya sudah lebih dulu berada di apartemen itu.
"Mas Aldric? Kau pulang?"
Aldric mengangguk.
"Aku pulang untuk bersiap, aku akan keluar kota hari ini."
"Apa?" Aish terkejut.
Sudah mau enam bulan mereka menikah namun baru kali ini Aldric hendak pergi keluar kota, padahal sudah sangat lama ia tidak melakukan tinjauan pekerjaan di luar kota sejak menikahi Aish.
__ADS_1
"Iya, hanya tiga hari."
Aish terdiam, ia belum pernah ditinggal Aldric sejak menikah apalagi sejak mereka pindah ke apartemen itu. Membuat perempuan itu menatap Aldric dengan raut murung.
Aldric tampak keluar dari kamar sambil membawa sebuah koper kecil.
"Aku ikut!" cetus Aish spontan.
"Apa?" sekarang Aldric yang terkejut.
"Iya, aku mau ikut!"
Aldric tampak bingung.
"Apa tidak boleh?" tanya Aish mendekat.
"Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak mengira kau mau ikut. Aish aku akan keluar kota, apa maksudmu ingin ikut?"
"Apa aku tidak boleh ikut suamiku kerja keluar kota?" kata Aish dengan nada kesal.
"Tidak, bukan itu maksudku. Bagaimana dengan pekerjaan mu?"
"Bukan masalah, bisa ku atur!" jawab Aish cepat.
"Aish, kau mengerti maksud ku kan? Aku keluar kota, bukan bercanda."
"Aku juga tidak bercanda Mas Aldric, aku mau ikut!!!" tegas Aish lagi.
"Baiklah, ayo segera bersiap."
Aish tersenyum lebar, "Tunggulah sebentar."
Aish keluar kamar dengan dress bunga dipadu jaket jeans dengan jilbab warna senada.
Aldric terpana. Istrinya kian mempesona dalam penampilan akhir-akhir ini, ia melihat Aish sudah kembali pada Aish sebelum kehilangan Ken, bukan Aish yang terus dingin yang suka berpakaian berwarna gelap tanda masih berada dalam suasana duka.
Kini Aish tersenyum dengan koper miliknya.
"Aku sudah siap."
"Aish, aku akan banyak pekerjaan di sana nanti, bukan mengajakmu liburan, mungkin kau akan bosan nanti."
Aish menggeleng dengan senyumnya.
"Aku akan tetap ikut, aku bisa mengunjungi tempat wisata disana nanti. Aku butuh liburan, pokoknya aku mau ikut!"
"Baiklah, aku bahagia bisa keluar kota ditemani istri..... Mmmm, maksud ku ditemani teman cantik seperti mu," ucap Aldric yang terus saja tersenyum senang.
Aish kecewa mendengar kata teman, ah Aish mulai lagi dengan pikirannya.
Mereka pergi bersama.
"Mas Aldric."
Aldric menoleh.
"Iya."
Aish menatap pria itu dengan senyum.
"Biasanya jika kau ada kerja di luar kota, apa kau selalu pergi seorang diri?" tanya Aish.
"Ada banyak tim yang pergi, mereka sudah ku berangkatkan lebih dulu."
"Termasuk Anara?"
Aldric mengangguk.
"Anara sering ikut?"
"Iya, jika bukan karena ku izinkan istirahat di rumah setelah pulang dari rumah sakit, dia juga pergi kali ini."
Mendengar itu Aish terdiam. Ada banyak kesempatan dan waktu Aldric bersama perempuan lain, terlebih Anara yang memang seorang sekretaris handal bagi Aldric.
Bukan itu masalahnya, tapi Anara yang notabenenya mantan kekasih yang tidak jadi menikah dengan Aldric karena Aish, itu masalahnya.
Mantan kekasih yang terpisah oleh keadaan yang mendesak dan terjadi begitu saja tanpa ada rencana.
Aish berpaling ke jendela pesawat. Mengapa ia menjadi tidak mood sekarang.
"Aish kau kenapa?"
"Aku mengantuk!"
"Baiklah, aku tahu kau lelah habis pulang dari rumah sakit. Istirahatlah, perjalanan kita masih panjang."
Aish menoleh lagi pada wajah menyebalkan itu.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Aldric bingung dengan tatapan Aish.
"Aku butuh lenganmu!" sahut Aish seraya meraih lengan suaminya lalu bersandar, menjatuhkan kepalanya yang pusing mendengar perkataan demi perkataan Aldric yang menyebalkan.
Siapa yang menyangka dengan sikap Aish itu, membuat Aldric berhasil gugup luar biasa.
Aish menjauh.
"Kau gugup?"
"Tidak."
__ADS_1
"Jantung mu berdebar lebih cepat."
"Sedikit."