Purnama Merindu

Purnama Merindu
Kenapa?


__ADS_3

Aish bersiap dengan wajah yang cantik dan segar, memakai dress panjang polos berwarna emerald, dipadu jilbab berwarna broken white dengan motif monogram.


Menunggu Aldric, ia akan ikut suaminya meninjau pekerjaan yang cukup jauh dari penginapan mereka.


Aish menikmati angin yang menerpa wajahnya, angin segar dari hamparan sawah. Aldric fokus mengemudi meski sesekali ia mencuri pandang wajah Aish yang tampak bahagia, mereka berada di belakang mobil tim Aldric yang berangkat lebih dulu.


"Aish."


"Iya." Aish menoleh.


"Maaf mungkin kau akan bosan nanti."


"Tidak masalah, aku akan menunggu di mobil saja."


"Aku akan lama, kenapa tidak tinggal di hotel saja?"


"Aku tidak mau, aku mau ikut kemana kau pergi."


Aldric hanya geleng kepala. Padahal semula Aish mengatakan ingin jalan-jalan seorang diri, mau berkunjung ke tempat wisata kota kecil itu, namun kenyataannya Aish bahkan tidak mau berpisah darinya.


Membuat Aldric bahagia sekaligus sedih. Betapa tidak, perempuan itu membuatnya terus salah tingkah, memandang Aldric yang membosankan, Aldric yang tidak berani pada perempuan itu.


Sampai pada Aish berdiam diri saat Aldric meninggalkannya di mobil. Pria itu tampak sibuk dengan beberapa orang yang menyambutnya dengan hormat.


Aldric yang memakai rompi dan helm serta sepatu safety tidak lupa memakai kacamata hitam sebagai pelindung dari sinar UV, sibuk meninjau dan berdiskusi di tengah pembangunan jembatan yang sedang berjalan.


Aish memandang wajah suaminya yang sedang serius pada pekerjaannya. Alangkah tampan dan menggemaskan sosok Aldric di mata Aish saat ini, seksi dan membuat penasaran jika dipandang lebih-lebih lagi.


Aish tersenyum, ia mensyukuri takdir yang terjadi atasnya dan Aldric, meski nama Ken masih ia simpan di lubuh hatinya yang lain, kini Aldric menempati posisi yang sama, Ken telah tiada, biarlah semua kenangan itu ia simpan dalam wujud Aldric.


Aldric saudara kembarnya Ken, dan kini Aish mencintai Aldric sebagai suaminya, suami yang membuatnya candu dan tidak ingin berpisah jika seperti ini, dengan memandang wajah Aldric saja membuat Aish candu, candu luar biasa.


Daya tarik Aldric seperti hal magis bagi Aish. Pria yang payah, misterius dan membosankan, namun semua itu paket lengkap seorang suami yang menggemaskan pikir Aish.


Hal ini ia rasakan saat hatinya benar-benar ikhlas melepas kepergian Ken, saat itu pula hatinya mulai tertambat pada Aldric yang tidak banyak tingkah itu.


Suami yang lama ia abaikan, semua butuh proses, semua butuh waktu, dan Aish menemukan jawabannya sekarang. Aish mencintai Aldric, ia tidak mau berpisah seperti niatnya di awal.


Hati memang siapa yang tahu, semula membenci kini berubah mencintai, sejatinya seperti itulah setiap hati manusia, patah tumbuh hilang berganti.


Aish tersenyum ketika Aldric melihatnya. Pria itu bicara pada rekan kerjanya lalu menghampiri Aish yang setia menunggu di dekat mobil.


"Aish, kau bisa menunggu di mobil. Lihat hari mulai panas, aku akan selesai sebentar lagi."


Aish mengangguk. Ia masuk mobil sesuai perintah Aldric yang menghidupkan mesin mobil lalu menghidupkan ac agar istrinya itu tidak kepanasan.


Aish menahan tangan Aldric.


"Kau sangat tampan saat bekerja, seksi dengan keringat yang bercucuran," puji Aish tanpa malu.


Yang malu itu Aldric.


"Aish, kau ini bicara apa?"


"Aku hanya memuji, aku suka wajahmu yang sekarang," kata Aish lagi.


Aldric malu luar biasa.


"Aish jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda, baiklah.... Kembali lah ke sana, mereka menunggu mu."


Aldric tersenyum lalu menutup pintu mobil, ia berhenti sejenak dan berpikir, Aish cukup hangat akhir-akhir ini padanya.


Lalu pria itu geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Aish memeriksa ponselnya, ia kembali keluar mobil lalu mengambil video Aldric dari kejauhan, pria itu sama sekali tidak menyadarinya.


Lama Aish menunggu sambil memperhatikan detail video yang memuat kegiatan Aldric di bawah terik matahari sana entah mengapa menjadi hal yang sangat menarik bagi Aish.


Aishwa menyadari pesona seorang pendiam dan serius dalam pekerjaan seperti Aldric, pria itu cukup punya magnet terhadap wanita, sikapnya yang datar membuat wanita penasaran, termasuk Aish.


Lama Aish tersenyum sendiri melihat gerak gerik pria yang semula ia kira membosankan itu, tidak lama kemudian akhirnya Aldric kembali ke mobil.


"Aish, maaf aku lama membuat mu menunggu, kau pasti bosan," ujar Aldric saat masuk ke mobil.


Ia disambut senyuman manis dari istrinya. Membuat Aldric segera berpaling.


"Tidak masalah, aku tidak bosan."


"Baiklah, kau mau kemana? Akan aku antar."


"Hanya mengantar? Tidak ikut menemani?"


Aldric menoleh, "Tentu kau tidak akan suka pergi ke tempat yang bagus dengan pria yang membosankan ini!"


"Aku tidak bilang begitu," sanggah Aish.


"Kau sering mengatakannya."


"Apa kau marah pada hal yang telah lalu?" Aish menatap Aldric sambil menahan senyum.


"Tidak, memang kenyataan nya seperti itu, aku pria yang payah, tidak asyik."


"Justru itu, kau membuat para wanita jadi penasaran," balas Aish.

__ADS_1


"Benarkah?"


Aish mengangguk.


"Entahlah, aku memang begini adanya. Terkadang terpikir olehku ingin jadi Ken, yang pandai merayu, pandai dalam mengambil hati seorang wanita."


Aish menatap Aldric lagi, mulai tertarik dengan perkataan pria itu.


"Kenapa tidak melakukannya?" tanya Aish lagi.


"Aku tidak bisa, aku tidak pandai dalam hal itu. Karena aku bukan Ken, makanya kau tidak menyukai ku. Aku tahu diri tentang itu," jawab Aldric sambil terus mengemudi melewati jalanan yang lengang pengendara.


"Jika kau pandai merayu, kau ingin merayu siapa?" pancing Aish.


"Andai bisa, aku ingin sekali merayu seseorang."


"Apa itu Anara?"


Aldric menoleh lalu tersenyum tanpa jawaban, untuk yang satu ini Aish tidak suka.


"Kenapa tidak bisa menjawab jika ku tanyakan tentang Anara?"


"Karena aku juga bingung," balas Aldric datar.


"Kau masih mencintai Anara?" tanya Aish penasaran.


"Entahlah, dia gadis yang baik, aku sudah menyakitinya."


Untuk pertama kalinya, Aish merasa panas pada mata dan dadanya saat pria itu membicarakan tentang Anara.


"Lalu kenapa kau menikahiku?" Aish mulai kesal.


"Untuk itu aku tidak bisa menjawabnya," jawab Aldric ambigu.


"Kau menyebalkan!"


Aish berpaling ke luar jendela mobil, beberapa kali ia memejamkan matanya berusaha menahan airmata yang mulai menggenang.


Kemudian hening.


"Kau mau kemana? Kita sekarang ada di persimpangan, mau ke taman bunga atau ke danau? Dua tempat itu yang menjadi wisata terkenal kota ini, kau pilih mana?" tanya Aldric yang melirik Aish sekilas.


Aish diam.


"Aish."


Perempuan itu masih diam tanpa jawaban. Aldric menghentikan mobilnya, lalu ia menyentuh pundak Aish dengan raut heran.


"Aish? Apa kau tidur?"


Terdengar napas kasar dari istrinya itu, Aish menoleh dengan wajah murung.


"Aku mau pulang ke hotel saja!"


Aldric mengerutkan keningnya.


"Katamu mau jalan-jalan?"


"Tidak jadi."


Aldric hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lagi.


"Baiklah, kita akan pulang ke hotel."


Aish menoleh dengan tajam, demi apa pria yang satu ini sama sekali tidak membujuknya agar tetap pergi. Aldric benar-benar keterlaluan pikir Aish, sudah membicarakan perempuan lain, sekarang dengan polosnya mengikuti perintah Aish untuk langsung pulang ke hotel tanpa bertanya lebih dalam lagi.


Ah, Aish bertambah kesal.


"Kau tidak mau membujukku?" pancing Aish lagi.


"Memangnya kau sedang merajuk?" Aldric menatap dengan heran.


Aishwa memejamkan matanya agar tidak marah-marah di siang bolong seperti ini.


"Cuaca sangat panas! Aku haus!" cetus Aish dengan nada menyindir.


"Maaf, aku lupa membawa minuman. Kita akan mampir ke minimarket tidak jauh lagi."


Aish memutar bola matanya dengan malas, Aldric sama sekali tidak peka dengan perasaan seorang perempuan.


Perempuan itu hanya diam, ia malas menyahut.


Mereka berhenti di depan sebuah minimarket dan Aldric turun membeli minuman dan cemilan.


Aish menunggu saja. Tidak lama kemudian Aldric muncul.


"Ini, minumlah! Aku tahu kau haus menunggu ku tanpa minum."


Aish menerima sebuah minuman dalam kemasan kaleng.


"Setidaknya kau peka dengan memberikan larutan penyegar ini padaku!" ucap Aish geleng kepala.


"Apa aku salah? Kemari jika kau tidak suka biar ku ganti." Aldric mau merebut larutan penyegar dalam kemasan kaleng itu dari Aish, namun Aish menggeleng.


"Aku suka larutan penyegar, suka sekali. Apalagi di cuaca yang panas seperti ini, hati dan tenggorokan ku butuh sesuatu yang segar, dan kau pandai dalam menyikapinya!"

__ADS_1


Aldric menatap Aish.


"Apa kau marah padaku? Kata-kata mu terkesan sedang menyindir?"


Wajah Aldric yang seperti ini tidak sanggup Aish tolak, suaminya benar-benar membuatnya gemas.


"Mas Aldric."


"Iya."


"Apa kau tidak memakai Sunscreen?"


"Tidak."


"Lihatlah, kulit mu bisa gosong. Kau panas-panasan di bawah sinar matahari siang bolong," ucap Aish seraya menaruh minumannya di dasboard mobil.


Ia meraih tangan Aldric.


"Kau sering turun langsung ke lapangan, itu artinya kau akan panas-panasan di bawah sinar UV, itu tidak bagus untuk kulit mu, kau bisa pakai Sunscreen untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang merugikan itu."


"Untung aku membawanya kemana-mana."


Aish merogoh tasnya, lalu mengambilkan sebuah krim anti UV dari sana kemudian mengoleskan pada tangan Aldric yang terbuka.


Pria itu hanya diam dan memperhatikan. Wajah Aish yang cantik luar dalam, ia gugup lagi jika sangat berdekatan seperti sekarang.


Aish mengoles krim dengan telaten, tangannya yang putih dan mulus mengoles krim itu dengan lembut dan merata.


Aldric tidak berkutik sedikitpun.


"Lain kali harus pakai tabir surya sebelum meninjau lokasi proyek, jangan seperti ini lagi. Aku akan membelikan mu krim ini ketika pulang nanti," ucap Aish seraya meraih wajah Aldric, lalu mengoleskan pula di wajah sang suami dengan pijatan lembut.


Jarak wajah yang sangat dekat, membuat Aldric kembali salah tingkah.


"Sudah selesai." kata Aish sambil memegang wajah pria yang semakin malu itu.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Aldric seraya menjauh.


Aish terkekeh.


"Apa kau gugup aku pandangi seperti itu? Kenapa kau masih saja malu padaku," kekeh Aish.


Aldric menarik napas panjang lalu mulai menjalankan mobilnya lagi.


Aldric tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu fokus mengemudi.


Tidak ada acara jalan-jalan siang itu, Aldric membawa Aish kembali ke hotel.


Meski Aish sedikit kecewa namun ia senang saat mengetahui pekerjaan Aldric hanya menghadap laptop saja, tidak ada kunjungan lain setelah siang tadi.


Itu artinya mereka punya ruang berdua cukup lama di kamar hotel itu. Aish berniat mengerjai suaminya.


Aish keluar kamar mandi, ia sudah membuka penutup kepalanya, ia hanya memakai dress motif polkadot berwarna hitam tanpa lengan. Aish sengaja memakainya untuk memanasi Aldric yang kembali menghadap laptop dengan serius.


Baru saja melangkah mendekat, tiba-tiba Aldric berdiri seraya menerima telepon dari seseorang, pria itu berjalan ke arah balkon.


Aish mengikutinya.


Sedang asyik bicara lewat ponsel, Aldric yang berdiri menghadap timur kota dengan pemandangan padat penduduk. Pria itu bicara serius, namun seketika ia menegang saat mendapat pelukan tiba-tiba dari belakang.


Aish menahan senyum, Aldric bahkan tidak bergerak sedikitpun oleh pelukannya.


"Anara, maaf. Aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Aldric sebelum mengakhiri sambungan telepon itu.


Mendengar nama Anara disebut, perlahan Aish memudarkan senyumannya, bersamaan tangannya yang melepaskan Aldric begitu saja.


Demi apa, Aish cukup sulit bernapas dibuatnya. Aldric ternyata sedang menghubungi Anara, itu sebabnya ia bicara di balkon.


"Aish, kau kenapa?" tanya Aldric menahan gugup yang luar biasa, demi Tuhan ia baru saja mendapatkan sebuah pelukan tiba-tiba dari istrinya.


Istri yang memakai dress panjang tanpa lengan, pemandangan yang bahkan Aldric tidak bisa membayangkannya selama mereka menikah.


Perempuan itu tampak nyata dalam balutan seksi yang menggoda iman di siang menjelang sore ini, rambut yang digerai indah sesekali ditiup angin hingga menampilkan wajah cantik Aish yang sempurna.


Napas dan detak jantung Aldric berpacu secepat lari kuda. Ia kaku, ia merasa seperti sedang dalam pengaruh hipnotis.


Aish menatap Aldric dengan kecewa.


"Kau menghubungi siapa?"


Suara lembut perempuan itu menyadarkan Aldric dari lamunannya.


"Anara, aku sedang berdiskusi dengannya," jawab Aldric polos.


Namun memberi efek lain bagi Aish yang mulai tergila-gila pada suaminya itu.


Mood Aish seketika berubah. Entah sejak kapan ia mulai tidak suka nama Anara keluar dari mulut Aldric.


Seperti saat ini, Aish benar kehilangan kata-kata.


"Aish?" tegur Aldric yang menyadari raut Aish berubah dingin.


"Maaf menganggu percakapan mu. Aku hanya mau bilang, aku akan keluar dan jalan-jalan. Aku dengar dari anak buahmu ada taman hutan pinus tidak jauh dari sini, di sana bagus untuk menenangkan diri."


Setelah mengatakan semua itu Aish kembali masuk, meninggalkan Aldric yang berdiri dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Perempuan itu memakai jaket jeans dan memakai kembali jilbab hitam polosnya, memakai sepatu lalu pergi keluar kamar.


"Aish kenapa?"


__ADS_2