
"Mas Ariq lepaskan aku, kau tidak lihat ada perawat di sini? Aku bau belum mandi."
"Belum mandi saja aku suka apalagi sudah mandi, aku tergila-gila padamu."
"Gombal, lepaskan aku! Ini rumah sakit bukan tempat romantis."
Ariq terkekeh, ia kecup bibir Nayla sekilas sebelum berkata, "Beritahu aku apapun yang terjadi padamu atau anak-anak."
Wajah Nayla berubah jadi merah jambu saat melirik perawat yang malu-malu menatap kemesraan mereka.
"Mas Ariq, aku malu."
"Santai saja, dia perawat profesional bukan tukang gosip."
Ariq menarik tangan Nayla menuju sofa yang tersedia khusus ruangan VIP itu, ia letakkan buket bunga di atas meja.
"Aku belikan kau ponsel baru, jangan dijual lagi. Jika kau butuh uang sebut saja, jangan sungkan. Hubungi aku apapun yang terjadi, jangan simpan nomor pria lain walaupun nomornya bang Jhon suaminya Dewi, tidak boleh."
Nayla tercengang sekaligus bingung saat menerima ponsel mahal yang mirip dengan ponsel milik lelaki itu.
"Apa kau pria posesif?"
"Iya, anggap saja seperti itu," sahut Ariq terkekeh.
Nayla menghidupkannya, ia lihat hanya ada satu buah nomor telepon di sana bertulis "My Darling" membuat gadis itu ingin tertawa.
"Kenapa?"
"Ini terlalu kekanak-kanakan," jawab Nayla menatap nama panggilan Ariq di sana sambil tersenyum mengejek.
"Biar saja, awas jika kau ganti."
"Lebay."
Ariq merasa gemas, ia raih tangan Nayla mengajaknya berlalu dari sana.
__ADS_1
"Mau kemana?" tahan Nayla.
"Ayo kita ke KUA."
"Ckkkkk...... Berhenti bercanda."
"Aku tidak sabar ingin memiliki mu."
"Gombal."
"Kau sudah sarapan?"
"Belum." Nayla menggeleng.
"Aku pesankan, kita bisa sarapan di sini saja."
Perawat menghampiri keduanya, "Maaf nona saya permisi, adik kecil Zaza sudah tertidur. Obat sudah diberikan, tolong tekan bel jika butuh bantuan kami," ucapnya sopan.
"Terimakasih banyak suster, aku mengerti," jawab Nayla menunduk hormat setelah melirik Zaza yang telah terpejam lagi dengan tenang.
"Mas Ariq tidak ke kantor?"
"Tidak, aku akan menemanimu di sini."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, aku tidak mau jadi penghalang urusanmu."
"Kau lebih penting dari apapun, santai saja semua sudah ku atur," jawab Ariq enteng sambil meraih tangan Nayla agar duduk di sampingnya.
Nayla hanya bisa menarik napas dalam-dalam dibuat sikap lelaki pemujanya itu.
"Baiklah terserah kau saja. Aku ingin mandi," balas Nayla segera berdiri lagi.
"Ingin ku temani?" goda Ariq mencegah Nayla pergi dengan menggenggam tangannya.
"Jangan kurang ajar!"
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius Nay....." ucap Ariq mencubit pipi Nayla.
Nayla melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, hal itu pula membuat Ariq mengerang gemas.
"Oh sayang, kau benar-benar menggemaskan."
Ariq meraih pinggang Nayla hingga menempel padanya, hanya dengan satu tangan Ariq mampu membawa tengkuk gadis itu lalu mencium bibirnya dengan perasaan penuh damba.
Sejenak Nayla terdiam, entah kenapa otak dan hatinya tidak sejalan. Pikirannya ingin menolak perlakuan Ariq namun hati dan tubuhnya berkata lain, Nayla menerima ciuman itu dengan darah terasa berdesir hebat, sekalipun ia mencoba menolak gelanyar perasaan aneh yang menghampiri sejak bertemunya dua bibir itu.
Ariq memberi sentuhan lembut walau sedikit memaksa, pria itu kehilangan akal sehat jika berada dekat gadis yang selalu menolaknya itu, kini berbeda, Nayla seperti tidak berkutik.
Hening, namun detak jantung yang hebat terdengar jelas di tengah kebisuan. Nayla luluh, ia merasa ciuman ini begitu nyata, indah dan bergairah. Pun hatinya, terasa penuh dan sesak oleh bunga-bunga. Nayla merasakan Ariq memberi perasaannya lewat sebuah ciuman panjang yang kini tidak terbantahkan.
Ariq tersenyum dalam hati, gadisnya mulai luluh, tidak ada penolakan dari Nayla saat ini hingga kedua tangan Nayla ikut melingkari tubuh atletis sang pria. Bibir mereka bertaut dengan indah, mesra diiringi perasaan hangat di hati gadis yang mulai menerima Ariq tanpa ragu.
Sampai pada Nayla mendorong dada sang kekasih dengan paksa, ia melepaskan diri dari ciuman panjang yang membuat pipinya kian memerah karena malu.
"Maaf, aku bau. Aku belum sikat gigi," ujar Nayla sambil menunduk malu, malu sekali.
"Tidak sikat gigi saja manis apalagi jika sudah sikat gigi, jika begitu mandilah dengan cepat setelah itu kita berciuman lagi," kata Ariq tanpa filter.
"Mas Ariq," tatap tajam Nayla pada pemuda yang mampu menimbulkan getar itu lagi, getar cinta yang lama hilang. Iya, Nayla mulai sadar bahwa perasaannya ada untuk Ariq, perasaan yang mungkin bisa disandingkan dengan ungkapan cinta.
Ariq terkekeh, ia raih wajah Nayla lagi kali ini dengan telapan tangannya yang lebar, ia kecup bibir gadis itu kecil-kecil.
"Aku akan memesan sarapan untuk kita, mandi dengan tenang, aku akan menjaga Zaza untukmu."
Nayla tersenyum, "Terimakasih, kau baik padaku."
"Karena aku mencintaimu."
"Mas Ariq, aku.... Aku juga, maksudku aku juga...."
"Juga apa?"
__ADS_1
"Aku..... Hmmmm tidak jadi," elak Nayla yang langsung berlari ke kamar mandi.