Purnama Merindu

Purnama Merindu
Sudah menikah


__ADS_3

Lama Ken dan Aishwa mengobrol sambil menunggu Ratih menyajikan makan malam untuk Ken.


Ken melirik gadis yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Aish itu membawakan nampan berisi menu makan malam datang padanya.


Ken menerimanya dengan senyum setelah mengucapkan terimakasih.


Ken yang masih berada di atas ranjang pasien itu duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap Aish tidak bosan padahal mereka sudah mengobrol lama sejak tadi.


Ia mengambil gelas yang sudah terisi air putih lalu meminum seteguk.


"Jadi kau tinggal bersama nenekmu di rumah ini?" tanya Ken menyambung pembicaraan mereka yang terputus tadi.


Aish mengangguk.


"Iya, Nenek sakit stroke. Semua aktivitasnya di kasur, tidak bisa kemana-mana lagi. Kasihan, namun mau apa dikata takdir membuatnya sakit berat, beruntung aku dibantu Ratih mengurusnya di rumah ini, dan Ratih juga yang menemani Nenek jika aku sedang pergi ke rumah warga yang membutuhkan," jawab Aish sambil tersenyum pada Ratih yang sejak tadi malu-malu curi pandang pada pasien majikannya itu.


Ken mengangguk mengerti. Ia salut mendengar cerita Aishwa tentang bagaimana ia bisa menjadi dokter padahal ia berasal dari kampung terpencil nan jauh dari akses kota.


Terlebih ia mengetahui bahwa Aish satu-satunya pelayan kesehatan yang ada di kampung itu, wanita semuda Aish tulus mengabdi dan membantu warga termasuk orang asing yang membutuhkan jasa pelayanan kesehatan di sana.


"Aish ini perempuan multi talenta Tuan Ken, dia pandai menjahit, menjahit baju juga bisa, menjahit luka apalagi" puji Ratih pada Ken.


Aishwa terkekeh, "Jangan dengarkan dia, Ratih pandai bercanda," tukas Aish seraya berdiri dari kursinya.


Ken tersenyum saja.


"Makanlah Tuan Ken, jangan sungkan. Jika kau butuh sesuatu kau boleh panggil aku atau Ratih."


Ken mengangguk lalu berterimakasih sekali lagi. Kemudian Aishwa pamit untuk janji bertemu warga yang meminta berobat di rumah.

__ADS_1


"Ratih!" panggil Ken pada gadis yang hendak beranjak dari ruangan praktek Aish itu.


"Iya Tuan."


"Kenapa kau memanggil namanya saja padahal dia majikanmu?" tanya Ken heran.


"Karena Aish tidak mau dipanggil pakai gelar. Semua kami di kampung ini memanggil namanya saja, tidak gila hormat Aish nya Tuan Ken, dia perempuan yang sempurna. Cantik parasnya, cantik pula budi pekerti nya."


Lagi Ratih memuji Aish di depan Ken, pria itu bertambah berbunga mendengarnya.


"Lalu apa dia sudah punya pacar?" tanya pria yang pernah mempunyai lebih dari tiga pacar itu bersemangat.


Ratih terdiam.


"Aish sudah bersuami Tuan," sahut Ratih pelan.


"Apa?" Ken terkejut bukan main, mendadak ia menjadi lesu mendengar kata suami dari mulut Ratih.


Ken lebih terkejut lagi mendengarnya, wanita secantik Aish ditinggal suami hingga setahun pikirnya, sungguh pria tidak tahu diri ucap Ken dalam hati.


"Maaf Tuan, seharusnya aku tidak mengatakan hal yang bersifat pribadi. Mohon jangan tanya lagi, jika Aish mendengarnya dia bisa sedih," ucap Ratih lagi dengan raut murungnya.


Ken terdiam dengan seribu pertanyaan di otaknya. Ia mengangguk ketika Ratih kembali pamit.


Lama Ken menatap piring berisi nasi itu, semula ia begitu lapar namun sekarang mengapa seolah hilang selera makan setelah mengetahui Aish ternyata sudah menikah.


Entah mengapa Ken bertambah penasaran dibuat sosok dokter cantik yang baik hati menolongnya itu.


Ken belum bisa berdiri apalagi berjalan hingga ia terpaksa untuk tinggal di kampung itu sampai setidaknya ia bisa berjalan menggunakan tongkat pikirnya.

__ADS_1


Terlebih Ken kehilangan ponselnya untuk berkomunikasi dengan orangtuanya di kota untuk meminta bantuan, ia pria yang tidak bisa mengingat nomor telepon hingga tidak satupun nomor telepon orangtua maupun saudaranya yang ia ingat saat ini.


Agar tidak menimbulkan fitnah, ia pun diberi numpang tempat tinggal sementara di rumah Ali karena anak itu tinggal bersama kakaknya yang laki-laki, sedang ayah ibunya merantau ke kota mencari penghidupan.


Ken merasa sangat dihargai oleh warga kampung yang tentram dan damai itu, ia tamu di sana namun diperlakukan dengan baik oleh warga di sana.


Sudah tiga hari Ken tinggal di sana, ia terkadang menyesal pada dirinya sendiri. Di kota ia hidup berkecukupan bahkan hidup mewah sejak kecil, di kampung ini Ken mulai belajar tentang kesederhanaan.


Makan serba sederhana di rumah sederhana milik orangtua Ali. Anak kecil yang masih sekolah di kelas empat SD itu selalu akur dengan kakaknya Aldi yang bekerja sebagai kuli panggul di sebuah toko pupuk.


Terkadang Ken malu sendiri pada kebiasaannya yang gemar menghabiskan uang percuma, sedang Aldi harus mengerahkan seluruh tenaga demi upah rupiah yang dihitung harian.


Melihat warga yang hidup akur dengan sesama, kampung yang kecil ini sungguh punya pesona bagi Ken yang tersesat di sana.


Kampung yang belum ada akses jalan aspal, hanya jalan tanah yang jika cuaca hujan akan menjadi licin dan menghambat aktifitas warga yang ingin keluar dari sana.


Hanya ada satu sekolah dasar di sana, sekolah menengah terdapat di kecamatan yang berjarak 1 jam dari kampung Aish itu, hingga tidak heran banyak anak yang putus sekolah hanya sampai sekolah dasar saja.


Mayoritas penduduknya bermatapencaharian bertani dan berkebun. Kecuali bagi orangtua yang cukup berada barulah anak-anak mereka disekolahkan sampai tingkat SMA.


Aish salah satunya, ia bahkan sekolah tinggi hingga meraih gelar dokternya di kota sebab ia berasal dari keluarga yang cukup berada di kampung itu.


Suatu sore, Ken diajak Ali melihat permainan sepak bola di lapangan untuk sekedar menghilangkan bosan tamu nya itu.


Ken sudah bisa berjalan menggunakan tongkat kruk. Sebenarnya ia sudah diberi tahu bahwa ada satu warga kampung yang hilir mudik menggunakan mobil pribadinya untuk disewa keluar kampung bahkan hingga ke kota.


Namun Ken seolah enggan meninggalkan desa itu, banyak hal yang membuatnya betah di sana, salah satunya ia masih penasaran dengan sosok Aish.


"Paman Ken, itu Bibi Aish!" tunjuk Ali pada Aish yang juga menonton permainan anak-anak itu bersama seorang teman wanitanya.

__ADS_1


Ken sontak menoleh pada arah telunjuk Ali, benar saja pemandangan senyum dan tawa Aish menghiasi pelupuk matanya. Perempuan itu sedang bicara sesekali ia tertawa dengan temannya yang duduk santai di sebuah bangku sambil minum es.


Ken tersenyum melihat itu, lalu ia lesu lagi mengingat dokter Aishwa telah ada yang punya. Ken segera menepis pikirannya, tidak seharusnya ia mengagumi istri orang pikir pria itu.


__ADS_2