
Pasangan yang sedang berbunga baru merasakan indahnya cinta yang hadir dalam pernikahan itu terus saling melempar senyum, Aldric mengantarkan Aish ke rumah sakit sebelum ke kantor.
Tangan yang masih saling bertaut mesra, sesekali Aldric mengecup punggung tangan cantik Aish sambil terus fokus mengemudi.
"Sayang nanti jam berapa bisa ku jemput?" tanya Aldric.
"Jam 2 siang, aku bisa pulang dengan taksi online....Kau pasti sedang dikantor banyak pekerjaan pada saat itu."
"Tidak masalah, aku akan menjemput istriku ini meski sibuk sekalipun," kekeh Aldric.
"Astaga aku tersanjung....." jawab Aish dengan tatapan manja.
Mereka sama-sama tersenyum.
Setelah sampai di rumah sakit, Aldric memeluk istrinya gemas seakan enggan melepaskan wanita yang baru satu hari ia miliki seutuhnya, Aish pun sama ia begitu enggan jika bukan karena tanggung jawabnya akan jadwal jaga pagi itu.
"Pergilah aku akan masuk, awas jika kau sampai berdekatan dengan Anara, ingat fokuslah mengemudi....aku mencintaimu," ucap Aish lesu.
"Hei.....kenapa lesu, ayolah bersemangat sayang, nanti aku jemput kau tepat waktu....aku juga mencintaimu, hubungi aku jika butuh sesuatu" jawab Aldric mengecup seluruh wajah Aish.
"Bagaimana jika aku butuh ini?" goda Aish sambil meraba kejantanan suaminya.
Membuat Aldric membesarkan mata, ia menjadi geli sendiri dimana Aish yang ia kenal ternyata sangat frontal akan hal itu.
"Sayang hentikan, nanti ada yang lihat."
Beruntung mereka hanya berdua saja di balik mobil tersebut, karena disana tidak ada orang lain selain mereka.
Aish terkikik geli melihat raut Aldric yang memerah.
"Biar saja jika ada yang lihat, kau memang milikku," jawab Aish enteng.
"Bagaimana jika aku menginginkannya?" tantang Aldric.
"Di mobil juga boleh, kau mau? Aku masih ada waktu setengah jam" jawab Aish santai.
"Astaga sayang aku hanya bercanda.....sudah, ayo masuklah aku akan melihatmu dari sini" Aldric melepas pelukan.
Aish meraih bibir suaminya, mereka berciuman lama sebelum benar-benar mengiyakan kata-kata Aldric agar segera masuk ke rumah sakit.
"Aku akan masuk....berhati-hatilah mengemudi, aku mencintaimu suamiku...." kecup terakhir Aish berikan sebelum melambaikan tangan sambil berjalan mundur ke arah gerbang rumah sakit.
Aldric tersenyum dan geleng kepala dengan tingkah Aish yang semakin membuatnya tidak berkutik, setelah merasa istrinya kian menjauh Aldric pun memutuskan untuk segera pergi ke kantor seperti niatnya.
*****
Aldric pulang ke rumah orangtuanya yang kebetulan tengah berkumpul membahas persiapan pernikahan adik bungsunya Faiz.
"Sayang kau sudah datang" sapa sang Bunda menyambut salah satu kembarnya yang sering berkunjung sejak menikah meski Nayla tahu putranya tengah sibuk di kantor hingga tidak punya waktu banyak untuk mampir.
Aldric memeluk bundanya bergantian dengan ayahnya Ariq.
Aldric membawa makanan yang ia beli di jalan tadi dan menaruhnya di meja.
__ADS_1
"Dimana calon mempelai kita?" tanya Aldric.
"Faiz belum pulang dari tadi" jawab ayahnya yang membuka makanan yang dibawakan putra ketiganya itu.
"Faiz masih sibuk mengantarkan undangan pada teman-temannya sayang" Nayla menimpali.
Ariq tersenyum-senyum menatap Aldric penuh arti.
"Kenapa ayah melihatku seperti itu?" tanya Aldric heran.
"Tidak....ayah rasa kami tahu alasan kau jarang berkunjung sejak hari itu, apa kau dikurung Aish?" jawab Ariq sambil melirik istrinya.
"Apa menantuku sungguh agresif padamu sayang?" tanya Nayla menahan tawa.
Aldric menghela napas, ia baru menyadari arah pembicaraan orangtuanya itu, iya Nayla dan Ariq menahan senyum ketika melihat jelas leher Aldric memiliki beberapa bekas kissmark disana.
Aldric jadi malu sendiri, pria ini hanya bisa mengusap lehernya sambil tersenyum canggung.
"Ayolah....aku jadi malu" jawab Aldric.
Tawa Ariq dan Nayla pun pecah, mereka tidak menyangka Aish bisa agresif seperti itu.
"Apa kami akan memiliki cucu dalam waktu dekat?" tanya Nayla menggoda.
"Doakan kami segera memilikinya Bunda" jawab Aldric malu-malu.
"Bagaimana istrimu? Apa kalian ada kendala setelah saling membuka diri? Apa dia perempuan manja dan menyebalkan?" tanya Ariq memancing Aldric.
"Tidak....aku bahagia bersamanya, Aish masih seperti biasa mandiri dan manja....tapi dia sungguh istri idaman, aku sangat mencintainya" jawab Aldric tanpa sadar.
Ariq dan Nayla bahagia mendengarnya, mereka tidak pernah tahu isi hati Aldric selama ini karena putra pendiam mereka ini sungguh tertutup soal wanita, baru kali ini mereka mendengar Aldric mengakui amat mencintai perempuan yang hampir menjadi istri Ken.
"Bunda selalu berdoa yang terbaik untuk kalian sayang" Nayla mengusap punggung Aldric dengan sayang.
******
Siska tertawa bahagia mendengar cerita Aish, ia turut senang jika Aish dan Aldric sudah berbaikan dan memulai hidup baru penuh cinta.
"Astaga aku tidak menyangka Aldric mencintaimu selama ini, dasar lelaki penuh gengsi susah sekali mengaku cinta padahal sudah di depan mata, aduh Aldric Aldric.... Sungguh tersiksa memendam cinta selama itu" ujar Siska sangat menyayangkan sikap pengecut Aldric.
"Indah pada waktunya" jawab Aish tersenyum bahagia.
Aish terus saja mengulum senyum teringat akan suaminya.
"Oh aku sangat merindukan suamiku" Aish mengerucutkan bibirnya malas.
"Kau pikir kau saja yang punya suami" cebik Siska.
*****
Keesokan harinya Aish tengah menunggu sang suami menjemputnya di depan rumah sakit, ia sungguh lelah dan mengantuk, beberapa kali sudah Aish menguap namun Aldric belum juga menampakkan diri.
Tanpa sadar ia menjadi terlelap dengan mudahnya sambil bersandar di bangku halte tempat ia menunggu suaminya sekarang.
__ADS_1
Aldric sampai disana dengan rasa bersalah karena melihat Aish yang menunggunya hingga tertidur sambil tangan bersedekap di dada, terlihat jelas wajah lelahnya, Aish segera turun dari mobil dan berniat menggendong istrinya dari sana.
"Aish sayang maafkan aku" sesal Aldi sambil membelai wajah istrinya yang dingin karena diterpa angin pagi ini.
Aldric menggendong Aish menuju mobil. namun di luar dugaan ada seorang ibu-ibu yang mencegahnya.
"Hei....mau kau apakan gadis itu? kau pasti mau menculiknya kan? dasar lelaki hidung belang bisa-bisanya kau mengambil kesempatan disaat gadis ini tertidur, lepaskan dia atau saya teriak kamu penculik" Teriak ibu itu.
Aldric menjadi terkejut, Aish pun menggeliat karena teriakan tersebut dan mengerjapkan mata beberapa kali baru ia tersadar sudah dalam gendongan sang suami, Aish tersenyum. Aldric kian bucin sejak mereka bersatu.
"Maaf nyonya anda bicara apa? ini istriku" jawab Aldric.
"Halah.....mana ada penculik mengaku, hei nak bangunlah pria ini akan membawamu, meski dia tampan tapi bisa saja ini hanya modus, jaman sekarang banyak lelaki tampan yang yang berniat jahat, atau jangan-jangan kau yang memberinya obat bius, bagaimana bisa gadis ini tertidur pagi-pagi" ucap ibu itu sambil menggoyangkan tubuh Aish dari gendongan Aldric.
Hingga adegan itu menyita beberapa orang disekitar sana, ada seorang bapak yang menghampiri mereka.
Aldric masih berdiri dengan tegap tanpa mengubah posisi istrinya yang kian meringkuk dalam gendongannya. Aish yang sudah bangun itu hanya pura-pura masih terpejam.
"Maaf nyonya anda salah orang, harus berapa kali aku bilang aku ini suaminya" tegas Aldric kembali.
"Ada apa ini?" tanya seorang bapak tadi.
Ibu itu masih bersikukuh bahwa Aldric menculik Aish di halte tersebut.
"Astaga....ayolah kasihan istriku kelelahan makanya tertidur, aku terlambat menjemputnya" kesal Aldric.
"Jika kau memang suaminya kenapa tidak dibangunkan saja, kenapa kau membawanya dalam keadaan seperti ini, atau memang kau sudah membiusnya?" tanya bapak itu juga mulai curiga karena dari tadi mereka berdebat namun Aish masih saja terpejam, jika hanya tertidur mungkin dengan mendengar suara akan terbangun pikirnya.
"Maaf kalian membuang waktu ku, permisi" Aldric kembali akan berjalan menuju mobil.
"Hei tidak bisa....kau belum membuktikan pada kami jika memang kau bukan berniat menculiknya" tahan bapak tadi.
Merasa cukup, Aish pura-pura baru terbangun dari tidurnya.
"Hmmmm ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Aish yang mengerjapkan mata.
"Sayang kau bangun? Mereka mencurigai aku penculik, mana ada penculik tampan, ini menyebalkan" bisik Aldric.
"Benar bukan, ayo lepaskan dia atau saya teriak anda penculik disini" bapak itu mendekat ingin menolong Aish.
"Sayang?" tanya Aldric heran.
"Iya.....pria ini memang penculik, penculik hatiku.....ini benar suami saya tuan dan nyonya, kalian harus tahu aku sangat mencintainya" jawab Aish penuh drama pada kedua orang tadi sambil mengerlingkan sebelah matanya dan kembali memeluk erat leher Aldric setelah mengecup rahang Aldric dengan mesra.
Aldric tersenyum geli mendengarnya, ia menahan malu luar biasa.
"Kalian dengar itu? maaf kami permisi" ucap Aldric pada dua orang yang mematung disana seakan terhipnotis akan jawaban Aish tadi.
Aldric mendudukkan istrinya dibangku samping kemudi, memasang sabuk pengaman dan mengecup bibir Aish gemas.
"Kau memang nakal" ucapnya, Aish hanya terkekeh, kemudian merekapun berlalu dari sana.
"Aku memang mencintai mu Mas Aldric!"
__ADS_1