Purnama Merindu

Purnama Merindu
Kehilangan seseorang


__ADS_3

Nayla mencuci dengan hati-hati, beruntung Dewi sesekali ke belakang hanya sekedar membantu Nayla.


Gadis itu tampak kelelahan, ia tidak mengira bahwa mencuci pakai tangan akan menguras cukup tenaga. Beberapa kali Nayla terlihat menarik napas dalam secara berulang, lalu meregangkan otot-otot tangannya, Nayla lelah padahal ini baru pertama kali bekerja.


Pakaian yang didominan berbahan jeans membuat Nayla kewalahan, bukan jeans biasa, jeans mahal, jas mahal, ia harus berhati-hati dalam mencuci.


"Oh ini baru satu hari bekerja, tanganku pegal semua. Huh, ini benar-benar berat dari pekerjaan di rumah laundry. Aku lelah," gumam Nayla seraya bersandar di dinding pembatas tempat khusus cuci pakaian.


Pekerjaannya selesai meski memakan waktu lebih lama karena Nayla belum terbiasa.


"Ini sudah waktunya Denia pulang," lirih Nayla seraya melihat jam di pergelangan tangannya saat di kamar ganti, ia baru saja mengistirahatkan tubuhnya sebentar menjelang pergi menjemput anak-anaknya pulang sekolah.


Ia masih diam melihat Zaza yang belum terbangun, Nayla menjadi tidak tega jika Zaza harus selalu ia bawa kemana ia pergi, pergi bekerja pagi-pagi setelah mengantar Denia sekolah, beruntung Arinda dan Zandi sudah pandai berjalan kaki sendiri menuju sekolah mereka.


Nayla jadi teringat oma Rika yang pingsan karena bertemu dengannya.


"Aku harap Oma baik-baik saja."


Anak kecil itu perlahan terbangun, ia langsung duduk sambil mengusap matanya seakan mengumpulkan nyawa.


"Bundnay," panggil anak itu.


Lamunan Nayla buyar seketika.


"Sayang kau sudah bangun?"


Zaza mengangguk.


"Lapar?"


Anak itu menggeleng, ia berdiri langsung masuk dalam pangkuan Nayla tanpa berpikir panjang.


"Kita pulang, ini sudah waktunya kak Denia pulang sekolah," ajak Nayla seraya menggendong Zaza yang masih lesu.


Gadis itu sudah bertukar pakaian, ia keluar dari kamar ganti mencari keberadaan Dewi berniat pamit pulang.


Namun saat hendak ke dapur, ia malah berhadapan dengan nyonya Arina yang kebetulan berada di sana. Nayla segera menunduk takut.


"Nyonya," sapa Nayla pelan, Zaza masih meringkuk dalam gendongannya karena masih lesu bangun tidur.


"Jadi kau yang bekerja baru mulai hari ini?"

__ADS_1


Nayla segera mengangguk, "Benar nyonya," jawabnya singkat.


"Apa kau seorang janda?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Nayla bungkam sejenak.


"Tidak nyonya, ini keponakanku. Orangtuanya sudah meninggal, jadi aku yang merawatnya."


Lama nyonya Arina terdiam.


"Kasihan sekali, baiklah kau boleh bekerja seperti itu saja. Bekerja setelah itu pulang. Tentang kejadian pagi tadi, kau tidak perlu serius memikirkannya, mama ku sakit Demensia."


Nayla menoleh dengan raut bingung.


"Maksudnya sejenis penurunan daya ingat, untuk sementara hindari bertemu dengan Oma."


"Baik nyonya, aku berdoa yang terbaik untuk kesembuhan Oma Rika," balas Nayla sopan.


"Kau boleh pergi sekarang!"


"Terimakasih nyonya," jawab Nayla sebelum benar-benar pergi dari sana.


Ia melewati pelayan Rini yang menantapnya masih sama seperti sebelumnya, tatapan sinis yang membuat Nayla gusar.


Sampai sebuah suara mengagetkan nyonya besar itu dari belakang.


"Bibi."


Nyonya Arina menghela napas oleh sentuhan tangan lelaki itu di pundaknya.


"Ariq, kenapa pulang? Apa ada yang tertinggal?" tanya nyonya Arina pada pria yang menjadi keponakannya.


"Iya, aku melupakan sesuatu juga kehilangan jejak seseorang," jawab Ariq membayangkan wajah seorang gadis seraya membuka kulkas dan mengambil sebotol air soda dari sana, ia meminumnya seraya ikut duduk di meja makan.


"Seseorang siapa maksudmu?"


"Bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang mampu membuatku move on lebih cepat."


"Sampai kapan kau memikirkan wanita tapi tidak juga menikah hingga sekarang."


Ariq hanya terkekeh mendengar sindiran bibinya itu.

__ADS_1


"Oma sakit lagi, dan kali ini sampai pingsan," ucap nyonya Arina pada Ariq.


"Apa? Pingsan?"


"Iya, pingsan karena bertemu dengan pelayan baru setelah menangis mengira gadis itu adalah mamamu."


Nyonya Arina menjelaskan kronologi kejadian pagi tadi pada putra sulung kakak kandungnya itu.


"Dokter mengatakan bahwa Oma sakit Demensia tingkat lanjut, saat kambuh Oma mengalami disorientasi waktu, mengira bahwa saat ini Oma masih muda, juga ingatannya tertuju pada saat sedang menghadapi permasalahan yang terjadi pada rumah tangga orangtua mu dulu dan itu mempengaruhi perasaan Oma yang tentu akan tertekan dan bersedih saat kambuh. Oma akan baik jika istirahat yang cukup, akan kambuh lagi suatu waktu, itu akan berlangsung progresif bahkan bisa seumur hidup."


"Apa? Jadi pelayan itu yang menyebabkan Oma kambuh hingga pingsan? Pecat dia, setidaknya dengan begitu Oma tidak akan bertemu dengannya," sahut Ariq sambil berdiri.


"Dia baru hari pertama bekerja," balas nyonya Arina lagi.


"Aku tidak peduli. Bagaimana jika Oma setiap hari bertemu dan setiap hari pula menangis dan pingsan?"


Nyonya Arina terdiam, ia mulai mengiyakan dalam hati apa yang Ariq pikirkan.


"Tenanglah, Oma sudah membaik."


"Aku akan lihat Oma dulu," jawab Ariq yang langsung pergi dari dapur.


Di tempat lain, Nayla sedang bercanda dengan Zaza yang terkikik geli sambil menunggu Denia keluar dari gerbang sekolah TKnya.


"Bundnay......" panggil Denia dengan girang.


Gadis kecil berumur lima tahun lebih itu mendekat arah adik dan bundanya yang menunggu di luar pagar, tepatnya di bawah pohon palem.


Nayla dan Zaza melambai tangan pada gadis mungil itu.


"Sayang, darimana kau dapat uang ini?" tanya Nayla heran saat Denia memberikannya uang selembar lima puluh ribu rupiah.


"Dari ibu guru sebagai sedekah santunan anak yatim dihari jumat, karena hanya aku anak yatim di kelas jadi aku saja yang dapat, katanya ini untuk beli peralatan menggambar, punyaku sudah tidak lengkap warnanya juga sudah patah-patah. Ibu guru juga mengajarkan teman sekelas ku untuk sering sedekah pada anak yang tidak punya ayah atau ibu, hari ini aku kenyang sekali karena banyak teman yang memberikan separuh bekal mereka padaku."


Denia berkata lancar tanpa raut sedih sedikitpun.


Nayla terdiam. Butiran bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Hatinya bagai tergores sebuah belati tajam saat mendengar kata santunan yatim dari mulut mungil Denia.


"Kenapa Bundnay menangis?"


Nayla memeluk mereka berdua sambil menangis tersedu, ia tidak kuasa menjawab pertanyaan Denia.

__ADS_1


"Bunda akan menyekolahkan kalian sampai tinggi, kalian tidak akan kubiarkan hidup dalam belas kasihan orang lain, apapun pekerjaannya akan ku jalani, tidak peduli aku jadi pembantu rendahan sekalipun."


__ADS_2