Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nayla atau Rahayu? Atau mie pedas.


__ADS_3

"Kau tahu Ariq, kau tidak akan ada di dunia ini jika papa tidak menyadari kesalahan saat itu. Kenapa Oma bisa kambuh penyakitnya jika mengingat masa lalu papa yang cukup berat? Karena memang masa itu ada dan benar-benar berat untuk dijalani."


Papa Alif berdiri, ia mendekati satu rak buku. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum mengatakan hal itu. Matanya menatap susunan buku tanpa berkedip. Ingat, ia ingat sekali hal yang membawanya hampir kehilangan separuh jiwa yang tidak ia sadari.


Ariq diam, ia mulai mendengarkan apa yang akan menjadi nasehat papanya.


"Papa menikahi mama mu atas perjodohan, papa menerimanya tidak lebih sebagai tanggung jawab sebagai suami. Namun jauh sebelum itu papa sudah ada wanita lain yang papa anggap itu adalah cinta."


"Poligami, hal yang mustahil papa bayangkan sebelumnya namun karena alasan cinta yang papa banggakan itu, rela papa arungi demi mendapatkan wanita yang papa cintai. Dan parahnya papa menikahi wanita itu sebulan berumah tangga dengan mamamu."


"Lalu bagaimana dengan mama?" tanya Ariq mulai tertarik.


"Mama? Mama mu itu bidadari, demi tidak mempermainkan pernikahan yang baru sebulan terjadi Humairah ku itu rela berbagi suami. Dan paling papa sesali adalah papa tidak bisa membedakan cinta dan obsesi."


Papa Alif mulai menceritakan kisah cinta segitiganya dengan dua perempuan beda sifat itu. Ariq diam dan menyimak saja sejak tadi sesekali ia menangkap maksud dari kisah yang diceritakan itu.


Papa Alif menoleh anaknya.


"Sekarang antara Nayla dan Rahayu."


Ariq diam lagi.


"Nayla dan masa lalunya yang tidak baik, Rahayu dan masa lalu yang baik dan tentu masa depannya juga cemerlang. Kau punya pilihan sendiri, hanya papa menyarankan untuk selami dulu hatimu, benarkah kau menganggap Nayla benar-benar cinta? Atau hanya sebuah obsesi semata? Terkadang cinta yang terlalu menggebu itu bukanlah cinta, tapi hanya sebatas hasrat dan nafsu saja."


Ariq terdiam, ia membenarkan bahwa ia mencintai Nayla secara gila, ia menggilai wanita itu lebih dari apapun. Ia bahkan bisa seposesif itu jika dengan Nayla, benarkah itu hanya sebuah obsesi dan nafsu yang menguasainya? Apa itu bukanlah cinta seperti yang papanya jelaskan.


"Cinta itu akan membawa kebaikan, apalagi cinta setelah menikah. Papa jatuh cinta pada mamamu setelah pernikahan, menyadari betapa teduhnya hati papa berada di dekat Humairah, berbeda dengan papa menggilai Aisyah, rupanya hanya sebatas obsesi terhadap namanya saja. Tidak ada ketentraman di sana, berbeda sekali jika berada di dekat mama mu."


"Lihatlah nak Rahayu baik-baik, cantik, santun, pintar dan berprestasi. Pertimbangkan semua hal itu padamu sekarang, dia gadis baik seperti yang dulu Oma katakan ketika papa akan dijodohkan dengan mamamu dulu."


"Tidakkah kau ingin menikah dengan perempuan sebaik mamamu? Melihat Rahayu papa benar-benar teringat mama mu dulu, dia pintar, baik, santun, cantik sekali cantik luar dalam. Mengurus papa dengan baik meski papa menyakitinya kala itu. Papa rasa kau sudah menemukan Humairah mu, hanya saja kau terhalang oleh cinta yang menggebu terhadap Nayla."


"Papa tidak akan merendahkan gadis itu, semua punya masa lalu. Dia juga berhak bahagia dengan masa depan yang lebih baik, entah itu bersama mu atau tidak. Hanya saja papa mau kau benar-benar pertimbangkan dua perempuan ini."


"Tentu gadis yang diterima oleh keluarga mu akan jauh lebih baik, keluarga kita ingin yang terbaik untukmu Ariq, bibi Arina bicara seperti itu karena kau juga putranya, dia ibu kedua untukmu, dia mengurus mu selama kami jauh."


"Karena papa mengenal Rahayu, papa melihat dia cocok denganmu, namun Nayla juga terlihat baik di mata papa, karena kau yang mengenalnya tentu kau bisa menentukan pilihan. Satu hal, papa tidak ingin kau menyakiti keduanya karena terlalu lama dalam kebimbangan. Kau tahu yang terbaik untukmu."


"Jika benar yang disebutkan bibi mu tentang Nayla, papa takut kau menyesal nanti. Kau harus tahu boy, jangan sia-siakan kesempatan untuk mendapatkan Rahayu."


Ariq diam seribu bahasa, ada banyak makna yang sedang ia analisa.


"Ayolah bung, jangan diam seperti itu. Kembali lagi kita bicara ini adalah hal yang menyangkut hati dan perasaan, papa bercerita hanya sebagai pandangan bukan mutlak menyamakan kisah kita, tentulah kau dan papa sangat berbeda dalam urusan ini."


"Kau tahu mana yang terbaik untukmu, kau yang mengenal Nayla, kau pula yang tahu harus menentukan dia layak atau tidak untuk dijadikan istri. Kau sudah dewasa Ariq, tentu papa tidak ingin kau menyia-nyiakan waktu untuk hal yang akhirnya kau sesali juga nantinya."


"Jika bisa papa ingin kau menikah dengan gadis baik-baik."


*****


Di restoran.


Angga telah pamit pergi, Nayla ingin masuk namun urung saat melihat ibu Rena baru saja datang dengan mobilnya.


"Nay....."


"Bu, pelan-pelan nanti jatuh," sahut Nayla yang melihat ibu Rena berjalan tergesa mendekatinya sambil membawa sesuatu di tangannya.

__ADS_1


"Oh ya Allah, ibu lupa kalau sudah tua," kekeh ibu Rena. Nayla ikut tertawa.


"Apa ini?"


"Ini mie pedas, ibu beli tiga untuk kita. Sebelum buka, masih ada waktu satu jam lagi. Kita harus merayakan satu minggu kedai ini buka, ayo!"


Ibu Rena menarik tangan Nayla menuju ke dalam, ia bertemu suaminya yang sedang mengelap meja bagian dalam.


"Mas, seperti rencana kita semalam sebelum buka, kita harus merayakan satu minggu kedai ini dengan makan mie pedas kesukaan ku."


Ayah Faisal tidak menyangka istrinya benar-benar mewujudkan apa yang mereka bicarakan semalam. Merayakan satu minggu kedai dengan makan yang pedas-pedas.


Nayla melihat interaksi dua orang di hadapannya itu menjadi ikut tersenyum, raut bahagia ayahnya dan ibu Rena benar-benar tampak alami dan tulus tidak dibuat-buat.


"Ayo Nayla!" seru ayahnya memanggil Nayla agar ikut duduk di meja.


Nayla mengangguk, ia melihat juga ibu Rena membantu Zaza duduk dengan penuh kasih. Nayla menyusul, mereka duduk di kursi masing-masing.


Nayla membantu ibunya membuka bungkus mie, Zaza dapat makanan yang tidak pedas yang khusus dibelikan sang nenek untuk gadis kecil itu.


Semua sudah siap, namun ibu Rena mencegah suaminya yang ingin segera mencicipi.


"Ada apa?"


"Tidak seru jika seperti ini saja. Karena ini mie pedas bagaimana jika kita lomba siapa yang habis duluan."


Nayla mengangguk semangat, "Aku setuju dengan ibu," ucapnya bersemangat.


Ayah Faisal hanya bisa mengangguk saat putri dan istrinya membujuk agar mau lomba makan mie pedas. Pria paruh baya itu melirik lagi bungkus mie.


"Aku dapat level 9, punya ibu?" tanya Nayla segera melihat kemasan punya ibu Rena.


"Aaaa ibu curang, ibu level 5."


Mereka menjadi heboh karena saling menolak mendapatkan mie dengan level pedas yang tinggi. Ibu Rena terkikik geli, ia memang sengaja mengerjai Nayla dan suaminya pagi ini.


"Ayo jangan menolak, ibu menaruhnya acak. Kalian sendiri yang memilihnya tadi. Ayo kita mulai! Jangan buang waktu!"


Ibu Rena sudah memakan mie nya lebih dulu, Nayla dan ayahnya tidak mau kalah, Zaza bertepuk tangan melihat mereka heboh sendiri, ayah Faisal berusaha tetap makan dengan tenang, namun Nayla sudah berdiri dari duduknya, ia meraih minuman dingin lalu meminumnya sampai habis, ia berjalan kesana kemari guna menetralisir lidahnya yang kepedasan.


"Huh hah huh haaahhh.... Ini benar-benar seperti makan cabai, pedasnya gila... Aku menyerah," ucap Nayla mengangkat tangan.


Zaza tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat bundanya mengoceh sambil heboh sendiri karena pedas.


Tidak lama kemudian ayah Faisal juga berdiri berlari mengambil minuman dingin di kulkas, ia tidak mengoceh namun tingkahnya menjadi lebih lucu yang minum seperti orang tidak minum selama satu minggu.


Ibu Rena tertawa terbahak-bahak, ia menggendong Zaza sebagai tanda kemenangan.


"Yeeeyyyy nenek menang, lihat sayang wajah kakek dan bundamu seperti udang direbus."


"Ibu curang," teriak Nayla dan ayahnya yang mengejar ibu Rena yang berlari membawa Zaza kesana kemari.


Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia, tertawa lepas dan saling bercanda meski kepedasan sekalipun. Mata, hidung dan bibir Nayla maupun ayahnya menjadi merah, mata mereka tampak berair. Meski sudah lebih baik namun pedasnya mie itu belum benar-benar hilang dari lidah mereka meski telah minum berbotol-botol.


Pemandangan yang menyejukkan hati, sudah lama sekali Nayla tidak merasakan kehangatan keluarga yang seperti ini, meski belum lengkap karena ketiga kakak Zaza sedang sekolah. Namun pagi ini Nayla sungguh bahagia. Bahagia sekali terlebih saat melihat tawa ayahnya dan Zaza yang begitu lepas.


Nayla bahagia mendapat kehangatan yang dibawa oleh ibu Rena. Namun lain pula yang dirasakan oleh gadis yang menyaksikan kebahagiaan itu dari ambang pintu bagian luar. Rahayu.

__ADS_1


Rahayu rupanya menyaksikan sendiri ibunya tertawa lepas, melihat keseluruhan acara lomba makan mie pedas itu pagi ini, melihat wajah Nayla yang juga tampak bahagia. Bahagia semua tanpa dirinya.


Entah kenapa ia merasa Nayla mengambil ibunya yang selama ini hanya ada untuknya saja. Rahayu cemburu sekali. Mengingat pula bahwa saudari tirinya itu pula yang disebut Ariq adalah wanita pilihan hati pria itu. Inikah yang namanya sakit tidak berdarah? Entahlah, yang pasti Rahayu sedih hatinya. Sedih sekali.


"Assalamualaikum."


Semua menoleh pada Rahayu yang memberi salam.


"Waalaikumsalam, sayang kau kemari? Ayo kesini!" jawab ibunya seraya melambai tangan.


Rahayu mendekat. Ia menatap Nayla dengan raut penuh arti.


"Rahayu, kau sendiri?" tanya Nayla berbasa basi, meski ia menangkap raut dingin dari saudarinya itu.


"Iya nak, apa ada sesuatu hal? Bukankah kau sudah ke kantor?" Tanya ibunya lagi.


"Iya, aku sendiri. Aku mampir kemari karena mobilku mati tidak jauh dari kedai ini, beruntung ada bengkel di sana. Aku berjalan kaki saja kemari."


"Kenapa tidak menelepon ibu? Ya ampun sayang, ayo duduklah ingin minum?" tawar ibunya.


"Sangat dekat dari sini bu, jadi aku tidak akan mengganggu ibu oleh hal sepele seperti ini, aku bisa berjalan kaki bukan?"


Entah kenapa kata-kata Rahayu seperti sedang menyindir.


Nayla saling menoleh pada ayahnya, ayah Faisal pandai mencairkan suasana yang mulai terasa dingin antara Nayla dan Rahayu. Entah kenapa gadis itu tidak hangat pada Nayla pagi ini, dia seolah tidak peduli meski Nayla sudah mendekatinya agar tetap terlihat biasa. Namun Rahayu seakan menghindar, ia sibuk mendekati ibunya saja.


"Kalian makan mie pedas?" tanya Rahayu berpura-pura tidak tahu.


"Iya, dan kami lomba. Ibu pemenangnya."


Ibu Rena membanggakan diri seraya bercanda.


"Apa ibu mulai lupa padaku, kenapa tidak mengajakku juga? Bukankah ini adalah makanan favorit kita? Bukankah biasanya aku dan kakak yang jadi korban keisengan ibu dengan mie ini?"


Nayla memudarkan senyumnya saat mendapati sindiran halus dari Rahayu.


"Oh sayang jangan marah, ibu tidak ingin mengganggu waktu kantormu, kau terlalu bersemangat ke kantor sekarang, jadi ibu tidak ingin mengganggu waktu bekerja mu. Baiklah.... Lain kali kita ulangi hal seperti ini, kau dan kakakmu harus ikut."


Ibu Rena membujuk anaknya sambil memeluk gemas Rahayu yang tampak merajuk.


Rahayu membalas pelukan ibunya dengan manja, matanya menatap Nayla seakan menyiratkan makna bahwa ibunya hanya miliknya saja.


Nayla ikut tersenyum, ia tahu Rahayu benar-benar tampak berubah saat ini. Apa karena tidak suka Nayla dekat dengan ibunya atau apalah itu, yang jelas sikap Rahayu tidak seperti sebelumnya, gadis itu dingin terhadap Nayla.


"Lalu bagaimana kau akan ke kantor lagi nak? Ingin bawa mobil ibu?"


Rahayu menggeleng.


"Aku akan dijemput seseorang. Kami satu arah, dia akan menjemputku kemari, mungkin tidak lama lagi dia sampai."


"Seseorang? Siapa itu?" tanya ibu Rena penasaran.


"Mas Ariq, aku akan ke kantor bersamanya..... Bukankah kita juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahaannya, dan hari ini ada meeting. Aku akan pergi dengan mas Ariq. Kami akan lebih sering bertemu setelah ini."


Lagi Rahayu mengatakan itu sambil melirik Nayla yang sibuk membereskan sisa makan mie tadi.


Deg, Nayla kembali gugup saat mendengar nama Ariq disebutkan.

__ADS_1


__ADS_2