
Ting tong... l
Ting tong...
Ting tong...
"Ughhh... ". Ayla menggeram kesal sembari menutup kedua telinga dengan bantal di bawahnya.
Entah yang keberapa kali sudah suara bel pintu apartemen Ayla bunyi. Dan Ia enggan untuk bangun apalagi membuka melihat siapa yang menekan bel pintu. Di karenakan matanya mengantuk sekali.
Sehabis pulang kerja tadi. Ia langsung masuk kamar mandi lalu tidur tanpa mau makan malam dulu. Karna dirinya mengantuk sekali. Bagaimana tidak, karna cuti kerjanya di tambah 1 minggu. Maka 5 hari kemarin ia di suruh tanpa istirahat bahkan harus lembur 3 malam.
Ting tong...
Ting tong...
"Arghhhh... Siapa sihhh malam malam begini!" Ayla menendang selimut hingga ke bawah kakinya dan dengan kesal melompat turun dari ranjang. Berjalan ke pintu kamarnya.
Ting tong...
Ting tong...
"Iya iya iya! Sebentar! ". Ia tidak bisa menyembunyikan kekesalan nya.
Ayolah. Demi tidur ia melewatkan makan malamnya dan sekarang. Entah siapa berani mengganggu bobok indahnya.
Kleck...
Ayla membuka pintu dengan malas. Belum juga dia berniat mau melihat siapa. Ayla harus melangkah mundur dengan seseorang yang langsung menerobos masuk ke dalam.
Ayla menyatukan alisnya. 'Dr deniz?' Batinnya bertanya tanya tidak mengerti.
Ayla kembali melihat ke luar pintu apartemen nya. Di mana dua pria berjas hitam berdiri tegap di ambang pintunya.
"Ini... Ada apa ya?" Tanyanya tidak mengerti kedua pria di hadapannya.
'malam malam dan tiba tiba. Ada kalian... Khususnya' Batin Ayla.
"Ini semua perintah pak presdir. Kami akan menunggu di luar dan Nona bisa tutup pintu sekarang,"
Ayla mengeryit. 'Pak Khaled!'
Ayla kembali melihat ke arah dimana deniz menghilang lalu menutup pintu yang masih dia pegang dari tadi agar tidak tertutup.
"Oh baiklah. Selamat menjalankan tugas,"Balas Ayla sebelum menutup nya.
Klap...
Ayla melangkah perlahan sembari kedua matanya melihat Deniz.
"Euhmmm... Mau minun apa? " Tanya ayla takut takut saat melihat deniz yang berdiri di depan kaca samping sofa sembari kedua tangannya berada di kantong celananya.
Deniz berbalik menatap Ayla tajam. Ia menyungging senyum sinis.
"Tawar minum... Huh!" Desis Deniz tidak suka.
Ayla mengerjapkan matanya.
__ADS_1
'memang ada yang salah dengan menawari minum?'
"Apa sekarang rencana licikmu sudah berhasil? Memasuki tempatmu, menawari minum, lalu merayunya hingga jatuh ke ranjang bersamamu. Bukankah begitu...?"
Ayla semakin tidak mengerti.
'ada apa ya dengannya'
"maaf? ". tanya ayla tidak mengerti.
'Apa aku salah dengar? Rencana licik apa? Dan...'
Deniz lagi lagi mendengus lalu melangkah pelan mendekat di mana Ayla berdiri.
"Masih berpura pura polos? Atau... Masih ada yang belum terpenuhi?" Sinisnya tajam.
Keduanya sekarang berjarak 2 meter. Dengan saling bertatap. Dan tentu saja, Ayla yang tidak akan kuat untuk itu.
Ayla mundur selangkah. Untuk tidak terlalu dekat. Sungguh, sangat sangat tidak baik untuk jantungnya.
"Dr Deniz yang terhormat. Aku sama sekali tidak mengerti maksud anda apa. Rencana licik apa? Dan terpenuhi apa? Di sini saya bingung, kenapa tiba tiba anda dan dua pria di depan ada di sini. Anda tentu sangat tahu, ini sudah sangat larut malam dan..." Ayla menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Deniz.
Deniz mendengus lalu tertawa mengejek.
"Bingung! Tidak mengangkat telpon. Tidak mempedulikan pesan yang aku kirim. Tidak datang di mana tempat sudah aku kirim. Katakan padaku jika ini bukan trikmu!?" Bentak Deniz menaikkan nada suaranya.
Ayla mencoba mengingat. 'Pesan! Ah..'
Pesan yang masuk beberapa hari yang lalu ya. Memang sich salahnya mengabaikan. Tapi, apa maksudnya dengan rencana licik.
"Kenapa? Sedang mengatur kata kata? " Deniz melangkah mendekat ke Ayla menepis jarak keduanya.
Ayla memberanikan diri menaikkan pandangannya menatap wajah Deniz. Ia melipat kedua tangan di depan dada dan bersikap tenang. Sedang jantungnya seperti mau meledak dan minta di keluarkan di dalam sana.
"Tidak, kamu salah. Bukan mengatur kata kata. Tapi kamu mau tahu Dr. Deniz yang terhormat! Apa yang sedang aku rencanakan sekarang?" Ayla balas menantang ucapan tajam Deniz pada dirinya.
Deniz menggeram dalam hati. Ia rasanya mau meledak.
'Aku merindukan nya,' Batin Deniz menjerit di dalam sana.
Ayla mengangkat kedua tangannya. Sedangkan wajahnya ia tunjukkan sombong dan angkuh. Ayla menyentuh kerah baju Deniz dan membelai nya. Layaknya wanita yang membelai kerah baju pria dalam merayunya. Yang langsung saja di tepis Deniz dengan kasar.
Tidak mau kalah. Ayla mengangkat tangannya menyentuh kancing baju deniz dari atas dan melepasnya satu persatu. Sedang tubuhnya ia dekatkan hingga membentur dada bidang Deniz.
Diam diam hal itu membuat Deniz mengerang tertahan.
Deniz memejamkan kedua matanya. Detik berikutnya. Deniz mencekram kuat kedua tangan Ayla. Lalu mendorong keras tubuh Ayla hingga terbentur dinding di belakangnya. Dengan suara cukup keras tapi Ayla tidak bersuara. Ia hanya menahan dengan pejaman kedua matanya dan ia berharap bahwa dirinya akan baik baik saja.
"Murahan tetaplah murahan." Ujar Deniz dingin dan tajam tepat di hadapan wajah Ayla.
Ayla menarik nafasnya yang terputus putus. Karna menahan rasa sakit di punggungnya sembari menaikkan matanya menatap Deniz dengan berani.
"Ya itu aku! Dari awal kalian sudah tahu siapa aku kan! Bukankah sangat lucu jika kamu masih bertanya rencana licik apalagi yang sedang aku atur Dr. Deniz yang cerdas! Padahal kamu tahu sendiri jawabanku!" Balas Ayla takkalah tajam.
Iya, begini lebih baik.
Tangan deniz terangkat mencekram kuat leher Ayla.
__ADS_1
"Jika bukan karna ceyda maka aku bersumpah aku tidak akan pernah datang kemari apalagi masuk ke tempat tinggalmu. Jadi jangan pernah berpikir rencanamu berhasil sudah bisa membuatku datang dan masuk kemari. Tapi wanita, aku akan ingatkan padamu posisimu di sini! Kamu bukan untuk mengendalikanku. Tapi akulah yang mengendalikanmu. Mulai dari malam ini, ingat ini baik baik siapa kamu dan untuk apa kamu." Deniz dengan kasar melepas cengkraman tangannya lalu membalikkan tubuh Ayla hingga membuat dirinya berada di belakang Ayla.
"apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ayla saat telinganya mendengar sesuatu hal yang membuat tubuhnya merinding ketakutan.
Ayla mencoba meronta dan melawan Deniz dengan menendang menginjak kaki Deniz namun percuma tubuh Ayla sudah lebih dulu di himpit Deniz ke dinding.
"Deniz lepaskan! Ini tidak baik di lakukan! Apa kamu pria seperti ini?"
"Diam. Kamu bahkan tidak berhak untuk bersuara."
"Lepaskan? Bukankah ini salah satu rencanamu? Namun sayangnya tidak seperti yang kamu harapkan. Ini terjadi kebalikan dari yang kamu inginkan bukan?Sekarang ingat baik baik siapa kamu di sini mengerti?"
"Kamu menjual rahimmu bukan? Dan aku mengambil apa yang sudah menjadi hakku."
Beberapa menit kemudian.
Deniz jatuh terduduk di sofa lain di samping Ayla. Sedang Ayla terbaring lemas di sisi Deniz. Tanpa melihat Ayla, Deniz bangkit berdiri. Merapikan pakaiannya lalu melangkah keluar dari apartemen Ayla.
Kleck..
Pintu apartemen Ayla terbuka dan kedua pria bersetelan jas hitam di sana sontak menghalangi Deniz.
Deniz dengan nafasnya yang masih naik turun. Sama sekali tidak menyembunyikan kalau dirinya habis bergulat di dalam.
"Katakan pada pria tua itu. Aku sudah melakukan perintah nya". Ujar Deniz sebelum berlalu dari sana.
Kedua pria bersetelan jas tersebut melihat ke pintu apartemen Ayla sebentar sebelum kemudian melangkah mengikuti langkah dari belakang Deniz.
Sampai di rumahnya setelah di antar oleh dua pria tadi. Deniz langsung naik ke kamar dan mendapati istrinya yang sudah tertidur pulas.
Tanpa bicara apapun deniz langsung naik ke atas ranjang dan mencium Ceyda dengan menggila.
Dan dalam hati. Deniz tidak berhenti untuk mengumpat.
"Euhmmm... Deniz?! " Suara Ceyda yang masih ngantuk.
"Hei... Ada apa denganmu?! " Tanya Ceyda yang melihat deniz tiba tiba bereaksi aneh baginya.
Ceyda menyentuh kedua tangan Deniz supaya mau bicara.
"Selim?!"
"Shut."
"Pembicaraan selesai!"
Jika dengan Ayla Deniz tidak akan mau membuka pakaiannya maka tidak jika dengan Ceyda.
******* serta erangan keduanya memenuhi kamar tersebut. Hingga pagi menjelang baru Deniz melepaskan Ceyda dan membiarkan Ceyda beristirahat. Sedangkan dirinya memilih masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Di bawah guyuran air shower Deniz teringat akan perjanjiannya dengan kakeknya.
Dan di sisi lain. Terlihat tatapan manik mata Deniz yang menjelejahi entah menerawang kemana tapi bagi siapapun yang menatapnya akan terlihat kesedihan yang mendalam di sana.
Hati dan batinnya ingin menjerit namun tidak bisa ia lakukan.
"Arghhhh.... " Erangnya tertahan.
__ADS_1
"Sampai kapan aku harus melakukan ini... Sampai kapan?" Deniz memejamkan kedua matanya di bawah guyuran shower.