
Setelah drama Kiara menangis pagi-pagi, kini si kembar sudah dalam perjalanan menuju sekolah. Kiara marah sama Papa Devan karena menahan Mama Nayra di dalam kamar. Apalagi Kiara sempat melihat ada tanda merah di leher Mamanya atau lebih tepatnya di atas dada sebelah kanan maupun kiri sang Mama. Entah bagaimana Kiara bisa melihatnya, padahal Nayra sudah memakai baju yang kerahnya lumayan tinggi.
"Kenapa ini melah-melah lagi Mama?" tanya Kiara yang saat itu sedang dibantu Nayra untuk bersiap. Kiara memegang leher Nayra dan turun menyikap kerah baju sang Mama dan langsung mendapati tanda merah itu yang lumayan banyak.
Belum sempat juga Nayra menjawab pertanyaan yang putrinya lontarkan, Kiara kembali berucap. "Ini pasti keljaan Papa kalena mengulung Mama telus dikamal." Kiara memasang wajah garang. Dia marah, dia kesal sama sang Papa. Papa Devan telah membuat kulit Mamanya merah-merah dan Kiara gak suka itu.
"Gak boleh marah sama Papa, sayang. Ini bukan salah Papa." ujar Nayra memberi pengertian sama putrinya, Kiara.
"Sudah ayo kita turun dan makan dulu sebelum berangkat ke sekolah." Nayra menurunkan Kiara dari atas ranjang dan menggandengnya keluar kamar.
"Mama janji ya gak boleh dekat-dekat sama Papa." kata Kiara sesaat setelah sampai di depan gerbang sekolah. Nayra hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia ingin menyudahi drama anaknya ini karena hari sudah semakin siang dan sebentar lagi kelas sudah akan masuk.
"Janji.." Kiara mengarahkan jari kelingkingnya di depan Mama supaya Mama membalasnya.
Nayra tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan milik Kiara. "Janji."
Kiara akhirnya berpamitan pada Mamanya dan langsung turun dari mobil tanpa berpamitan pada sang Papa. Begitupun Kenan yang sedari tadi diam saja juga tal berpamitan pada Papa Devan, cuma Mama Nayra saja yang mereka pamiti.
"Sayang....Mereka itu anak aku bukan sih.." kata Devan merangkul bahu Nayra sambil menatap si kembar yang berjalan memasuki sekolah.
"Lepaskan tangan Papa dari Mama." ujar Kenan tegas dan terkesan dingin pada Papa Devan yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka kembali.
Kiara melototkan matanya menatap Papa Devan. Dia benar-benar tak suka melihat Papanya itu dekat-dekat sama Mamanya.
Devan yang melihat anaknya seperti mengibarkan bendera perang akhirnya melepaskan tangannya yang ada di bahu istrinya dan bergeser sedikit.
"Sayang...Gak boleh seperti itu."
"Sekarang kalian masuk kelas. Lihat itu gerbangnya mau ditutup." Nayra menunjuk gerbang yang ada di depannya.
Si kembar menoleh kebelakang sesaat. "Baiklah, Ma. Kami masuk dulu. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam."
"Anak kamu"
"Anak kamu juga"
"Anak kita"
"Keponakanku"
"Gak nanya.."
...............
__ADS_1
"Kamu sakit, Nay? Wajahmu pucat banget sayang?" tanya Mama Arumi saat melihat Nayra yang baru saja pulang dari mengantar si kembar ke sekolah.
"Gak tau, Ma. Kayanya masuk angin deh." jawab Nayra dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat.
"Yakin cuma masuk angin?" tanya Mama Arumi yang masih merasa cemas.
"Iya, Ma. Nanti kalau dipakai istirahat juga sembuh sendiri, Ma." jawab Nayra berusaha untuk tidak membuat Mama Arumi khawatir.
"Ya sudah kamu istirahat gih sana." kata Mama Arumi yang diangguki Nayra.
"Nayra ke kamar dulu ya, Ma." pamit Nayra.
Sesampainya di kamar Nayra langsung berbaring di ranjang. "Ini semua karena Devan. Semalam sudah semalaman dan tadi pagi juga minta nambah lagi. Alasannya klasik banget lagi." gumam Nayra memejamkan matanya.
"Ayolah sayang..Kita sudah lama loh gak ngelakuin itu. Emang kamu gak kangen apa. Semalam itu baru setahun dan masih ada empat tahun lagi yang terlewat, jadi aku ingin pagi ini mau nambah. Biar selesai empat tahun yang tertunda itu."
"Bukannya kamu juga sangat menikmatinya sayang?"
"Buktinya tubuh kamu selalu bereaksi setiap aku menyentuhmu. Sama seperti aku."
"Sekali saja habis itu sudah."
"Nay.." Mama Arumi menggoyangkan bahu Nayra pelan supaya Nayra bangun.
"ehmm... Iya Ma.." Nayra terbangun dan mencoba duduk namun di cegah Mama Arumi.
"Pernah, Ma. Kenapa?" Tanya balik Nayra.
"Tengkuraplah. Biar Mama kerok punggung kamu." pinta Mama Arumi.
Nayra duduk dan membuka kancing baju yang dia kenakan.
"Stop!!" Nayra menghentikan gerakan tangannya saat mendengar teriakan Mama Arumi.
"Astaqfirullahalazim...Kamu diapakan sama Devan,Nay?" tanya Mama Arumi histeris. Nayra yang sadar kalau tubuhnya sudah macam macan tutul langsung menutup kembali kancing bajunya.
"Kenapa tega banget itu anak sampai membuat kulit istrinya sendiri seperti macan tutul." geram Mama Arumi atas kelakuan anaknya, Devan.
Nayra hanya menunduk, diam saja. Dia malu sendiri karena mertuanya melihat bekas kelakuan anaknya yang mesum itu.
"Coba sini Mama lihat." Mama Arumi menarik paksa baju yang dipakai Nayra.
"Devan.." pekik Mama Arumi setelah melihat sekujur tubuh menantunya benar-benar mirip seperti macan tutul.
...............
__ADS_1
Sementara di perusahaan D&A Grup, Romi dan Linda dibuat bingung dengan tingkah bosnya hari ini. Benar-benar bukan seperti Devan yang biasa mereka kenal. Devan yang pekerja keras, disiplin, tegas dan yang selalu on time dalam segala hal yang menyangkut pekerjaan. Tapi hari ini, setelah jam makan siang dia tidak mau diganggu dan dia minta nanti jam dua dibangunkan.
"Bos belum bangun, Lin?" tanya Romi yang melihat tumpukan berkas masih menggunung di meja Linda belum di serahkan ke Devan.
Romi hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari Linda.
"Apa sebagian berkas itu ada yang buat rapat nanti?" lagi-lagi Linda menjawabnya dengan anggukan lesu. Alamat kalau seperti ini pulang lembur lagi. Padahal hari ini tak begitu banyak pekerjaan.
Romi mendesah kasar. Ini sudah jam dua dan setengah jam lagi rapat. Baiklah, saatnya membangunkan Bos besar.
"Aku masuk dulu." Romi berjalan menuju ruang kerja Devan. Dia masuk dan tak mendapati Bosnya itu berada di dalam. Pasti di kamarnya, gumam Romi.
Benar saja, Bosnya itu sedang tidur dengan lelapnya.
"Bos.." panggil Romi setengah berteriak.
"Hmm....lima menit lagi.."
Lima menit lagi, oke Romi toleransi. Namun ini sudah hampir sepuluh menit Romi membangunkan kembali Bosnya dan tetap saja tak di respon Devan.
Romi berdehem sebelum akhirnya mendekatkan mulutnya di telinga Devan.
"Bos bangun, lima belas menit lagi rapat." teriak Romi membuat Devan langsung terbangun.
"Sialan!!" umpat Devan melempar bantal ke arah Romi.
"Maaf Bos. Masih ada berkas yang harus Bos periksa dan tanda tangani sebelum rapat nanti." terang Devan tanpa memperdulikan tatapan tajam Bosnya itu pada dirinya. Karena ini lebih penting daripada Bosnya itu marah gak jelas.
Tanpa merapikan diri lagi Devan langsung menuju meja kerjanya dan ternyata Linda juga sudah ada disitu.
"Mana berkasnya." pinta Devan tanpa menatap Linda karena dia masih sedikit pusing gara-gara teriakan Romi tepat di telinganya.
"In-ni Bos." Linda gugup saat menyerahkan berkas itu. Dia menelan salivanya susah payah saat melihat penampilan Devan yang baru bangun tidur.
"Ayo kita keruang rapat." Devan berdiri dan bersiap memakai jasnya.
"Apa Bos gak mau memperbaiki penampilan Bos dulu?" tanya Romi menghalangi Devan.
"Kenapa memangnya?" Romi membuka kamera HP nya dan di hadapkan tepat di depan Devan.
Tanpa banyak kata Devan langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar pribadinya.
"Gila..Bu Bos kita ganas juga. Kamu lihat tadi kan, Rom." kata Linda yang histeris setelah melihat Bosnya pergi. Dari tadi dia menahan diri saat melihat Bosnya keluar dari kamar dengan dasi yang sudah terlepas dan juga kancing kemeja yang terbuka sebagian menampakkan cap merah begitu banyak di badan Bosnya itu.
"Hmm..Aku juga gak nyangka kalau Nayra seliar itu sampai Bos kita tidur di jam kerja." sahut Romi membenarkan.
__ADS_1
"Ganas dan Liar." serunya bersamaan.