
Deniz dan ayla sampai di garasi di mana semua mobil ayla terparkir di sana dan entah berapa lama sudah ayla tidak membawanya atau sekedar melihat dan menyapa karna setelah ia balik dari sana. ia di larang keras sama mommy dan daddy untuk menikmati mobilnya karna kehamilan.
Ayla melangkah ke saklar menekannya dan terlihatlah deretan mobilnya. ia tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat pemandangan di depannya. mengoleksi mobil mewah adalah kesukaannya dan ia akan membawanya jika dulu ketika hari libur sekolah atau ketika ia senggang tidak ada pekerjaan yang harus terbang ke sana sini.
Ayla dan deniz melangkah mendekat namun berbeda arah. deniz yang melangkah ke sisi kanan, ayla ke sisi kiri. mata deniz yang melongo sedangka mata ayla berbinar.
Deniz membalik menatap ayla yang sekarang berdiri di depan mobil yang berwarna putih. ia kemarin tidak sempat untuk melihat karna pak beni salah satu satpam rumah ini menyapanya dan membuka garasi untuknya.
"semua kamu yang beli? ". tanya deniz begitu berada di samping ayla.
"tidak semua, ada dari hadiah pemberian". ayla mendekat ke pintu mobil lamborghini dan membukannya, karna memang kunci mobil ada di atas kap mobil. ia masuk dan duduk di dalamnya sembari wajahnya tersenyum bahagia. ia tersenyum karna sekarang ia tidak sendiri lagi ketika menaiki mobil ini atau semua yang lain karna mulai sekarang, ia akan di temani anaknya.
"dari dari?! ". tanya deniz penasaran mengikuti langkah ayla dan berdiri di luar sembari satu tangannya kiri memegangi kap mobik di atas kepala ayla sedangkan satu lagi berada di pinggang.
Ayla mendongak menatap deniz sedetik kemudian ia keluar dan menutup kembali pintu mobil tanpa mengeluarkan kuncinya ia melangkah ke depan deretan mobil.
"ini...dari daddy". deniz melihat ke mobil yang di tunjuk ayla yang ia ketahui bermerek ferrari F60 america.
"dan ini...mommy".
Deniz mengikuti langkah ayla satu persatu mobil. ia tahu mobil ini ferrari Laferrari FXX. harganya juga fantastis. ia kalah.
"ini...juga mommy dan ini".
'lamborghini Aventador dan porsche'. batin deniz yang terus mengkuti ayla. ia mau tahu semua.
"yang putih tadi? ".
"itu aku beli sendiri, hasil kerja sendiri sama kakek".
Deniz mengangguk angguk mengerti.
'sama juga, cuma beda warna ini kuning dan sana putih'.
"ini, ini dan ini...kakek".
Deniz mengedip ngedipkan matanya beberapa kali dengan merek mobil di depannya.
'mercedez-benz SL, maserati, Zenvo ST1'. deniz menjatuhkan rahangnya. bunuh aku sekarang juga beyza?. deniz meringis di dalam hati.
"ini...".
Deniz membulatkan matanya melihat mobil yang di tunjuk ayla...ia tahu, sangat tahu mobil ini.
"ini..".
"dari reyyan,...sebenarnya bukan ini saja, 2 di ujung sana juga dari reyyan tapi...aku belum pernah menaikinya kecuali...yang satu itu...maserati". ayla menunjuk ke ujung yang belum mereka datangi. dan mobil merek maserati warna merah.
Deniz terdiam mematung mendengar ucapan ayla. tanpa melihat arah yang di tunjuk ayla padanya.
'reyyan memberi ayla mobil yang bermerek Bugatti Chiron, aku tahu bukan hal mahal bagi reyyan tapi jika pria ini sudah memberi ini, aku harus memberi apa? sial, dia keduluan'.
"sebenarnya pria itu membeli dua, satu untuk dirinya sendiri dan satu dia kirim kemari untukku".
"okey hentikan, aku cemburu". deniz melewati ayla melangkah ke depan mobil yang ia pinjam. membukanya dan masuk ke dalam sana untuk meraih bukti yaitu selimut yang masih di sana dan masih di kursi di mana ayla tempati kemarin.
Ayla membulatkan matanya. ia cepat cepat mendekat ke sana mengecek plat mobilnya lalu mengingat ingat plat mobil yang kemarin ia naiki lalu kembali melihat plat mobil di depan matanya karna sekarang ia berjongkok.
Ayla menatap deniz. dia...tidak berbohong. tapi bagaimana bisa aku tidak mengenali mobilku? ugh..
"bagaimana? percaya? perlu kita panggil Daddy? ". deniz sembari mengangkat selimut di tangan kanannya.
"lalu... bagaimana dengan selimut itu, kamu bilang itu punya refat". ayla masih tidak mau kalah begitu saja.
Deniz mendekat ke arah ayla dan berdiri di depan ayla.
"ini...aku pinjam sama pak beni, kebetulan dia punya yang baru dan belum terpakai di post penjaganya, jadi...nanti aku kembaliin".
Ayla menelan ludahnya menatap ke selimut lalu ke mobil di depannya.
"mobil ini...dari omer dan...belum pernah sekalipun aku menaikinya semenjak dia beri, kata dia aku bisa memberinya untuk anakk...". ucapan ayla terhenti saat ia menyadari sesuatu. anak?.
Ayla mendengus sambil tersenyum. bukankah ia sudah naik bersama anaknya? kemarin.
__ADS_1
Deniz tersenyum lalu ia berjongkok dan menciumi perut ayla. gerakan deniz sangat membuat ayla terkejut hingga dia memekik kaget.
"deniz kau...". ayla menatap deniz yang masih berada di bawah menatap perutnya.
"anak papi dengar? kamu sudah menaiki mobil dari paman pertama mu okay, hadiah untuk mami dan dari daddy... ". deniz mendongak menatap ayla.
"akan segera ada...dan harus melebihi dari semua yang ada di sini". deniz bangkit menatap wajah ayla.
Ayla membuang mukanya ke samping.
Deniz tersenyum lalu meraih dagu ayla untuk menatapnya.
"kamu tidak lupa dengan janjimu kan sayang? ciumanku! ". wajah deniz terlihat amat amat serius bahkan membuat seorang ayla tidak bisa berkata kata.
Ayla tersentak saat menyadari sesuatu dan ia akan berterima kasih ke daddy dan kedua abangnya.
"bukankah kamu ditunggu daddy".
Deniz mengerjap. ia cepat cepat melihat ke pintu lift. sial...saat seperti ini. ughh
"baiklah, kita tunda dulu".
Ayla membulatkan matanya malas. seperti ia pengen saja.
"ayo masuk? kamu tidak ke taman bungamu? ". deniz berbicara sembari melangkah ke lift dan masuk dengan tanganya menggenggam tangan ayla.
"besok saja, libur sehari tidak apa". karna ia tahu mine sudah menyiramnya.
Deniz menyatukan alisnya.
"aku akan antar kamu ke kamar dulu setelah... ".
"tidak...". ayla menekan lantai satu di mana di sana arena latihan dan membatalkan tombol yang di tekan deniz lantai 3.
Deniz menoleh menatap ayla.
"kamu mau ikut lihat aku di latih? ".
"kamu tidak akan mengacau".
"aku akan berterima kasih jika mereka menghajarmu".
Deniz tersenyum.
"kalau begitu aku tidak akan khawatir". keduanya sampai di lantai satu di sisi lain rumah.
Keduanya masuk ke dalam ruangan luas dan sangat luas tersebut dengan berbagai alat fitness ada di sana.
"oh ka...oh berdua? tumben sayang? kamu mencemaskan daddy ya? ". Okan mendekat ke ayla dengan tangan terbentang mau memeluk ayla namun ayla menjauhkan dirinya.
"daddy aku sudah besar dan aku tidak mengkhawatirkan daddy, memang daddy akan kena hajar sama siapa? deniz? melawan aku saja dia kalah apa lagi daddy? ".
Mata Deniz, Okan, Omer dan Zaki membulat mendengar ucapan ayla. deniz menggertakkan giginya karna ia merasa di permalukan oleh istrinya sendiri.
"oh ayolah sayang, sampai dunia kiamatpun aku akan tetap kalah denganmu, tidak mungkin aku membalas pukulanmu sayang?".
Ayla menggeram tidak terima. "jadi maksudmu malam itu, kamu...sengaja mengalah".
"lebih tepat membiarkanmu menang karna tidak mungkin aku memukulmu? ".
"kau... ".
"sudah cukup, pertengkaran kalian kalian lanjutkan di kamar kalian nanti dan deniz, ganti dengan baju latihanmu".
Deniz mengangguk patuh lalu melenggang pergi dari sana.
Tidak lama deniz keluar dari ruang ganti dengan busana yang beda baju kaos singlet da celana pendek baju khas latihan daddy dan keuda abangnya tapi itu...sepertinya deniz membawa baju sendiri. dia sudah bersiap siap ternyata.
Deniz melangkah ke arena latihan setelah berpamit ke ayla meski ayla tidak mempeduli dan hanya bersikap acuh padahal di dalam hati ia sudah sangat ketakutan.
Kedua alis ayla menyatu melihat interaksi daddy dan kedua abangnya dengan deniz lalu bagaimana deniz melihat ke arahnya sebentar sebelum kembali melihat ke daddynya. begitu juga dengan daddy dan omer, zaki yang diam diam menatap ke arahnya. kerutan di dahi ayla semakin terlihat saat menyadari pembicaraan mereka sepertinya...sangat serius.
__ADS_1
Ayla menggeram kesal karna tidak bisa mendengar apa yang sedang deniz dan daddynya bicarakan.
Ayla menoleh ke pintu saat menyadari seseorang masuk dari sana.
"mommy? ".
"oh...kamu di sini juga? " ayse melangkah masuk dengan nampan yang berisi snack dan buah yang sudah dia rajang sebanyak satu baskom karna mereka ramai. jika air minum selalu ada di ruangan ini jadi ia tidak perlu membawanya.
Ayla menyatukan alisnya. melihat daddy dan kedua abangnya latihan saja mommy tidak pernah tertarik lalu kenapa sekarang.
"mommy kemarim lihat ini juga? "
"mommy mana suka". itu benar lalu.
"dan kenapa sekarang".
"hari ini harus lihat, karna hari ini hari terakh...".
"ekhmmm ". ucapan ayse terhenti karna Okan yang berdehem. ayse yang mengerti apa kesahalannya. dia tertawa datar sendiri.
"ha ha ha maksud mami...besok mami tidak akan membuat cemilan lagi, kamu mau? ". ayse menawari putrinya.
Yang lain menghela nafas lega. Okan memulai latihan dan deniz menyiapkan dirinya. 3 lawan satu tapi ia bisa.
Ayla menyatukan alisnya. aneh banget, tadi daddy dan deniz yang serius dan sekarang...mommynya yang aneh.
"mommy janghagg".
"makan buah ya? biar anakmu sehat". senyum ayse setelah memasukkan buah anggur kedalam mulut putrinya.
Ayla meraih menatap momnynya tidak terima.
"mommy? momm...".
"ah lihat tuh, daddy dan omer sudah menyerang deniz".
Ayla menghentikan ucapannya membalik menatap deniz.
"aghh...". ringis deniz saat okan menendang perutnya.
Ayla membulatkan matanya.
"deniz?!". teriak ayla panik lalu dia mengalihkan matanya menatap daddynya tajam.
"daddy? tidak bisakah daddy pukul pelan saja, daddy mau bunuh deniz? ". teriak ayla marah.
Okan menggertakkan giginya.
"kenapa kamu bawa putriku kemari? sekarang aku jadi serba salah kan? ". geram Okan ke deniz.
Zaki dan Omer tertawa kecil namun diam diam mereka memilih mundur. daripada membuat tubuhnya serba salah di atas sana lebih baik ia memilih mundur. menghajar deniz akan salah enggak dihajarpun akan salah.
"kalian mau kemana? ". Okan menatap kedua putranya yang mundur menjauh.
Keduanya merentangkan tangan minta maaf.
"daddy saja, kami tidak bisa membuat beyza marah dan efeknya daddy tahu sendiri". mereka tersenyum memaksa.
Okan menggeram kesal.
"bagus Z, Omer kalian mengambil keputusan yang tepat dan daddy, lanjutkan". perintah ayla sembari ia menduduki bokongnya di lantai.
Ayse membulatkan matanya. ia memang baru lihat tapi menurut yang ia dengar dari suaminya, kemampuan menantunya itu sangat luar biasa.
"beyza? kamu mau daddymu di pukul sama deniz? "
Ayla mendongak menatap mommynya.
"lalu...mommy mau, ayah dari cucu mommy di pukul seperti tadi oleh daddy? dan tenang saja, deniz tidak akan memukul daddy". karna denganku saja dia sudah kalah. sambung ayla dalam hati.
__ADS_1