
Ting...
Pintu lift terbuka dan Nayra segera keluar dari dalam lift. Dia melangkahkan kakinya menuju meja kerja Linda.
"Assalamualaikum, Lin." sapa Nayra pada sekertaris suaminya yang sekarang menjadi adik iparnya itu.
"Walaikumsalam, Bu Nayra. Mau cari Pak Devan?" tanya Linda yang langsung mendapat tatapan tak suka dari Nayra. "Apa ada yang salah" batin Linda.
"Kita sekarang sudah menjadi keluarga."
"Jadi stop memanggil aku pake Bu, cukup Nayra saja." kata Nayra tegas.
"Maaf Bu, nggak sopan." ucap Linda menunduk. Dia tidak berani memanggil Nayra tanpa embel-embel.
"Panggil Kakak atau Mbak terserah kamu.Jangan panggil Ibu lagi." kata Nayra tegas lantas dia meninggalkan meja kerja Linda dan melangkah menuju ruangan suaminya.
"Bapak kemana Lin?" tanya Nayra setelah tidak mendapati Devan ada diruangannya.
"Bapak ada sidak di divisi keuangan, Bu." jawab Linda lantas dia segera menutup mulutnya saat Nayra menatapnya tajam.
"Kalau kamu masih tetap memanggil Ibu. Aku akan memaksa Romi untuk membawa mu bulan madu." kata Nayra lantas menutup pintu kencang.
Nayra kesal sama Linda yang tak ada niatan merubah panggilan untuknya setelah sudah seminggu menikah dengan Romi.
Apalagi Linda selalu menolak paket honeymoon yang Devan dan Nayra berikan. Alasannya selalu pekerjaannya banyak.
Ya Nayra akui kalau pekerjaan Devan, Romi dan Linda akhir-akhir ini banyak. Bahkan Devan sering pulang malam.
Sempat terpikir oleh Nayra kenapa tidak dia saja yang melakukan honeymoon. Dia sama Devan kan belum pernah ngerasain yang namanya honeymoon. Saat mau merencanakan honeymoon saja dia sudah hamil duluan.
"Kenapa aku gak ngajak Devan babymoon saja yah? Kita kan belum pernah honeymoon, jadi diganti babymoon saja." monolog Nayra dengan pikirannya sendiri.
"Semoga Devan setuju." ujarnya dengan semangat.
"Lama banget sih..Dedeknya minta dielus ini sama Papanya."
"Udah kangen berat." ucap Nayra lirih mengelus perutnya.
Tanpa terasa Nayra tertidur disofa saat menunggu suaminya yang katanya tadi melakukan sidak.
"Sayang...Sayang...Hai bangun." Devan membangunkan istrinya yang tertidur.
Tadi saat kembali keruangannya Devan mendapati istrinya tidur di sofa dan akhirnya dia pindah ke kamar pribadinya.
__ADS_1
"Sayang.." Devan mengelus lembut pipi Nayra.
"Ehmm.." Nayra memeluk tangan Devan erat dengan masih memejamkan matanya.
"Ini sudah siang loh..Kamu nggak makan?" tanya Devan sambil menarik hidung mancung istrinya supaya bangun.
"Pengen makan kamu." gumam Nayra dengan mata terpejam.
Devan terkekeh mendengar gumaman Nayra. Dia naik keranjang dan tidur di sebelah Nayra sambil memeluk pinggang istrinya.
"Yakin mau makan aku?" tanya Devan sambil mencium pipi Nayra.
"Ehmmm.....Dedeknya pengen ditengok sama Papanya." gumam Nayra dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang...Kamu gak lagi mimpi kan?" tanya Devan memastikan. Karena Nayra sedari tadi masih memejamkan matanya. Dia kita tidur ternyata tidak.
"Lama." sungut Nayra lantas dia memegang kedua pipi Devan dan menariknya.
Devan membulatkan matanya akan keterkejutan yang Nayra berikan. Istrinya itu mencium bibirnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu lama lagi Devan langsung membalas ciuman bibir Nayra. Nayra melenguh pelan saat Devan semakin memperdalam cumbuannya.
Dengan terpaksa Devan melepas ciumannya saat Nayra sudah mulai kehabisan pasokan oksigen. Ditatapnya wajah istrinya itu yang merona merah. "Kamu menginginkannya sayang?" tanya Devan dengan suara serak karena sudah terbakar gai rah.
"Bukan aku, tapi dedeknya yang ingin." kata Nayra lirih dengan menangkupkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya. Dia malu kalau mengakui jika dia yang menginginkan.
"Dedeknya ingin ditengok. Tapi kalau Mama ingin_" Nayra menggigit bibir bawahnya dengan menatap Devan sayu dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Devan yang paham akan maksud istrinya itu kembali mencium belahan kenyal yang lembut dan manis yang selalu membuatnya candu.
Dilepasnya kembali ciuman itu. "Katakanlah kalau kamu menginginkannya, sayang." geram Devan saat dirasa dirinya benar-benar sudah tergoda oleh istrinya itu.
Nayra memandang Devan dengan tatapan sayunya, dia mengangguk pelan menandakan jika dia juga menginginkannya.
Devan membantu Nayra duduk dan membuka kain yang melapisi tubuh Nayra begitupun tubuh dirinya tanpa tersisa satupun.
Devan menelan salivanya kasar saat mendapati tubuh polos istrinya. Dia langsung menerjangnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Devan menciumi seluruh wajah Nayra dan berakhir di dua belahan kenyal itu. Disesap dan dilu matnya belahan kenyal itu dengan dalam. Ciuman itu turun ke dagu dan semakin turun ke leher. Nayra melenguh saat Devan menghisap dan menggigit kecil leher Nayra.
Tangan dan bibir Devan tak tinggal diam untuk menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya.
Desah Nayra kembali terdengar saat Devan menghisap, dan meremas kedua squishy kembar miliknya bergantian. Nayra meremas dan mengacak rambut Devan dengan mata terpejam menikmati cumbuan suaminya.
Devan mendongak menatap Nayra. "Apa kamu mau diatas, sayang?" tanya Devan dengan meremas gemas kedua squishy milik istrinya.
__ADS_1
Nayra hanya mengangguk, dia sudah tak sanggup lagi.
"Ayo sayang!" Devan membantu Nayra bangkit dan membaringkan tubuhnya setengah duduk dengan menumpuk beberapa bantal di punggungnya membiarkan istrinya itu yang memimpin permainan.
"Buatlah dia semakin tegang sayang." pinta Devan, dia memejamkan matanya saat tangan istrinya itu mengurut lembut ular pitonnya
Devan yang sudah tak tahan meremas kedua squishy istrinya itu untuk melampiaskan hasratnya. Nayra menuntun ular piton suaminya untuk masuk kedalam sarangnya.
Terdengar lenguh keduanya saat sang ular piton milik Devan masuk sempurna disarang Nayra.
"Bergeraklah sayang."
Nayra mengerakkan perlahan, naik turun sembari menatap wajah Devan dengan menggigit bibir bawahnya menggoda suaminya itu.
Devan yang gemas mengarahkan tangannya untuk meremas pantat Nayra dan beralih meremas benda kenyal seperti squishy.
Nayra berteriak saat dia sudah tak tahan lagi. Jika dia tidak dalam kondisi berbadan dua, dia akan bergerak liar untuk memuaskan suaminya itu.
Devan menikmati setiap gerakan yang diciptakan istrinya di pusat tubuhnya. Sebentar lagi dia akan sampai dan dia juga merasakan milik Nayra yang berdenyut dan mencengkram miliknya.
"Keluarkan untuk ku sayang. Aku sudah hampir sampai." Devan mengerang saat dirasa cairannya akan keluar dan siap meledak memenuhi rahim istrinya.
Akhhhhh
Teriakan keduanya terdengar saat cairan itu meledak membanjiri milik Nayra. Nikmat, itu yang mereka rasakan. Olahraga di siang bolong dengan cuaca terik.
Berbeda dengan dua orang yang berdiri tegang di ruangan Devan yang tak sengaja mendengar pergulatan panas antara bapak bos dan ibu bos mereka.
Mereka masuk ke ruangan Devan untu memberi laporan dan untuk meminta tanda tangan. Namun yang mereka dapati sebuah suara yang membuat darah mereka panas sendiri.
Bagaimana mereka berdua tidak mendengar? pintu kamar pribadi Devan tidak tertutup sempurna bahkan Romi dan Linda dapat melihat bayangan bos mereka yang sedang berolahraga ranjang
"Nggak seharusnya kita masuk tanpa ijin. Ayo keluar!" Romi menarik tangan Linda keluar ruangan dan membawanya ke ruangannya sendiri.
"Kenapa kamu mengajak aku kesini?" tanya Linda heran menatap Romi, yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Menurut kamu." jawab Romi serak dengan tatapan yang tidak pernah Linda lihat sebelumnya.
Romi mendekat membuat Linda semakin mundur kebelakang dan akhirnya terduduk di kursi.
"Kk-kamu mau ap_" belum sempat Linda menyelesaikan pertanyaannya bibirnya sudah dibungkam dengan bibir Romi.
Wahhhh...Devan sama Nyara mengajari karyawannya untuk berbuat mesum dikantor.
__ADS_1
Untung Romi sudah ada pasangannya. Kalau yang jomblo yang lihat...jadi berabe dong.