Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 9


__ADS_3

Jam 21:10 waktu setempat. 1minggu setelah hari pernikahan yang di adakan secara tertutup dan rahasia.


Di sebuah apartemen dan di sebuah ranjang berukuran king size. Aku merebahkan tubuhku yang lelah di sana.


Lelah? lelah karna mendengar ocehan, makian sekaligus umpatan sahabat tercintaku, yang di tujukan entah untuk siapa. menyesal? aku tidak tahu, yang aku tahu, aku menikmati. menikmati setiap detik...bisa melihatnya. gila?.


Ya, cintaku memang menggila. Mencintainya dengan gila bahkan dia tidak melihatku sama sekali.


Malam pertama? jangan tanyakan itu. itu adalah malam di mana malam yang tidak mau aku ingat. menyakitkan, menyedihkan, menginginkan, tertekan, dan menyedihkan. aku sendiri bingung di sini, siapa yang salah. satu sisi aku mau di sisi lain hatiku menolak dan di sisi lain aku ketakutan/gugup namun di saat aku tinggal seorang diri, aku merasa sangat menyedihkan. Aku melewatinya seorang diri dengan berbagai pikiran yang mesti aku tenangkan hingga akhirnya membuat kepalaku sakit dan aku ketiduran.


Malam ke 2 pernikahanku. Aku memutuskan pulang ke apartemen sendiri, tidur di sana dalam keadaan tenang, damai dan sangat bahagia. terkadang benar kata orang. 'masalah terkadang datang karna manusia mencarinya sendiri'. seperti diriku. lupakan.


Malam ke 5 pernikahanku, itu adalah malam di mana malam rasanya aku ingin menghilang saja atau lari entah kemana saja asal jangan berhadapan dengan dr. deniz + bertatap muka. enggak kuat jantung ini, bisa bisa pindah pada tempatnya.


Flashback...


Malam ke 5 pernikahan.


Seperti biasa. Karna tidak ada pekerjaan ayla memilih ke apartemen sahabatnya aliye lalu mereka keluar dan nongkrong di kafe hingga beberapa jam di sana. Malam ayla baru balik ke apartemennya namun saat dirinya mau sampai di pintu apartemen sebuah pesan masuk dari no yang tidak terdaftar di hpnya.


Awalnya ayla mengira mungkin orang yang lagi iseng enggak ada kerjaan jadi ia acuhkan dan memilih masuk apartemen langsung ke kamar berganti baju dan mandi.


Setelah selesai mandi seperti biasa ia memakai baju tidur, shalat dan merebahkan tubuh ke ranjang tanpa berpikir apapun.


Saat mata ayla mau tertutup tidur suara hp yang sangat dering membuat kedua matanya kembali terbuka lebar. Ia menoleh ke samping mencari hpnya yang ternyata masih terletak di dalam tas sampingnya. Dengan malas ia bangkit bangun dan rasanya ia ingin mengumpat orang tersebut, yang menelponnya hingga membuat waktu tidurnya terganggu.


Ayla menatap layar hp di depannya dengan no tidak ia ketahui dan masih bersuara.


Menggeram ayla mengangkat panggilan tersebut.


'jika ini orang iseng, lihat saja akan kukerjai kamu'. rutuk batin ayla.


"As... "


"pergi ke hotel xx sekarang juga". klik...


Ayla menahan nafasnya. mematung lalu mengerjap ngerjap bingung. ia beralih melihat ke layar hpnya.


'suara tadi...'. ayla menutup mulutnya dengan tangan kanannya karna tidak percaya dengan suara yang baru saja ia dengar. Memang ia tidak pernah mendengar suara dr. deniz dari telpon tapi hanya sekali dengar ia yakin, itu suara dr. deniz.


'tunggu....hotel?!... untuk apa ke hotel? tunggu.... tunggu.... Aarghhhhh...kenapa hidupku bisa kacau begini sich...? ah tunggu... apa katanya tadi,...sekarang....? se-ka-rang....?! '. teriak batin ayla panik setelah pikirannya berkeliaran entah kemana.


Ayla jatuh tertuduk di atas ranjang dengan matanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. bukan karna apa tapi karna memikirkan ia akan bertemu dengan pujaan hatinya, bertatap muka dan entah akan berbicara apa. Sungguh sudah membuat jantungnya menggila?...


Ayla cepat cepat bangkit dari ranjang menoleh ke lemari. Berharap ada baju yang bisa membantunya malam ini.


Baju pertama yang ayla pegang piyama panjang lengkap.


"ini sudah malam bukan?...dan kita tidak boleh kedinginan, ya kan? Ah...Sweater, perfeck". Ayla berbicara sendiri.


Gerakannnya terhenti di depan lemari saat mengingat dirinya yang akan memakai piyama +sweater. Ayla menatap dirinya sendiri dari atas ke bawah.


"terlihat bagaimana aku?...". Ia dengan cepat menggeleng. Memikirkan kengerian yang akan terjadi.


Alya membuka semua lemari bajunya dan berdiri di sana menatap semua baju yang berderet di sana. Jatuh pilihan ayla hanya pada baju kaos hitam yang kebesaran pada tubuhnya. Di padu jeans panjang berwarna biru, hasil setelah beberapa menit berdiri di sana.


"memang ini yang terbaik dan ternyaman". ucap ayla ke diri sendiri dengan sangat yakin.


'aku bertanya tanya, kenapa dia menyuruhku ke hotel?... Ah...Apa mungkin...Mau membatalkan kontrak? Tanpa sepengetahuan kakek dan nenek?.... Ku rasa'. ayla mengangguk meyakinkan pikirannya sendiri. Sedetik kemudian pikirannya buyar.


Lalu bagaimana dengan ku jika itu terjadi?...Aku rasa inilah yang terbaik. Cepat atau lambat aku juga harus pergi namun ini hanya...Cepat saja. Anak, aku rasa mereka sudah memutuskan untuk tidak perlu memiliki anak. wanita mana yang rela suaminya tidur dengan wanita lain? Aku rasa tidak ada.


Ayla sampai di lobby hotel yang di sebutkan deniz. Ia tidak berhenti di meja resepsionis untuk menanyakan kamar karna pesan yang di kirim untuk langsung menyuruhnya ke atas.


Ting tong...

__ADS_1


Ayla menekan bel pintu kamar hotel setelah menarik nafas menenangkan jantungnya yang tidak mau berhenti.


Kleck...


Pintu terbuka ayla sontak saja menarik nafas lagi menelan ludah dan melangkah masuk.


Pemandangan yang pertama ayla lihat saat masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu adalah dr. deniz yang sedang menghisap rokok.


Ayla mengernyit. 'merokok?... itu bukanlah dr. deniz yang aku kenal...'. Mata ayla sontak menjelajahi isi kamar mencari sosok lain yang bisa bersama deniz.


'apa di dalam kamar mandi? ' Mata ayla menatap ke pintu kamar mandi.


"kau sudah mandi?! ". Suara bas, tegas dan juga dingin itu. Mengejutkan ayla hingga ia sontak berbalik melihat deniz.


'apa katanya tadi?... mandi...? siapa? aku...?'.


"euhm...jika yang bapak maksud aku, maka iya, sudah tadi...".


"matikan lampunya, mari selesaikan secepatnya! ".


Ayla menyatukan alisnya. memiringkan kepalanya menatap deniz.


"ya?! " ujar ayla kebingungan. 'Matikan lampunya? Selesai secepatnya? Bagaimana bisa tanda tangan, tidak bisa lihat, gelap'


Deniz menoleh menatap ayla tajam karna melihat lampunya masih menyala dan ayla masih saja berdiri santai.


'apa yang wanita itu tunggu?... mengulur waktu...?'. Deniz menggeram dan langsung bangkit dari ranjang di mana ia duduk tadi melangkah ke saklar lampu dan mematikannya hingga hanya terlihat cahaya remang remang dari lampu balkon kamar hotel.


"arghhh....". pekik ayla saat tangannya tiba tiba di tarik.


Brukhhh...


"ah... ". ringis ayla lagi saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk, ranjang.


Belum habis rasa terkejut ayla dengan deniz bangun tiba tiba dari ranjang lalu mematikan lampu hingga membuat ayla kebingungan dan di tambah tarikan di tangannya yang tiba tiba hingga tubuhnya mendarat di ranjang dan sekarang....


"pak...maksudku dr. deniz? Tunggu dulu!". sontak saja nama itu keluar dari bibirku yang sedang bergetar ini.


"ingat wanita, aku di sini bukan untuk berbicara denganmu! ". Suara dingin dan tajam deniz membuat ayla merinding.


'Tunggu...Nafasnya...Dia...'.


"tidak tidak tidak tunggu dulu dr. deniz. Kita harus bicara. Jangan malam ini dulu ya? Kita lakukan malam lain saja ya?...Pokoknya jangan malam ini! ". ujar ayla panik dalam satu tarikan nafas.


Ayla mencoba memberontak dari deniz yang kedua tangannya di cekal deniz di atas kepalanya sendiri. Sedang kedua kakinya sudah di kunci deniz. Harusnya ia bisa bergerak namun...


"ah...". ringis ayla saat tangannya di cekal erat oleh deniz.


"para orang tua sudah memperkirakan kapan kamu mens dan aku menebak sekarang alasanmu hanya satu...Yaitu ingin berlama lama di keluarga kami. Menikmati semuanya hingga kamu puas dan tidak sesuai dengan kontrak. Apa masuk ke dalam keluarga kami membuatmu tidak mau keluar lagi? Aku ingatkan. Kamu di sini hanya menjual rahimmu. Setelahnya enyahlah dari keluarga kami. Jika tidak. Aku sendiri yang akan melenyapkanmu dengan tanganku sendiri". Ancam deniz dengan desisan kejinya sembari kedua manik matanya menatap wajah ayla yang sama sekali tidak terlihat jelas karna cahaya lampu yang remang.


Mata ayla sontak membulat lebar. 'Apa...seperti itu aku...Di mata mu? Tidak apa jika mereka dan yang lain tapi...Huh... '. Yang akhirnya ayla memilih mendesah.


Ayla mendengus. Lebih tepat ke dirinya sendiri. Ketika dirinya teringat siapa dirinya.


'benar, kamu hanya mencintainya dan dia membencimu'.


'tapi aku hanya mau mengatakan...Kalau aku belum siap. Aku masih gugup dan...Takut! '


Ayla membalas tatapan deniz, yang sama sekali tidak terlihat jelas tapi bagi ayla semua sangat jelas. Begitulah rasa cintanya pada deniz. semuanya gelap namun baginya semua itu terang. Wajah deniz terlihat sangat jelas. Bahkan ke tampanannya menghiasi manik matanya sekarang. apalagi manik mata deniz, yang membuatnya jatuh cinta pertama kali.


"iya, tebakanmu benar dan tepat sekali. Di terima di keluarga Al khaled rasanya membuatku tidak mau keluar lagi dan ingin berlama lama tapi...Kenapa kamu datang? Seharusnya kamu datang setelah beberapa bulan lagi. Sehingga aku bisa mendapatkan lebih banyak uang...".


Plak...


"ugh.... ".

__ADS_1


Deniz menampar pipi kanan ayla lalu mencekik leher ayla dengan tangan kanannya.


"aku tahu kamu wanita ******. Aku tidak habis pikir bagaimana kakek terlebih istriku memilihmu untuk penampungan anak kami". Geram deniz marah di sertai tatapan tajamnya.


Ayla memukul mukul tangan deniz karna merasa dirinya butuh oksigen untuk bernafas.


"sekarang tutup mulutmu yang biasa kamu gunakan untuk mendesah desah itu karna telingaku sangat jijik mendengarnya...". sambung deniz lagi.


"hah... ". Desah ayla lega saat deniz melepaskan cekramannya namun itu belum membuatnya lega karna deniz mengikat kedua tangan ayla di atas ranjang.


"Ah...Apa yang kamu lakukan?! ". tanya ayla panik saat kedua tangannya di bawa ke atas dan di ikat.


Ayla berusaha melepaskan dirinya. tapi cekraman tangan deniz bukan lawannya.


"bukankah sudah ku bilang? Jangan bersuara". Geram deniz sembari menempel lakban hitam ke mulut ayla.


"Eummm... Eummmm..." Ayla menggeleng geleng meronta.


"Hah...". Deniz mendesah lega melihat wanita di bawahnya. Sudah sepenuhnya tidak bisa melawan lagi. Tanpa peduli tendangan asal asalan ayla.


"Kamu tahu?... huh...huh...huh... ". Nafas deniz yang terasa berat serta tubuhnya yang menahan gejolak dari dalam.


Melihat Deniz yang sangat kesusahan bahkan untuk sekedar menarik nafas. Membuat Ayla terdiam tidak meronta lagi.


"Hanya untuk menolak malam ini... Aku harus minum obat laknat itu dengan 3 kali dosis...huh...huh..." Deniz menjeda ucapannya.


"Jangan salahkan aku, tapi salahkan dirimu yang mau ada di posisi ini. Kamu bahkan menawari dirimu sendiri. Kamu tahu kenapa aku mengikat tanganmu?" Lagi lagi Deniz menjeda dan menatap Ayla intens


"Itu karna tidak ada siapa pun yang boleh menyentuhku selain istriku. Dan kamu tahu kenapa aku menutup mulutmu? Aku hanya mau menjaga diriku. Agar bibirku hanya akan selalu untuk istriku, ...Untuk tubuhmu? Tenang saja, aku hanya memakai apa yang perlu saja huh...huh...". Deniz menunduk di sertai nafasnya yang berat.


Ayla kembali meronta. Ia tidak mau membenci Deniz. Dengan mengenang Deniz sebagai pria brengsek. Hatinya akan sakit untuk itu.


Ayla mengagumi cinta Deniz kepada istrinya. Sungguh sangat setia dan Ceyda?... Tidak perlu bagimu untuk mempertanyakan itu.


Satu buliran air mata. Mengalir di sudut mata Ayla. Ia pasrah. Jika malam ini itu akan terjadi. Ia tidak bisa berbuat apa apa. Memang dari awal. Ini pilihannya yang gila.


Ayla memejamkan matanya. Menikmati? Tidak. Ia menunggu kesakitan.


"Arghhhh....". teriakan dr. deniz membuat ayla tersentak kaget dan dengan cepat kembali beralih melihat deniz.


Deniz sudah berada di lantai di bawah ranjang dengan menunduk menahan kesakitan pada tubuhnya di sertai juga hatinya. Ia lelah, ia lelah dengan ini semua.


"Ceyda... " Suara Deniz yang parau meraung memanggil nama istrinya.


'Ceyda...? istrinya...?'. Ayla membatin.


Melihat Deniz. Lagi lagi Ayla sedih. Padahal seharusnya ia menggasihani dirinya sendiri sekarang. Namun melihat pria yang ia cintai sangat tersiksa begitu. Membuat Ayla lemah dan ketakutannya tadi akan rasa sakit seketika saja menghilang dan digantikan rasa, yang mau cepat cepat bisa membuat deniz lebih baik.


Ia memang sudah gila. Layya menatap ke langit kamar.


3 pesan dari Deniz masuk ke dalam handphone Ayla. Mengembalikan kesadaran Ayla.


Ayla meraih handphone nya dan membaca pesan di sana.


'Deniz menyuruh ku untuk ke hotel waktu itu...' Batin Ayla.


'Untuk apa? Di sakiti lagi? Tidak, terima kasih. Lebih baik aku tidak peduli'.


Dan pesan ke 2 Ayla buka. Di sana Deniz mengatakan semua atas perintah kakek. Kalau sebutan dr. deniz si tua bangka'.


Ya, ia rasa juga begitu. Karna tidak mungkin dr. deniz yang mau jika bukan pak khaled yang memerintahkannya dan perintahnya tidak bisa tidak di laksanakan.


Dan yang paling membuat kedua mataku melebar adalah pesan ke 3 dari dr. deniz yang mengatakan.


2 minggu ini setiap malam dr. deniz harus datang padaku hanya untuk mengisi supaya aku cepat hamil.

__ADS_1


'What!?' Ayla berteriak di dalam hati.


__ADS_2