Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 61


__ADS_3

Dengan tangan yang terikat ke belakang, kepala di tutup kain hitam dan hanya bermodalkan telinganya yang tajam untuk mendengar gerak gerik kemana ia akan di bawa tapi ia sama sekali tidak merasakan ketakutan karna kejadian ini sudah ada dalam prediksinya. tidak mungkin kakek beyza akan diam saja ketika mendengar beyza kesakitan apalagi jika dia tahu bagaimana ia sangat keras terhadap beyza menyakitinya meski itu semua ia pun terpaksa melakukan namun bagi kakek beyza tidak akan menerima meski ia menjelaskan semuanya atau tahu semua kebenarannya. yang bisa ia lakukan sekarang terima nasib dan tahan saja. tidak mungkin baginya melawan atau menentang kakek beyza karna salah satu ia menyatu dengan beyza adalah restu orang tua itu. takut? sama sekali tidak. mengingat beyza dan anak mereka, jangan kan di hajar atau di pukul sampai tidak sadarkan diri di suruh lompat ke laut terdalam atau ke jurang ia akan mau tanpa pikir dua kali. meski setelahnya ia harus menerima resiko yang paling tinggi.



Langkah kaki deniz terhenti ketika dua manusia yang menyeretnya kemari menghentikan langkahnya. deniz menajamkan telinganya saat mendengar suara seorang pria yang sangat ia kenal melangkah mendekatinya. daddy beyza.



"biar aku bicara dengannya sebentar, tidak akan lama". ucap Okan begitu tiba di depan deniz menatap wajah deniz yang tertutup.



Kedua pria bersetelan tersebut melangkah mundur beberapa langkah ke belakang setelah mendapat anggukan dari kaki tangan Mr. Gokhan.



"semua di luar perkiraanku! "



"aku tahu". sahut deniz setelah okan berhenti bicara dan wajahnya terlihat cemas.



Okan menyatukan alisnya.



"kamu sudah memperkirakan ini? dan masih bersikap tenang? ".



Deniz menggeleng.



"awalnya aku pikir anda pun akan begini tapi siapa percaya anda percaya padaku dan hanya perlu mengajariku beberapa hal dan...terima kasih untuk itu semua".



Okan tercengang dengan ucapan deniz. awalnya ia pun marah dan sangat marah namun ketika mendengar penjelasan dan siapa deniz sebenarnya entah kenapa ia percaya dan langsung menyukainya, mungkin di sisi lain pemuda ini mirip sepertinya dalam memperjuangkan cinta mereka meski beda cerita.



Okan melangkah mendekat menepuk pundak deniz.



"aku tidak bisa bilang apapun tapi...bertahanlah, beyza menunggumu".



"tentu". ujar deniz mantap dan ia terkekeh.



Cklekc...



Kepala okan berputar kebelakang melihat siapa yang membuka pintu dan keluar dari dalam sana. dimana seorang pria yang sedang menunggu mangsanya muncul.



Deniz menajamkan telinganya dengan suara telapak kaki lain yang sedang melangkah di ruangan tersebut. ia tidak tahu ini ada di mana apa di rumah Mr. gokhan atau...di ruang pelatihannya yang ia dengar dari sumbernya berada di sisi lain rumah tersebut.



Dua pasang telapak kaki. deniz menajamkan telinganya dengan suara kaki dan pembicaraan ringan.



"kalian...".



"ikut kami". deniz kembali di seret.



Okan menghentikan ucapan dari kedua teman akrab beyza dan melihat deniz. ia menarik nafas karna tidak bisa berbuat apapun.



Reshad dan aliye menghentikan langkahnya dari jarak dengan deniz yang sedang melangkah ke pintu yang baru saja mereka keluar tadi alias baru menerima interogasi dari pria tua di dalam dan sangat mengerikan dan menakutkan. jarak mereka sekitar 4 meter.



Resyad dan aliye menatap deniz dari kejauhan.


"itu temanmu? suami ayla? ". geram aliye dengan kepalan tangannya.



Resyad menarik nafas setelah melirik melihat aliye.



"kurasa...dulu! ". melihat pria itu masih membuatnya geram dan masih ingin memukulnya.



Aliye menggertakkan giginya berjalan melangkah ke depan dengan pelan namun pasti di sertai gepalan tinjunya.



Deniz mengeryitkan keningnya saat telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.



Reyshad mau melangkah mengejar aliye namun di cekal oleh okan daddy ayla, menyuruhnya berhenti.



"kamu percaya dia akan mungkin benar benar menghajar? di saat lawannya lemah, itu bukan gaya seorang aliye". ujar okan sembari melihat aliye yang kini sudah berada di depan deniz yang sudah menghentikan langkahnya atau karna dia yang berdiri di depan sontak ke tiga pria di sana berhenti.

__ADS_1



"maaf nona aliye? biarkan kami lewat". ujar sang kaki tangan Mr. gokhan.



Aliye yang geram bercampur marah tidak melihat ke arah pria tersebut. ia malah mengertakkan giginya lalu mengumpat marah dan....



Bukhhh....bhakkkk...



Deniz terjungkal ke belakang hingga tubuhnya menghantam ke lantai setelah mendapat serangan tiba tiba dari seorang wanita yang tidak ia tahu siapa tapi ia sadar pukulan itu dari wanita.



"nona?! ". seru pria bersetelan jas tersebut terkejut.



"biarkan aku menghajarnya dulu dan jangan menghentikanku karna dia...aku di sini sekarang! ". geramnya marah lalu melangkah ke arah deniz. meraih kerah baju deniz dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah deniz yang terhalangi oleh kain hitam.



"ingat ini deniz, apapun yang terjadi, bagaimanapun, tutup mulutmu".



Bukhhh...



Aliye memukul wajah deniz setelah melepaskan tangannya di sana lalu dia bangkit berdiri dengan menatap deniz marah. atau bersikap pura pura marah agar pria pria penjaga di sana tidak mencurigainya.



Okan mendengus sinis sedangkan resyad tercengang. okan menepuk bahu resyad.



"lihat? dia sangat sayang dengan princess, dia hanya menyuruh deniz menutup mulutnya tapi... di dalam tadi...papi bertanya apa pada kalian? ini sedikit mencurigakan karna papi turun tangan sampai menginterogasi kalian! ".



Reshad mengedip ngedipkan matanya beberapa kali sebelum dia tersenyum memaksa dan melangkah pergi dari sana.



"hei kau...berhenti tidak! ". okan mengejar langkah reyshad.



Deniz kembali melangkah dengan wajahnya yang kebingungan bahkan dia tidak merasakan sakit sama sekali akibat pukupan aliye. yang ia pikirkan siapa wanita itu dan...kenapa ia harus menutup mulut. kedua bola mata deniz membulat saat jawaban yang ia pertanyakan terjawab yaitu suara reyshad di sampingnya di sela mereka saling melewati.



"nikmatilah malam ini...teman".




Cklekc...cklack..



Pintu terbuka dan tertutup di belakang deniz dan deniz bisa merasakan aura dingin dan menyeramkan begitu dia masuk ke dalam ruangan yang ia perkirakan tersebut.



"arghh...". dughh... deniz meringis sedikit saat belakang lututnya di tendang untuk menyuruhnya menurunkan tubuhnya.



Deniz dengan patuh melakukan hal yang mereka mau dan setelahnya kain hitam tersebut di pindahkan dari dirinya sehingga deniz bisa melihat ke sekitar meski cahaya remang remang.



Mata deniz menyipit ke satu sisi saat melihat satu sosok manusia yang sedang melangkah ke arahnya. apa itu...Mr. Gokhan?.



"deniz selim...Al-khaled...benar? ". suara baritonnya, khas suara pria yang sudah berumur 60 lebih. seakan menggelegar bagaikan petir di telinga deniz.



Deniz mengerjap mempertajamkan matanya melihat sosok di depannya dengan jelas karna penerangan cahaya sangat minim.



"iya...itu benar! ". jawab deniz setelah beberapa saat.



"cucu dari salah satu konglomerat terkaya di turki yang memiliki perusahaan raksasa namun sayangnya tidak pernah bisa menembus pasar jerman, benar?! ".



Deniz mengangguk membenarkan. ia tidak perlu bingung da bertanya tanya darimana pria ini tahu karna sesama pembisnis atau sesama pengusaha hal itu sudah umur untuk di ketahui.



"ya! "



"seorang dokter bedah...entah apalah itu, aku tidak tertarik untuk menyebutnya".



"ya!". jawab deniz mantap tanpa mempedulikan ke adaan.


__ADS_1


Kakek ayla tertawa lebar hingga suaranya memenuhi ruangan tersebut.



"aku tidak akan melanjutkan lagi tapi...". deniz mendongak melihat ke atas saat dagunya di naikkan oleh kakek ayla dengan buku yang tergulung yang dari tadi berada di tangannya.



"pernahkah kakekmu memberi nasehat padamu, kalau jangan pernah berhubungan dengan keturunanku? ".



Alis deniz menyatu. jika untuk jangan berhubungan dengan keturunan Gokhan sih tidak pernah tapi kakeknya pernah memberitahunya untuk melupakan ayla dan jangan meneruskan perasaannya.



"melihat wajahmu yang kebingungan, aku rasa kakekmu sudah melarangmu namun... kamu masih berani untuk terus maju! anak muda? aku akui kamu sangat berani tapi apakah kamu tahu? kamu seperti melemparkan umpan untukku,...". gokhan mendekatkan wajahnya ke deniz.



"umpan...yang sudah sangat lama aku tunggu, ha ha ha". kakek ketawa lebar dengan berkacak pinggang.



Alis deniz menyatu di sertai kerutan di dahinya. kenapa ia tiba tiba merasakan firasat buruk?. apa yang terjadi? kenapa ia seperti merasa bahwa kakek beyza, mengenali kakeknya.



"apa reaksi kakekmu bocah? ketika dia tahu kamu ada di tanganku? ha ha ha".



Deniz melebarkan matanya. jika ada menusia lain selain beyza yang tidak boleh tahu ia di sini maka yang lain itu adalah kakeknya.



"lakukan apapun padaku sepuas anda tapi...jangan beritahu kakek , aku mohon". pinta deniz sungguh sungguh. ia tidak mau kakeknya tahu dan itu akan semakin memperumit langkahnya.



Gokhan menghentikan tawanya menoleh menatap deniz tajam.



"tidak perlu kamu suruh! setiap inci kesakitan princessku maka kamu akan menanggungnya, beraninya kamu membiarkan cucuku kesakitan dan kamu hanya melihat, aku tidak butuh alasan apapun. jika kamu mencintai cucuku maka lindungi dia dengan nyawamu bukan kamu pergunakan untuk rencanamu meski kamu harus melawan kakekmu sendiri, aku beri untukmu satu saran bocah? setelah aku menghabisimu malam ini dan ingat ini baik baik ketika kamu kembali membuka mata dan sadar nanti, kamu dan cucuku tidak akan pernah bersatu, tidak akan pernah. terkecuali satu hal....bawa kakekmu padaku".



Deniz melebarkan matanya namun hanya sebentar sebelum satu tendangan mendarat di wajah tampannya. hingga mulutnya mengeluarkan darah.



"ikat dia". seru Gokhan kejam ke anak buahnya lalu dia berbalik.



Deniz di paksa berdiri lalu bajunya di lepaskan semua hingga tersisa celana panjangnya yang berbahan jeans.



Deniz menurut dengan patuh bahkan saat tangannya di ikat atau di gantung ke atas dengan dua sisi dan kakinya di borgol keduanya di lantai. ia hanya menarik dan membuang nafasnya dengan teratur tanpa ada rasa takut sedikitpun. mungkin ia sudah mengalami ini walaupun tidak separah ini, di ikat.



"bisakah aku meminta satu hal? sebelum aku tidak bisa bicara lagi".



Gokhan mendengus sinis.



"katakan! "



"akan ada seseorang di persimpangan jalan xx yang menungguku, bisakah orangmu...nanti memberiku untuknya karna aku yakin, anda akan membuangku ke rumah sakit yang tidak di ketahui oleh siapapun".



Gokhan terkekeh.



"kamu berani juga, sebagian yang lain sudah memohon ampun dari tadi minta di lepaskan".



"aku mencintai cucu anda itu nyata dan seperti yang anda bilang kami tidak akan bisa bersama karna itu aku sampai di sini sekarang, memperjuangkan cintaku dan sekarang cinta kami karna aku sudah mendapatkan cinta cucu anda bukankah aku sudah menang banyak, seharusnya aku bisa membawa cucu anda jauh dari anda jika aku mau tapi aku bukanlah lelaki yang mau memisahkan dia dengan keluarganya karna itu aku berada di sini sekarang dan terikat".



Gokhan terkekeh keji.



"beri dia pelajaran". setelah mengatakan itu dengan kejam. gokhan duduk di kursinya dengan santai sembari menghidupkan rokoknya menghisapnya. matanya yang tajam menatap deniz yang sedang di hajar oleh orangnya.



Suara teriakan, erangan kesakitan ringisan deniz terdengar di ruangan tersebut. di tengah malam yang terus berlangsung dengan di tempat lain ayla tertidur pulas tanpa merasakan seseorang di sampingnya yang tidak ada lagi.








__ADS_1



__ADS_2