
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 30 menit. akhirnya keduanya sampai di tempat, dimana tempat yang mau deniz tunjukkan atau mau memperlihatkan ke ayla meslipun deniz tahu jauh jauh hari ayla sudah tahu tempat ini karna memang ayla dari kecil di sini dan tidak mungkin tidak untuk ayla mengetahui tempat ini tapi satu hal yang tentu ayla belum tahu dan itulah kenapa ia membawa ayla kemari.
Deniz menutup pintu mobil sebelah ayla setelah menuntun ayla keluar dengan hati hati agar tidak terbentur.
Kepala ayla tentu saja mendongak menatap ke langit lebih tepat ke satu puncak yang sangat sangat familiar baginya. kepalanya menoleh ke samping menatap deniz lalu mengangkat tangannya melihat jam tangannya yang menunjukkan belum waktunya salat dzuhur.
"deniz...".
"bagaimana kalau kita makan siang dulu? dan sebentar lagi sudah waktunya shalat dzuhur bukan? ".
Ayla mencoba berpikir sebentar, lagian ia juga sudah lapar. percuma adu mulut jika perut keroncongan.
"baiklah, aku menurut".
Deniz tersenyum bahagia. satu tangan deniz merangkul pinggang ayla yang terlihat sudah berisi sedikit karna kehamilan ayla yang sudah memasuki bulan ke 4 sedangkan satu lagi membawa satu tas kain yang di dalamnya berisi mukena ayla yang berwarna hitam berkain sutra lembut dan tentu saja mahal.
"aku yakin kamu akan suka makanannya".
"apapun itu, asal jangan yang mentah! aku sudah lapar".
Deniz terkekeh. keduanya masuk ke tempat tersebut yang semua berjumlah 7 lantai dan salah satunya ada restauran.
Ya, tempat yang mau deniz masuk dan mau menunjukkan sesuatu ke ayla adalah ke sebuah masjid yang berlantai tujuh sering di sebut masjid umar bin khattab yang berada di kota berlin jerman tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit setelah keduanya memasuki restauran, waktunya shalat pun tiba. keduanya bergegas ke lantai di mana tempat untuk shalat.
Tidak lama, hanya lebih kurang dari 10 menit shalat yang di adakan berjamaah tersebut selesai. Deniz duduk di sisi dinding tempat shalat tersebut, hampir dekat pintu keluar menunggu ayla.
Wajahnya menyungging senyum manis dan tampan saat melihat ayla sudah terlihat di antara kawanan para wanita lain yang juga ikut keluar namun ada juga yang masih tinggal untuk membaca al-qur'an.
"tidak keluar?! ". itu kalimat pertama begitu ayla sampai di depan deniz sedangkan deniz masih duduk mendongak menatap ayla. dengan pikirannya jelas terbaca oleh ayla dari sorot mata deniz dalam menatapnya.
Deniz menepuk tempat duduk di sampingnya menyuruh ayla untuk duduk di sana. tanpa membantah pun ayla menuruti deniz.
Deniz tersenyum sebelum memulai pembicaraannya. manik matanya menatap ke atap atap masjid tersebut lalu ke semua arah yang berada di dalam masjid tersebut.
Sedangkan ayla lebih memilih menatap deniz menunggu deniz bicara.
Ayla di buat tidak bisa membuka suara melihat deniz yang di depannya.
"saat itu...sangat pas...waktu untuk shalat dzuhur dan aku melihat beberapa orang masuk untuk shalat ke dalamnya, saat itu belum di buka untuk umum seperti sekarang! aku ke sana setelah mengirim pesan ke refat, setelah selesai shalat...aku rentangkan kedua tanganku ke atas berdoa, hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya dalam hidupku, karna biasanya setelah selesai shalat aku bergegas pergi tanpa berdoa meminta apapun dan saat itu...aku dengan sangat berharap, memohon, meminta ke pada yang maha kuasa, yang aku yakin bisa menolongku, bisa membantuku, hanya berharap ke padanya satu yaitu allah! kamu tahu beyza...?apa yang aku minta saat itu...?". air mata deniz sudah menguncur indah membasahi pipinya hingga ke sudut bibirnya menoleh lagi menatap ayla setelah tadi kembali menatap ke atas langit langit masjid tersebut.
Deniz tersenyum tipis sembari meraih tangan ayla dan menggenggamnnya erat lalu kembali menatap wajah ayla yang terbalut hijab.
"aku hanya meminta satu hal saat itu, tidak lebih, tidak banyak, hanya meminta kamu... untuk jadi milikku, menjadi istriku, aku meminta hanya kamu tidak mau yang lain hanya itu...hanya itu...". deniz berbicara dengan isakan tangisnya yang tidak bisa ia tahan lagi sembari kedua tangan ayla yang dia genggam dia cium dengan air matanya ikut membasahi tangan ayla.
Ayla mendekatkan kepalanya mencium kepala deniz dan air matanya juga tidak bisa ia tahan.
__ADS_1
"sekarang terjawab bukan...? aku milikmu...selamanya milikmu".
Deniz mengangguk di sela isakannya.
Ayla menenangkan deniz dengan merapatkan pipinya di kepala deniz. berharap bisa mengirimkan kehangatan.
"jadi...karna itu kamu membawaku kemari?! ".
Deniz mengangguk lagi namun tidak menangis lagi.
Ayla terkekeh. deniz yang sekarang persis seperti anak kecil yang sedang malu selesai menangis.
💜💜💜💜💜💜💜💜
Maaf lama updatenya...😁😁😁
Lalu...mungkin aku akan menamatkan cerita ini dalam 2 atau 1 bab lagi...😊😊😊
Terima kasih semua para pembacaku yang setia...
__ADS_1