Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Apa ini gak salah???


__ADS_3

Siang tadi setelah menjemput Kenan dan Kiara, Nayra langsung menuju rumah mertuanya. Tadi Mama Arumi memintanya untuk datang ke rumah karena Doni, suami Dahlia sudah sadar dari komanya. Nayra diminta menemani Eza, karena Eza tidak mau di tinggal kalau gak di temani kakak kembar, katanya.


"Nayra, sayang. Mama tinggal dulu ya, Nak. Maaf Mama harus merepotkan kamu." sesal Mama Arumi yang harus merepotkan menantu cantiknya itu.


Nayra menampilkan senyum terbaiknya supaya Mama Arumi merasa tenang. "Iya, Ma gak apa. Nayra gak repot kok. Nayra justru senang kalau Eza ikut sama aku. Lagian Eza juga begitu senang main sama si kembar." ujar Nayra yang merasa tak direpotkan.


Mama Arumi tersenyum haru melihat ketulusan yang Nayra berikan. "Kamu memang menantu terbaik yang Mama punya." ucapnya sambil membelai lembut pipi Nayra.


Nayra tersenyum menanggapinya. "Makasih, Ma telah percaya pada Nayra."


"Iya sayang. Mama berangkat dulu, ya. Asaalamualaikum." pamit Mama Arumi


"Walaikumsalam. Hati-hati Ma." Mama Arumi mengangguk sebelum masuk kedalam mobil dan mobil segera berjalan meninggalkan halaman rumah.


Nayra menemui si kembar juga Eza yang tadi main di ruang keluarga. Nayra geleng kepala melihat begitu banyaknya mainan berserakan dimana-mana. "Anak kecil kalau main gak pernah rapi, pasti semua dikeluarkan." gumam Nayra.


"Mama.." teriak Eza yang berlari kecil menuju arahnya. Eza memanggilnya Mama karena dari dulu Devan sudah memperkenalkan Nayra pada Eza kalau Nayra juga Mamanya Eza, meski raga Nayra tidak bersama mereka saat itu.


"Ugghh..." Nayra menangkap Eza dan membawanya ke dalam gendongannya. Diciuminya wajah yang gembul itu dengan gemas membuat Eza tertawa kencang, kepalanya dia gerakkan ke kiri ke kanan menghindari ciuman yang Nayra berikan.


Nayra membawa Eza yang ada di gendongannya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Dia melihat ke dua anaknya yang asik menghamburkan mainan dengan tingkah polah lucu mereka.


"Eza gak tidur siang, sayang." tanya Nayra pada Eza yang bersandar di dada nya.


Eza menggelengkan kepalanya, namun beberapa detik kemudian dia memejamkan matanya sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Dia menguap.


Nayra tertawa kecil melihat itu. "Tidurlah.!!" pintanya pada si kecil Eza dan benar saja, baru beberapa menit Eza tertidur di pangkuan Nayra.


"Mama lihat..." teriak Kiara saat dia dan Kenan berhasil membuat bangunan dari mainan lego dengan menjulang tinggi.


Nayra meletakkan jari telunjuknya di mulut, meminta Kiara jangan berteriak. Nanti akan membangunkan Eza dan diangguki oleh Kiara.


"Dek Eza tidur, Ma?" tanya Kenan mendekat ke Mama Nayra.


"Iya sayang. Kenan gak mau tidur siang juga?" tanya balik Nayra pada putra nya itu.


Kenan ikut duduk di samping Mama Nayra dan bersandar pada lengan Mamanya. "Ken juga sudah ngantuk." jawabnya lesu.


Nayra mengusap rambut Kenan lembut. "Dibereskan dulu mainannya baru nanti tidur siang." perintah Nayra segera dilaksanakan putranya itu.


"Kenapa dimasukkan kembali, Ken?" tanya Kiara yang melihat Kenan memasukkan beberapa mainan ke dalam ranjang mainan


"Mau tidur siang." jawabnya singkat.


Kiara berdecak sebal karena tak ada lagi yang menemaninya bermain, jadi mau tak mau dia juga membereskan mainannya dan di masukkan kembali ke ranjang mainan.

__ADS_1


Setelah semuanya rapi Nayra membawa anak-anaknya ke kamar Eza untuk tidur siang di sana. Nayra keluar dan menuju kamar Devan untuk beristirahat. Karena dia penasaran akan kabar Doni yang katanya sudah sadar dari koma akhirnya menelepon Devan.


"Assalamualaikum..Ada apa sayang? Kangen yaa...Sabar yaa, nanti malam kita lanjut lagi olahraganya." celetuk Devan setelah mengangkat panggilan video dari istrinya.


"Walaikumsalam,..ngaco kamu." Nayra mendengus kesal mendengar apa yang Devan bicarakan.


Terlihat ekspresi Devan yang tertawa di seberang sana. "Kenapa sayang..Kamu gak mau ya?? Padahal sudah hampir beberapa minggu terakhir ini setelah aku bisa berbuka puasa kembali kamu jauh lebih agresif saat di atas ranjang." Nayra malu sendiri mendengar dari Devan kalau dia lebih agresif dari biasanya. Ya. Nayra mengakui kalau dia yang selalu meminta duluan bahkan dengan beraninya menggoda suaminya yang sedang berada di ruang kerja menyelesaikan kerjaan yang tertunda.


Flashback On


Nayra terlihat mondar mandir di dalam walk in closet. Dia bingung harus memakai piyama yang mana. Kalau memakai lingerie dia benar-benar seperti penggoda. Dan selama ini dia belum pernah memakai pakaian haram itu. Haruskah malam ini dia memakai itu.


Entah keberanian dari mana akhirnya Nayra memakai pakaian haram itu untuk pertama kalinya. Dan entah kenapa malam ini dia begitu menginginkan suaminya itu. Dia tak mempedulikan suaminya sekarang sedang sibuk di ruang kerja. Karena malam ini dia begitu menginginkan suaminya.


Nayra masuk ke ruang kerja Devan dengan berjalan pelan dan menatap suaminya itu penuh minat. Namun sayang, Devan hanya cuek saja saat mengetahui Nayra masuk ke ruangannya.


"Sebentar, sayang. Masih ada beberapa lagi yang belum selesai." katanya saat baru saja melihat Nayra masuk. Devan tak begitu memperhatikan penampilan istrinya itu.


Awalnya Nayra kesal akan respon suaminya, namun karena dia begitu menginginkan Devan malam ini jadi dia akan nekat menggoda Devan dengan pakaian haram yang dia kenakan.


Nayra melepas kimono tipis yang menutup pakaian haram itu dan dibiarkannya jatuh di lantai. Dia langsung menarik tangan Devan membuat Devan berputar dan menghadap ke Nayra.


"Hai sayang.." ucap Nayra dengan sen sual dan langsung duduk di pangkuan Devan. Tangan Nayra bahkan tak tinggal diam. Memegangi wajah, leher dan dada tegap suaminya.


"Aku menginginkanmu malam ini." ucapnya tepat di dekat telinga Devan dan sedikit memberi tiupan di telinga membuat Devan langsung tersengat aliran panas.


Tanpa basa basi lagi bibir mereka saling bertemu, memagut satu sama lain dan terjadilah pergulatan panas di ruang kerja Devan, membuat Devan lupa akan pekerjaannya yang tadi belum sempat dia kerjakan.


Flashback Off


"Apa lagi semalam. Padahal aku capek banget tapi setelah melihat ke agresifan kamu aku semakin bersemangat untuk menyerangmu." Devan semakin bersemangat menggoda istrinya saat wajah Nayra sekarang sudah seperti kepiting rebus. Merah merona.


"Kenapa diam saja? Lagi membayangkan yang semalam ya sayang. Apa perlu aku pulang sekarang dan kita melakukan itu lagi?" goda Devan sambil menahan tawanya. Dapat dilihat di balik layar HPnya kalau istrinya itu sudah malu bukan main. Bahkan istrinya itu sudah ngumpet di bawah selimut.


Nayra menggigit ujung kukunya, dia malu mendengar kalimat demi kalimat yang Devan lontarkan saat melihat ke agresifannya beberapa hari kebelakang.


"Kamu ketagihan ya mengenali anatomi tubuh se xy suami tampan mu ini." ucap Devan penuh rasa percaya diri yang tinggi.


"Devan.." teriak Nayra geram akan suaminya yang akhir-akhir ini selalu menggodanya dengan hal berbau me sum. Dia menatap tajam suaminya itu di balik layar HP setelah keluar dari persembunyiannya di dalam selimut.


"Iya sayang...Ada apa cintaku, kasihku, pujaan hatiku, matahariku, bidadariku, humairaku" jawab Devan dengan santainya.


"Aku akan memotong ular piton mu itu biar tidak bisa masuk lagi kedalam sarang ku." sungut Nayra kesal pada suaminya.


"Memang kamu berani?" tantang Devan dengan mengangkat sebelah alisnya serta senyum mengejek pada istrinya.

__ADS_1


"Berani" jawabnya cepat sambil menampakkan wujud garangnya.


"Kok aku jadi merinding ya, sayang." Devan berpura-pura mengusap tengkuknya juga kedua lengannya seakan ketakutan akan keberanian Nayra.


Nayra mendengus kesal melihat Devan yang pura-pura ketakutan itu. Dia tadi menelepone karena mau tanya kabar Doni bukannya membahas hal yang tak seharus nya dibahas. Kasihan kan jadinya kalau ada yang mau seperti itu tapi belum ada pasangannya.


"Kenapa sayang? Maaf aku tadi cuma bercanda." kata Devan yang melihat istrinya itu diam.


Nayra menghembuskan nafas pelan. "Iya aku tahu. Aku juga bercanda." balasnya.


"Kamu sudah sholat dan makan kan, sayang?" tanya Nayra yang melihat Devan sudah berada di ruang kerjanya padahal jam menunjukkan satu lewat tiga puluh lima menit.


"Sudah, tadi aku makan di sini minta Linda untuk delivery." jawab Devan.


"Kamu di rumah Mama?" tanya Devan saat baru menyadari kalau istrinya itu berada di dalam kamar lamanya.


"Iya..Mama tadi meminta aku kesini buat menemani Eza karena Mama mau pergi ke rumah sakit melihat kondisi Doni." jelas Nayra.


Devan manggut-manggut. "Iya, aku dengar tadi Doni sudah bangun dari tidur panjangnya. Rencana siang ini mau kesana, tapi karena banyak kerjaan mungkin nanti malam kalau gak besok."


"Aku boleh ikut? Aku juga ingin menengoknya." kata Nayra.


"Kalau memang kamu mau ikut. Besok saja kita ke rumah sakitnya." Nayra mengangguk setuju, jadikan bisa gantian nanti yang jagain anak-anak.


"Nanti kamu gak usah pulang, tidur saja di rumah Mama. Aku nanti juga langsung pulang ke rumah Mama." sambung Devan.


Nayra mengangguk. "Iya, rencana malam ini memang mau tidur disini sekalian menemani Eza." jelas Nayra.


"Sudah dulu, ya. Sebentar lagi mau meeting. Kamu istirahatlah. Kamu terlihat pucat hari ini." ada nada kekhawatiran yang Nayra tangkap dari suaminya itu. dia sendiri juga merasa sedikit lelah tidak seperti biasanya.


"Mungkin tadi terlalu lelah saja saat bermain sama anak-anak." kilah Nayra saat menangkap kekhawatiran suaminya.


"Ya sudah. Istirahatlah, biar Kimy sama pengasuhnya Eza yang menjaga anak-anak." Nayra mengangguk mengiyakan perintah Devan.


"Ehmm..Kamu juga jangan diforsir kerjanya kalau merasa lelah." Devan mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Selamat mencari nafkah suamiku, sayang. Assalamualaikum." tut. Nayra langsung memutus sambungan telepon Vidio karena merasa malu.


Dia memegang wajahnya yang terasa panas dingin. Dia segera beranjak menuju meja rias. Menatap tampilannya di dalam cermin.


"Pantas saja Devan tadi bilang wajah ku pucat. Emang benar." kata Nayra sambil menangkupkan kedua pipinya.


"Sudah beberapa hari ini kalau siang rasanya pasti pucat dan selalu lemas, kadang pusing juga." sambungnya.


Nayra menghembuskan nafas kasar. Dia seperti mengingat sesuatu. Diambilnya HP dan membuka aplikasi kalender.

__ADS_1


Nayra menutup mulutnya tak percaya setelah melihat dan menghitung total hari. "Apa ini gak salah???"


__ADS_2