
Devan dan Nayra beserta si kembar sudah sampai di rumah Papa Damar. Mereka sepulang dari Sea World langsung pulang ke rumah Papa Damar, sesuai janji Devan pada Mamanya untuk menginap beberapa hari di sana sebelum pindah ke apartemen.
"Assalamualaikum.." salam Nayra dan Devan bersamaan saat memasuki rumah. Terlihat Devan dan Nayra yang menggendong si kembar yang terlelap karena kecapekan jalan-jalan di Sea World. Dan di belakang mereka ada Miss Kimy yang menggendong Eza yang juga terlelap.
"Walaikumsalam.." suara Mama Arumi terdengar dari arah dapur dan membawa dua cangkir teh. Mungkin mau ngeteh sore-sore sama Papa Damar, pikir Nayra.
"Kalian sudah datang..?!" sambung Mama Arumi dan meletakkan dua cangkir teh itu di meja makan saat Nayra dan Devan berjalan ke arahnya. Nayra dan Devan mencium punggung tangan Mama Arumi bergantian.
"Iya, Ma..Kita langsung ke kamar. Kasihan mereka kecapekan." jawab Nayra menunjuk si kembar yang berada di gendongan Mama, Papanya.
"Iya gak apa. Mama tahu pasti kalian capek habis jalan-jalan seharian." sahut Mama Arumi yang melihat cucu-cucunya terlelap semua.
Devan dan Nayra menuju kamar mereka. Eza sudah diletakkan Miss Kimy ke kamar Eza sendiri.
"Capek yaa.." Devan menghampiri Nayra yang terlihat memijat-mijat lengannya karena menggendong Kiara yang beratnya 17 kg itu. Apalagi harus menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai lantai dua.
"Sedikit.." jawab Nayra yang masih memijat lengannya sendiri.
"Sini aku pijitin biar cepat hilang capeknya." Devan menarik pelan lengan Nayra dan memijatnya.
"Memang kamu gak capek?" tanya Nayra
"Dari tadi kamu juga menggendong Kiara sama Eza bergantian." sambung Nayra yang melihat Devan justru terlihat serius memijat kedua lengan Nayra bergantian.
"Sedikit sih..Tapi kalau ada di samping kamu capek atau lelahku langsung sirna sudah." gombal Devan yang tetap fokus dengan aktifitas memijatnya.
"Sekarang pintar banget ya gombalin istrinya." seru Nayra dengan senyum mengejek pada Devan.
Devan hanya mengendihkan bahunya.
Tok Tok Tok
"Bu..Mau mengantar koper." terdengar suara Miss Kimy dari balik pintu kamar Devan.
"Sebentar, aku bukain pintu dulu." Nayra beranjak dari duduknya untuk membuka pintu kamar.
"Taruh disini saja, Kim. Makasih yaa." ucap Nayra pada pengasuh si kembar.
"Sama-sama, bu. Permisi." pamit Misa Kimy.
Nayra menutup pintu saat berbalik ternyata Devan sudah dibelakangnya dengan tatapan mesumnya.
"D-dhev.." Nayra gugup sendiri melihat tatapan Devan yang mesum itu. Apa lagi Devan semakin mendekat ke arahnya yang membuatnya semakin mundur dan mentok di pintu.
Nayra memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya erat takut kalau dapat serangan mendadak dari Devan.
Devan menahan tawanya melihat ekspresi ketakutan dari Nayra. Padahal dia hanya berniat menggoda saja, tapi reaksi yang Nayra tunjukkan justru membuatnya ingin tertawa.
Nayra yang sedari tadi tak merasakan apa-apa akhirnya mengintip lewat ujung matanya memastikan Devan masih ada dihadapannya atau tidak.
__ADS_1
Nayra langsung membuka matanya lebar saat tak mendapati Devan di hadapannya, dilihatnya Devan sudah berjalan menjauh dengan menyeret koper dibawanya ke walk in closet.
Nayra menghembuskan nafas kasar. Ternyata dia dikerjain Devan. "Sekarang dia benar-benar mesum dan jail." gerutu Nayra.
"Mau mandi bareng?" tawar Devan saat melihat Nayra masuk ke walk in closet.
"Tidak, terima kasih." sewot Nayra yang kesal karena dikerjai suaminya itu. Dia melewati Devan begitu saja dan membuka koper untuk di masukkan ke dalam almari isinya.
"Yakin nih..Gak pengen mengenal anatomi tubuh babang Devan yang ganteng ini." Devan terus saja menggoda Nayra namun Nayra hanya cuek saja tak merespon dia sibuk dengan menata baju.
"Emang gak kepingin lihat..."
"Gak.." sarkas Nayra cepat dan sedikit keras.
"Cepat buruan mandi..Aku belum sholat Ashar." seru Nayra yang melihat Devan masih saja bersandar miring di Almari dengan melipat kedua tangan di dada dan kaki satunya dilipat kedepan. Sambil menatapnya dengan wajah jahil dan mesum nya.
Devan yang juga belum sholat Ashar akhirnya masuk ke dalam kamar mandi sebelum waktunya habis.
"Yakin gak mau bareng.." Devan kembali keluar dari kamar mandi memastikan kalau Nayra mau berubah pikiran dan mau mandi bersama.
"Devan..." teriak Nayra geram membuat Devan segera masuk ke kamar mandi lagi. Terdengar tawa Devan dari dalam kamar mandi.
"Ampun..tadi aja sikapnya seperti ustadz sekarang sikapnya seperti lelaki mesum." gerutu Nayra melihat sikap Devan.
Saat Devan dan Nayra selesai melakukan sholat Ashar berjamaah terdengar erangan dari ranjang. Dilihatnya ternyata Kenan sudah bangun dengan tampang yang sudah terlihat segar meski matanya masih lengket untuk dibuka sepenuhnya.
Nayra yang masih memakai mukenanya segera melepas mukenanya.
"Mamah.." rengek Kenan tidak seperti biasanya.
"Iya sayang sebentar." Nayra terlihat melipat mukenanya terlebih dahulu dan menyimpannya di rak.
Devan hanya lihat saja tanpa membantu Nayra menenangkan Kenan. Bibirnya terlihat bergerak seperti orang menggumam. Tapi sepertinya dia sedang berdzikir karena setelah melihat Kenan sudah tenang dia kembali menghadap kiblat.
"Mau mandi sekarang?" tanya Nayra pada putranya itu yang tumben-tumbennya rewel.
Kenan menggelengkan kepalanya di pangkuan Mamanya.
"Haus Mah.." ucap Kenan lirih seperti mau tidur lagi.
Nayra menatap sekeliling kamar dan mendapati botol minumnya telah kosong.
"Sebentar ya, Mama ambilkan dulu ke dapur." kata Nayra dan memindahkan posisi Kenan yang rebahan di pangkuannya.
"Sayang..sekalian bikinin kopi." kata Devan yang melihat Nayra keluar kamar sambil membawa botol minum.
Nayra hanya mengangguk saja dan segera keluar menuju dapur.
"Anak Papa kenapa tumben-tumbennya manja?" tanya Devan yang sudah selesai dengan kegiatan sholat dan dzikirnya. Dia kini ikut rebahan di samping Kenan.
__ADS_1
Kenan menggelengkan kepalanya, "Capek." gumamnya.
"Sini Papa pijat kaki Kenan." Devan bangun dari rebahannya dan memposisikan Kenan untuk tengkurap. Dipijatnya badan putranya itu pelan-pelan.
"Jangan kaki terus, Pah.. badan sama lengan kenan juga." Kenan yang keenakan justru memerintahkan Papanya seenaknya sendiri.
"Ngelunjak kamu." celetuk Devan sambil mengusap kasar rambut Kenan.
Kenan justru terdengan tertawa membuat Devan tersenyum.
"Kiala juga, Pah.." seru Kiara yang baru bangun tiba-tiba menggeser tubuh Kenan dan minta dipijit Papa Devan.
"Ihhhh...Kia ganggu aja." gerutu Kenan yang kesal karena Kiara menggeser posisinya yang lagi PeWe.
Kiara hanya menjulurkan lidahnya. "Ayo, Pah.." kata Kiara yang sudah memposisikan dirinya tengkurap di depan Papa Devan menanti pijatan dari sang Papa.
Belum juga Devan memijat Kiara, Kenan sudah loncat dan duduk dipangkuan Devan membuat Devan tidak jadi memijat Kiara.
"Minggil Ken..Kia mau dipijit sama Papa." Kiara bangun dan menarik Kenan supaya bangun dari duduknya.
"Gak.." Kenan memegang tangan Devan erat membuat Kiara kewalahan menarik Kenan.
Melihat Kiara yang sudah siap mengeluarkan jurusnya Devan segera mengangkat Kenan yang ada dipangkuannya dan dibaringkannya terlentang.
"Ayo princess kita gelitikin Ken." ajak Devan dan disegerakan oleh Kiara.
Kenan berteriak karena digelitiki Kiara sama Papa Devan..
"Ampuuunnnn.. Mama tolong Kenan, Mama." teriak Kenan yang sudah kewalahan dan geli.
Devan yang memegangi Kenan dan Kiara yang menggelitiki Kenan terdengar tertawa puas.
"Astaqfirullahalazim.....Kalian ngapain?!" seru Nayra yang masuk ke kamar disuguhi pergulatan panas antara anak dan bapak di atas ranjang. Seperti satu lawan dua, yang jadi korban putranya, pikir Nayra.
"Mama..huuwaaaa" Kenan langsung menangis saat mendengar suara Mama Nayra.
"Minggir kalian." Nayra mengusir dua orang yang berbeda jenis dan berbeda generasi namum memiliki wajah yang mirip itu. Membuat sepasang anak dan bapak minggir teratur.
"Sudah sayang..Mama disini. Nanti kita balas mereka. Oke..!!" hibur Nayra sambil memeluk putranya itu. Kenan kalau merasa capek dan lelah pasti akan manja. Seperti sekarang ini.
Kenan hanya menganggukan kepalanya, dia masih terlihat sesenggukan meski sudah tidak mengeluarkan air mata.
"Ayo sayang Papa mandiin." Devan mengajak Kiara untuk segera mandi saat Nayra menatapnya tajam.
Kiara patuh saja. Dia juga takut kalau Mama Nayra marah padanya karena membuat Kenan menangis.
Nayra menghembuskan nafas lelah, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan putrinya itu.
"Memang duplikat Devan?!"
__ADS_1