Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 68


__ADS_3

"Apa aku menyakitimu?" Itulah pertanyaan Deniz yang pertama setelah pergulatan keduanya.


Deniz menatap perut Ayla setelah menurunkan tubuhnya.


"Semua baik baik saja Deniz! Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Ayla cepat membuang ke khawatiran deniz.


Deniz tersenyum senang. Dia menaikkan tubuhnya lagi. Hanya untuk menatap wajah Ayla dari dekat.


"Kamu suka?"


"Apanya?"


Deniz menyungging senyum jail. Ia mendekatkan wajah ke telinga Ayla dan berbisik di sana.


"..."


Kedua mata Ayla seketika saja membulat di sertai wajahnya yang langsung merah.


"Deniz!?" Teriak Ayla kesal sembari mendorong tubuh Deniz dari atasnya. Meski tidak berefek sedikit pun.


"Ha ha ha ha ha," Tawa Deniz yang berhasil menggoda Ayla.


"Iiihhhh! Sana pergi. Aku tidak akan memaafkanmu Deniz," Kesal Ayla merajuk.


Ayla menarik selimut membenamkan seluruh tubuhnya di sana. Dan tidak peduli panggilan bertubi Deniz.


"Baiklah, aku minta maaf ya! " Deniz merayu Ayla. Setelah beberapa panggilan ia memanggil Ayla. Ayla tidak merespon.


Deniz berusaha membuka selimut yang di ganjal Ayla dengan erat.


"Ayolah sayang, hm!" Rayu Deniz dengan kekehan jailnya yang tidak berhenti.


Ayla di dalam selimut semakin memperkuat cekalannya.


Deniz diam. Berhenti menarik selimut Ayla.


Ia kemudian memilih merebahkan tubuhnya di samping Ayla. Satu tangannya membelai lembut kepala Ayla dari luar selimut. Dan berucap.


"Terima kasih sayang! Terima kasih sudah ke sini dan Memaafkanku juga," Ungkap Deniz tulus. Ia kemudian membawa kedua tangan ke atas kepalanya sendiri dan menaruhnya di bawah kepalanya, pengganti bantal.


Dari dalam selimut. Ayla terdiam mendengarkan Deniz.


"Aku sempat takut dan cemas. Kamu tidak mempercayaiku dan juga, tidak memaafkanku," Deniz menatap langit langit kamar.


"Aku sempat berpikir untuk menculikmu. Membawamu jauh dari keluargamu. Hingga tiada jejak bagi mereka untuk mencarimu. Jika kamu tidak mempercayaiku dan tidak menerimaku, saat itu. Aku berpikir, aku akan hidup denganmu sampai menua. Tanpa peduli kamu tidak mau. Aku tidak akan peduli Beyza. Asal kamu ada di sisiku. Asal kamu ada bersama ku," Deniz menjeda ucapannya. Ia menoleh melihat Ayla di sampingnya yang masih dalam selimut.


"Aku sudah pernah kehilanganmu Beyza! Tidak, aku kehilanganmu. Hingga mau mati rasanya. Hingga aku tidak bisa merasakan lagi. Apa aku masih hidup atau aku sudah mati. Kehilanganmu... Aku tidak mau lagi Beyza. Aku tidak mau lagi,"


"Jadi," Deniz bangkit dan duduk dari rebahannya.


"Bisakah kamu berjanji padaku. Kalau kamu tidak akan kemana mana Beyza! Kamu akan selalu menjadi milikku. Bukan milik Reyyan. "


Ayla melebar kan matanya.


Deg.


Deg.


Deg.


Suara jantung Ayla yang tidak tenang.


Perlahan dari dalam selimut Ayla melihat Deniz.


'Apa dia sudah tahu? Perjanjian itu?'

__ADS_1


Ayla menggigit bibir bawahnya.


"Ayla Beyza?" Panggil Deniz lembut sekaligus lemah di suaranya.


Ayla memejamkan matanya.


'Bisakah dia tidak membahas hal itu di sini?'


"Kamu bilang waktumu untukku bukan?"


Deniz menarik tajam nafasnya. Ia merasakan Ayla tidak akan menjawabnya.


"Tentu saja,"


Ayla segera melepaskan selimut yang membaluti tubuhnya. Namun, tidak semuanya. Karna ia perlu menutupi tubuhnya yang tiada benang satu helai pun.


Beda dengan Deniz. Yang sudah memakai celana kerjanya tadi. Hanya tinggal dada Deniz yang bertelanjang.


"Kalau begitu kamu tidak boleh mengacaukannya Deniz,"


'Itu artinya kamu berniat meninggalkanku Ayla.'


Deniz menatap Ayla intens.


"Baiklah, apa yang mau istriku lakukan pada suaminya hari ini!" Ya, baiklah. Mari kita lupakan sebentar.


"Aku tidak mau keluar. Aku mau melakukan semua hal itu denganmu. Di tempat ini,"


Deniz mengangguk angguk mengerti. Deniz mencoba berpikir.


Dan ide jailnya pun kembali keluar.


"Di tempat ini... " Deniz menatap Ayla jail.


"De-deniz Ma- maksudku.. Kyaaa..." Jerit Ayla geli saat Deniz menggelitiknya.


"Ha ha ha Deniz lepasin!"


"Kamu mau main lagi eh!"


"Itu kamu," Teriak Ayla di tengah tawa gelinya.


"Kok aku curiga sayang!"


"Deniz lepasin, geli!"


"Geli! Benarkah! Hm?" Deniz naik ke tubuh Ayla sama sekali tidak membiarkan Ayla lepas dari jangkauan nya.


"Deniz Ha ha ha... Deniz jangan,"


Keduanya tertawa bahagia dan saling bercanda ria di atas ranjang yang berukuran king size tersebut.


Beberapa menit setelahnya.


Keduanya tidur terlentang dengan deru nafas. Seperti habis berlari berkilo kilo meter.


"Hah hah hah hah hah hah," Nafas keduanya di iringi dengan tawa kecil yang belum reda.


Deniz mempererat genggaman tangannya pada tangan Ayla.


"Terima kasih sayang! Aku bahagia, sangat bahagia," Deniz menoleh melihat Ayla di sampingnya.


Ayla ikut melihat Deniz.


"Kamu harus membayar ku. Semua tidak ada yang gratis Mr. S!" Ujar Ayla dengan senyumnya.

__ADS_1


Deniz menyungging senyum samping sebelum kemudian bangkit bangun dan dalam sekejab mata Ayla. Deniz sudah ada di atas Ayla.


"Deniz kau,"


"Aku suka melihatmu dari sini. Beyza,"


Kedua pipi Ayla seketika saja memerah.


Ayla mencubit kulit Deniz, yang seketika membuat Deniz menjerit sakit.


"Arghhh... Sakit... Shhh..."


"Rasain," Cibir Ayla sembari melihat ke samping. Ogah menatap Deniz yang mau lagi mengerjai nya.


Lagi lagi Deniz terkekeh.


"Mau lagi sayang! Aku masih sanggup nih!"


"Itu kamu!" Sentak Ayla mencoba mendorong tubuh Deniz.


Deniz yang tidak terima dengan jawaban Ayla sontak saja menyatukan alisnya.


"Serius? Hanya aku? "


"iiihhhh...Kamu ngeselin deh, sana minggir!"


Deniz terkekeh geli dan detik kemudian dia tersenyum keji.


"Ayolah sayang? Baru 2 ronde dan kamu tidak terlihat kelelahan."


Ayla melebarkan matanya.


"Deniz!" Jerit Ayla kesal. Ia mendorong tubuh deniz untuk menjauh dari tubuhnya namun sudah keduluan Deniz yang menangkap tangan Ayla.


"Jujur. Kamu mau lagikan?" Tatapan Deniz mengunci mata ayla.


Ayla mendecak kesal.


"Itu kamu,"


Deniz menyungging senyum samping.


"Kamu yakin ini aku?"


"Deniz! Aku mau ke kamar mandi, minggir sana!" Ronta Ayla melepaskan cekalan tangan Deniz.


"Dan apa kamu tahu di mana itu? Kamar mandi."


Ayla berhenti meronta. Mengedipkan kedua matanya menatap Deniz. Ia melihat ke sekeliling kamar.


Benar juga. Kenapa aku bisa lupa ya? Kalau aku sekarang berada di tempat deniz. Aku belum melihat lihat tempat tinggal Deniz. Salahku juga sih yang mau itu duluan.


"Kamu tinggal memberitahu ku... Arghhh," Jerit Ayla saat tubuhnya melayang dan sudah berada dalam gendongan Deniz.


Deniz tersenyum keji langsung melangkah ke kamar mandi menutup pintu dan tanpa aba aba langsung menyerang Ayla lagi.


Menghidupkan shower hingga keduanya basah. Deniz menikmati hal itu sedangkan Ayla. Mulutnya mengap mengap mencari udara sebelum Deniz kembali.


Suara ******* dan erangan keduanya. Memenuhi kamar mandi tersebut. Hingga beberapa jam berlalu. Keduanya bernafas naik turun di dalam bathtub.


"Arghhh..." Desah Deniz lega begitu punggungnya dia rebahkan ke belakang. Sedangkan di depannya ada Ayla yang duduk memunggunginya.


"Love you sayang!" Ucap Deniz memejamkan kedua matanya. Mereka tidak akan tidur di sini. Akan tetapi mereka akan mandi bersama setelah beristirahat sejenak lebih lebih Ayla.


Membayangkan itu. Membuat Deniz senyum senyum sendiri. Hal yang sudah lama ingin ia lakukan. Mandi dalam satu bathtub dengan Ayla.

__ADS_1


__ADS_2