Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Foto Bersama


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Devan sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Disusul mobil yang dibelakang yang ditumpangi Papa Rasyid juga Mami Mira. Devan segera turun dan memutari mobil dari arah depan. Dia membuka pintu bagian depan untuk membantu Nayra turun dari mobil.


"Hati-hati sayang." Devan memegangi kedua tangan Nayra saat istrinya itu turun dengan hati-hati.


Nayra tersenyum menatap Devan setelah berhasil turun dari mobil, "Terima kasih, sayang!!" ucap Nayra dengan lembut.


"You're welcome." tangan kanan Devan meraih tangan kiri Nayra dan ditautkan nya telapak tangan dan jari jemari tangan mereka.


Nayra tersenyum menatap rumah yang sudah beberapa hari tinggalkan. Dia sangat merindukan keceriaan di dalam rumah itu. "Aku merindukan mereka." gumam Nayra lirih dengan mata memerah


Devan mengangkat tangannya yang bertautan dengan tangan Nayra. Diciumnya telapak tangan Nayra dengan lembut.


"Mereka juga merindukan kamu."


"Ayo masuk dan jangan sedih seperti ini."


"Harus tersenyum karena sebentar lagi kamu akan melihat mereka yang kamu rindukan." ucap Devan dengan suara yang tenang dan lembut.


Nayra memiringkan kepalanya menatap Devan, dia mengangguk sambil tersenyum meski air matanya sempat jatuh walau hanya satu dua butir saja dan secepatnya dia hapus supaya tidak bertambah banyak.


"Ayo masuk, Ra.!!"


"Kenapa masih disini saja." tegur Mami Arumi yang berjalan di depannya bersama Papa Rasyid mendahuluinya masuk ke dalam rumah.


"Iya, Mi." jawab Nayra dan menarik pelan tangan Devan supaya berjalan mengikuti Papa dan Maminya.


"Welcome back home, Mama!!!"


Suara teriakan menyambut kedatangan Nayra yang sudah kembali ke rumah. Kedua anak kembarnya Kenan dan Kiara, Mama Arumi juga Dahlia dan Diana juga si kecil Eza berdiri menyambut kedatangannya di ruang keluarga. Mereka membuat sebuah dekor kecil yang ada tulisan "WELCOME BACK HOME MAMA NAYRA", "WE LOVE YOU"


Nayra menangis terharu mendapat kejutan seperti itu. Dia tidak pernah membayangkan saat pulang dari rumah sakit akan mendapat kejutan dari keluarga.


"Mama.." Kiara berhambur memeluk Mama Nayra yang sangat dia rindukan itu.


Nyara meringis saat kepala Kiara mengenai jahitannya, namun dia tetap berusaha tersenyum supaya putri satu-satunya itu tidak akan khawatir dan cemas pada dirinya.


"Kiara senang Mama akhirnya pulang ke rumah."


"Kiara bisa tidur lagi sama Mama juga Papa."


"Kiara juga bisa main dan belajar sama Mama." ucap Kiara dengan senyum cerianya mendongak menatap sang Mama dari bawah. Dia tidak bisa menutupi rasa bahagia yang tiada tara saat melihat Mamanya sudah ada di rumah lagi berkumpul dengan keluarga yang lainnya.


Nayra menangkup kedua pipi Kiara dan menatap manik mata putri kecilnya itu dari atas yang begitu mirip dengan suaminya, Devan.


"Mama juga senang akhirnya Mama pulang ke rumah dan bisa kumpul lagi bersama Kakak Kiara yang cantik dan juga yang lainnya." ucap Nayra dengan senyum merekah menatap Kiara juga yang lainnya.


Mata Nayra berhenti pada dua sosok bayi kecil nan mungil yang ada di gendongan Mama Arumi juga Miss Kimy. Matanya berkaca-kaca dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya menatap kedua malaikat kecil yang dia lahirkan beberapa hari yang lalu.


Nayra berjalan pelan ke arah dua sosok bayi kecil itu dan dia juga sempat berhenti sejenak di dekat putranya, Kenan dan memberi senyuman juga usapan lembut di rambut kepala Kenan.


Nayra akhirnya berdiri tepat diantara Mama Arumi juga Miss Kimy. Dia menatap dua bayi mungil itu bergantian. Diciumnya kening bayi laki-laki yang terlihat lelap dalam tidurnya itu bergantian.


"Boleh Nayra menggendongnya, Ma?" tanya Nayra yang ingin sekali menggendong kedua bayinya itu.


"Kenapa kamu harus izin dulu sih, Nay."


"Ini kan anak kamu, kalau mau gendong ya gendong saja."


"Kecuali kalau kamu izin menggendong Devan akan Mama larang keras kamu melakukan itu." celetuk Mama Arumi yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.


Nayra tersenyum kecil dan mengambil bayi yang Mama Arumi gendong. Dilihatnya wajah bayi mungil itu yang belum bisa dilihat mirip siapakan dia. Diciumnya kening, kedua pipi juga hidung si bayi dengan lembut.


"Akhirnya Mama bisa melihat dan menggendong kamu sayang." ucap Nayra dengan menoel-noel pipi si bayi yang sudah terlihat gembul.


"Pasti kamu kuat banget ya minum susunya." tanya Nayra dengan gemas karena pipi bayinya yang gembul dan menggemaskan.


Oekk Oekk


Bayi yang di gendong Miss Kimy menangis, si bayi yang tadinya tidur menangis dan mungkin dia iri dengan saudara yang sudah di gendong oleh Mama mereka tapi dia belum di gendong.


"Kelihatannya ada yang iri ini, Ra." ujar Mami Mira yang gemas melihat bayi yang digendong Miss Kimmy menangis.


"Sini..Biar Papanya saja yang gendong." Devan mendekat dan mengambil bayi yang Miss Kimy gendong dan masih saja menangis tidak mau berhenti membuat bayi yang Nayra gendong ikut menangis juga.


"Mereka semua iri, gak ada yang mau mengalah." kata Kiara.


"Sama seperti kamu, orangnya irian jaya papua." sahut Kenan dan berlalu pergi ke halaman belakang untuk kembali bermain.


"Ihh aku bukan orang seperti itu." teriak Kiara dan menyusul Kenan ke halaman belakang.


Mereka tertawa mendengar perkataan Kenan juga Kiara kecuali Nayra. Dia merasa kalau putri semata wayangnya itulah yang iri. Iri karena rasa kasih sayang yang dia dapat merasa terbagi dengan kehadiran adik bayi kembar.


"Kamu kenapa melamun Nay?" tanya Mama Arumi yang melihat Nayra hanya diam dengan tatapan kosong disaat yang lainnya tertawa dengan perkataan Kenan juga Kiara.


"Eh..nggak kok, Ma." Nayra memaksakan senyumnya dan duduk di sofa karena merasa perutnya sedikit sakit.


"ASI nya sudah keluarkan, Ra?"


"Kalau sudah keluar berikan mereka ASI untuk pertama kalinya." kata Mami Mira mengingat bayi kembar Nayra belum pernah merasakan ASI sebelumnya.


"Sudah sih, Mi. Tapi hanya sedikit, padahal sudah dikasih obat sama dokternya juga sudah dipijat juga.." kata Nayra yang memang ASI nya belum keluar banyak. Dipompa pun yang keluar tidak sampi satu mili. Bahkan Devan yang diajari suster cara memijat payu darapun masih saja tidak lancar keluar ASI nya padahal hampir tiap malam maupun pagi Devan melakukan pijat itu. Ya walau diselingi kelakuan Devan yang jail dan mesum.


"Nggak apa Nay. Coba kamu kasih ASI ke si kecil."

__ADS_1


"Siapa tahu nanti ASI nya justru keluar dan lancar." sahut Mama Arumi yang belajar dari pengalaman.


Dulu saat memberi ASI pada Devan juga seperti itu. ASI nya keluar sedikit dan sudah minum obat juga dipijat, namun tetap saja keluar sedikit ASI nya. Akhirnya Mama Arumi membiarkannya dan tetap memeberi Devan ASI secara langsung dan akhirnya keluar banyak juga.


"Iya, Ma. Nayra ke kamar dulu kalau begitu." pamit Nayra diikitu Devan.


Nayra langsung naik ke lantai dua sedangkan Devan berbelok memanggil si kembar yang sedang bermain trampoline.


"Prince!! Princess!!"


"Ayo ikut Papa ke kamar."


"Papa mau kasih lihat sesuatu sama kalian." kata Devan berusaha membujuk Kenan dan Kiara. Karena dia tahu Kiara memiliki jiwa kepo yang tinggi.


"Apa, Pa??" tanya Kiara yang langsung berlari mendekati Papanya. Dia penasaran apa yang akan Papanya itu kasih lhat pada dirinya.


"Ken!!" panggil Devan yang melihat Kenan masih asyik main berlompat-lompat di atas trampoline


"Iya..." dengan malas Kenan berjalan ke arah Papanya yang sedang menggendong dedek bayi yang terlihat masih merengek dan sesekali menangis itu.


"Ayo ikut Papa. Mama kalian punya hadiah buat kalian berdua."


"Tapi Papa minta kalian nanti pura-pura tidak tahu saja."


"Oke boy, girl!!!"


"Oke, Pa." jawab keduanya.


Mereka lantas bergegas ke kamar menyusul Nayra. Kenan juga Kiara penasaran, hadiah apa yang akan Mama Nayra berikan kepada mereka.


"Nanti bolehkan Kia sama Ken tidur bersama Mama sama Papa juga?"


Nayra yang tadinya sedang memberi ASI pada bayinya sambil mengajak bicara bayinya menoleh ke arah pintu kamar yang memang sengaja tidak dia tutup saat mendengar suara Kiara.


Nayra tersenyum saat melihat Kiara masuk ke kamar bersama Kenan juga Devan yang tengah menggedong bayi satunya lagi.


"Mama!!" pekik Kiara yang langsung naik ke atas ranjang dan mendudukkan diri di samping sang Mama.


"Nanti Kia sama Ken tidur disini yaaaa" ucap Kaira yang wajah memelas penuh permohonan semoga sang Mama yang sudah hampir dua minggu ini tinggal di rumah sakit.


Nayra tersenyum dan mengangguk, tangannya terulur mengelus kepala putrinya itu dengan lembut, "Iya sayang. Nanti kita tidur bareng disini."


"Horreee..Nanti kita tidur di kamar Mama ber-enam, tapi nanti tidurnya Ken di box bayi." Kiara menjulurkan lidahnya pada Kenan yang tampak tidak memperdulikan ejekan saudara perempuannya itu. Kenan asyik bermain game di handphone Papa Devan.


Kiara mendengkus kesal melihat Kenan yang tampak cuek saja itu. Dia melihat Mama Nayra yang tengah sibuk bergantian menyusui adik bayi yang satunya lagi. Matanya berkaca-kaca dan kembali mendekat pada Mama Nayra.


Nayra kaget tiba-tiba putrinya itu memeluknya dari samping sambil menangis lirih.


"Putri Mama kenapa ini menangis?"


Kiara menggelengkan kepalanya, dia menangis bukan karena Kenan telah berbuat jahat pada dirinya. Tapi, dirinya lah yang berbuat jahat pada kedua adiknya yang masih bayi.


Devan memutari ranjang dan naik ranjang di sisi Kiara.


"Kakak kenapa kok tiba-tiba menangis seperti itu?"


"Sini sama Papa!!"


Kiara kembali menggelengkan kepalanya. "Kia minta maaf." ucapnya lirih.


Nayra juga Devan saling pandang tidak paham dengan permintaan maaf putrinya itu. Memang putrinya itu salah apa, pikir Nayra juga Devan.


"Memangnya Kak Kiara salah apa kok minta maaf?"


"Terus kak Kiara meminta maafnya kesiapa?"


"Perasaan Mama, Kakak tidak memiliki salah apapun sama Mama." kata Nayra yang belum tahu maksud dari ucapan permintaan maaf dari putrinya itu.


"Maaf karena Kia sempat tidak menerima adik bayi."


"Kia marah sama mereka karena Mama tidak bangun-bangun." Nayra tersenyum dan merubah posisi bayi yang tengah di susuinya.


"Sini lebih dekat lagi sama Mama." Nayra melingkarkan tangan kirinya untuk memeluk Kiara dan tangan kanannya dia gunakan untuk memegangi bayinya yang tengah menyusu.


"Sudah, Kakak berhenti dulu nangisnya."


"Permintaan Maaf kakak sudah diterima Mama sama adik kembar."


"Dan Kiara tidak boleh marah dan menyalahkan adik kembar, karena Mama tidak bangun itu bukan karena kesalahannya adik kembar."


"Itu memang perjuangan setiap seorang Ibu untuk melahirkan seorang anak."


"Mama juga dulu seperti itu saat melahirkan Kak Kia juga Kak Ken."


"Mama juga sempat tidak bangun selama satu hari."


Kiara mendongak menatap Mama Nayra yang tengah menceritakan pengalaman dulu saat melahirkan dirinya juga Kenan. Meski belum paham, tapi Kiara cukup mengerti bagaimana kesakitannya orang melahirkan karena kemarin dirinya dikasih lihat sama Kenan vidio seorang ibu yang tengah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka. Dan vidio itu menggugah hati Kiara yang saat itu begitu tidak menerima kehadiran adik kembarnya langsung begitu antusis menyiapkan keperluan adik kembarnya, seperti baju yang nantinya akan dipakai setelah mandi dan aksesoris apa yang pas dengan warna baju yang dikenakan adiknya. Kiara juga yang menyampaikan ide untuk membuat kejutan buat sang Mama tercinta.


"Maafkan Kia ya Ma."


"Kia sudah sering berbuat nakal dan tidak menuruti Mama." ucap Kiara lirih mengingat kenakalannya dan sering tidak menurut jika diberi tahu sang Mama.


"Iya sayang, Mama sudah memaafkan semua kesalahan kakak meski kakak belum meminta maaf sama Mama." Freya tersenyum dan mencium kening Kiara.

__ADS_1


"Terima kasih Mama." Kiara memeluk Mama Nayra erat sambil melihat adiknya yang tengah asik menyusu.


"Ma, boleh tidak kalau Kiara memberi nama buat adik kembar?" izin Kiara menatap Mama Nayra juga Papa Devan bergantian.


"Iya, Ma..Boleh tidak?" Kenan ikut bergabung saat kembarannya itu membahas nama buat adik kembar.


"Memang kalian sudah ada ide untuk nama adik kembar?" tanya Devan,


"Sudah donk." jawab Kenan dan Kiara kompak.


"Siapa memangnya?" tanya Nayra penasaran. Pasti aneh-aneh namanya, pikirnya.


Kiara menoleh dan tersenyum pada kembarannya, Kenan. Kenan mengangguk dan tersenyum juga.


"Syakir sama Syahir." jawab Kiara


"Fahri sama Fathan." sahut Kenan


"Syakir Fahri Ayasi dan Syahir Fathan Ayasi." imbuh Kiara dan Kenan.


Nayra dan Devan tersenyum dan saling pandang.


"Namanya bagus sekali." puji Nayra membuat kedua anak berbeda jenis kela min itu tersenyum dengan bangganya.


"Kalian dapat ide nama itu dari siapa?" tanya Devan penasaran.


"Dari laci meja rias Mammmppphhhhh.." Kiara tidak bisa melanjutkan perkataannya saat mulutnya dibekap sama Kenan.


"Kenapa kamu bocorkan rahasianya?"


"Ketahuan kan." geram Kenan dan melepas tangannya yang membekap mulut Kiara.


Devan juga Nayra tertawa melihat itu. Pantas saja namanya sesuai yang mereka buat, ternyata kedua anaknya itu menjiplak nama yang sudah mereka buat sebelum hari lahiran tiba.


"Meskipun Kiara tidak jujur, Mama juga Papa pasti akan tahu kalau nama yang kita berikan akan sama dengan nama yang akan Mama dan Papa berikan."


"Pikir!!!"


Kenan mendengkus kesal mendapat ejekan dari Kiara, tapi apa yang dikatakan Kiara memang benar adanya. Karena mereka berdua memang menjiplak ide nama yang sudah dibuat Mama Nayra juga Papa Devan tanpa diedit sedikitpun.


"Adik yang digendong Papa namanya Syakir Fahri Ayasi, dipanggil Fahri."


"Terus adik yang masih menyusu sama Mama namanya Syahir Fathan Ayasi, dipanggil Fathan."


"Bolehkan Ma, Pa?" tanya Kiara meminta persetujuan.


"Boleh sayang." jawab Nayra tersenyum dan merebahkan Fathan di kasur.


"Sayang, letakkan disini, jangan digendong terus." Nayra menepuk tempat di sebelah Fathan supaya Devan merebahkan Fahri.


Kenan juga Kiara ikut merebahkan diri mereka masing-masing disamping kanan dan kiri Fathan juga Fahri.


"Tunggu sebentar, Papa akan ambil gambar kalian." Devan mengambil handphonenya yang tadi dipakai mainan sama Kenan.


"Oke!!" Devan puas dengan hasilnya.


"Bagus sayang." Devan memperlihatkan hasil gambar yang diambilnya pada Nayra.


"Ayo kita foto ber-enam." ajak Nayra.


Nayra merebahkan dirinya disamping Kenan dan Devan merebahkan dirinya disamping Kiara.


"Ayo kakak..fokus ke kameranya!!" seru Nayra karena Kiara asik menjawil pipi Fahri.


"Sudah siap semuanya??" tanya Devan yang memegang kamera handphone.


"Sudah!!" seru Kenan juga Kiara.


"Bilang cheers"


"Cheers"


Nayra tersenyum melihat kebahagiaan Devan dan keempat anaknya. Dia begitu senang akhirnya bisa berkumpul lagi bersama suami juga keempat anaknya.


Devan melihat Nayra yang tersenyum menatap dirimya juga anak-anak.


"Tutup mata Kenan."


"Ahh.." Nayra tidak paham maksud dari gerakan bibir Devan


"Tutup mata Kenan." Nayra mengikuti gerakan bibir Devan kemudian dia tersenyum, dia paham maksud dari suaminya itu.


Nayra menutup mata Kenan, begitupun Devan juga menutup mata Kiara. Devan mendekatkan tubuhnya pada Nayra begitupun Nayra melakukan hal yang sama. Bibir keduanya saling bertautan dan menyesap satu sama lain.


"Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan kepadaku." ucap Nayra dengan tulus.


"Terima kasih juga sudah mau menerima segala kekuranganku dan kesalahanku." Nayra tersenyum dan kembali mereka berciuman.


"Papa!! Mama!!! sudah belum ciumannya?"


"Nggak bisa nafas ini!" seru Kenan juga Kiara yang merasa engap karena selain mata mereka yang ditutup, tubuh mereka juga sebagian ikut ketindih badan Mama Nayra juga Papa Devan.


"Maaf!!" ucap Nayra dan Devan bersamaan sambil menahan tawa juga malu pada Kenan juga Kiara. Kalau dengan si bayi mereka tidak akan malu karena masih kecil dan belum bisa melihat dengan jelas.

__ADS_1


Percuma saja mereka berciuman sambil menutup mata Kenan juga Kiara kalau anaknya itu juga sudah sering melihat mereka berciuman secara live.


__ADS_2