
Linda memberontak berusaha keluar dari kungkungan suaminya, Romi. Tadi saat dia dikursi dia bisa mengelak walau harus menggigit terlebih dahulu bibir Romi, namun sekarang Romi menghempaskan tubuh nya di sofa dan mengunci pergerakannya.
"Ini di kantor, Romi. Tolong lepaskan aku!" pinta Linda yang berusaha mendorong tubuh Romi sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia.
"Kenapa? Apa kamu belum siap melakukannya?" tanya Romi menatap intens Linda yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Bukankah kamu sekarang istriku?"
"Dan tugas istri salah satunya memberi kepuasan suaminya di atas ranjang." kata Romi penuh penekanan di setiap kalimatnya. Dia sepertinya sudah kesal akan sikap yang Linda berikan padanya.
Sudah hampir seminggu mereka menikah namun tak ada kontak fisik apapun. Linda selalu menghindar jika Romi mendekatinya ataupun mengajaknya berbicara. Mereka juga tidak tidur sekamar.
"Tapi ini di sofa kalau kamu ingat, Romi." ucap Linda tegas,mengingatkan posisi mereka ada dimana.
"Aku ingat dan aku tahu kalau ini sofa dan bukan ranjang." balas Romi
"Dan aku gak peduli dimana pun tempatnya dan kapan pun aku mau, kamu harus bersedia melayaniku." Romi mendekatkan wajahnya ke wajah Linda.
"Kami pikir aku pela cur yang mau diajak begituan dimana pun tempatnya, hah!" bentak Linda tepat didepan wajah Romi.
"Kau..!" Romi memegang dagu Linda dengan jari jempol dan jari telunjuk, menekannya kuat hingga membuat Linda kesakitan.
"Kau akan tahu akibatnya jika berani membentak suami sendiri." desis Romi.
"Hmmpphh..." Romi membungkam bibir Linda kembali dengan bibirnya. Dia gak akan membiarkan Linda menggigit bibir nya lagi seperti tadi.
Linda memberontak memukul-mukul dada Romi supaya menghentikan ciuman itu. Ini memang bukan ciuman pertamanya, dia juga pernah seperti ini sebelumnya bersama Romi saat mereka pacaran dulu. Romi selalu memperlakukannya lembut tidak seperti sekarang.
Romi melepaskan ciumannya saat melihat Linda mengeluarkan air mata. Diusapnya air mata yang mengalir di pelipis Linda namun dengan kasar Linda menyingkirkan tangan Romi.
"Aku bisa sendiri." sentak Linda. Dia bangun dan menghapus air matanya kasar.
"Permisi." pamit Linda melangkah keluar dari ruangan Romi.
Namun Romi menarik pelan tangan Linda membuat Linda menghentikan langkahnya.
Romi berdiri dihadapan Linda. Dia menatap Linda yang terlihat membuang mukanya yang tak ingin melihat wajah Romi.
"Perbaiki dulu penampilanmu baru keluar.' kata Romi lembut dan memperbaiki rambut juga baju dan blazer yang Linda kenakan. Linda diam saja membiarkan Romi memperbaiki penampilannya.
"Aku minta maaf." ucap Romi lirih disela dia memperbaiki penampilan istrinya.
Linda diam tak menyahuti ucapan Romi, dia masih kesal dan marah sama Romi. Dia kesal karena Romi menciumnya paksa dan marah karena Romi menikahinya disaat dia belum memaafkan kesalahan Romi waktu dulu.
"Sudah." kata Romi setelah melihat penampilan istrinya jauh lebih baik dari tadi walau bibir Linda terlihat sedikit bengkak.
__ADS_1
Linda pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
Romi menghela nafas panjang melihat sikap Linda.
"Sampai kapan kamu seperti ini Lin?"
"Haruskah aku membangunkan orang yang telah tiada untuk menjelaskan semuanya padamu.?"
"Kalau aku mampu sudah dari dulu aku melakukan itu."
Romi mengusap wajahnya kasar. Dia segera keluar dari ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Romi!!"
Romi menghentikan langkahnya saat Devan memanggilnya.
"Ehmmm..."
"Mana laporan yang ku minta tadi siang sebelum istirahat?" tanya Devan yang saat ini berdiri di depan meja kerja Linda.
"Ambil saja di ruangan ku."
"Aku ada kerjaan dengan Paman." jawab Romi lantas berlalu begitu saja.
"Suami mu kenapa?" tanya Devan pada Linda.
"Saya gak tahu bos." jawab Linda bohong. Padahal dia tahu kalau Romi kesal pada dirinya yang selalu menghindar ataupun menolak jika berdekatan ataupun bersentuhan dengan Romi.
"Makanya dikasih jatah tiap hari biar suasana hatinya senang." kata Devan setengah menyindir pengantin baru itu. Dia lantas pergi ke ruangan Romi untuk mengambil laporan yang dia minta.
"Sebenarnya yang bosnya disini siapa sih. Kenapa aku sendiri yang mengambil berkas laporan yang aku minta." gerutu Devan setelah mengambil berkas laporan dari ruangan Romi.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Nayra yang masih berada di ruangan suaminya.
"Nggak apa. Hanya kesal saja punya asisten bukannya memberi laporan kepada bosnya justru bosnya diminta ambil sendiri laporannya." jawab Devan dengan kesal.
Nayra tertawa mendengar itu. "Sesekali gak apa kan sayang." timpal Nayra sambil mengecek hasil keuangan restorannya yang di kelola Ilyas.
Ya, Nayra memiliki beberapa bisnis restoran yang dia kembangkan bersama Ilyas dulu waktu dia pergi dari Devan.
"Oh ya, Sayang." Nayra berdiri dan berjalan menuju meja kerja suaminya dan duduk di kursi depan meja kerja suaminya.
"Bagaimana kalau aku buka cabang restoran lagi di Jakarta?" tanya Nyara menatap Di Devan dengan mata genitnya.
"Boleh saja, tapi aku gak mau kamu yang turun tangan sendiri." kata Devan tegas, yang matanya fokus membaca laporan yang Romi kerjakan.
__ADS_1
"Bukan aku nanti yang turun tangan. Kak Ilyas nanti yang bakal turun tangan." jawab Nayra cepat dengan senyum mengembang dibibirnya.
Devan yang mendengar nama Ilyas keluar dari mulut manis Nayra langsung menatap tajam istrinya itu.
"Kenapa harus dia? Apa gak ada orang lain lagi yang bisa kamu percaya?" tanya Devan dengan nada sedikit ngegas.
"Kamu kenapa sih Dev? Tiap kali dengar nama Kak Ilyas selalu marah nggak jelas."
"Kamu masih cemburu sama Kak Ilyas?" tanya Nayra kesal.
Kenapa tiap kali menyebut nama kak Ilyas harus berantem, batin Nayra.
"Siapa juga yang cemburu, aku gak cemburu." kilah Devan dan kembali fokus pada berkas laporan tadi. Dia menggenggam erat bolpoin yang dia pegang untuk melampiaskan rasa kesal dan cemburunya.
Ya, Devan sampai saat ini masih saja cemburu jika berkaitan dengan Ilyas. Ilyas memang tidak kaya, tapi Iluas dulu sempat menjadi calonnya Nyara dan si kembar yang begitu lengket jika ketemu Ilyas.
Nayra menghembuskan nafas lelah. Kenapa sih suaminya ini kalau cemburu gak mau ngaku tapi marah-marah gak jelas.
"Kamu gak usah cemburu. Kak Ilyas sebentar lagi akan melamar kekasihnya." terang Nayra.
"Aku gak cemburu." sahut Devan cepat.
"Iya-iya suamiku ini gak cemburu." timpal Nayra sambil mengulum senyum. Lucu juga kalau Devan cemburu, persis seperti anak kecil yang merajuk.
Nayra berdiri dan berjalan mendekat ke suaminya.
"Aku suka lihat kamu seperti ini." ucap Nayra lirih tepat ditelinga suaminya sambil memeluk leher Devan dari belakang.
"Aku jadi ingin membuat mu seperti ini tiap hari." celetuk Nayra yang membayangkan Devan marah-marah gak jelas karena cemburu.
"Apa kamu bilang?" Devan yang geram menarik pelan tangan Nayra dan mendudukkannya dipangkuannya.
"Apa?" tanya Nayra balik sambil melingkarkan tangannya di leher Devan.
"Coba kamu ulangi kata-kata mu tadi, aku pengen dengar." kata Devan
"Yang mana? Aku suka lihat suamiku cemburu?" tanya Nayra dan mendapat gelengan dari Devan.
Nayra tersenyum dan menatap suaminya dengan tatapan menggoda.
"Membuat cemburu kamu tiap hari."
"Kalau kamu bisa."
"Astaqfirullahalazim." teriak Romi saat melihat bos nya itu berciuman di atas kursi
__ADS_1