Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Mengutamakan kenyamanan istri


__ADS_3

Terlihat di ruang keluarga di sebuah apartemen mewah yang begitu berantakan dan banyaknya mainan anak yang berserakan. Dari mainan anak laki-laki maupun mainan anak perempuan. Padahal saat ini hari masih pagi.


Terlihat dua anak berbeda jenis kela min saling berebut mainan dan terkadang kejar-kejaran dan saling mengejek.


Terkadang juga saling memukul dan saling melempar mainan.


Pukkk


Bola basket yang di lempar melayang dan tepat mengenai punggung seorang pria dewasa yang sedang sibuk menerima telepon.


"Uppssss..." seru anak perempuan menutup mulutnya yang menganga kaget. Pasti Papa bakal marah, pikirnya.


Dia mulai ketakutan. Dia melirik saudara kembarnya yang terlihat juga kaget tapi tidak begitu takut.


Dia mundur pelan dan mendekat ke saudara kembarnya saat pria dewasa itu berbalik badan menatap kedua bocah yang telah memakai seragam sekolah tapi sudah terlihat lecek karena main kejar-kejaran. Padahal mereka belum berangkat sekolah.


"Langsung saja kirim ke e-mail saya." ucap pria itu lalu memutus sambungan telepon dan memasukkannya ke kantong kemejanya.


Dia mengambil bola yang tadi mengenai punggungnya dan berjalan mendekat ke dua anak yang terlihat menunduk ketakutan itu.


"Ini bola siapa?" tanyanya pada kedua anak itu, padahal dia tahu persis siapa pemilik bola itu.


Anak laki-laki itu mengacungkan tangannya. "Punya Kenan, Pa." jawabnya lirih namun masih menundukkan kepalanya tak berani menatap sang Papa.


"Terus siapa yang melempar bola tadi?" tanyanya lagi karena dia tidak tahu siapa yang melempar bola tadi.


Anak perempuan itu terlihat menautkan kedua jamarinya dengan erat. Dan bahunya sudah mulai bergetar.


"Kenapa ini..?" tanya sang Mama yang baru saja keluar dari kamar melihat suaminya memegang bola dan berdiri di hadapan kedua anaknya yang menunduk seperti sedang memberi hukuman.


Huwaaaaa.....


Tangis anak perempuan itu langsung pecah saat mendengar suara Mamanya. Dia berlari ke arah sang Mama dan memeluk pinggang Mamanya erat.


"Kenapa sayang? Kenapa menangis?" tanyanya heran kenapa putrinya ini tiba-tiba menangis. Sedikit menunduk melihat putrinya yang menyembunyikan wajahnya di perut sang Mama.


"Kenapa?" tanyanya lagi sambil membenahi ikat rambut putrinya yang terlihat berantakan. Padahal tadi dia sudah mengingatnya kencang dan rapi.


Namun yang dia dapat hanya gelengan kepala dari putrinya itu.


"Kenapa sih Dev?" tanya pada suaminya.


"Aku gak tahu. Aku tadi cuma tanya siapa yang melempar bola tapi gak ada yang jawab justru Kiara yang nangis." jawab Devan apa adanya.


"Kia kenapa menangis? Apa Kia tadi yang melempar bola?" Kiara mengangguk di perut Mamanya, wajahnya masih dia sembunyikan, dia masih takut melihat Papanya. Takut dimarahi.

__ADS_1


Nayra menatap Devan. Dia meminta Devan untuk membujuk putrinya ini. Mengingat pagi sudah makin tinggi mataharinya.


Devan meletakkan bola dan mengusap kepala dan pipi putranya pelan, "Papa gak marah, prince." ucap Devan sebelum berjalan mendekati putrinya yang masih menangis di pelukan Mamanya itu.


Devan berjongkok. "Hai girl..Princess nya Papa kenapa menangis. Hmm?" tanya Devan pada putrinya itu sambil mengelus kepalanya.


"Papa gak marah kok sama Kia. Papa tadi hanya tanya saja siapa yang melempar bola. Bukan berarti Papa akan memarahi siapa orang yang melempar bola."


"Sudah sini sama Papa.." Devan mencoba melepas tangan Kiara yang memeluk Mamanya itu tapi sang putri memegang erat baju Mamanya.


"Kiara pengen Papa marah apa nggak nih.." Devan memberi sedikit ancaman pada putrinya itu.


Kiara menggelengkan kepalanya. "Nggak.." ucapnya lirih.


"Kalau nggak, sini peluk Papa." Devan merentangkan tangannya sambil tersenyum.


Kiara melirik Papanya itu dan mendongak melihat Mamanya yang mengangguk dan tersenyum.


Kiara melepas pelukan dari pinggang Mamanya dan menatap Papanya takut. Tapi melihat Papanya yang tersenyum hangat padanya membuat dia memberanikan diri memeluk Papanya.


"Maafin Kiala, Papah.." ucapnya lirih di pelukan Papanya.


"Iya sayang, Papa maafin." Diciumnya kepala putrinya itu dan langsung digendongnya saat dia beranjak berdiri.


"Seragamnya masih ada kan?" tanyanya pada Nayra dan diangguki Nayra.


Nayra meminta Miss Kimy untuk menyiapkan bekal buat sarapan si kembar di mobil. Kemudian dia menyusul Devan ke kamar.


"Anak Papa sama Mama sudah ganteng sama cantik lagi." puji Devan dan mencium pipi kedua anaknya bergantian.


Begitupun Nayra juga tak mau kalah. Dia juga mencium pipi kedua anaknya itu dengan gemas.


Akhirnya mereka berangkat menuju sekolah si kembar sambil memakan bekal sarapan mereka.


"Belajar yang rajin ya sayang, gak boleh nakal sama teman dan...."


"Patuhi guru." sahut Kenan dan Kiara cepat karena mereka begitu hafal akan pesan yang Mamanya berikan setiap mau masuk sekolah.


Nayra tertawa kecil. "Anak pintar.." Nayra mengusap kedua pipi anaknya.


"Ken masuk dulu ya Ma, Pa." pamit Kenan dan menyalami Mama Papanya.


"Kiala juga Ma." pamit Kiara dan menyalami Mama Papanya seperti yang Kenan lakukan.


"Tunggu Ken.." teriak Kiara pada kembarannya yang sudah berjalan duluan. Di ikuti Miss Kimy yang memang selalu menemani mereka.

__ADS_1


"Assalamualaikum." teriak keduanya membalikkan badan menatap kedua orang tuanya sambil melambaikan tangannya.


"Walaikumsalam" balas Devan dan Nayra.


Mereka masuk kembali ke mobil yang di kemudikan Romi.


"Kita jadi lihat rumahnya, Dev?" tanya Nayra saat mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang.


"Iya..Tadi Romi sudah menghubungi pihak yang punya." jawab Devan yang terlihat sibuk dengan laptopnya.


Nayra hanya mengangguk saja. Dia gak mau mengganggu Devan saat bekerja.


Nayra menatap sekeliling jalan saat mobil memasuki kawasan perumahan elit. Kalau dilihat dari jarak tempuhnya dari sekolah si kembar sampai perumahan ini tidak sampai 20 menit saat jalannya ramai lancar, pikir Nayra.


"Ayo turun.." Devan membuyarkan lamunan Nayra.


"Kita sudah sampai?" tanyanya, Devan mengangguk.


Mereka disambut sama pemilik rumah yang umurnya masih terlihat muda, saat di tanya ternyata dia anak dari pemilik rumah. Orang tuanya tidak bisa menemui mereka, katanya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


Rumah itu terdiri dari dua lantai. Garasi mobil nya muat sekitar empat mobil. Rumah model minimalis yang terlihat mewah. Saat masuk kedalam pun disambut ruang tamu yang begitu luas dan terdapat taman kecilnya.


Masuk kedalam lagi ada ruang keluarga yang luasnya dua kali lipat dari ruang tamu dan terdapat lampu gantung kristal.


Meja makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga membuat kesan hangat saat berkumpul keluarga. Juga adanya dapur bersih yang terlihat begitu minimalis dan tertata rapi. Dan terdapat dua kamar di lantai satu.


Dilantai dua yang ada empat kamar dan ruangan yang bisa di buat santai yang cukup luas. Dan adanya balkon belakang yang bisa melihat pemandangan belakang rumah. Di bawahnya ada kolam renang dan vertikal garden juga ada gazebo di pinggir kolam. Juga ada taman kecil untuk bermain anak-anak.


"Bagaimana sayang?" tanya Devan setelah melihat keseluruhan rumah.


"Bagus." jawab Nayra pendek.


"Itu saja?" Devan merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan Nayra.


"Ya memang bagus. Minimalis. Aku suka." kata Nayra.


"Jadi kamu mau yang ini?" tanya Devan lagi


"Boleh lihat yang lain dulu nggak?" tawar Nayra untuk bisa menentukan mana yang menurutnya cocok.


Akhirnya mereka melihat rumah yang kedua dengan gaya modern. Nayra tidak suka,menurutnya rumahnya terlalu besar dan terlihat begitu mewah. Dan Nayra gak suka seperti itu. Dia lebih suka yang simpel dan elegan tapi terkesan mewah.


Dan dirumah ke tiga dengan gaya modern klasik. Nayra suka dengan interior didalamnya tapi jarak dari sekolah si kembar hampir satu jam lebih dan itu gak mungkin.


Jadi keputusan jatuh di rumah nomor satu. Meski awalnya Devan menolak karena rumahnya terlalu simpel akhirnya dia menyetujui saat melihat istrinya mau merajuk. Padahal Devan mengincar rumah nomor dua. Mau gimana lagi,karena istrinya lah yang nantinya akan tinggal lama dirumah dari pada dia yang hampir seharian di kantor dan cuma malam hari saja di rumah. Jadi Devan lebih memilih mengutamakan kenyamanan istrinya dari pada kesukaan dia.

__ADS_1


Bukankah istri itu akan jadi ibu negara kalau sudah di dalam rumah...


__ADS_2