
Nayra sudah di pindahkan dari ICU ke kamar rawat VIP setelah bangun dari tidur panjangnya selama seminggu terakhir ini. Dia terbangun saat mendengar keluhan Kiara yang mengatakan kalau putrinya itu begitu membenci adik kembarnya yang baru lahir yang telah membuatnya sang Mama tidak kunjung bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Nayra termenung sendiri seperti ada yang dipikirkannya.
Nayra terlihat masih diam bisu menatap langit-langit kamar dan sepertinya dia tidak mendengar atau bahkan tidak sadar kalau Devan sudah duduk di kursi samping tempatnya berbaring.
Hufftttt
Devan menghembuskan nafas perlahan, dia tahu pasti istrinya itu kepikiran perkataan Kiara yang secara terang-terangan mengatakan kalau dirinya membenci adik kembarnya yang hampir merenggut nyawa Mama mereka. Diambilnya tangan Nayra yang tidak terpasang jarum infus dan di genggam serta dielus nya lembut. Devan menyunggingkan senyum tipisnya saat Nayra meresponnya.
"Kenapa?" tanya Devan menatap lekat Nayra.
Nayra menggeleng pelan dengan memaksakan diri untuk tersenyum. "Nggak apa."
Menggunakan tangan satunya lagi, Devan mengusap lembut pipi Nayra. "Tidurlah, ini sudah jam sepuluh lebih. Tapi besok pas subuh kamu harus bangun!!! Jangan tidur terus dan justru membuat ku khawatir lagi, atau_"
Devan menatap marah pada Nayra, "Kamu tidak aku izinkan tidur sekalian kalau kamu berniat untuk tidur tapi tidak untuk bangun lagi."
Nayra tersenyum kecil mendengar ancaman dari suaminya itu. Apalagi ancaman-ancaman aneh dan tak masuk akal Devan yang dikatakannya saat mengajak dirinya bicara kemarin saat belum sadar. Nayra bisa mendengarkan apa saja yang Devan katakan ataupun keluarga yang lain. Namun untuk membuka matanya saja ataupun untuk sekedar menggerakkan jarinya saja dia tidak mampu. Dan tanpa di sangka kedatangan kedua anak kembarnya Kenan juga Kiara langsung membangunkan dirinya meski dirinya begitu sedih.
"Kenapa kamu tersenyum? hemm.." Devan pura-pura marah pada istrinya itu dengan menjembel pelan pipi Nayra yang sudah tidak chubby lagi seperti saat hamil kemarin.
"Sakit Dev!!" Nayra pura-pura merajuk dan cemberut sambil mengusap pipinya.
"Sakit banget ya? Sini aku cium dulu biar sembuh." Devan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayra dan Cup, dikecupnya pipi istrinya itu yang tadi dia jembel.
Nayra tersenyum dengan apa yang baru saja Devan lakukan pada dirinya. Dengan posisi yang masih sama, Devan membisikkan sesuatu pada Nayra yang mampu membuat Nayra menangis dalam senyumnya.
"Terima kasih sayang!! Terima kasih sudah mau bangun dari tidur panjang mu."
"Terima kasih sudah mau berkorban untuk hamil dan melahirkan anak-anak kita."
"Terima kasih untuk pengorbanan kamu."
"Maafkan aku yang dulu."
"Sekarang aku janji akan selalu ada buat kamu di saat susah maupun senang."
"Dan sudah cukup empat anak saja."
"Aku nggak mau membuat kamu nantinya seperti ini lagi."
"Aku benar-benar takut kehilangan kamu kemarin."
"Aku takut nggak bisa lihat kamu lagi."
"Tapi Alhamdulillah akhirnya kamu bangun lagi sayang."
"Terima kasih sayang."
"Terima kasih." Devan mencium lama kening Nayra.
Nayra memejamkan matanya merasakan kasih sayang yang Devan berikan kepadanya benar benar tulus.
"Kenapa harus menangis segala sih?" tanya Devan setelah mencium kening Nayra dan sekarang menghapus air mata yang jatuh membasahi pelipis juga sebagian pipi Nayra.
"Kamu juga." kata Nayra yang menangkup kedua pipi Devan dan juga menghapus air mata Devan yang jatuh tadi saat mencium keningnya.
__ADS_1
Devan tersenyum menatap Nayra dari jarak begitu dekat, "Je t'aime davantage." bisik Devan.
Nayra tersenyum mendengarkan itu, "Kamu bisa bahasa Prancis?" tanya Nayra.
"Sayang kamu ini ya!!" Devan gemas pada istrinya.
"Bukannya membalas tapi justru bertanya yang tidak penting."
"Gagal kan romantisnya." Devan merajuk dan kembali menegakkan duduknya.
Nayra terkekeh melihat suaminya yang merajuk, mirip seperti Kiara. "Kan aku cuma bertanya sayang, jangan marah gitu dong." bujuk Nayra.
"Siapa juga yang marah." kilah Devan namun tidak menatap Nayra justru menatap keluar kaca jendela yang begitu gelap.
"Kamu...Kamu marahkan sama aku."
"Buktinya itu kamu bicara tidak mau melihat aku." ujar Nayra.
"Ya sudah kalau begitu. Aku mau tidur lagi dan tidak mau bangun la_."
"Bicara apa kamu tadi." sergah Devan dengan nada tinggi sambil menatap tajam pada Nayra.
"Sekali lagi kamu bicara seperti itu aku tidak segan membawa mu lompat dari gedung rumah sakit ini." imbuh Devan.
"Maaf!!" cicit Nayra pelan. Dia takut kalau Devan sudah mengancam seperti itu.
"Sudah tidak apa."
"Ayo kita tidur." Devan naik ke brankar Nayra dan berbaring di samping Nayra dengan posisi miring
"Sempit, bagaimana kalau aku nanti jatuh." tanya Nayra.
"Sudahkan." Devan kembali berbaring.
"Kita tidak akan jatuh." kata Devan
Dia mengangkat kepala Nayra dan meletakkan lengan kirinya dibawah kepala Nayra. Di ciumnya kembali kening Nayra. "Sudah ayo tidur." ajak Devan.
"Je t'aime plus aussi." ucap Nayra tiba-tiba dan mencium pipi kiri Devan.
Devan tersenyum melihat Nayra yang malu-malu menyembunyikan wajahnya di balik ketiaknya. "Nggak bau apa sembunyi disitu?" tanya Devan menunduk melihat Nayra.
Nayra mengangkat perlahan wajah dan menatap Devan yang juga sedang menatapnya. "Je t'aime plus aussi." ulang Nayra setengah berbisik.
"I know.."
Nayra memejamkan matanya saat Devan mencium lembut bibirnya.
"I miss you, Ra." ucap Devan setelah mencium bibir Nayra yang sudah tidak pucat lagi itu.
"I too."
Devan kembali mencium bibir Nayra lebih intens lagi namun lembut. Tidak ada hasrat di cumbuan kali ini, hanya menyalurkan rasa cinta, rasa sayang, rasa rindu yang menggebu setelah satu minggu tidak bisa mendengar dan melihat Nayra tersenyum dan tertawa.
"Terima kasih sayang."
"Tidurlah."
__ADS_1
Devan memeluk Nayra dalam tidurnya begitupun Nayra yang sudah bisa memiringkan tubuhnya juga memeluk Devan kembali.
...............
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Kenan yang masuk ke kamar Kiara dan melihat Kiara duduk di ranjang sambil memeluk boneka panda kesukaannya.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur juga?" tanya Kiara balik.
"Ishhh nggak usah naik ke ranjang aku, Ken." usir Kiara saat Kenan naik ke ranjangnya. Namun Kenan tidak peduli dan tetap naik ikut selonjoran di ranjang Kiara.
"Nyebelin." Kiara melempar boneka pandanya pada Kenan. Kenan mah cuek saja.
"Kamu masih marah sama adik kembar?" tanya Kenan setelah melihat Kiara diam saja.
"Kamu tahu nggak?"
"Mama tadi nangis saat kamu bilang membenci adi kembar."
"Adik kembar itu nggak salah, Ki."
"Mama sakit dan tidak bangun dari tidurnya itu bukan karena salah adik kembar."
"Tapi karena melahirkan adik buat kita."
"Adik yang kamu tanyakan setiap hari kapan keluarnya."
"Kapan hadirnya di tengah-tengah kita."
"Tapi adik yang membuat Mama tidak bangun dari tidurnya,Ken." sergah Kiara.
"Tapikan Mama juga sudah bangun sekarang, Ki."
"Apa kamu masih tetap membenci adik kembar?" tanya Kenan.
Kiara hanya diam saja tidak menjawab.
"Kalau kamu masih tetap seperti ini yang ada Mama akan menjadi sedih dan merasa bersalah, Ki"
"Kasihan Mama yang capek-capek hamil selama berbulan-bulan dan setelah lahir kamu membenci adik bayi yang baru saja Mama lahirkan."
"Apa kamu nggak kasihan sama Mama, Ki?"
"Apa kamu nggak kasihan juga sama adik kita yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa itu kamu salahkan."
Kiara masih diam saja tidak membalas ataupun memyahuti lagi ucapan Kenan.
"Kamu sudah besar dan sebentar lagi juga masuk SD."
"Seharusnya kamu sudah tahu itu.,"
Kenan mengakhiri ucapan panjang lebarnya dan segera turun dari ranjang Kiara.
"Selamat malam! Cepat tidur." ucap Kenan sebelum pergi dari kamar Kiara.
"Maafkan Kiara, Ma."
🍁🍁🍁
__ADS_1
Big hug