
Sinar matahari pagi yang sudah mulai meninggi, hingga sinarnya menembus tirai kamar di mana deniz dan ayla yang sedang terlelap di atas ranjang berukuran king size tersebut.
Kemarin. pas jam 18:00 waktu swiss. mereka terbangun, dimana mereka berada di kamar hotel yang di sewa mendadak oleh deniz. keduanya bersiap siap mandi lalu segera pulang ke venthouse deniz, sampai di sana sudah maghrib mereka memutuskan shalat dulu lalu setelahnya deniz yang memasak dan ayla yang menyantap nikmat setelahnya keduanya memilih menonton tv di ruang sofa hingga lagi lagi keduanya berakhir panas di sofa dan berlanjut ke dalam kamar dengan suara geraman deniz hingga desahan keduanya memenuhi venthouse tersebut tanpa deniz menutupi pintu kamar mereka, lalu mereka kelelahan sampai ketiduran.
Deniz mengerjap kan matanya beberapa kali saat telinganya menangkap suara ayla yang sepertinya dia sedang tidak baik baik saja. tubuhnya sontak terduduk membalik menata ke arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
Deniz segera turun dari ranjang, memakai celana dalam dengan cepat lalu melangkah ke kamar mandi nyaris seperti dia mau lari.
"sayang?...kamu baik baik saja?! ". dengan wajah panik dan cemas deniz mendekat ke ayla yang sedang berjongkok di closet.
Ayla sedang muntah muntah dan kehadiran deniz bukannya mengurangi dirinya muntah muntah tapi malah semakin bertambah seperti sesuatu di dalam perutnya yang terus di kocok kocok.
"kamu...". sambil menunjuk deniz ayla menutup hidungnya.
Deniz menanti nanti ucapan ayla dan baginya jangan sampai hal apa yang ia pikirkan adalah...
"jangan dekat dekat, aku benci baumu, keluar dari sini, kamu membuatku mual terus tahu enggak? ". teriak ayla di ujung kalimat.
Benar. yaitu...waktu di mana seorang wanita hamil akan merasa mual dan muntah muntah jika melihat suatu hal yang tidak di sukainya dan bagi ayla adalah... dirinya. hal yang tidak pernah mau ia bayangkan.
"beyza...?". deniz mencoba tenang. mendekat ke ayla namun sontak saja ayla lagi lagi seperti tadi saat deniz pertama masuk ke kamar mandi mendekati dirinya, ayla menjauhkan dirinya dari deniz.
"pokoknya kamu keluar dan menjauh dariku dengan jarak 2 meter! atau aku akan menghajarmu". ancam ayla marah.
Deniz menyapu rambutnya kebelakang dengan kasar.
"baiklah! 2 meter...?". deniz bertanya meyakinkan ayla.
Ayla mengangguk mantap.
Deniz berdecak kesal. ia mau marah tapi ia tidak bisa marah. ia kesal namun untuk siapa? beyza yang begitu tentu dari bawaan anak mereka yang sedang berada dalam kandungan beyza jadi mau tidak mau ia hanya bisa menerima dan menghadapi tapi...kenapa baru sekarang? setaunya, beyza dari awal hamil sampai kemarin tidak pernah sekalipun mual atau muntah lalu...hm, anaknya yang sedang mempermainkannya.
"lapar? ".
Dengan lugu ayla melihat ke perutnya, yang berarti dia lapar.
"baiklah, aku akan mandi dulu setelahnya menyiapkan sarapan...". mata deniz melihat ke arah pintu kamar mandi di mana ayla berdiri di sana.
Ayla menjauh dengan hidungnya yang masih dia tutupi dengan bathrobenya bagian lengan ke hidungnya.
__ADS_1
Deniz melangkah keluar tepat di samping ayla dengan jarak 1 meter dia berhenti.
"sayang? tidak tertarik dengan olahraga pagi? baik untuk kesehatan jantung lho? ".
Mendengar kalimat deniz ayla mengernyit tidak mengerti sebelum sedetik kemudian dia di serang rasa mual. ayla dengan cepat berlari ke closet dan mengeluarkan isi perutnya di sana, setelah mencerna maksud dari ucapan deniz.
"sayang? ". deniz nyaris berteriak karna panik. ia tidak tahu kalau reaksi ayla akan benar benar sehisteris itu.
"menjauh dariku deniz se-ka-rang?! ". teriak ayla marah dengan wajahnya yang memerah menatap deniz setelah dia mengelap mulutnya membalik badan menatap deniz murka.
Deniz mengangkat kedua tangannya.
"aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menderita tadi...tadi aku hanya mau memancing saja...". deniz menghentikan ucapannya menatap ayla. dia menghela nafas.
"baiklah...jujur beyza? aku...aku tidak bisa jauh jauh darimu, aku...aku selalu merindukanmu,aku...".
"deniz? aku hanya memintamu menjauh dariku 2 meter bukan menyuruhmu pergi dari hidupku! kamu bisa mendengar ucapan orang tidak sih?! ".
"tapi itu seperti kamu meminta ku menjauh darimu beyza?! ".
"bagiku jarak 1 meter saja sudah sangat jauh, apalagi 2?". ujar deniz nyaris berteriak.
"aku begini karna kamu juga tahu?...aku sedang mengandung anakmu deniz, kamu salahin aku?! ".
"itulah yang membuatku gila sekarang! ".
Ayla mendengus sinis.
"kamu menyalahi anak kita?! ".
"itu tidak mungkin beyza? aku hanya...". deniz terdiam.
Ayla menatap deniz kesal menunggu ucapan deniz selanjutnya.
Deniz terduduk di sisi bathtub dengan kedua jari tangannya terpaut.
"kamu tahu? ini sangat mendadak untukku, kemarin kita masih bisa ber ciuman, berpelukan, kamu bermanja manja dan...baru 2 hari kita bersama setelah beberapa minggu tidak melihatmu...ini...terlalu mengejutkanku! ".
__ADS_1
Kekesalan ayla seketika menghilang mendengar ucapan deniz namun tetap saja untuk sekarang ia tidak mau dekat dekat dengan deniz apalagi mencium bau pria ini. padahal ia tahu, deniz selalu memakai parfum aroma kesukaanya dan bau tubuh deniz selalu ia sukai dan rindukan.
"...maafkan aku! ". hanya kata itu yang keluar dari mulut ayla.
Deniz menggeleng, mendongak menatap ayla istrinya dan tersenyum manis yang memperlihatkan semakin tampannya dia.
"tidak sayang? kamu tidak salah jadi tidak perlu minta maaf hanya saja...aku harus bisa menyesuaikan diri! ah...kamu tahu? aku punya teman dan dia...pernah ngalamin seperti hal ini, dia menceritakan pada kami, aku dan altan. saat itu dengan entengnya aku menasehati dia kalau dia harus bisa hadapi, karna yang menghamilinya juga kamu...ha ha ha". deniz tertawa sendiri ketika mengingat kalimatnya itu yang ternyata sekarang berbalik kepadanya sendiri.
Deniz menatap ayla.
"ternyata...ini sulit!... ".
Keduanya saling menatap hingga manik mata keduanya bertemu, manik mata ayla yang berwarna biru beradu dengan manik mata deniz yang sangat unik abu abu yang hampir keperakan.
Ayla memutuskan pandangan mereka menunduk menatap ke bawah.
Deniz tersenyum lalu bangkit berdiri melangkah ke pintu kamar mandi.
"baiklah, mandilah! aku akan mandi di kamar satu lagi! setelah selesai keluar lah dan kita sarapan sama sama meski...jarak 2 meter". senyum tipis deniz lalu menutup pintu kamar mandi.
Ayla memegang jantungnya, yang berdetak tak beraturan, padahal! hanya senyumnya...salah...hanya ucapannya...tidak salah...hanya...hanya tatapannya.
Ayla menggeleng keras. menepis semua pikiran yang sudah berhasil deniz ukir di dalam otaknya dan bisa membuatnya makin menggila ke pria itu.
Tatapan mata ayla jatuh ke perutnya. mengelusnya lalu melangkah dan berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut sambil mengelus perut nya ayla menatap dirinya di cermin terutama perutnya.
"apa itu normal?... apa...mommynya juga pernah begini? dan...apa yang di katakan daddynya saat itu? marah? itu tidak mungkin lalu... ". mata ayla melebar bulat saat satu pikiran kotor terlintas di otaknya.
"mereka tidak akan jajan di luar bukan? ". Menggertakkan gigi. ayla membalik badan melihat ke pintu kamar mandi di mana dari pintu itu tadi di lewati suami tampannya.
Untuk deniz. tidak perlu dia rayu wanita untuk mendekatinya. melihat saja maka wanita akan rela jatuh kepelukannya.
"pria itu tidak akan mencari selir bukan? !".
__ADS_1