Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Bab 85


__ADS_3

"aku tidak tahu dia di panggil ceyda, yang aku tahu namanya alana dan aku memanggilnya lana".



"hm? ". gumam ayla yang artinya minta di lanjutkan.



"kamu..tah eh...kakak ipar tidak tahu? kalau aku lulus high school sebelum masa lulus, aku hanya duduk 1 setengah tahun, langsung loncat kelas 3 dan ke universitas XX saat itu karna mendapat undangan dari paman dion menghadiri sebuah acara dan juga menyampaikan beberapa kata sambutan di sana lalu...saat mau kembali...beberapa senior di sana menghalangi kami jadi kami layani mentraktir mereka, karna mereka pikir kami akan masuk ke universitas tersebut lalu...saat itu alana lewat. ternyata dia...di sukai banyak mahasiwa di sana namun, semua dia tolak...".



"jadi kamu tertantang mau mencoba menaklukkannya? ".



Farez menggeleng cepat.



"senior di sana menyukai alana tapi alana menolak mereka karna sakit hati...mereka meminta Al-farez mendekati alana". sahut si pria yang memakai kaca mata.



"dan bocah ini menerima? ". ayla bertanya ke si kaca mata yang bernama Muhib tersebut sedangkan satu lagi dion.



"hei, aku bukan anak kecil lagi...aghhh? ". teriak farez tidak terima namun kembalikan mendapatkan daratan sepatu shot ayla.



"diam kamu, lanjutkan! ". perintah ayla ke farez.



Dengan bibir menggerucut layaknya anak kecil farez melanjutkan ucapannya.



"awalnya aku tidak tertarik lagian bagiku dia bukan tipeku lagian juga...aku takut sama ab rey? mana mau tapi...mereka menantangku sebagai laki laki tentu saja aku tertantang, mereka membuat taruhan, jadi aku terima".



"farez? kamu tidak kekurangan uang untuk menerima taruhan orang, tidak ada alasan".



"itu bukan uang". sahut dion.



"lalu...?".



"balapan mobil yang saat itu mau di adakan, jadi salah satu senior di sana masuk dalam pertandingan jadi...mereka menawari farez ke sana dengan akan berbaris di barisan terdepan. senior di sana ketua dari klup balapan mobil tersebut kakak tahu? hobi farez ikut balapan mobil dan itu juga salah satu alasan Al ke sana, mau nonton pertandingan tersebut namun siapa sangka dia malah di tawari jadi pemain, tentu saja Al tidak bisa menolak". sambung muhib.



Ayla menatap farez tajam sedangkan yang di tatap memilih menunduk ke bawah.



"lanjutkan, kenapa diam".



"itu...beberapa bulan aku meminta sama paman dion yang saat itu rektor di sana izin untuk ikut kelas yang sama dengan alana dan paman mengizinkan jadi...aku tidak perlu menjelaskan ini lagi kan? ".



"reyyan tahu? kamu ikut balapan mobil lalu...taruhan itu? ".



Farez mengangguk.



"ikut balapan tentu tahu, aku memberitahunya dan dia setuju katanya itu kelelakian dan pantas untuk taruhan...dia tidak tahu".



"kamu menjalin hubungan dengan ceyd...ah alana? reyyan tahu? ".



Feraz menggeleng.



"tentu saja aku sangat berhati hati, awalnya...".

__ADS_1



Ayla menyatukan alisnya.



"apa maksudmu? ".



"pria itu menyuruh asistennya mengawasiku dan aku ketahuan dan apalagi? dana ku di cabut". kedua temannya terkekeh geli.



"seharusnya kamu berhenti bukan dan minta maaf tapi kamu...".



"aku sudah mengaku salah pada pria itu dan akan kembali menjadi patuh tapi kakak ipar tahu sendiri sikap dia, sekali salah maka tetap salah jadinya...dia memberiku hukuman itu, tidak memberi uang dan menyuruhku menamatkan study di sana sampai selesai dengan uang hasil kerja sendiri, dia pria brengsek". umpat farez geram.



"kamu sih tidak bisa mengendalikan nafsumu, pakai masuk ke hotel".



Feraz membulatkan matanya dengan ucapan muhib, yang bagi pria itu kata kata sepintas tapi...



"apa maksudmu...masuk hotel? tidak bisa mengendalikan nafsu...? ". tanya ayla ke muhib.



Dion dan feraz tentu saja gelagapan sedangkan muhib masih dengan sikap tenangnya.



Feraz mencubit paha muhib untuk diam.



"cupu aku bertanya padamu dan abaikan bocah ini, jawab aku". suara dingin ayla menatap muhib mengintimidasi.



Dan entah kenapa deniz jadi ikut tertarik untuk mendengar.




Kedua mata ayla sontak saja melebar sedangkan deniz masih dengan sikap tenangnya berdiri di tempat yang sama dengan posisi yang masih sama.



"bocah ini...". ayla menggeram lalu melangkah dan memukul mukul kepala lalu punggung farez karna farez menunduk dengan tas kecil tentengnya, yang bermerek chanel tersebut.



"kamu sudah melakukan zina di umurmu yang masih muda? dan juga menipu wanita? kamu memang pantas di pukul...".



"aghhh...sakit kakak? dengarkan aku dulu? aghh...sakit...aghhh". farez terus meringis karna pukulan ayla yang tidak berhenti.



Deniz hanya menatap dengan senyum manis terpatri di wajahnya.



"tahan saja istriku sedang hamil". suara bas dari arah pintu membuat kedua teman farez yang tadinya tidak fokus melihat deniz namun kini melihat jelas.



Di sela sela pukulan ayla, farez melihat ke depan dan matanya sontak saja membulat.



"dia? ". ujarnya nyaris hampir berteriak.



Ayla menghentikan pukulannya membalik melihat deniz, yang di balas senyuman manis oleh deniz.



"oh, dia suami wanita yang sudah kamu bawa ke hotel...tunggu, kamu...hanya membawa masuk saja bukan? tidak mengapa ngapain ceyda di dalam sana? ". pertanyaan ayla sontak saja membuat dion dan muhib mau tertawa.



"tidak ngapa ngapain apa? malam itu jadi malam pertama mereka khu khu khu". keduanya tertawa.

__ADS_1



Ayla membulatkan matanya begitu juga dengan farez yang membulatkan matanya karna ngeri karna sebentar lagi. dia akan di pukuli oleh wanita ini lagi.



Ayla membalik menatap deniz dengan raut wajahnya yang memprihatinkan.



"oh ayolah sayang, aku tidak semenderita itu! kecuali satu hal...aku yakin kamu tidak mau mendengarnya di sini". ujar deniz dengan senyum jailnya.



"kamu tidak bisa melakukan itu farez? sebelum kamu menikahi wanita itu? ". ucap ayla frustrasi nyaris hampir berteriak.



"mereka sudah di nikahkan? bahkan sebelum dari hari itu". sahut dion yang sontak membuat ayla menatapnya.



"apa maksudmu?! ".



"iya? farez dan alana sudah di nikahkan oleh mama dan papa alana saat tahu...Al adik dari ab rey, siapa yang tidak tahu ab rey kak? ".



"jadi...". ayla menatap farez.



Farez tersenyum kemenangan karna merasa tidak akan di pukuli lagi.



"kami halal, melakukan di manapun".



Plak...



Ayla memukul kepalanya.



"kamu mau begitu saja di nikahkan? tanpa mama dan papamu tahu? ".



"itu pernikahan terpaksa karna seminggu lagi saat itu mau pertandingan jadinya...aku tidak bosa menolak lagian...jika aku tidak menikah dengan putri mereka aku tidak boleh dekat dekat alana apalagi menjalin hubungan jadi enggak ada cara".



"hanya untuk pertandingan? ".



Farez mengangguk.



"lalu...jika pernikahan terpaksa...kenapa kamu membawanya ke hotel? kenapa menyentuhnya bocah?! ". teriak ayla di ujung kalimat.



Farez mengedip ngedipkan matanya bingung harus jawab bagaimana. iya sih, bagian itu. ia bersalah.



"anggap saja laki laki dan wanita tidak boleh berdekatan".



Jawaban farez membuat ayla terdiam.








__ADS_1



__ADS_2