
"Kamu mau kembali sekarang, Dev?" tanya Mama Arumi yang melihat Devan menuruni anak tangga sudah berpakaian rapi dan sudah terlihat fresh tidak seperti tadi saat baru datang.
"Iya, Ma. Devan sudah terlalu lama meninggalkan Nayra sendirian di rumah sakit." jawab Devan setelah sudah berada di dekat Mama Arumi.
"Kamu belum makan loh tadi."
"Mama juga baru selesai masaknya." ujar Mama Arumi.
"Mama bungkus saja,nanti Devan makan di sana." kata Devan
"Kenapa buru-buru? Nayra kan di temani Papanya."
"Memangnya kamu nggak mau nemuin Kenan dulu?"
"Sebentar lagi dia juga akan sampai."
"Sudah di jemput tadi sama supir." Mama Arumi mencoba menahan Devan untuk tetap di rumah dulu.
Dia merasa kasian pada kedua cucu kembarnya, Kenan dan Kiara yang merindukan Papa dan Mamanya. Berhubung Devan pulang ke rumah, Mama Arumi tidak mau mensia-siakan kesempatan ini untuk mengurangi rasa rindu ke dua cucu nya pada Papa mereka.
Devan terlihat menimbang-nimbang waktu lagi. Sudah dua jam lebih dia meninggalkan Nayra sendirian di rumah sakit meski ada Papa Rasyid di sana yang menggantikannya. Tapi dia begitu tidak nyaman jika harus lebih lama lagi meninggalkan Nayra sendirian di rumah sakit dan di sisi lain kedua anak kembarnya Kenan juga Kiara merindukan kehadiran orang tuanya.
"Baiklah, Ma."
"Devan akan menunggu Kenan." Akhirnya Devan memilih untuk menemui putranya dulu sebelum kembali menemani Nayra.
Dia kembali naik ke atas menuju kamar Kiara yang sudah mulai tenang setelah diajak berdoa sama Mami Mira. Dilihatnya Kiara yang duduk di ranjang sambil memeluk boneka panda miliknya.
"Princess nya Papa nggak tidur siang ini?" tanya Devan setelah mendudukkan dirinya di tepi ranjang Kiara.
Kiara hanya melirik dan menggelengkan kepala pelan. Wajahnya masih tertekuk sedih.
"Kenapa??" Devan mengangkat tubuh kecil Kiara dibawanya ke pangkuannya.
"Bukannya tadi Kiara sudah berdoa kepada Allah untuk Mama?" tanya Devan sambil mengusap wajah kecil putrinya.
"Kiara mau ketemu Mama."
"Boleh ya, Pa!!!" Kiara menatap Papanya dengan tampang memelas.
Dia begitu merindukan Mamanya. Dia sudah terbiasa dengan Mama Nayra dari kecil. Jadi membuatnya sakit jika tidak bisa bertemu Mamanya.
"Pa!!!!" rengek Kiara yang melihat Papanya justru diam dengan tatapan kosong.
"Boleh ya Kiara ketemu Mama."
"Kiara janji Kiara nggak akan membuat keributan disana."
"Kiara hanya ingin melihat juga memeluk Mama." Kaira melengkungkan bibirnya ke bawah juga matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kenan juga, Pa!!"
__ADS_1
Devan menoleh melihat Kenan yang berjalan ke arahnya juga Kiara.
"Kenan juga mau melihat Mama." imbuh Kenan dengan wajah datar namun matanya memancarkan kerinduan akan sosok Mama nya.
Devan mengambil nafas dalam sebelum akhirnya mengiyakan keinginan kakak kembar.
"Terima kasih Papa."
Devan menyunggingkan senyum tipis saat Kenan dan Kiara memeluknya erat.
"Kiara sama Kenan nanti kalau disana nggak boleh teriak-teriak, dan nggak boleh berisik."
"Nanti mengganggu Mama juga pasien yang lain kalau kalian nggak bisa diam." pesan Mama Arumi pada Kenan juga Kiara sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Iya Nenek." balas Kenan dan Kiara bersamaan.
Mereka ke rumah sakit bersama Mami Mira juga untuk membantu mengawasi kakak kembar.
"Kenapa mereka dibawa kesini?" tanya Papa Rasyid saat melihat Kenan juga Kiara ikut ke rumah sakit. Dia menatap tajam pada Kenan dan Kiara bukan karena marah, tapi takut kalau mereka nanti bakal membuat keributan kalau tahu kondisi Mama mereka seperti apa.
Kenan dan Kiara yang takut di tatap seperti itu sama Opa nya langsung bersembunyi di belakang tubuh Papa mereka. Mereka tahu seperti apa kalau Opanya itu sedang marah.
"Nggak apa Pa. Mereka kangen sama Mama nya. Biarkan mereka bertemu walau sebentar saja." ujar Devan saat melihat kedua anak kembarnya ketakutan.
"Iya, Mas. Siapa tahu kehadiran mereka nantinya bisa membuat Nayra cepat sadar dari tidurnya." timpal Mami Mira yang juga tidak tega melihat si kembar yang ketakutan saat melihat Opa nya.
Papa Rasyid mengangguk dan membiarkan Devan dan kedua anak kembarnya Kenan juga Kiara masuk ke ICU.
Kenan sendiri sudah berada di samping brankar Mamanya dan sudah memegang tangan sang Mama dalam diam. Dia melihat wajah Mamanya yang terlihat lebih tirus dari sebelumnya.
"Cepat bangun, Ma. Kasihan Papa sama adik-adik."
"Kenan masih terlalu kecil bila harus merawat mereka."
"Karena Kenan sendiri juga masih membutuhkan Mama." batin Kenan menangis melihat kondisi Mamanya.
Devan yang melihat Kiara menangis dalam diam sontak membawanya ke gendongannya dan dibawanya lebih mendekat pada Nayra. Didudukkan nya Kiara di samping Nayra.
"Sekarang princess nya Papa nggak boleh nangis lagi."
"Kan sudah ketemu sama Mama." kata Devan sambil memghapus air kata yang jatuh membasahi pipi Kiara.
"Bukannya tadi Kiara ingin memeluk Mama?" Kiara mengangguk pelan.
"Peluklah Mama Nayra, dan bisikkan kata semangat untuk Mama biar Mama cepat kembali berkumpul dengan kita juga adik kembar." pinta Devan dengan menyunggingkan senyumnya.
Dia sendiri mencoba untuk tidak menangis di depan kedua anak kembarnya itu padahal matanya sudah memanas perih.
Kiara mengangguk dan berbaring di samping Mama Nayra untuk memeluk Mama nya itu.
Devan mengusap kepala Kenan yang diam saja sedari tadi. Dia tidak tahu apa yang putranya itu pikirkan. Karena Kenan kalau sudah dalam mode diam dengan tatapan dingin, Devan sudah tidak mengenali Kenan lagi. Hanya Nayra yang paham akan Kenan kalau sudah seperti ini.
__ADS_1
Kenan menoleh menatap Devan, "Kenapa, Pa?" tanya nya.
"Kamu nggak mau peluk Mama?" tanya Devan melirik Kiara yang sudah memeluk Mamanya sambil menangis itu.
Kenan mengangguk sekali dan Devan membantu Kenan naik ke brankar di samping Nayra sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri ada Kiara.
Devan memalingkan wajahnya saat kedua anaknya itu mengatakan sesuatu ke Mamanya. Dia tidak sanggup untuk tidak meneteskan air matanya. Namun, apa yang dikatakan kedua anaknya itu membuatnya menangis dalam diam. Entah kenapa dia begitu lemah saat ini. Begitu tak berdaya jika memang kehilangan Nayra.
"Baru setahun aku dan Nayra kembali bersama."
"Haruskah aku kembali kehilangan dia?"
"Bagaimana nanti dengan anak-anak kalau aku sendiri begitu lemah tak berdaya akan keterpurukan yang ku derita saat ini." batin Devan mengangis membayangkan jika Nayra benar pergi meninggalkan nya juga anak-anak untuk selamanya.
Devan menoleh dan melihat kedua anaknya yang masih memeluk Mama mereka dengan saling berbisik di telinga Mama mereka.
Devan menajamkam penglihatannya saat matanya tidak sengaja melihat butiran air mata jatuh dari ujung mata Nayra yang membasahi pelipis.
"Sayang!!!"
"Sayang!!!"
"Kamu dengar apa yang anak-anak katakan?" pekik Devan heboh sendiri sambil mengusap kepala Nayra.
Kenan dan Kiara bangun dan melihat Mama mereka menangis.
"Pa!!! Mama kenapa, Pa?" tanya Kenan yang kaget karena pekikan Papa nya.
"Apa Mama sudah bangun, Pa?" tanya Kiara sambil memegang tangan Mamanya.
Devan menatap ke dua anaknya bergantian sambil tersenyum tipis, "Mama mendengar apa yang kalian katakan."
"Berarti Mama akan bangun dong,Pa.?" Devan mengangguki pertanyaan Kiara.
Kiara yang senang langsung menutup mulutnya untuk tidak berteriak. Dia menangis dalam senyumnya, dia tidak sabar untuk melihat Mamanya membuka matanya.
"Kenapa nggak dipanggilkan Dokter saja, Pa? Biar cepat diperiksa dan tahu keadaan Mama sekarang." tanya Kenan dengan wajah tenangnya menatap Papanya yang menangis bahagia itu.
"Benar sayang!! kalian temani Mama kalian dulu, Papa mau panggil Dokter." ujar Devan yang langsung berlari keluar ICU untuk memanggil Dokter.
Kenan menepuk keningnya pusing, "Kemana perginya kepintaran yang Papa miliki?" gumam Kenan melihat Papanya pergi memanggil Dokter.
"Kenapa memangnya?" tanya Kiara menatap Kenan heran.
Kenan berdiri pelan-pelan dan memencet tombol yang ada di atas tempat Mamanya berbaring.
"Tinggal pencet ini saja kenapa juga harus berlari kekuar untuk mencari Dokter." ujar Kenan dengan gaya cool nya.
Kiara menertawakan kepintaran Papanya yang tiba-tiba hilang di saat perasaan bahagia membuncah di hatinya.
"Anak Mama memang pintar."
__ADS_1
"Mama!!!!"