
"apa maksudmu...?". ayla menoleh mendogak menatap deniz tidak mengerti.
Deniz ikut menatap ayla balik sesaat sebelum dia menunduk lalu melepaskan pelukannya dari ayla setelah menyelimuti ayla dengan baik lalu dia melangkah sedikit jauh dari ayla berdiri.
Ayla menatap itu dengan bingung, ia pun menggerakkan langkahnya mengikuti deniz.
Deniz duduk di rerumputan di sana sembari matanya menatap ke depan, melihat pemandangan di depannya.
Ayla ikut duduk di samping deniz lalu menoleh menatap deniz. menunggu jawaban deniz.
"beyza? 13 tahun lalu, di malam ke 3 terakhir kencan kita, bukanlah akhir dariku mengejarmu beyza? tapi...di malam itu, adalah malam awal semua di mulai untuk mendapatkanmu, cintamu dan hidupmu...". deniz menjeda ucapannya ingatannya terbayang ke 13 tahun lalu di mana ia memutuskan untuk mendapatkan ayla, membebaskan ayla dari belenggu yang mengikatnya dan ingin membawa bersamanya.
"cita cita seorang pemuda yang masih duduk di bangku kelas 2 high school yaitu mendapatkan cintamu, jika saat itu ada orang yang bertanya apa cita citaku, maka aku akan menjawab dengan bangga, mendapatkan cintamu, mendapatkanmu itulah keinginanku beyza? 13 tahun, setelah kejadian hari itu...aku tidak pernah menyerah dengan cintaku beyza? dan tidak pernah sekalipun aku melupakanmu, tidak pernah! aku selalu meminta kepada allah di setiap doaku setelah selesai shalat untuk memberikanmu untukku, aku tidak mau apapun di dunia ini, aku meminta kepadanya! aku hanya mau kamu, apapun itu akan aku lalui asal kamu di berikan untukku... ". deniz menghentikan ucapannya menggeleng frustasi sedangkan air matanya sudah berlinang di pelupuk matanya dan ia sama sekali tidak mau melihat ayla, karna takut ayla akan mengatakannya cengeng seperti anak kecil tapi itulah kenyataannya, ia sering menangis jika tentang ayla.
Deg...
Ayla menatap deniz memerhatikan deniz, mencari kebohongan di setiap gerakan tubuh deniz.
"deniz...?". panggil ayla dengan suara pelan.
"ketika aku mendengar kamu menghilang di hari pernikahanmu maka di hari itu aku berpikir, allah mengabulkan permintaanku dan tinggal aku yang harus berusaha untuk mendapatkanmu!...aku lalui semuanya beyza? aku berusaha untuk memantapkan hidupku, supaya bisa pantas bersanding denganmu dan bisa menghidupimu dengan layak, sambil di sisi lain aku mencarimu dengan beberapa bantuan teman, sekalipun koneksiku tidak sebaik pria itu...tunanganmu".
"apa...maksudmu...?". ayla bertanya tidak mengerti.
Deniz menatap ayla setelah air matanya tadi sudah menghilang dan ia sama sekali tidak terlihat habis menahan tangis.
"tunggu...aku kabur di hari itu, tidak ada yang tahu, semua berita di cekal oleh dua keluarga dan tidak ada yang berani untuk membuka suara, kamu...dari mana kamu tahu? ".
Deniz tersenyum tipis.
"di dalam rumahmu tanpa kamu tahu, ada seorang pelayan pria dan dia orangku, sampai sekarang dia masih di sana bekerja untuk keluargamu".
Ayla membulatkan matanya.
"sejak kapan itu? ".
"sebenarnya dia sudah bekerja jauh sebelum kita bertemu, jauh sebelum aku ke sini saat melanjutkan studyku".
Ayla menyatukan alisnya.
"dia...temanmu? ".
Deniz menggeleng.
"lalu?! ". ayla menyatukan alisnya.
"seseorang yang pernah aku tolong dan dia membalas ku, dengan memberikan semua informasi tentangmu, semuanya".
"sejak kapan itu terjadi tidak, di mulainya kapan? ".
"2 tahun setelah malam terakhir kencan kita".
__ADS_1
Mata ayla sontak membulat.
"sudah 11 tahun?".
Deniz mengangguk.
"semua...dia katakan padamu? termasuk kemana aku pergi? ".
Deniz lagi lagi mengangguk. kemudian ia terkekeh geli saat mengingat sesuatu.
Dan firasat ayla mengatakan itu tidak baik baik saja.
"ada apa itu? kamu mencurigakan".
"dia tidak bisa memberikan informasi mu saat kamu di dalam rumah karna tugasnya hanya di bagian luar rumah jadinya dia memacari salah satu pelayan wanita yang bekerja di dalam rumah dan aku selalu mendapatkan semua tentangmu dari kekasihnya pria itu".
"siapa namanya...? keduanya? ".
Deniz menggeleng.
"aku tidak bisa memberitahu namanya sekarang tapi nanti, setelah semua beres beyza aku akan kasih tahu dan memperkenalkan mereka padamu, mereka sangat setia padaku, maaf".
Ayla menggertakkan giginya menggeram.
"apa contohnya informasi itu".
Kedua mata ayla sontak saja melebar.
"termasuk aku di kamar? ".
"terkecuali di situ katanya di sana bukan tugasnya, tapi dia mengambil gambar pintu kamarmu, tidak buruk juga".
"wah wah wah...kamu membenciku karna aku menguntitmu dan lihat siapa yang jadi penguntit cabul? ".
Deniz terkekeh.
"itu aku tidak tahu kalau itu adalah kamu, seandainya aku tahu, dari awal sungguh sangat ingin aku mempermainkanmu dan tanpa di minta kakek aku akan langsung menikahimu dengan berbagai cara yang akan aku atur".
"benarkah? ". ayla bertanya untuk canda.
Deniz mengangguk mantap.
"wahhhhh...seharusnya aku memperkenalkan diriku padamu dari awal ya? dan mari kita lihat setelahnya". canda ayla lalu ia terkekeh geli.
Deniz diam menatap ayla.
"maaf beyza? untuk malam pertamamu...". deniz menghentikan ucapannya menatap ayla.
Begitu juga dengan ayla yang menatap deniz. ia sama sekali tidak mau mengingat malam itu, malam...yang sangat sadis untuknya.
__ADS_1
Ayla sontak bangkit berdiri berbalik melangkah ke mobil.
Deniz ikut bangkit mengejar langkah ayla lalu meraih pergelangan tangan ayla menyentaknya hingga ayla jatuh kepelukannya dan ia memeluknya dengan sangat erat.
"deniz lepaskan". geram ayla marah.
"maaf, aku minta maaf! aku tahu sulit untukmu melupakan begitu juga denganku beyza? aku benar benar menyesal, aku sangat menyesal beyza, maafkan aku! ".
Air mata ayla sudah mengalir membasahi pipinya, ia memejamkan matanya. ia sudah melupakan malam itu tidak mencoba untuk melupakan tapi deniz..
"aku membencimu deniz?... ".
"aku tahu".
"kamu membuatku mengingat kembali"
"dan aku harus beyza...? itu juga menyakitkan bagiku tapi aku harus!". deniz ikut menangis mendengar sesakan tangis beyza dan itu sangat menyakitkan baginya.
Ayla menarik nafasnya di sela sesakan tangisnya.
"kapan kamu tahu aku? ".
"di pagi hari, di malam itu".
Ucapan deniz sontak membuat tangis ayla berhenti dan ia mendongak menatap deniz.
'apa maksudnya...?'.
"deniz...? ".
Deniz mengangkat kedua tangannya menghapus air mata di pipi ayla dengan sangat lembut.
"maafkan aku, maafkan aku menyakitimu! aku benar benar tidak tahu itu kamu... ". air mata deniz semakin mengalir. ia menatap ayla dengan hatinya yang sangat sakit. ia benar benar bersalah dan menyesal. malam itu seharusnya menjadi malam yang terindah untuk mereka tapi apa yang sudah ia lakukan.
Ayla sama sekali tidak peduli dengan deniz yang menangis, yang ia peduli sekarang ucapan deniz tadi.
"deniz...?". ayla memanggil deniz untuk deniz mengulang kembali ucapannya tadi.
Deniz menatap ke dalam manit mata ayla.
"saat pagi itu...aku terbangun lebih awal darimu beyza? aku... ".
Flashback...
__ADS_1