
Devan menuruni anak tangga sambil menatap sekeliling rumah mencari seseorang. Namun yang dicarinya dari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
Devan mempercepat langkahnya saat melihat Mama Arumi yang baru saja keluar dari dapur. Mungkin yang dicarinya ada di sana.
"Mama, lihat Rara?" tanya Devan sambil berjalan mendekat ke Mama Arumi.
"Emang kamu kemana tadi dicari gak ada?" tanya Mama Arumi balik.
"Tadi Devan nge-gym di paviliun belakang." jawab Devan
"Rara dimana, Ma? si kembar juga gak ada." tanya Devan saat tak melihat keberadaan istri dan anaknya.
"Nayra tadi mengajak Papa kamu untuk mancing ikan sama si kembar juga." jawab Mama Arumi meletakkan mangkuk buah potong di atas meja makan dan menarik kursi untuk dia duduki
"Mancing ikan?" tanya Devan memastikan lagi, pasalnya istrinya itu tidak suka sesuatu yang membosankan seperti itu. Menunggu ikan makan umpannya dan ketangkap. Dan itu sangat lama dan membosankan.
"Iya, di empangnya Mang Jali." jawab Mama Arumi sambil mengunyah buah yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Di empang?" Devan terkejut mendengar jawaban Mama Arumi.
"Mang Jali tukang kebunnya Mama?" tanya Devan lagi.
Mama Arumi mengangguk saja karena di mulutnya masih mengunyah buah.
"Nayra sama anak-anak tadi sudah makan, Ma?" tanya Devan sambil mencomot buah di mangkuk punya Mama Arumi.
"Belum, tapi tadi Nayra membawa bekal buat mereka makan di sana." jawab Mama Arumi.
"Ya sudah, Ma. Devan mau nyusul Nayra." pamit Devan.
"Memang kamu sudah tahu rumahnya?" Devan menghentikan niatnya untuk melangkahkan kakinya saat mendapat pertanyaan dari Mama Arumi. Iya yah, dia kan gak tahu alamatnya.
Devan menoleh, "Mama tahu alamatnya?" tanya Devan balik.
"Mama nggak tahu." jawab Mama Arumi cuek dan kembali memasukkan buah ke dalam mulutnya.
Devan memutar bola malas. Dikiranya Mama Arumi tahu nyatanya tidak.
"Terus siapa yang tahu?" tanya Devan kembali mencomot buah dan dimasukkannya ke mulut.
"Tanya saja sama satpam, tahu dia." jawab Mama Arumi.
"Ya sudah, Devan pergi dulu. Assalamualaikum." pamit Devan dan langsung berlalu keluar rumah.
"Walaikumsalam."
"Mau kemana Bos?" tanya Romi yang baru saja sampai di rumah Mama Arumi bersama Linda.
"Kebetulan. Aku lupa gak bawa kunci."
"Ayo ikut aku ke empangnya Mang Jali." ajak Devan setengah memaksa pada Romi.
"Ehhhh....Aku kesini mau minta makan sama Bibi Arum kenapa kamu ajak aku pergi." protes Romi yang tak ingin diajak ke empang.
"Ngapain juga sih seorang Devandra Ayasi yang suka kebersihan main ke empang?" tanya Romi yang heran akan sepupu sekaligus bosnya itu.
"Nayra sekarang lagi mancing di empangnya Mang Jali sama si kembar juga. Diantar Papa tadi." jelas Devan.
__ADS_1
"Sudah ayo masuk." Devan mendorong Romi masuk kembali ke mobil.
"Linda, kamu ikut nggak? Kalau ikut cepat masuk. Kalau nggak temani Mama di rumah." ucap Devan saat melihat Linda yang begong saja melihat tingkah dua laki-laki itu.
"Ikut saja Nda." kata Romi meminta istrinya itu untuk ikut.
Linda menghela nafas panjang sebelum akhirnya ikut masuk kedalam mobil menuju empangnya Mang Jali.
"Ini belum ada jam sembilan dan istri mu sudah ada di empang untuk mancing." kata Romi saat mereka baru saja sampai di empang milik Mang Jali.
Devan tak menyahuti perkataan Romi. Dia berjalan cepat menuju dimana istrinya berada.
"Sayang..!!!" teriak Devan memanggil istrinya.
Nayra menoleh saat mendengar teriakan Devan. Dia menyerit kemudian dia tersenyum saat yang memanggilnya benar suaminya, Devan.
Nayra melambaikan tangannya dengan tersenyum lebar meminta Devan mempercepat langkahnya.
"Ngapain kamu ditempat seperti ini?" tanya Devan heran menatap istrinya yang sepertinya menikmati kegiatan memancing ikan.
"Aku kesini ya mancinglah, Devan sayang." Nayra mengangkat alat pancingnya.
"Nggak mungkin aku kesini mau honeymoon seperti mereka." Nayra menunjuk dengan dagunya dua manusia yang berdiri dibelakang Devan.
Devan menyerit bingung akan maksud istrinya itu, "Maksudnya?"
"Yang kamu ajak kesini tuh pengantin baru. Seharusnya kamu ngajak mereka ke puncak di hawa yang dingin bukan di empang yang hawanya panas." jelas Nayra
"Kalau sudah tahu hawanya panas, kenapa kamu pergi kesini?" tanya Devan sedikit emosi pada Nayra.
"Sayang, bukan begitu maksud aku." Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa aku salah ngomong tadi, pikirnya.
"Kamu memang gak pernah ngerti rasanya orang ngidam itu seperti apa." sergah Nayra dan pergi meninggalkan alat pancingnnya beserta Devan.
"Sayang...kamu mau kemana?" tanya Devan yang tak dihiraukan Nayra.
"Kalian berdua tunggu disini." perintah Devan pada Romi dan Linda.
"Sudah kejar sana, lagi ngambek tuh bini." seru Romi dengan senyum mengejek Devan.
"Ku pastikan kau juga akan merasakannya." ucap Devan penuh penekanan.
"Gak akan." kata Romi percaya diri setelah melihat Devan yang mengejar Nayra yang pergi entah kemana.
"Kamu bisa mancing?" tanya Romi pada Linda yang duduk di tempat Nayra tadi.
"Tidak."
"Sama."
"Papa.." teriak Nayra saat dia sudah di dekat dengan Papa Damar yang ada di pinggir kolam ikan gurami.
"Kamu kenapa?" tanya Papa Damar yang melihat menantunya itu menangis.
"Aku nggak diijini Devan mancing di empang, Pah."
"Devan memarahi Nayra tadi." jawab Nayra dengan berlinang air mata.
__ADS_1
"Devan kesini?" Nayra mengangguk mengiyakan pertanyaan Papa Damar.
"Mama kenapa menangis?" tanya Kenan yang ada di dalam kolam bersama Kiara juga Mang Jali.
"Sayang...Aku minta maaf." mohon Devan pada Nayra dengan nafas memburu karena mencari Nayra yang tak kunjung ketemu.
Nayra menghindar dan memegang tangan Papa Damar untuk berlindung dari Devan.
"Ini kenapa sih sebenarnya? Kamu apakan Nayra tadi?* tanya Papa Damar.
"Aku nggak ngapa-ngapain Nayra, Pah." jawab Devan. Dia sendiri juga bingung kenapa Nayra marah sama dia.
"Bohong, kamu tadi kan ngelarang aku mancing." sewot Nayra yang tak terima akan jawaban yang Devan berikan.
"Padahal aku kan ingin makan ikan hasil pancinganku sendiri." gumam Nayra sedih.
Papa Damar menatap tajam anaknya itu. "Pergi, dan bantu menantu Papa untuk mendapatkan ikan untuk dimakannya." perintah Papa Devan tegas.
"Tapi_" Devan akhirnya pergi karena mendapat tatapan tajam dengan wajah tegas dari Papa Damar.
"Sudah jangan sedih lagi. Itu anak-anak kamu pintar menangkap ikan. Dapat banyak mereka." kata Papa Damar berusaha menghibur Nayra.
"Mereka kan pakai jaring, Pa." balas Nayra dengan senyum.
Papa Damar terkekeh membuat Nayra yang tadi hanya tersenyum akhirnya tertawa kecil.
"Kenapa tuh muka ditekuk?" tanya Romi saat melihat Devan menghampiri mereka.
"Sana minggir aku mau mancing." usir Devan pada Romi.
"Enak saja..!!" seru Romi tak terima di usir.
"Itu ada alat pancing punya Paman. Pakai saja." Romi menunjuk alat pancing yang ada di pondok bambu.
Devan duduk di sebelah Romi setelah memasang umpan di alat pancing dan melemparnya di empang.
"Nayra mana?" tanya Romi yang tidak melihat Nayra kembali bersama Devan.
"Dia ngambek, dia juga ngidam makan ikan hasil tangkapannya sendiri." gerutu Devan karena dia tak suka yang namanya memancing ikan. Kalau memancing masalah ayoh.
"Sudahlah..Nikmati saja. Sesekali liburan di empang kan tak masalah." kata Romi menghibur Devan juga dirinya sendiri.
"Iya nggak Nda." Romi melirik Linda dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ishhh.."
🍁🍁🍁
have a nice day
Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya kakak-kakak readers
Biar lebih semangat lagi menghalunya
Makasih🤗🤗
dewi widya
__ADS_1