Rahim Pengganti

Rahim Pengganti
Diculik


__ADS_3

Makasih buat kakak-kakak reader yang masih setia menantikan kisah Devan dan Nayra dari Rahim Pengganti,.


Jangan lupa vote, like dan komen.


Karena dukungan dari kakak-kakak reader merupakan semangat bagi saya untuk terus melanjutkan cerita ini.


Salam hangat buat kalian semua.


Assalamualaikum


********


Mobil yang dikendarai Doni sudah sampai di sekolah si kembar. Devan segera turun dan menemui anaknya yang terlihat sedang bermain di area permainan. Dia bernafas lega melihat si kembar yang masih berada di sekolah meski sekolah sudah lumayan sepi karena jam pulang sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu.


"Ken, Kia." panggil Devan setelah jarak dia sudah dekat dengan si kembar.


"Papa." teriak Kiara karena gak biasanya Papa Devan menjemput mereka ke sekolah kalau bukan mereka yang merengek minta di jemput. Kiara berlari dan memeluk Papa Devan.


"Kalian tidak apakan?" tanya Devan menatap Kiara dan Kenan bergantian.


"Kami tidak apa, Pah." jawab Kiara dengan gelengan kepala.


"Kenapa, Pa?" tanya Kenan.


"Nggak apa. Mama kalian mana?" tanya Devan karena tidak melihat istrinya. Seharusnya Nayra sudah sampai sebelum dia bukan.


"Mama belum jemput, Pa." jawaban yang Kenan berikan membuat berpikir yang tidak-tidak.


"Mama belum jemput?" tanya Devan mengulangi jawaban Kenan.


"Iya, Mama belum jemput kami. Kia kila tadi Papa sama Mama." jawab Kiara membenarkan.


"Kemana Nayra?" tanya Devan dalam hati. Dia 'kan gak suka melipir gak jelas.


"Romi, hubungi supir Nayra cepat!" perintah Devan tegas. Dia juga berusaha menghubungi Nayra.


"Sial!! kenapa nggak diangkat." umpat Devan.


"Kenapa sih hari ini Nayra susah banget dihubungi." gerutu Devan yang masih mencoba menghubungi nomor Nayra.


"Papa, Mama nggak apakan?" tanya Kiara yang melihat kecamasan Papa Devan.


"Gak apa sayang, kalian masuk mobil dulu." kata Devan dengan lembut supaya anaknya tidak khawatir.


"Kenan, ajak adik kamu masuk ke mobil. Nanti Papa nyusul." sambung Devan meminta tolong pada Kenan.


Kenan mengangguk, "Iya pa."


"Ayo, Ki. Kita tunggu di mobil sambil main game." ajak Kenan sambil menarik tangan Kiara.


Kenan tahu pasti saat ini sedang tidak dalam kondisi aman, dapat dilihat begitu banyak mobil dan orang yang Kenan tahu itu anak buahnya Paman mereka, Paman Faiz Askara.


"Bagaimana?" tanya Devan pada Romi yang menghubungi supir Nayra.


Romi menggeleng, "Gak diangkat." jawabnya yang masih tetap mencoba menghubungi supir Nayra.

__ADS_1


Devan mengusap wajahnya kasar dan melihat handphone nya yang berdering dengan panggilan nomor yang tak di kenalnya.


"Angkat saja, siapa tahu Nayra." kata Doni yang melihat Devan ragu untuk mengangkat nomor tak di kenal.


Devan menatap Doni dan Romi bergantian sebelum akhirnya mengangkat telephone.


"Hallo, Devan sayang!!" Devan menyerit saat suara wanita memanggilnya sayang dan tahu namanya. Dia seperti mengenali suara serak basah itu, tapi siapa Devan masih belum tahu.


"Siapa ini?" tanya Devan dengan dingin.


"Kamu sudah lupa dengan suara ku, Devan sayang."


"Maya." batin Devan saat dia mengingat kalau wanita yang kenal sama dia yang memiliki suara serak basah hanya mantan istrinya, Maya.


"Saya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan anda. Jadi saya minta sama anda jangan menghubungi ataupun mengganggu hidup saya lagi." kata Devan tegas.


"Ya sudah kalau begitu, berarti mantan suami ku ini tidak ingin tahu kabar istrinya yang mengandung yang saat ini sudah ada di tanganku."


Devan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilan dari Maya saat Maya mengatakan sesuatu yang membuat Devan mengeraskan rahang dan mengepal tangannya kuat, dia marah atas apa yang Maya lakukan pada istrinya, Nayra.


"Apa maksud kamu, Maya?" sentak Devan dengan penuh amarah saat mengetahui istrinya saat ini ada ditangan Maya, berarti mereka tadi bukan ingin menculik si kembar tapi Nayra.


Romi dan Doni saling menatap saat Devan menyebut nama Maya. "Jadi yang telephone itu Maya." batin Romi dan Doni.


"Gak ada, aku hanya ingin memberi tahu saja. Ternyata setelah di bayar sebagai rahim pengganti sekarang Nayra dijadikan pabrik anak untuk keluarga Ayasi. Kasihan sekali pewaris sah dari keluarga Arasyid ini."


"Jaga ucapan kamu, Maya." geram Devan akan ucapannya yang menghina keluarganya.


Maya tertawa mendengar Devan yang sudah mulai geram itu, "Bye Devan sayang." tut. Maya memutuskan sambungan telephone nya.


"Sial!!" umpat Devan saat Maya memutus sambungan telephone.


Devan mencoba menghubungi balik nomor Maya namun sudah tak aktif lagi.


"Doni, lacak nomor ini." Devan memberikan handphone nya pada Doni.


Doni menyalin nomor Maya tadi untuk dilacak.


"Sebaiknya kamu pulang dulu," Romi menepuk pundak Devan, "Kasihan si kembar kalau harus menunggu lama." Romi menunjuk salah satu mobil yang ada si kembar didalamnya.


Devan mengangguk, untuk masalah seperti ini Devan memang gak bisa berfikir. Yang dia inginkan hanya Nayra dan janin diperut istrinya sehat dan aman juga baik-baik saja sampai mereka di temukan nantinya.


"Papa, kita kok pulang duluan sih. Mama mana?" tanya Kiara yang saat ini dalam perjalanan pulang.


"Mama pergi ke rumah Opa di Surabaya. Tadi ada urusan mendadak, makanya tidak sempat memberi tahu Kiara sama Kenan." jawab Devan sedikit berbohong pada si kembar supaya mereka tidak mengkhawatirkan kondisi Mama dan calon adik mereka.


"Kenapa Papa nggak ikut Mama, juga kenapa Mama nggak ngajak kita?" tanya Kiara cemberut karena tidak diajak ke rumah Opa.


"Nanti kalau masalahnya selesai kita kesana. Oke!!" Devan mencoba tersenyum untuk kedua anaknya meski hatinya begitu khawatir dan cemas akan keselamatan istri dan calon anak ketiganya.


"Papa janji." Kiara mengacungkan jari kelingkingnya.


Devan tersenyum dan menautkan jari kedua sebagai simbol perjanjian.


"Kenapa Papa membohongi kami." batin Kenan yang dapat melihat kekhawatiran dan juga kecemasan dimata Papa Devan.

__ADS_1


"Mama sama dedek bayinya baik-baik saja kan,Pah?" tanya Kenan.


Devan mengusap kepala putranya dengan pelan. "Iya, Mama sama dedek bayi baik-baik saja." jawab Devan dengan senyum.


"Papa nggak bohong?" tanya Kenan lagi.


"Tidak prince." Devan mengacak rambut Kenan pelan.


"Ayo turun, kita sudah sampai rumah."


Mereka segera turun dan masuk rumah.


...............


Pintu kamar terbuka dari luar, Maya dan Carol masuk melihat kondisi wanita yang diculiknya itu masih hidup apa sudah tak bernyawa.


"Gila, cepat juga Devan membuat Nayra hamil lagi." kata Carol saat melihat perut Nayra yang sudah membuncit.


Maya yang mendengar itu hanya memutar bola mata malas.


"Iyalah cepat, keluarga Ayasi kan hanya ingin menantu perempuan yang bisa dijadikannya sebagai pabrik anak." sahut Maya sedikit ketus dalam nada bicaranya.


"Kenapa? Kamu cemburu karena gak bisa ngasih keturunan buat Devan." ejek Carol.


"Siapa juga yang cemburu, jangan asal ngomong kamu." Maya mendekat pada Nayra yang duduk di kursi terikat tangan dan kakinya juga mulut di tutup kain.


"Bangun kamu!" Maya menendang kaki Nayra kencang membuat si empunya kaki langsung terbangun dari pingsannya.


Nayra menggeleng kepala pelan karena merasa pusing. Dia menyerit menatap wanita yang berdiri di hadapannya.


"Kak-Maya." batin Nayra saat melihat Maya yang berdiri di hadapannya, dia terlihat kaget.


"Kenapa? kaget lihat aku ada disini?" tanya Maya dengan angkuh.


"Ck. Masih saja kamu mau di jadikan pabrik anak buat keluarga Ayasi."


"Dibayar berapa kamu sama tua bangkak itu?"


"Diam saja. Jawab!!" bentak Maya yang melihat Nayra diam saja.


Bagaimana mau menjawab kalau mulut Nayra saja dibungkam sama kain.


"May, tugas kita hanya menculiknya bukan untuk menyakitinya." tegur Carol mengingatkan tugas meraka pada Maya.


"Carol juga ada disini." batin Nayra saat melihat Carol.


"Biar itu menjadi urusan bos besar kita. Mau diapakan dia nantinya." sambung Carol.


"Bos besar? Siapa maksud Carol?" batin Nayra


"Kita lihat saja, bagaimana hancurnya Devan saat melihat istri dan calon anaknya mati begitu juga keluarga Arasyid yang melihat pewaris sah dari Arasyid Grup mati di tangan musuh mereka sendiri."


"Kau benar, aku sudah tidak sabar melihat kehancuran Devan, terutama keluarga Arasyid yang telah membuatku mendekam dipenjara."


"Jadi mereka ingin balas dendam dengan cara menculikku. Dan siapa bos besar yang dimaksud mereka berdua." batin Nayra bertanya-tanya.

__ADS_1


"Dev, tolong aku.."


__ADS_2